Bab 11

1626 Words
Dering ponsel milik Siska berbunyi begitu nyaring, wanita yang baru saja merebahkan tubuhnya di samping sang suami harus bangkit kembali menuju meja nakas di mana ponselnya diisi baterai. Wanita itu mengerutkan keningnya ketika melihat nomor Azahra tertera di layar ponselnya. Malam ini, hati Siska dirundung perasaan gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal dalam benak wanita itu, entah apa dirinya juga tidak tahu. Siska baru kembali mengecek kamar David, putra sulungnya. Biasanya, jika dirinya deg-deg’an tanpa alasan pasti akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada keluarganya. Tapi David berada di rumah, anak itu sedang bermain game di ponselnya seharian ini. Dan Devan, Siska yakin jika putra sulungnya sangat berhati-hati. Jadi tidak mungkin jika itu adalah Devan. “Siapa yang menelpon Ma,” tanya Imam Rewangga. Siska menunjukkan ponselnya yang kini berkedip. “Dari Azahra,” jawab Siska. Wanita itu segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Siska mencabut kabel baterai pengisi daya, dan mendekatkan ponsel itu ke arah dirinya. “Hallo, Azahra?” sapa Siska membuka percakapan. “Mama, ada yang harus Zahra bicarakan. Ini tentang Mas Devan,” ucap Azahra menyahut. Imam Rewangga menyipitkan matanya menatap ekspresi wajah sang istri yang kini berubah. Ketika mendengar Azahra menyebut nama putranya, sontak saja d**a Siska bergemuruh hebat tidak karuan rasanya.  “Azahra, kenapa dengan Devan? Apa yang terjadi? Kamu tidak memergoki Devan jalan dengan wanita lain kan?” tanya Siska beruntun. Azahra menggeleng di tempatnya. “Ma, dengan terpaksa Azahra harus menyampaikan berita buruk kepada kalian. Azahra minta Mama untuk sabar, melapangkan d**a lebih dahulu sebelum mendengar apa yang akan Azahra bicarakan,” jelas Azahra yang merasa tidak enak, takut mengganggu kesehatan orang tua dari calon suaminya. Siska semakin penasaran, kini wanita itu memilih duduk di tepi ranjang. “Kenapa Devan, Zahra? Katakan saja, jangan membuat Mama penasaran,” tanya Siska kepada Azahra. Mendengar nama putra sulungnya disebut, Imam Rewangga langsung bangkit dari tempatnya.  “Ma, ada apa dengan Devan?” tanya Imam Rewangga dilingkupi rasa penasaran yang kini membuncah di dalam benaknya. “Tidak tahu, Pa. Ini Azahra baru mau berbicara,” jawab Siska. Azahra mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Di sampingnya, Aisyah mengelus pundak Azahra menguatkan. Tangan Azahra meremas tangan mamanya dengan erat, bahkan tangan wanita itu masih gemetar hebat akan panggilan yang dia dapatkan dari Devan. Pantas saja dirinya merasa gelisah, gugup, dan juga cemas ketika Devan mengatakan tengah dalam perjalanan namun tidak kunjung sampai di rumahnya. “Ma, tadi Mas Devan menelpon Azahra. Katanya Mas Devan terlibat kecelakaan,” jelas Azahra memejamkan matanya. Mata Siska membulat sempurna. “Apa? Devan terlibat kecelakaan?” pekik Siska tak tertahankan. Pekikan yang keluar dari mulut Siska membuat Imam Rewangga ikut terkejut. “Devan kecelakaan? Bagaimana bisa Ma?” tanya Imam Rewangga. Siska memegang dadanya yang kini terasa sesak. Imam Rewangga dengan sigap mengelus punggung istrinya dan mengambil satu gelas air dari nakas. “Ma, minum dulu. Tenangkan diri Mama,” ucap Imam Rewangga menenangkan istrinya. Lelaki itu mengambil alih ponsel istrinya. “Hallo, Azahra. Ini Papa, bagaimana bisa Devan kecelakaan? Di mana dia saat ini?” tanya Imam Rewangga. “Azahra belum tahu kronologisnya, Pa. Katanya Mas Devan menabrak seseorang dan kini sedang berada di Rumah Sakit Umum Dokter Kariadi,” jawab Azahra. “Baiklah, Papa akan ke sana. Nanti Papa hubungi lagi kalau kami sudah sampai sana.” “Iya, Pa. Ini Azahra dan keluarga juga mau ke sana,” ucap Azahra untuk yang terakhir kali sebelum panggilan mereka terputus. Air mata Azahra menetes, sungguh kalau tahu hal ini akan terjadi Azahra tidak akan membiarkan Devan menjemputnya. Biarkan saja Azahra ketemuan dengan pemilik wedding organizer itu sendirian. “Ayo, Papa sudah siap,” ucap Agus setelah selesai berganti baju. Mereka sekeluarga dengan cepat melaju menuju Rumah Sakit Umum Dokter Kariadi di mana Devan dan korban yang dia tabrak berada. Selama perjalanan, tidak henti-hentinya Azahra berdoa agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada diri Devan maupun seseorang yang Devan tabrak tanpa sengaja. “Bagaimana bisa ini terjadi?” gumam Azahra kepada dirinya sendiri, wanita itu menggigit bibirnya dengan cemas. “Berdoa saja, Nduk. Semua akan baik-baik saja, percaya sama Allah,” jawab Agus menatap Azahra dari kaca tengah mobilnya. Bagaimana bisa Azahra tenang, Devan berada dalam posisi seperti itu karena dirinya. Andai saja waktu bisa diputar, mungkin Azahra tidak akan membuat Devan berada dalam posisi sesulit ini.  Begitu juga dengan keluarga Azahra, Siska dan Imam kini berangkat menuju rumah sakit untuk menemui putra mereka. Siska sempat syok dan merasa tubuhnya lemas tidak bertenaga. Rasanya, seluruh tulang di tubuh Siska lenyap secara tiba-tiba tatkala kabar yang Azahra sampaikn adalah kabar buruk tentang Devannya. Imam memilih menggunakan motor milik David agar lebih cepat sampai di ruamh sakit. Imam tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Devan saat ini. Anaknya pasti tengah dirundung rasa bersalah karena kecelakaan itu. Imam segera memasuki pelataran gedung parkir yang telah disediakan rumah sakit. Imam menggandeng tangan istrinya, menuntunnya berjalan agar tidak jatuh terhuyung. Wajah Siska kini pucat pasi, sebagai seorang ibu dirinya sangat tidak menyangka anaknya akan mengalami nasib seperti ini. “Ma, tenangkan dirimu. Devan pasti semakin tertekan karena melihat Mama seperti sekarang,” ucap Imam Rewangga menenangkan istrinya. Kebetulan sekali, di saat itu juga Azahra dan keluarganya keluar dari mobil. Azahra melangkah dengan cepat menghampiri Imam Rewangga dan istrinya. “Papa. Mama,” panggil Azahra membuat Imam dan Siska menoleh. Siska menatap Azahra dengan mata berkaca-kaca, kedua wanita itu akhirnya berpelukan. Punggung Siska bergetar, menandakan bahwa dirinya tengah menangis. “Ma, Mas Devan baik-baik saja. Tadi Azhara menelpon nomor yang dipakai Mas Devan mengabariku. Sekarang korbannya tengah dioperasi. Kita ke sana ya, Mama tenangin diri dulu,” ucap Azahra mengelus punggung Siska. Siska mengangguk, memang benar apa yang dikatakan suami dan calon menantunya. Devan akan semakin merasa bersalah jika melihat dirinya menangis seperti saat ini. “Kamu sudah tahu di mana mereka?” tanya Siska dijawab anggukan kepala dari Azahra. Mereka berjalan beriringan menuju tempat operasi yang telah mereka tanyakan kepada salah satu security yang tengah bertugas. Azahra terus menggenggam tangan Siska yang kini sama bergetarnya seperti tangannya sendiri. Baik Siska maupun Azahra, keduanya memiliki peran cukup penting dalam hidup Devan. Kedua wanita itu sama-sama memiliki cinta dan kasih sayang kepada Devan Rewangga. Bedanya, cinta seorang ibu dan cinta seorang pasangan. “Devan!” pekik Siska ketika melihat putranya tertunduk lesu bersama seorang lelaki paruh baya di depan kursi tunggu ruang operasi. Mendengar namanya dipanggil, Devan mengangkat wajahnya. Lelaki itu segera berdiri ketika melihat keluarganya dan juga Azahra serta orang tua Azahra berjalan ke arahnya. “Mama,” panggil Devan. Siska tidak bisa menahan dirinya, wanita itu menghambus memeluk putranya. Siska menumpahkan air matanya di d**a bidang putra sulungnya. “Devan, apa yang terjadi. Kamu baik-baik saja kan?” tanya Siska menangis sesegukan dalam pelukan Devan. “Devan baik-baik saja, Ma. Justru lelaki yang Devan tabrak yang dalam kondisi kritis,” jelas Devan kepada mamanya. Siska menatap putranya, layaknya memperlakukan Devan seperti anak kecil. Siska mengecek seluruh tubuh putranya, memastikan jika anaknya tidak terluka. Imam dan Agus mendekat ke arah Pak RT, mereka berbincang, saling bertanya perihal kejadian kecelakaan yang melibatkan Devan dan Pak Wasiono. Pak RT menceritakan kronologis yang terjadi, Imam dan Agus tidak sanggup untuk mendengarnya. “Saya sudah melapor ke pihak yang berwajib selaku warga negara yang baik,” jelas Pak RT. Imam mengangguk dan menepuk pelan bahu Pak RT. “Terimakasih, Pak. Sudah menemani putra saya,” ucap Imam dengan tulus. “Itu tugas saya, Pak. Tempat kejadiannya juga adalah wilayah saya, tentu saja saya harus membantu,” jawab Pak RT tersenyum memaklumi. “Mas, sebaiknya telepon pengacara Mas Imam sekarang. Lebih baik kita selesaikan secara kekeluargaan dengan keluarga pihak korban,” usul Agus. “Nggeh, benar itu Pak. Kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan ya tidak harus dibawa ke meja hijau,” ucap Pak RT memberikan pendapat. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Imam segera menghubungi pengacara keluarganya untuk segera datang ke rumah sakit guna mendampingi proses mediasi antara Devan dengan keluarga korban. Imam berharap, semoga pihak keluarga korban dan pihak kepolisian turut membantu proses mediasi yang akan mereka lakukan. Lampu operasi telah mati, menandakan bahwa operasinya telah selesai. Devan dan semua orang mengerubungi pintu keluar yang sekaligus menjadi pintu masuk itu. Dokter keluar dari sana, Devan segera menghampiri sang dokter yang memimpin jalannya operasi Pak Wasiono. “Keluarga korban?” tanya dokter mencari sosok keluarga Pak Wasi. “Saya sudah meminta pihak kepolisian menghubungi keluarga korban, Dokter. Kalau perlu saya menghubungi sekali lagi,” ucap Devan kepada sang dokter. Dokter lelaki itu menatap Devan. “Dengan Mas siapa?”  “Saya Devan, Dokter. Saya yang bertanggung jawab atas diri pasien,” jawab Devan dengan tatapan penuh tanda tanya. “Dengan berat hati saya mengumumkan ini, korban telah meninggal dunia pukul dua puluh dua lebih lima menit waktu Indonesia bagian barat,” ucap dokter itu membuat kaki Devan terkulai lemas sampai tubuhnya terhuyung. Azahra mencekal tangan Devan. “Mas Devan,” lirih Azahra dengan matanya berkaca-kaca. Tangan Devan bergetar hebat, begitu juga dengan kaki lelaki itu. Devan tidak menyangka dirinya akan menjadi seorang pembunuh dalam waktu sekejap. Bagaimana ini, apa yang harus Devan lakukan? Apa yang harus Devan katakan kepada putri Pak Wasi? “Sebelum saya memulai operasinya, Pak Wasi menitip pesan seperti ini kalau tidak salah ‘jaga putriku’. Entah itu ditujukan untuk siapa, saya mohon untuk pesan ini diamantkan kepada pihak keluarga.” Selang beberapa menit, para perawat mendorong keluar ranjang pasien yang kini memuat tubuh Pak Wasi yang sudah tidak bernyawa. “Tidak, tidak mungkin,” lirih Devan menggelengkan kepalanya. Air mata Devan meluruh tanpa permisi. Devan menghampiri jenazah Pak Wasi hingga para perawat berhenti mendorong ranjang. “Pak, saya tidak akan menjaga putri Bapak. Bapak yang harus menjaganya. Pak Wasi, saya mohon buka mata Bapak,” teriak Devan di depan jenazah Pak Wasi. Imam menarik tubuh Devan mundur ke belakang. “Le, sudah to. Semua ini sudah rencana dari Gusti Allah, kita cari jalan keluarnya nanti kalau keluarga Pak Wasi sudah sampai,” ucap Imam  mencoba menenangkan putranya yang kini kalut. “Pa, putri Pak Wasi jadi yatim piatu gara-gara Devan. Bagaimana bisa Devan menjalani hidup ke depannya? Devan menjadi seorang pembunuh,” teriak Devan begitu hancur. Siska menangis dalam pelukan Azahra, baru kali ini Siska melihat putranya begitu rapuh dan terlihat sangat kalut. “Pak Wasi, apa yang harus saya katakana kepada Naomi?” teriak Devan mengguncang tubuh Pak Wasi yang kini putih pucat layaknya mayat pada umumnya. Azahra sudah tidak tahan lagi, wanita itu menarik Devan dengan kasar. “Mas Devan, sudah! Mas hanya akan menyakiti Pak Wasi,” ucap Azahra dengan air mata yang kini meluruh. Devan menatap Azahra, tangan lelaki itu memegang kedua bahu Azahra. “Azahra, aku seorang pembunuh. Maukah kamu menikahi seorang pembunuh, Azahra?” tanya Devan dengan tatapan yang sangat menyakitkan, menyayat hati semua mata yang kini beradu pandang dengan matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD