Semenjak kejadian itu, Alvin menyewa sebuah kamar kost yang letaknya tidak jauh dari tempat kerjanya. Untuk sementara waktu, ia akan tinggal di sana sampai emosinya mereda. Sebenarnya setelah pemukulan itu, ia merasa bersalah pada Sovia. Namun sampai saat ini ia masih tidak terima dengan perbuatan Sovia yang sudah sangat keterlaluan pada dirinya. Kejadian malam itu bermula saat Alvin pulang dari kantor, saat pulang ia tidak mendapati istrinya berada di rumah. Padahal malam itu ia mau mengajak Sovia nonton dan memperbaiki hubungan mereka berdua, yang akhir-akhir ini agak merenggang. Ia bertanya ke pembantu rumah tangganya, tapi wanita itu juga tidak mengetahui kemana Sovia pergi. Berkali-kali Alvin mencoba menghubungi Sovia, tapi ia harus menelan kekecewaan, karena ternyata ponselnya Sovia tidak aktif. Bingung harus mencari istrinya kemana lagi, akhirnya ia hanya menunggu istrinya, sampai pulang.
Tepat pukul setengah dua belas malam, terdengar suara deru mesin mobil dari arah depan rumah. Ia yang semula berada di ruang tengah, bergegas pergi ke depan dan mengintip dari jendela kaca yang kebetulan tertutup tirai warna hitam. Ia melihat seorang laki-laki dengan memakai kemeja putih yang kancingnya terbuka sampai d**a, keluar dari pintu sopir. Ia berjalan memutari mobil dan membukan pintu penumpang. Alvin tersentak kaget saat melihat yang keluar dari mobil itu ternyata adalah istrinya, Sovia. Laki-laki itu terlihat memapah tubuh Sovia dan membawanya ke depan pintu masuk rumah. Kondisi Sovia sangat berantakan. Ia memakai dress warna hitam tanpa lengan, yang panjangnya hanya diatas lutut. Rambutnya yang pendek terlihat acak-acakan. Ia dalam kondisi setengah sadar karena mabuk. Laki-laki itu memeluk Sovia tepat pada pinggangnya dan mendekapnya ketika Sovia hampir terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubunya. Sovia berkali-kali mengalungkan tangannya pada laki-laki itu dan mereka saling bertatapan dengan mesra. Darah Alvin seketika itu mendidih, suami mana yang kuat melihat istrinya di peluk oleh seorang laki-laki yang tidak di kenal, dalam keadaan setengah sadar dan mabuk. Laki-laki itu berjalan menuju pintu rumah dan mengetuknya. Tanpa berpikir panjang, Alvin bergegas membukakan pintu dan seketika itu ia menarik tubuh Sovia ke arahnya. Alvin memandang mata laki-laki tak dikenal itu dengan tatapan tajam dan penuh selidik.
“Anda siapa? kenapa malam-malam bisa bersama istri saya?” tanya Alvin dengan tatapan menyelidik.
“Oh maafkan, jadi anda suaminya?” tanya balik laki-laki itu sembari mengernyitkan dahinya.
“Iya saya suaminya.”
“Maaf saya tidak tahu kalau dia punya suami, saya kira dia masih single.”
“Jaga mulut, anda.”
“Maafkan saya, tapi saya kenalan dengannya di Bar, dan saya benar-benar tidak tahu kalau dia sudah punya suami. Sekali lagi maafkan saya dan tolong jaga baik-baik istri anda. Jangan biarkan dia terlalu akrab dan nempel-nempel pada laki-laki yang baru dikenal.”
“Oke. Terimaksih sudah mengantar istri saya.” Seketika itu Alvin langsung membawa Sovia masuk ke dalam rumah, dan kembali mengunci pintu rumahnya. d**a Alvin terasa sesak, saat mendengar perkataan laki-laki itu. Apakah benar semua yang dikatakan olehnya? apakah benar istrinya adalah orang seperti itu, ketika di luar rumah? Apakah selama ini ia salah karena membiarkan istrinya itu bergaul dengan teman-temannya, dan sering pulang larut malam? kalau memang iya, alangkah bodohnya Alvin selama ini sudah terlalu menaruh kepercayaan pada Sovia dengan begitu besar. Ia percaya kalau Sovia adalah wanita yang baik-baik dan tidak akan berbuat yang tidak-tidak di belakangnya. Namun ternyata ia salah besar. Kepercayaannya selama ini pada Sovia ternyata di khianatinya begitu saja. Alvin merasa sangat kecewa dengan perbuatan Sovia kali ini. Ingin rasanya ia tidak mempercaya apa yang dilihatnya. Tapi bukti sudah ada di depan mata. Mau tidak mau ia harus percaya dengan semua yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.
Alvin membawa Sovia ke dalam kamarnya, berkali-kali wanita itu merancau tidak jelas karena dirinya sedang di luar kesadaran. Alvin tiba-tiba menampar Sovia untuk menyadarkannya, tapi Sovia malah berteriak dan memaki-maki Alvin dengan umpatan-umpatan kasar. Alvin yang kesal mendengar ocehan Sovia, langsung membanting tubuh istrinya itu di atas ranjang. Ia meluapkan kekesalannya dengan memukuli bagian tangan dan kaki istrinya itu. Sovia yang awalnya tidak sadar, kini mulai merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Ia meminta ampun pada Alvin, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sovia menangis sesenggukan, ia berkali-kali memohon pada Alvin agar menghentikan perbuatannya itu.
“Tolong hentikan, Vin. Ampun ....” Itulah teriakan Sovia yang terdengar saat itu. Mendengar tangisan Sovia hati Alvin mendadak luluh, ia menghentikan perbuatannya pada Sovia dan keluar dari kamar itu, membiarkan Sovia yang masih berbaring di ranjang dengan ketakutannya.
Alvin mengambil sebuah tas ransel kecil dan kembali masuk ke kamar. Ia membuka lemari bajunya dan memsukkan beberapa lipatan baju ke dalam tasnya. Sovia yang masih setengah sadar mencoba memicingkan matanya untuk melihat apa yang dikerjakan Alvin saat ini. Namun ia tidak bisa melarang Alvin, ia takut suaminya itu akan memukulinya lagi. Perlahan ia bangun dari tidurnya, dan duduk di atas ranjang. Kepalanya terasa berat dan pusing, akibat dari minuman berakohol itu. Sementara itu Alvin keluar kamar dan menuju ke halaman depan rumah dengan tas ransel di tangannya. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya memecah keheningan malam itu. Hari sudah terlalu malam, Alvin memutuskan untuk tidur di hotel sementara waktu sampai ia menemukan tempat tinggal untuk dirinya. Ia akan mencari kamar kost yang dekat dengan tempatnya bekerja.
****
Ervin berbaring di atas ranjang kamar kostnya. Kebetulan ia mendapatkan tempat kost yang jaraknya tidak seberapa jauh dari kost Alena. Hal itu bukan karena di sengaja, tapi saat itu yang ada kamar kosong dan sesuai dengan seleranya, cuma di rumah yang ia tempati sekarang. Ukuran kamar yang ia tempati memang agak luas, bahkan luasnya hampir sama dengan kamarnya di rumah. Kostan yang di tempati Alvin saat ini adalah salah satu tempat kost, yang memang diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas, jadi rata-rata yang tinggal di sana adalah orang-orang dengan pekerjaan yang memiliki gaji yang tinggi. Setidaknya di tempat itu ia merasa nyaman dan untuk sementara waktu bisa melupakan masalahnya dengan Sovia. Untuk yang kedua kalinya Alvin lari dari masalah. Ia terlalu pengecut untuk menghadapi masalahnya. Ia juga tidak tahu sampai kapan ia akan menghindar dari istrinya itu. Hatinya masih terasa sakit, jika mengingat apa yang telah di perbuat oleh Sovia selama ini padanya. Selama ini ia menahan segala kemarahannya, hanya karena ia masih sayang dengan Sovia dan ingin mempertahankan pernikahannya. Alasannya hanya satu, baginya pernikahan adalah momen yang sakral, yang terjadi satu kali seumur hidupnya, makanya sebisa mungkin ia akan mempertahankannya, bagaimanapun caranya. Namun sabarnya malah diinjak-injak oleh istrinya itu. Ia terdiam dan bertanya dalam hati, apakah ini yang disebut hukum karma? apakah memang hukum karma itu memang benar-benar ada? mungkinkah ini balasan karena dulu ia telah menyia-nyiakan Alena? mungkin saja karena tidak ada yang tahu rahasia Tuhan. Sekarang ia hanya bisa menjalani apa yang ada dihadapannya, mencoba memperbaiki keadaan. Ia hanya butuh waktu untuk beristirahat sebentar, mengencangkan bahu untuk melanjutkan perjuangannya menjalani badai rumah tangga yang lebih besar lagi dari ini.
****
Semakin lama hubungan Alena memang semakin dekat dengan Ervin. Namun sampai hari ini, Ervin masih belum berani menyatakan perasaannya pada gadis itu. Alena sudah bisa melupakan kesedihannya sedikit demi sedikit dan Ervinlah yang selama ini membantunya agar bisa keluar dari keterputrukannya. Ia sangat bersyukur karena saat dirinya terpuruk, ia dipertemukan dengan laki-laki yang sebaik Ervin. Ia tidak bisa membayangkan kalau saja Ervin tidak datang dalam kehidupannya, mungkin sekarang ia masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Kini Alena merasa bahagia dengan adanya Ervin di sampingnya, harinya-harinya menjadi lebih berwarna. Kadang terbersit pikiran di dalam hatinya, apakah Ervin adalah laki-laki yang pantas untuk menggantikan Alvin dalam hatinya? mungkin saja, tapi pada kenyataannya ia masih trauma menjalani sebuah hubungan dan ia butuh waktu untuk beradaptasi dengan orang yang baru, setelah kejadian itu. Luka hatinya masih belum bisa sembuh benar. Pada momen-momen tertentu, ia masih mengingat kejadian-kejadian yang menyakitkan itu, sehingga kadang membuatnya sedih dan menangis. Ternyata terlalu mencintai seseorang, membuatnya harus menelan kekecewaan yang sangat mendalam.
Hari ini ia masuk kerja seperti biasanya. Saat ia sedang sibuk dengan pekerjaanya, ia mendengar gosip dari teman-temannya, kalau Alvin sekarang menyewa sebuah kamar kost deket dengan kantornya bekerja. Ia berpikir, apakah sekarang Alvin lagi ada masalah dengan istrinya? Kenapa ia tidak tinggal satu rumah dengan istrinya lagi? Rasa penasaran mulai menyelimuti hatinya, berbagai pertanyaan masih berputar-putar di dalam pikirannya. Ia berusaha menepis pikiran-pikiran itu, tapi kenapa malah tidak bisa, hal itu menjadi sesuatu hal yang menarik bagi dirinya. Ternyata pada kenyataannya bayang-bayang Alvin memang tidak semudah itu bisa hilang dalam pikirannya. Ia terlalu lemah untuk melawan pikirannya sendiri. Hatinya menjadi goyah saat mendengar rumah tangga Alvin sedang dalam masalah, apakah mungkin Alena masih berharap pada Alvin? ia sendiri pun tidak tahu jawabannya.
“Al, kamu tahu nggak, kalau Alvin sekarang ngekost di deket kostan kita?” Tanya Vania di suatu siang, saat mereka lagi menikmati makan siang di kantin kantor.
“Iya, aku udah mendengar gosipnya. Tapi aku udah nggak mau tau semua hal tentang dia.” Begitulah ucapan Alena pada saat itu, padahal sebenarnya ia sangat perduli dengan berita Alvin.
“Ya udah lupakan aja. Lagian dia udah bagian dari masa lalumu, nggak perlu diingat-ingat lagi.” Ucap Vania. Sahabatnya itu memang benar, Alvin adalah bagian dari masa lalunya. Seharusnya ia memang harus melupakannya, tapi pada kenyatannya ia tidak bisa. Sebenarnya berita tentang Alvin menjadi hal yang sangat menarik baginya saat ini.