Bab 10

1465 Words
Helaan napas panjang keluar dari mulut wanita yang kini memakai setelan baju formal berwarna hitam. Sudah lebih dari setengah jam Azahra menunggu Devan. Lelaki itu mengirim pesan dalam perjalanan menjemputnya dua puluh menit yang lalu. Entah apa yang Devan kini lakukan sampai tidak kunjung sampai di kantornya. Bebarapa karyawan kantor yang berjalan melewati Azahra menyapa wanita itu. Azahra juga membalas sapaan mereka dengan senyuman ramah khas dirinya.  “Nunggu jemputan, Mbak?” tanya salah satu teman kantor Azahra. Azahra mengangguk. “Iya nih, mana mulai mendung lagi,” jawab Azahra sambari mendongakkan wajahnya menatap langit yang mulai berubah menjadi gelap. “Ah enggak apa-apa, Mbak. Kan naik obing,” kekeh teman Azahra menggoda. Azahra menepuk lengan wanita itu. “Kamu juga naik obing kan, mana dijemput banyak lelaki lagi,” goda Azahra menimpali. “Mbak Azahra suka menghina aku yang zombie deh. Iya lah gonta-ganti lelaki orang aku pesan ojek online,” jawab Nita. Suara klakson mobil Jazz warna putih membuat mereka menoleh. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Devan Rewangga, lelaki yang sejak tadi Azahra tunggu-tunggu. “Eh pangeran berkuda putih sudah datang,” goda teman-teman Azahra. “Kalian ini nggak punya kegiatan lain selain menggoda aku ya? Aku ini atasan kalian loh,” ucap Azahra mengingatkan mereka atas perbedaan jabatan yang dia miliki. “Iye-iye anak emasnya Pak Soni,” sahut mereka dengan kompak. Azahra tertawa, wanita itu melambaikan tangannya. “Aku duluan ya, Guys. Sampai ketemu hari senin, jangan rindu denganku, rindu itu berat,” teriak Azahra dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Devan memicingkan matanya, jujur saja Devan merasa penasaran akan pembicaraan yang Azahra dan teman-teman kantornya bicarakan sampai mereka tertawa seperti itu. “Lama sekali.” “Kalian membicarakan apa?” tanya Devan bersamaan dengan ucapan yang keluar dari mulut Azahra. “Membicarakan apa?” tanya Azahra bingung. “Itu, kenapa kamu sampai tersenyum selebar itu dengan teman-temanmu,” jawab Devan menatap Azahra mencari jawaban. Azahra ber-oh ria. “Mas kepo ya?” tuduh Azahra sambari menautkan kedua alisnya. “Lebih tepatnya sih penasaran apa yang tengah calon istri Mas bicarakan dengan teman-temannya,” ucap Devan meluruskan. “Aishh, sama aja kali Mas. Tadi aku dengan teman-temanku sedang membicarakan perihal wanita,” jawab Azahra, mengambil tissue yang ada di depannya. Wanita itu merogoh kaca yang ada di dalam tasnya. “Kenapa sih tidak nanti malam saja ke toko souvenirnya? Sekalian bertemu dengan Mbak Anggie,” tanya Azahra kepada Devan. “Tokonya kan tutup jam lima sore, Sayang. Pertanyaanmu itu aneh sekali,” cibir Devan malah membuat Azahra tertawa. Devan menoleh ke arah Azahra. “Kamu enggak apa-apa kan?”  Bukannya menjawab pertanyaan dari Devan, Azahra justru sibuk menyambungkan ponselnya dengan sound mobil Devan. “Mas mau lagu apa?” tanya Azahra. “Terserah kamu saja, asal jangan cendol dawet. Mas sudah bosan setiap hari denger Mas Arip nyanyi itu mulu,” jawab Devan diangguki Azahra. Azahra langsung membuka aplikasi youtube yang ada di ponselnya. Wanita itu mengetikkan satu judul lagu yang menurutnya pas untuk dirinya dan juga Devan. “Mas, ini lagu yang pas untuk kita,” ucap Azahra. Hai Tayo, hai Tayo, dia bis kecil ramah Melaju, melambat, Tayo selalu senang Hai Tayo, hai Tayo, dia bis kecil ramah Melaju, melambat, Tayo selalu senang Jalan menanjak, jalan berbelok Dia selalu berani Meskipun gelap dia tak sendiri Dengan teman, tak perlu rasa takut Hai Tayo, hai Tayo, dia bis kecil ramah Lagu Hay Tayo mengalun memenuhi mobil yang kini Devan dan Azahra tumpangi. Keduanya tertawa mendengarkan lagu anak-anak yang tengah trending pada tahun ini. Devan sampai mengacak rambut Azahra saking gemasnya dengan wanita itu. “Mana ada lagu untukku kok malah Hey Tayo? Kamu pikir aku sopir pribadi?” tanya Devan berpura-pura tersinggung atas candaan Azahra. “Mas kan kekasih, teman, sahabat, keluarga, sekaligus sopir pribadi juga sih,” ucap Azahra menyengir kuda. “Oh jadi selama ini kamu menganggap Mas sopir pribadi?”  Azahra menggeleng dengan cepat. “Bukan begitu, Mas,” jawab Azahra dengan cepat sebelum Devan salah paham dengan dirinya. Devan mengerem mobilnya secara mendadak. Azahra sampai membelalakkan matanya karena Devan menepi tepat di belakang motor yang mau masuk ke jalan utama. “Mas.” Azahra menatap Devan, namun lelaki itu tidak menunjukkan ekspresi wajah apapun, hanya datar. Dan itu membuat Azahra merasa bulu kuduknya meremang dengan sendirinya. “Mas kamu marah dengan becandaan aku?” “Turun!” ucap Devan dengan nada yang begitu dingin. “Mas, aku hanya becanda,” ucap Azahra mencoba menjelaskan niatnya. “Mas bilang turun Azahra!” Intonasi kalimat Devan mulai meninggi. Azahra sampai menahan napasnya, tidak menyangka Devan akan marah hanya karena becandaannya yang menurutnya begitu garing. “Mas lapar, tuh warung makan Lamongan. Mas mau makan bebek goreng,” lanjut Devan diikuti dengan senyumannya. Mata Azahra sontak saja membulat sempurna, tangannya sudah siap menghujani Devan seribu cubitan maut miliknya. “Mas! Aku pikir Mas Devan marah.” Tawa meledak dari mulut Devan. Lelaki itu memajukan wajahnya mendekati wajah Azahra yang kini ditekuk masam. Devan mengecup pipi Azahra dan mengedipkan matanya nakal. “Hukuman karena berprasangka buruk,” ucap Devan terkekeh. Dengan cepat Devan keluar dari mobilnya sebelum Azahra berteriak sangat nyaring saking kesalnya dengan tingkah laku Devan yang menjengkelkan.  Azahra keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan kencang. Wanita itu mencebikkan bibirnya kesal dengan kelakuan Devan yang menjengkelkan. Astaga, Azahra pikir Devan benar-benar marah dengan dirinya. Tidak tahunya lelaki itu sengaja menggoda dirinya dengan berpura-pura menghentikan mobil mendadak, “Mas lapar, Mas mau makan bebek goreng,” gerutu Azahra mengikuti ucapan Devan. Azahra menghentakkan kakinya, bibirnya mengerucut sebal. “Bibirmu kenapa? Mau Mas cium? Sini-sini Mas cium,” ucap Devan dengan pandangan menggoda. What to the hell! Ucapan Devan begitu keras hingga beberapa orang menoleh ke arahnya. Azahra sampai malu sendiri. “Istri saya, Pak. Baru menikah kemaren,” ucap Devan memperkenalkan Azahra di depan pembeli lainnya yang kini menatap mereka berdua penasaran. Dengan terpaksa, Azahra melengkungkan bibirnya ke atas. Berpura-pura tersenyum dari pada dirinya malu jadi tontonan banyak orang di warung makan Lamongan yang identic dengan gaya duduknya lesehan. “Pantas sekali, masih nempel kayak perangko.” “Iya kayak perangko, nanti berjalan tahun-tahunan lemnya habis. Bosan,”jawab ibu-ibu di samping lelaki yang menyahut ucapan dari Devan. “Begitu ya Bu? Lelaki memang dasar,” cibir Azahra menoleh menatap Devan dengan tatapan membunuh. * Hari terus berjalan, tidak terasa delapan hari lagi impian yang telah Devan dan Azahra mimpikan akan menjadi kenyataan. Berbagai keperluan sudah mereka siapkan. Baik dari dekorasi, sound system, rias pengantin, makanan untuk pesta, mereka berdua dengan keluarga besar telah mengecek persiapan sebelum menjelang hari H. Gugup, tentu saja itu dirasakan oleh semua calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahannya. Begitu juga dengan Azahra, dirinya sudah mulai dilanda perasaan cemas dan juga gelisah menjelang hari pernikahannya yang akan digelar sebentar lagi. “Mbak Ti memang jago memasak,” ucap Aisyah yang baru saja selesai berbelanja dari pasar untuk mencicil bahan baku makanan pada acara pernikahan Azahra. “Iya, kalau nggak pandai masak mana bisa buka jasa chatering, Ma,” sahut Azahra yang kini mengoleskan lip cream di bibirnya. Rencananya, malam ini Azahra akan bertemu dengan Mbak Anggie, pemilik wedding organizer yang akan mengurus dekorasi pernikahannya. Paket yang ditawarkan beraneka ragam. Namun sesuai kesepakatan awal bersama, Azahra dan Devan memilih paket dekorasi dan sound system saja. Untuk makanan, keluarga Azahra telah mempercayakan Mbak Ti, tetangganya yang memang membuka jasa chatering pernikahan maupun acara-acara lainnya. Yang paling penting adalah rias pengantin dan juga fotografer untuk mengabadikan moment bahagia mereka berdua. Dari mana lagi fotografernya kalau bukan dari DR Potography, milik Devan sendiri. “Souvenirnya sudah kamu lebihin kan? Biasanya anak-anak itu minta lebih.” “Iya, sudah Azahra kira-kira kok. Azahra pesan tiga ratus cup mangkuk kaca. Undangan kita cuma dua ratus kan sama pihak keluarga Mas Devan?” tanya Azahra. “Iya, kita undang yang dekat-dekat saja. Keluarga jauh biar kirim doa saja untuk pernikahan kalian nanti,” jawab Aisyah. Azahra menghembuskan napasnya panjang. “Zahra kok jadi gerogi ya ketemu Mas Devan, padahal biasanya nggak gini,” ucap Azahra sambari mengatur napasnya. Aisyah tersenyum, mengerti perasaan yang kini menggelayuti diri putri tunggalnya.  Sedangkan di sisi lain, Devan sudah tidak sabar untuk menjemput Azahra. Satu minggu ini, mereka tidak bisa bertemu karena Devan ada acara pemotretan di Batang.  “Aku mau beli bunga dulu buat Azahra ah,” gumam Devan langsung menancap gasnya menuju tempat penjual bunga terkenal di Kota Semarang, Kali Sari, Kampung Pelangi. Lelaki itu menghentikan mobilnya di tepi jalan khusus parkir mobil. Devan memasuki toko bunga tanpa memilih lagi karena saking banyaknya penjual bunga di sana. “Mau cari bunga apa Mas?” tanya penjual bunga kepada Devan. “Bunga mawar merah, Bu. Satu buket ya, bungkus yang rapi untuk calon istri saya soalnya,” ucap Devan dijawab anggukan kepala oleh penjual bunga itu. Setelah buket bunga itu jadi, Devan kembali memasuki mobilnya untuk menuju rumah Azahra. Jalanan yang cukup ramai membuat Devan memilih mengambil jalan pintas yang cukup lengang dari jalan protocol utama. Lelaki itu mengirimkan voice untuk Azahra. “Sebentar lagi aku sampai, aku tadi membeli hadiah untuk kamu,” ucap Devan dengan tangan kirinya menekan tombol microfon pada layar ponselnya, sedangkan tangan kanannya fokus dengan kemudi. Devan tersenyum bahagia. Setelah pesannya terkirim, lelaki itu meletakkan ponselnya di dashboard mobil. Devan mengelus buket bunga mawar merah yang begitu cantik. “Bunga yang cantik, secantik pemiliknya,” ucap Devan tersenyum penuh kebahagiaan. Tinnnnnnnnnnnnn … suara klakson motor yang begitu nyaring membuat Devan menatap ke depan dengan mata membulat sempurna. Tubuh Devan begitu tegang, jarak mobilnya dengan seseorang pengemudi motor dari arah kirinya begitu dekat. Citttttt … Bruakkk … Suara rem mobil beradu dengan suara benturan keras yang sangat memekakkan telinga. Jantung Devan seakan berhenti berdetak saat itu juga. Devan memejamkan matanya. “Tidak, aku tidak mungkin menabrak seseorang,” ucap Devan membuka matanya, menatap sebuah motor yang tergeletak di depannya bersampingan dengan seorang lelaki tergeletak di jalan, terkulai lemas tidak berdaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD