Bab 13

866 Words
Mendengar jawaban dari satpam rumah sakit yang mengatakan ayah Naomi masuk ke kamar mayat membuat kaki Fitria lemas seketika.  Apa? Kamar mayat? Benarkah apa yang Fitria kini dengar?   Mulut Fitria terkatup sempurna. “Neng?” panggil satpam ketika melihat Fitria terbengong. Fitria menatap satpam itu, dan bertanya “Pak, Bapak serius?” tanya Fitria tidak yakin. “Sumpah, Neng. Ke sana aja cek sendiri,” jawab satpam itu tidak berbohong. Mata Fitria kini menatap Naomi yang kini menutup wajahnya karena menangis. Bahkan beberapa orang di sana menatap Naomi dengan bingung. Namun, tangisan di rumah sakit bukanlah hal yang tabu lagi. Banyak sanak keluarga yang menangis karena keluarga mereka jatuh sakit maupun telah mencapai ajalnya. Fitria berjalan mendekati Naomi, dirinya harus kuat untuk Naomi. Saat ini, hanya Fitria yang mampu menenangkan sahabatnya itu. “Bagaimana Fit?” tanya Naomi kepada Fitria. Fitria mencoba tersenyum di depan sahabatnya. Tidak mungkin Fitria mengatakan yang sebenarnya untuk saat ini.“Aku sudah tahu ruangannya, ayo,” ajak Fitria menggandeng tangan Naomi menuju kamar jenazah. Dalam langkah kakinya, Fitria terus menahan air mata yang sejak tadi dia tahan setelah mendengar bahwa ayah Naomi dinyatakan meninggal dunia. Apa yang akan terjadi dengan Naomi? Wanita itu akan menjadi yatim piatu setelah kesakitan meninggalnya sang ibu masih terus Naomi rasakan. Naomi terus menangis, Fitria tidak sanggup menahan sesak dalam dadanya. Wanita itu memeluk tubuh Naomi dengan erat. “Na, aku tahu kamu kuat. Kamu kuat, Na,” ucap Fitria memeluk erat Naomi Indira. Jantung Naomi serasa mencelos mendengar ucapan yang keluar dari mulut Fitria. Kenapa temannya mengatakan hal seperti itu? Mendengarnya, Naomi seakan merasa dirinya akan mengalami kehilangan dan kesakitan yang begitu dalam. “Aku yakin, kamu kuat,” isak Fitria tak tertahankan. Naomi melepaskan pelukan Fitria, matanya menatap tepat di manik mata Fitria. Wanita itu menyunggingkan senyumnya yang justru terlihat sangat menyakitkan bagi siapapun yang kini melihatnya. Apa maksud ucapan yang baru saja Fitria katakan kepada Naomi? “Fit, apa maksudmu?” tanya Naomi menautkan kedua alisnya. Naomi menatap ke sekelilingnya, wanita itu baru sadar bahwa langkah kaki mereka telah melewati beberapa ruang perawatan. Naomi menoleh ke belakang, satu plang ruangan yang bagaikan hukuman gantung bagi wanita itu. Kamar mayat. Tidak mungkin, dirinya dan Fitria hanya tersesat saja. Kenapa juga Naomi harus berjalan ke arah sana? Ayahnya berada di kamar operasi. Naomi harus segera ke sana karena ayahnya mungkin menunggu kedatangan Naomi saat ini. “Fit kita salah jalan, ayahku di ruang operasi. Kenapa kita menuju kamar mayat? Kamu becanda?” kekeh Naomi dengan deraian air mata yang membanjiri pipinya. Satu polisi muncul dari depan kamar janazah. d**a Naomi berdebar begitu kencang. Mungkinkah itu polisi yang tadi menghubunginya. “Kita cari ruang operasinya, kamu ngawur tau nggak sih Fit!” kesal Naomi menghapus air matanya dengan kasar. Ketika Naomi baru saja melangkah, suara Fitria membuat Naomi tidak mampu lagi meneruskan langkah kakinya. Keseimbangan tubuh Naomi mulai goyah, kaki wanita itu terasa lemas seperti jelly. “Ayah Wasi sudah meninggal Na, dia baru saja masuk ke kamar mayat,” ucap Fitria dengan berat hati. Deg! Ada batu yang menghujam d**a Naomi, sangat sakit, begitu pedih tidak tertahankan. Air matanya meluruh deras seperti air yang kehilangan bendungannya. Naomi menoleh ke arah temannya. “Aku tidak akan memaafkanmu, kamu becandanya keterlaluan,” isak Naomi dengan bulir-bulir air matanya menetes. “Ayahmu menunggumu Na,” lirih Fitria meminta pengertian Naomi. Naomi menatap kamar mayat yang berdiri beberapa orang di lorong itu, bersama satu polisi. Tidak mungkin jika apa yang Fitria katakan itu benar. “Tidak, aku akan membuktikan kepadamu bahwa ayahku masih hidup,” ucap Naomi dengan isakan hebat yang keluar dari mulutnya. Wanita itu berlari, membuat Devan, Azahra, dan beberapa keluarga mereka menoleh ke arah suara. Tubuh Devan terpaku, tidak bisa bereaksi apapun lagi selain menatap sosok wanita yang kini berderai air mata berlari ke arah mereka. “Ayah, tidak,” isak Naomi dengan Fitria yang kini berlari menyusul Naomi. Pak Aziz segera menghadang Naomi. “Dia putri Pak Wasiono,” ucap Fitria sebelum Pak Aziz membuka mulutnya untuk bertanya. Pak Aziz mengangguk mengerti. Pak Aziz membuka pintu kamar mayat yang hanya dihuni oleh ayah Naomi seorang karena itu kamar khusus mayat yang baru saja meninggal sebelum keluarga membawa pulang untuk dimakamkan. “Waktu kematian, dua puluh dua lebih lima menit waktu Indonesia bagian barat,” ucap Pak Aziz sebelum memperbolehkan Naomi untuk melihat jenazah ayahnya. Mulut Naomi bergetar, tangis histeris keluar dari mulutnya yang sangat pucat.  “Tidak, ayah Naomi tidak mungkin meninggal,” teriak Naomi dengan tangisan tak terbendung lagi. Pak Aziz mempersilahkan Naomi membuka wajah ayahnya. Dengan tangannya yang kini gemetaran, Naomi membuka tutup kain berwarna putih itu dengan perlahan. Betapa hancurnya hati Naomi melihat sosok ayah yang selalu menanyakan kabarnya setiap pagi terbujur kaku di depannya dengan wajah pucat pasi. “Ayahhhhh,” pekik Naomi berhambur memeluk ayahnya begitu erat. Naomi menangis di d**a bidang ayahnya. “Tidak, ayah tidak boleh meninggalkan Naomi. Kalau ayah pergi, Naomi dengan siapa Ayah?” isak Naomi membuat Devan yang kini menatap wanita itu di balik pintu ikut menangis. Azahra menggenggam tangan Devan. “Ini sangat berat untuk semua orang, Mas,” lirih Azahra. Naomi mengguncang tubuh ayahnya. Wanita itu terus menangis memeluk ayahnya. Siska yang melihatnya menjadi tidak tega. “Nduk, jangan menangis. Kasihan Ayah, air matamu memberatkan beliau di alam kubur. Tenangkan dirimu.” Siska mengusap punggung Naomi, mengelus puncak kepala Naomi dengan lembut. Tangis Naomi justru semakin kencang, Naomi sangat hancur. Kenapa Tuhan mengambil ayahnya setelah Naomi tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dengan sewajarnya?  “Kalian pembunuh, Ayah mereka … mereka membunuhmu, hiks.” Apa yang Devan takutkan akhirnya terjadi juga. Tangis air mata putri dari Pak Wasiono menjadi hukuman paling mengerikan, melebihi dinginnya sel tahanan. Naomi, bisakah kau memaafkanku? Ucap Devan dalam hatinya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD