Bab 12

962 Words
Air mata yang kini meluruh dari mata Devan, tidak mampu mengembalikan nyawa Pak Wasiono yang meninggal atas kelalaian Devan dalam mengendarai motornya. Lelaki itu kini menangis dalam pelukan Azahra, menumpahkan segala beban yang ada dalam pundaknya. Azahra mengelus punggung Devan, memberikan kekuatan kepada calon suaminya. Para perawat mendorong kembali ranjang pasien menuju ruang jenazah. Siska tidak mampu melihat putranya seperti sekarang. Kakinya sangat lemas, kalau saja Aisyah tidak memegangi tubuhnya, mungkin saja dirinya akan jatuh tersungkur ke lantai yang sangat dingin. “Mas, tenangkan dirimu,” ucap Azahra menenangkan Devan yang kini dirundung penyesalan dan juga rasa bersalahnya. Dua polisi datang ke arah mereka, mungkin kedua polisi itu juga yang tadi menjawab laporan dari Pak RT atas kasus kecelakaan yang mengakibatkan seseorang meninggal dunia. “Selamat malam, kami mendapat kabar bahwa terjadi kecelakaan di jalan Menoreh Raya dari Bapak Mardi,” ucap salah satu dari polisi itu dengan hormat. “Saya, Pak Mardi yang tadi melaporkan kejadian,” ucap Pak Mardi selaku Ketua RT warga setempat. “Siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini?” tanya pihak kepolisian yang menjabat sebagai penyidik divisi kecelakaan lalu lintas di Kota Semarang. Pak Aziz namanya, pria berumur empat puluh tahun yang kini kebetulan tengah bertugas dalam menangani kasus Devan. “Saya Pak, saya pelakunya,” ucap Devan menatap Pak Aziz. Pak Aziz dapat melihat jelas bagaimana kehancuran Devan lewat tatapan mata lelaki itu. Mata yang kini merah karena air mata, juga bibir pucat pasi yang terlihat seperti mayat. Rasa penyesalan yang kini menyelimuti diri Devan tidak bisa lagi lelaki itu bendung. Bahkan lelaki sejati memiliki air mata untuk benar-benar menyesali perbuatannya. “Selamat malam, saya Aziz dari divisi kecelakaan lalu lintas Kota Semarang. Bisakah anda menceritakan kronologisnya?" tanya Pak Aziz formal. Devan mengangguk. “Tentu saja, bahkan mendekam di penjarapun saya siap. Saya akan mempertanggung jawabkan semuanya, Pak.” Tatapan Devan sangat kosong, dalam pikirannya dia hanya fokus pada sosok wanita bernama Naomi Indira yang tidak lain adalah putri dari Pak Wasiono. Apa yang akan Devan katakan kepada wanita itu?  “Devan! Apa yang kamu bicarakan! Semuanya bisa diselesaikan baik-baik,” tegur Siska tidak terima dengan ucapan yang keluar dari mulut Devan. “Benar yang Anda katakan, Bu. Sebelum kasus naik ke kejaksaan, pihak kepolisian bisa melakukan mediasi dengan syarat mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga,” ucap Pak Aziz menjelaskan. Devan berjalan mendekat ke arah Pak Aziz. “Nama saya Devan, saya siap untuk menjawab pertanyaan dari Bapak,” ucap Devan sekali lagi, menegaskan bahwa dirinya siap dan baik-baik saja untuk menjawab pertanyaan dari pihak kepolisian. “Devan, kita tunggu pengacara keluarga kita saja. Pak Wahid dalam perjalanan ke mari,” ucap Imam Rewangga, takut jika pernyataan Devan justru memberatkan dirinya nanti dalam gelar perkara. “Tidak usah, Pa. Ini hanya tanya jawab singkat, benar begitu kan Pak?” tanya Devan dijawab anggukan kepala dari Pak Aziz. Devan menyerahkan ponsel milik Pak Wasiono dan dompetnya. “Apakah Anda sudah menghubungi pihak keluarga korban?” tanya Devan. “Kami sudah menghubunginya lewat nomor yang diberikan Pak RT, putrinya yang menjawab dan katanya akan segera datang,” jawab Pak Aziz. Putrinya akan segera datang? Justru bukan hukuman penjara yang Devan takutkan. Melainkan hukuman yang akan putri dari Pak Wasiono berikan kepadanya. Sungguh, Devan tidak sanggup jika harus bertatap muka dengan putri dari Pak Wasiono. “Dia perjalanan dari Gunung Pati, sepertinya mahasiswi di sana,” jelas Pak Aziz. Ah, rupanya putri dari Pak Wasiono seorang mahasiswi.  Di sisi lain, air mata terus menerus menetes dari netra berwarna coklat gelap yang sangat kontras dengan wajah cantiknya. Bibir berwarna peach tanpa polesan lipstick, kini berubah menjadi bibir pucat pasi. Naomi Indira, wanita yang baru saja berumur 22 tahun tidak bisa meluapkan rasa sesak dalam dadanya tatkala pihak kepolisian menghubunginya dan memberikan kabar bahwa ayahnya tengah di rawat di Rumah Sakit Dokter Kariadi, Semarang, karena terlibat kecelakaan lalu lintas. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Naomi langsung menutup laptopnya tanpa menyimpan lebih dulu garapan skripsi tugas akhirnya yang baru saja dia kerjakan. Wanita itu menangis, sontak saja semua teman-teman satu kosnya berhamburan menuju kamar Naomi. Fitria, teman baik Naomi kini mengantarkan wanita itu menuju rumah sakit. Mereka naik ojek mobil online karena malam semakin larut dan tidak ingin terjadi hal-hal buruk nanti dalam perjalanan. Fitria menenangkan Naomi, punggung wanita itu bergetar hebat. “Kamu sudah menghubungi Lek Nar?” tanya Fitria. (Lek berasal dari kata Ibu Cilek atau Bapak Cilek yang berarti adik dari orang tua). Naomi mengangguk. “Aku sudah menghubungi Lek Nar, katanya dia akan datang ke rumah sakit sekarang juga bersama suaminya,” jawab Naomi di sela-sela isakannya. Siapa yang tega melihat teman baiknya dalam kondisi sehancur itu. Fitria memeluk erat tubuh Naomi yang kini bergetar. Naomi menumpahkan segala kesedihannya dalam pundak Fitria, teman curhatnya. Syukurlah, Lek Nar bisa datang ke rumah sakit untuk menemani Naomi di sana. Naomi seorang anak yatim. Ibunya berasal dari Riau, dan keluarga ibunya sudah kehilangan komunikasi dengan Naomi semenjak sang ibu meninggal. Lalu ayahnya, Pak Wasiono seorang anak tunggal yang orang tuanya sudah meninggal. “Terimakasih, Mas,” ucap Fitria sambari menyodorkan uang tujuh puluh ribu sebagai ongkos mobil yang mereka tumpangi sesuai argo dalam layar aplikasi ojek onlinenya. Fitria membantu Naomi untuk berjalan, kaki Naomi lemas tak bertenaga.  “Na, jangan berpikir buruk. Ayo kuatkan dirimu, ayahmu pasti menunggu kedatanganmu,” ucap Fitria mencoba menguatkan sahabatnya. “Fit, bagaimana kalau ayahku sampai meninggal?” isak Naomi tak tertahankan. Memikirkan dirinya akan menjadi anak yatim piatu saja membuat dunianya hancur dalam seketika. Tidak mungkinkan Tuhan mengambil kedua orang tuanya sekaligus? Tuhan pasti akan menyisakan satu orang tuanya untuk menemani Naomi sampai nanti dirinya bertemu dengan lelaki yang pantas untuk dirinya. “Na jangan ngomong begitu ah, Ayah Wasi pasti baik-baik saja,” ucap Fitria. Mereka berdua berjalan masuk menuju poli tempat Pak Wasiono di rawat. Penglihatan Naomi kabur karena air mata. “Kamu di sini dulu, aku tanya satpam.” Fitria melangkah menuju satpam yang berjaga di pintu masuk. “Maaf Pak mengganggu, korban kecelakaan yang baru saja masuk berada di mana ya Pak?” tanya Fitria. “Korban kecelakaan dua jam yang lalu?” “Saya kurang faham Pak, antara motor dan mobil di Jalan Menoreh,” jawab Fitria memberitahu. “Iya, dari sini lurus saja Neng, baru saja masuk ke ruang jenazah,” ucap satpam membuat mata Fitria terbelalak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD