Bab 8

1246 Words
Syukur bahagia kini dirasakan Devan dan Azahra, bahkan kedua belah keluarga juga sama bahagianya dengan Devan dan Azahra. Wajah sumringah kini terpancar jelas di wajah mereka semua ketika tanggal baik untuk hari pernikahan Devan dan Azahra telah ditentukan. Tanggal yang baik untuk niat yang baik tidak elok rasanya jika menundanya. Devan merekahkan senyumnya. Kedua belah pihak keluarga telah setuju bahwa pernikahan akan diadakan dalam satu bulan ke depan. “Ini cincinnya, Devan,” ucap Siska menyerahkan satu kotak merah bludru kepada Devan. Cincin seukuran jari manis Azahra telah Devan persiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Devan dan Azahra telah sepakat sejak mereka membicarakan rencana kedatangan orang tua Devan ke rumah Azahra, bahwa mereka berdua tidak akan melangsungkan pertunangan seperti pasangan pada umumnya. Baik Devan maupun Azahra lebih memilih mempercepat hari baik mereka daripada harus mengikuti trend pertunangan para pasangan jaman sekarang. Yang penting keduanya telah cocok, dan mendapatkan restu dari kedua belah pihak keluarga. Kini, mereka hanya perlu menyiapkan mental untuk menuju hari H pernikahan mereka yang tidak lama lagi akan dilangsungkan. Devan menerima kotak bludru berwarna merah hati dari tangan mamanya. Devan membuka kotak perhiasan itu dengan penuh perasaan, lelaki itu merekahkan senyumnya, memikirkan jika cincin itu menjadi pengikat antara dirinya dan juga Azahra. “Seriusan itu muat? Enggak kebesaran?” Tanya David dengan jenaka. Devan menatap adiknya dengan sengit, bahkan di situasi sepenting ini mereka berdua masih terus saja berselisih tidak jelas arahnya. “David,” panggil Siska mengingatkan anak bungsunya untuk menjaga sikapnya. “Kalau punya dua anak cowok memang begitu yo, Nduk. Ibuk juga punya cucu cowok dari adiknya Agus,” jelas Eyang Sumi mengingat kedua cucu lelakinya dari anak keduanya. “Walah, Yang, mereka berdua itu suka sekali bertengkar. Padahal umurnya sudah beda sembilan tahun. Mungkin karena weton mereka yang bertolak belakang jadi begitu,” jawab Siska menggelengkan kepalanya mengingat pertengkaran-pertengkaran kecil kedua anaknya. Semua orang terkekeh mendengar penuturan Siska.  “Tapi Nak Devan sama Nduk Azahra sudah sepakat ya tidak bertunangan lebih dahulu?” Tanya Aisyah. Azahra mengangguk. “Iya, Ma. Kami mau langsung ke pernikahan saja,” jawab Azahra membenarkan pertanyaan dari mamanya. “Ya sudah kalau begitu, dilanjutkan saja,” sahut Aisyah. Devan meraih tangan Azahra, lelaki itu tersipu ketika pandangan matanya bertemu dengan manik mata milik Azahra. Rasanya, Devan tidak percaya jika dirinya akan datang ke rumah Azahra untuk melamar Azahra di depan keluarganya. Kesempatan yang telah Devan tunggu-tunggu untuk mempersiapkan mentalnya melamar Azahara, impiannya sejak mereka berpacaran. “Azahra, Mas mau tanya sama Zahra. Maukah Zahra menerima pinangan Mas di depan keluarga kita?” Tanya Devan menatap Azahra tepat di manik mata wanita itu. Wajah Azahra tersipu malu, akhirnya penantian Azahra selama berpacaran dengan Devan terbayar lunas dengan keseriusan Devan datang ke rumahnya bersama keluarga lelaki itu. Azahra tidak bisa berkata-kata lagi, wanita itu juga tidak memiliki alasan untuk menolak pinangan lelaki yang begitu dia cintai hingga ke ulu hatinya. Azahra begitu mencintai Devan, sampai-sampai Azahra tidak pernah memikirkan lelaki lain, ataupun membuka celah bagi yang lain masuk ke dalam hatinya. Ibaratnya, perasaan Azahra dengan Devan sudah mendarah daging. “Aku tidak bisa menolakmu, karena ini juga impianku denganmu, Mas. Aku mau menjadi istri Mas Devan,” jawab Azahra dengan matanya yang kini berkaca-kaca. Tidak hanya Azahra, bahkan Aisyah dan Siska juga tidak mampu menutupi rasa haru yang kini menyelimuti hati mereka. Kebahagiaan anak-anak mereka, merupakan kebahagiaan mereka juga sebagai seorang ibu yang berharap kebaikan bagi anak-anaknya. Devan melingkarkan cincin emas seberat 3 gram di jemari manis Azahra. Lelaki itu mengecup tangan Azahra sampai semua orang terbatuk melihat keromantisan mereka berdua. Devan mengelus puncak kepala Azahra yang kini dibalut dengan hijab simple namun elegan, begitu pas dikenakan oleh Azahra.  “Terimakasih, Azahra,” ucap Devan dengan sorot mata penuh kebahagiaan. “Terimakasih mah terimakasih, tapi ya jangan pegangan tangan mulu. Emangnya kalian mau menyeberang?” Goda Imam Rewangga kepada Devan. Merasa malu, Azahra segera melepaskan pegangan tangan Devan. Wajah Azahra kini bersemu merah, godaan yang keluar dari mulut calon ayah mertuanya membuat Azahra malu. Tidak terbiasa menunjukkan kemesraan dirinya dengan Devan di depan keluarga besar mereka. “Kamu tahu nggak kenapa cincin yang aku pilih bulat?” Tanya Devan kepada Azahra membuat semua mata kini menatap ke arahnya.  Azahra menggeleng. “Itu karena jemari kita berbentuk bulat?” Tanya Azahra balik dengan kedua alisnya kini bertaut. “Bukan,” jawab Devan menggelengkan kepalanya. “Kalau kotak itu mah kaleng kerupuk, Nang,” sahut Kakung Rahmat dengan suara kekehannya. Semua orang tertawa mendengar ucapan dari Kakung Rahmat. Devan mencebikkan bibirnya, untung saja Kakung Rahmat kakek dari wanita yang dia cintai. Kalau bukan, ya tetap saja Devan tidak akan melakukan apapun. “Tidak, jawaban kalian salah semua. Cincin yang aku pilih berbentuk bulat itu ada filosofinya,” jelas Devan dengan senyuman. “Filosofi Kopi?” Tanya David menyela ucapan kakaknya. Sebenarnya, David tahu benar jika Devan hendak merayu Azahra. Namun, bukan David namanya jika tidak membuat kakaknya naik darah. “Itu nama cafe, cunguk,” jawab Devan menjitak kepala adiknya dengan kesal. Azahra terkekeh geli, kelakuan kakak-adik yang bagi Azahra sudah tidak aneh lagi di matanya. Justru Azahra akan merasa aneh jika Devan dan David tiba-tiba rukun, dan berdamai. “Ah nggak jadi deh,” ucap Devan pada akhirnya. “Ya elah, kayak anak perawan lagi PMS. Pakai ngambek segala, dasar,” cibir Azahra menggelengkan kepalanya. “Sudah-sudah, lupakan masalah cincin berbentuk bulat. Bagaimana rencana pernikahan kalian besok?” Tanya Agus melerai. “Besok, Papa Mertua? Devan siap kok,” jawab Devan dengan matanya berbinar bahagia. Agus menghela napasnya panjang, setelah pernikahan Devan dan Azahra mungkin dia harus membeli sabar untuk dia simpan sebagai stok cadangan ketika kesabarannya habis menghadapi tingkah Devan yang terkadang menyebalkan, namun juga sangat menghibur. “Besok-besok, memangnya kalian tidak butuh cek kesehatan dan t***k mbengeknya?” Tanya Agus menjawab ucapan dari calon menantunya. “Yah, Devan kirain bakalan dinikahkan besok. Ashirupppp pokoknya,” jawab Devan dengan alay, membuat Azahra meringis geli melihat tingkah laku Devan. “Berhenti bersikap alay, atau, aku berubah pikiran?” Ancaman Azahra rupanya berpegaruh begitu signifikan kepada Devan. Lelaki itu langsung diam seribu bahasa tepat setelah Azahra melontarkan ancamannya. Aisyah menuangkan minuman ke dalam gelas yang kini sudah tandas. Sambari mengikuti rencana pernikahan putrinya, Aisyah mengambil makanan sebagai pelengkap kedatangan keluarga Devan ke rumah mereka. Lontong tuyuhan, menjadi pilihan Aisyah untuk menjamu keluarga Devan yang memang sudah sangat dekat dengan keluarganya. Azahra yang melihat mamanya kerepotan membawa piring berisi lontong ikut berdiri membantu. Namun tangan wanita itu dicekal oleh Siska. “Sudah, biarkan Mama Siska yang membantu mamamu,” ucap Siska tersenyum lembut. “Tante … em, maksud aku Mama. Tidak perlu, Mama kan di sini tamu. Biarkan Azahra saja,” ucap Azahra menjawab. “Kamu sudah cantik begini masa mau bawa sayur, nanti tumpah jadi nggak wangi lagi kamu,” goda Siska mengelus lengan Azahra dengan lembut. “Stop, biarkan Devan yang membantu Mama Mertua.” Lelaki itu langsung berdiri dari tempatnya duduk, Devan menghampiri Aisyah yang kini membawa piring-piring berisi lontong dengan nampan besar sebagai wadah. “Biar Devan bantu, Mama Mertua,” ucap Devan mengambil alih nampan itu dari tangan Aisyah. “Kenapa repot-repot, Nak Devan. Cuma sedikit kok. Ya sudah bawa ke depan, biar sayurnya calon mama mertuamu ini yang bawa.” Kekehan keluar dari mulut Devan, Aisyah memang sudah begitu akrab dengan Devan. Maka dari itu, mereka tidak kaku dalam berinteraksi satu sama lain. “Lebih baik pernikahan diadakan secara sederhana saja, yang penting halal dan rumah tangga mereka berdua langgeng,” ucap Imam Rewangga berpendapat. “Aku juga berpikir begitu, Mas. Masalah resepsi sebenarnya penting tidak penting. Yang paling penting kan akad nikahnya, mereka sah,” jawab Agus. “Bagaimana, Zahra? Model pernikahan seperti apa yang kiranya sudah kamu pikirkan dengan Devan?” Mendengar pertanyaan yang dilontarkan ibu mertuanya, Azahra menatap Siska dengan senyuman lembut. “Zahra dan Mas Devan sudah membicarakannya, kita akan mengadakan pernikahan yang sederhana. Resepsinya cukup mengundang keluarga besar, tetangga dekat, dan teman-teman kita saja,” jawab Azahra. “Iya, Ma. Dari pada uangnya buat pesta, mending buat bulan madu saja. Iya kan Sayang?” Goda Devan mengedipkan matanya kepada Azahra. “Kamu ini, menikah saja belum sudah berpikir bulan madu. Sana, bulan madu di atas pelangi saja!” Titah Imam Rewangga menghardik otak anaknya yang mulai konslet karena terlalu banyak bucin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD