Bab 14

915 Words
Jerit tangis histeris yang keluar dari mulut Naomi Indira membuat siapapun yang melihatnya ikut hancur. Naomi memeluk jenazah ayahnya begitu erat, seerat dekapan ayahnya ketika memeluk Naomi saat sang ayah masih hidup. Naomi, merasa ini bagaikan mimpi buruk yang seharusnya bisa segera usai ketika dirinya bangun. “Ayah, Naomi hanya mimpi kan? Kenapa Ayah tidur di sini hm? Ayo Ayah bangun, kita pulang ke rumah,” ucap Naomi bersama dengan derai air mata yang mengalir di wajahnya. Fitria tidak mampu lagi menahan dirinya, wanita itu turut menangis bersama dengan Naomi. “Na, jangan gini. Kasihan ayah kamu,” ucap Fitria menenangkan Naomi. Siska, yang tidak lain adalah ibu dari Devan tidak bisa melakukan apapun lagi selain menutup mulutnya dengan kedua tangan, sebelum tangisannya semakin menjadi-jadi. Tangisan yang keluar dari mulut Naomi membuatnya merasa ikut andil dalam penderitaan nantinya akan Naomi alami semenjak kematian ayahnya. Menjadi seorang anak yatim piatu bukanlah mimpi semua orang. Apalagi saat ini umur Naomi masih bisa dianggap belum matang untuk hidup seorang diri. Hidup tanpa ayah, tanpa ibu, siapa yang akan menjadi penopang Naomi nantinya? “Ayah—ayah nanti Naomi sama siapa?” ucapan Naomi semakin membuat semua orang teriris hatinya. Saat itu juga, Bu Lek Nar datang ke sana dengan bersimbah air mata. Bu Lek Nar adalah adik sepupu dari ayah Naomi. “Naomi sayang,” lirih Bu Lek Nar dengan suara yang serak, suaranya seakan lenyap begitu saja melihat keponakannya menangis di atas tubuh sang ayah. Naomi menoleh ke arah Bulek Nar. “Bu Lek,” ucap Naomi menerjang tubuh Bu Lek Nar, memeluk tubuh gempal wanita yang kini berusia hampir empat puluh tahun. Bu Lek Nar mengelus kepala Naomi, dirinya tidak menyangka bahwa ayah Naomi akan pergi secepat itu. Meninggalkan putrinya seorang diri tanpa orang tua. “Bu Lek, kenapa Allah tidak adil dengan Naomi? Kenapa Allah mengambil ayah juga? Apakah Naomi selama ini menjadi anak yang jahat?” tanya Naomi dengan matanya memerah karena tangis. Bu Lek Nar menghapus air mata Naomi, sedangkan suaminya berada di luar untuk berbicara dengan pihak kepolisian dan juga pihak Devan serta keluarganya. Mereka mencari solusi utama untuk permasalahan yang kini terjadi. “Lebih baik kita makamkan dulu jenazah Pak Wasiono. Untuk biaya, saya sekeluarga yang akan menanggungnya Pak. Sekaligus nanti kita bicarakan jalan yang akan kita tempuh,” ucap Imam Rewangga selaku ayah dari Devan mengusulkan solusi saat ini. Semua orang menyetujui solusi yang diberikan oleh Imam Rewangga. Dalam agama mereka sekalipun, mengsegerakanmenguburkan jenazah hukumnya adalah wajib. Suami dari Bu Lek Nar menghubungi seluruh keluarga besarnya, memberitahukan bahwa ayah dari Naomi telah meninggal dunia karena kecelakaan. “Iya, Mas. Tolong bantu membersihkan rumah Mas Wasi ya, sebentar lagi jenazah akan dibawa pulang,” ucap suami dari Bu Lek Nar kepada seseorang yang kini tengah bertelepon dengan dirinya. Siska memberanikan diri menyentuh kepala Naomi yang saat ini berada dalam pelukan Bu Lek Nar. “Mbak, segerakan membawa pulang jenazah,” ucap Siska mengingatkan Bu Lek Nar. Meskipun umur Siska lebih tua dari umur Bu Lek Nar, namun Siska tetap memanggilnya dengan sebutan ‘Mbak’ sebagai penghormatan dalam berbicara. Bu Lek Nar mengelus punggung Naomi dengan lembut. “Nduk, kita bawa ayahmu pulang dulu ke rumah yo. Kita segerakan menguburkan beliau,” ucap Bu Lek Nar memberikan pengertian kepada Naomi. Wanita itu akhirnya mengangguk, menyetujui apa yang adik sepupu ayahnya katakan. Mungkin, keluarga yang tersisa hanyalah keluarga besarnya dari pihak mendiang ayahnya saja. Tentu saja keluarga sepupu tidaklah seperti keluarga sendiri. Mereka punya kesibukan masing-masing, dan memiliki tanggung jawabnya sendiri. Lalu, Naomi akan memasrahkan hidupnya dengan siapa? Di usianya saat ini, Naomi bahkan belum pernah merasakan dunia kerja itu seperti apa. Naomi hidup berdua dengan sang ayah, dan hanya dia anak satu-satunya yang sudah jelas menjadi anak kesayangan ayahnya. Untuk hidup susah, Naomi sering kali merasakannya ketika Pak Wasiono tengah macet pekerjaannya. Dalam dekapan hangat Bu Lek Nar, Naomi dituntun keluar dari kamar jenazah . Saat itu juga, pandangan Naomi dan Devan bertemu, keduanya saling menatap begitu dalam untuk beberapa detik. Kalau saja bukan panggilan dari Imam Rewangga, mungkin Devan akan terus menatap sosok Naomi yang kini menangis dalam pelukan Bu Lek Nar. “Mari, Mas. Kita lakukan pemeriksaan dulu, kami perlu mengidentifikasi apakah anda dalam pengaruh obat-obatan terlarang atau tidak,” ucap Pak Aziz, selaku penyidik Lakalantas Kota Semarang. Sebagai warga negara yang baik dan kooperatif, Devan mengiyakan ajakan dari Pak Aziz. Sebelum Devan mengikuti Pak Aziz, lelaki itu berbalik menatap Azahra. Sebisa mungkin Devan mencoba untuk mengukir senyuman di bibirnya meskipun itu gagal. “Tunggu aku,” ucap Devan diangguki oleh Azahra. Azahra mencium tangan Devan yang kini menangkup wajahnya. “Kita akan melewati semua ini bersama-sama,” ucap Azahra meyakinkan Devan bahwa semuanya akan segera berlalu. Devan tersenyum, dan Azahra mengusap air mata yang kini meluruh dari mata elang di depannya. Kebetulan sekali, saat itu pengacara keluarga Devan sampai di sana dan siap untuk mendampingi Devan dalam pemeriksaan. “Mama mendoakanmu Devan,” lirih Siska dengan air mata menggenang di matanya. Semua orang mendukung Devan, mereka yakin bahwa semuanya akan berlalu. Pasti ada titik terang untuk masalah yang saat ini membelit Devan. Tidak ada yang ingin mengalami musibah seperti Devan, begitu juga tidak ada yang ingin menjadi yatim piatu di usia dua puluh dua tahun seperti Naomi. Semua telah diatur oleh Tuhan, Sang Maha Adil. Devan berjalan di apit oleh Pak Aziz dan anak buahnya. Mata Devan kembali berpapasan dengan manik mata milik Naomi. Jantung Devan berdetak begitu kencang, perasaan bersalah dalam hatinya membuncah begitu hebat ketika sorot mata penuh kesakitan milik Naomi menatap dirinya. Akankah sosok itu memaafkan dirinya? Akankah Naomi memberikannya kesempatan untuk menebus segala dosa-dosanya? Langkah Devan terhenti, niat hatinya ingin menghampiri Naomi. Bersimpuh di bawah kaki wanita itu dan meminta maaf atas kesalahan yang dia buat. “Mas Devan, ayo,” ucap Pak Aziz memberikan komando kepada Devan untuk meneruskah langkahnya. - Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD