37. Kesalahan Kedua 37

1038 Words
Hari ini Alena pulang agak malaman, karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang sangat banyak. Ia memang sengaja menyelesaikannya agar besok tidak terlalu banyak kerjaan yang menumpuk. Di dalam ruangan kerjanya hanya tinggal beberapa orang saja, mereka sedang sibuk dengan komputernya masing-masing. Sedangkan Vania, sudah pulang duluan karena ia sedikit tidak enak badan, jadi tidak bisa menemani Alena seperti biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.Berkali-kali Alena menguap, rasa kantuk sudah mulai menyerangnya. Ia sudah tidak kuat lagi menahan kantuknya dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Setelah membereskan isi tas dan mematikan komputernya, ia pun berpamitan kepada beberapa orang yang masih berada di dalam ruangan itu. Alena keluar dari ruangan kantornya dan menuju ke lift karyawan untuk turun ke lantai dasar. Baru saja beberapa langkah keluar dari gedung perkantoran itu, ia dikejutkan oleh sosok laki-laki yang ia kenal. Laki-laki itu sedang memarkir mobilnya di tepi jalan sebelah pintu keluar gedung itu. Alena berjalan melewati mobil itu dengan pura-pura tidak kenal, dengan laki-laki yang ada di dalamnya. Ia sengaja terus berjalan menuju ke arah kostannya. Saat ia menyalip mobil yang berhenti itu, laki-laki sang pemiliknya pun berteriak-teriak memanggil-manggil namanya. Alena terus saja berjalan dan pura-pura tak mendengar panggilan laki-laki tersebut. Dalam hati ia memang sengaja menghindarinya. Mobil itu mengikutinya, karena merasa berisik dengan teriakan laki-laki itu, akhirnya Alena berhenti. Ia memalingkan badannya ke belakang. Sedangkan laki-laki itu turun dari mobilnya dan menghampirinya. “Al, tolong masuk mobilku sebentar. Aku ingin bicara sama kamu.” Pintanya dengan wajah memelas. “Ada apa lagi, Vin. Bukankah aku udah bilang, kita udah selesai dan nggak ada lagi yang harus di bicarakan.” Sahut Alena dengan tegas, tanpa berani memandang tatapan mata laki-laki itu. “Kasih aku waktu 10 menit aja, buat bicara sama kamu. Aku janji cuma 10 menit.” “Oke.” Jawab Alena sembari mengikuti Alvin yang berjalan menuju ke mobilnya. Yah laki-laki itu adalah Alvin, baru kali ini ia punya keberanian untuk memaksa Alena bicara padanya. Baru kali ini pula, Alena mau mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Alvin. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak mau menggubris kata-kata Alvin. Alena masuk ke dalam mobil Alvin dan duduk di kursi penumpang, saat ia menduduki bangku itu hatinya merasa tenang. Rasanya semua memorinya bersama Alvin berputar satu persatu di kepalanya. Ia berusaha menahan perasaannya, jangan sampai ia lengah. Ia mengingatkan pada dirinya sendiri kalau Alvin sudah memiliki seorang istri dan Alena tidak berhak untuk merusak kebahagiaan mereka berdua. “Apa yang mau kamu bicarain, Vin?” tanya Alena memandang lurus ke depan. “Al, aku lagi ada masalah dengan Sovia, ternyata dia bukan seorang istri yang menghargai suaminya.” “Tapi itu pilihanmu sendiri, Vin. Kenapa sekarang kamu ceritain ini semua padaku?” “Iya itu memang salahku. Aku minta maaf sama kamu, Al. Selama ini aku udah jahat sama kamu.” Mohon Alvin, dengan menundukkan kepalanya penuh penyesalan di depan gadis itu. Alena yang melihatnya dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu, hatinya pun menjadi luluh. Emosinya perlahan-lahan mulai menurun. Alena menghembuskan nafas berat, ia bersandar pada sandaran kursi yang ditempatinya. Ia hanya terdiam tak dapat berkata apa-apa. “Al, kamu mau kan maafin aku, kita baikan. Jangan saling bermusuhan seperti ini.” Pinta Alvin dengan kembali menunjukkan wajah memelasnya. Wajah itulah dulu yang berkali-kali membuat hati Alena luluh saat mereka masih bersama, dan begitu juga saat ini. Ketika Alena melihat Alvin dengan wajah yang seperti itu, ia menjadi tidak tega. Bagaimanapun juga di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih menyimpan perasaan sayang, yang tidak mudah untuk dihilangkan. Meskipun Alvin sudah menyakitinya dan membuatnya terpuruk seperti itu, ia tetap tidak bisa membencinya. Hati Alena terlalu rapuh, ia terlalu mudah terpengaruh oleh kata-kata Alvin. Mungkin itulah yang kemarin-kemarin membuat ia menjauhi Alvin, karena ia takut hatinya akan kembali mengharapkan Alvin. Alena tiba-tiba menganggukkan kepalanya, ia menyetujui kata-kata Alvin untuk berdamai. Iya, aku maafin kamu, Vin. Lupakan saja semuanya.” Jawabnya dengan tersenyum. Terdengar terlalu bodoh memang, tapi ia juga tidak bisa disalahkan karena cinta tidak dapat memilih kemana hatinya akan berlabuh. Bahkan Alvin yang nyatanya sudah menyakitinya pun, ia begitu mudah untuk memafkan. Cinta telah mengalahkan rasa bencinya pada laki-laki itu. Pertemuan mereka malam itu terbilang singkat, Alena sudah memafkan Alvin. Pertemuan itu adalah awal dari pertemuan-pertemuan berkutnya. Ia berkali-kali melakukan janji bertemu dengan Alvin, tanpa sepengetahuan Vania dan Ervin. Ia menyembunyikannya rapat-rapat, karena ia yakin kedua orang itu tidak akan setuju kalau melihatnya begitu mudahnya memaafkan Alvin. Dalam beberapa kali pertemuannya Alvin selalu menceritakan keadaan rumah tangganya pada Alena. Ia menceritakan kalau saat ini rumah tangganya dengan Sovia, dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Ia mengatakan jika Sovia bukan istri yang baik, ia tidak pernah mengerti tentang keadaan Alvin. Ia adalah istri yang sangat kasar beda dengan Alena. Alvin bercerita pada Alena kalau ia sangat menyesal karena telah menikah dengan Sovia. Mendengar semua cerita Alvin, Alena menjadi kasihan. Bagaimanapun juga ia masih sayang dengan Alvin, dan ia tidak ingin laki-laki yang di sayanginya itu tidak bahagia. Berkali-kali ia memberikan pendapatnya untuk selalu sabar mengahadapi Sovia dan meminta Alvin untuk kembali ke rumahnya lagi. Meskipun hatinya bertentangan dengan apa yang ia ucapkan tapi ia berusaha sabar, ia berusaha menunjukkan pada Alvin, kalau ia adalah gadis yang pengertian. Namun Alvin menolak, ia masih sakit hati atas semua perkataan dan perbuatan Sovia padanya. Ia masih tidak bisa untuk kembali ke sisi Sovia secepat itu. Ia masih butuh waktu, entah sampai kapan. Mendengar itu, entah kenapa Alena merasa senang, padahal ia tahu kalau perasaannya sekarang seharusnya tidak boleh terjadi. Alvin berbeda dengan dulu, sekarang ia adalah laki-laki beristri. Harusnya Alena lebih bisa menguasai perasaannya sendiri, tapi nyatanya ia sudah terjerumus terlalu dalam dengan masalah rumah tangga Alvin. Semenjak Alena kembali dekat lagi dengan Alvin, kini sikapnya sudah berubah dengan Ervin. Ia semakin menjauh dari Ervin, karena ia merasa Ervin punya perasaan padanya. Ia menjaga jarak agar Ervin tidak merasa kecewa, Nyatanya hati Alena memang hanya buat Alvin seorang dan tidak dapat digantikan oleh siapapun. Bahkan perjuangan Ervin yang selama ini menemaninya dalam keadaan sedih dan terpuruk, ternyata tidak dapat membuat Alena menjatuhkan pilihan padanya. Apa yang telah Ervin lakukan selama ini ternyata hanya sia-sia. Dalam hatinya Alena hanya menganggap Ervin tak lebih dari saudara atau sahabat yang selalu ada dan membantunya dalam keadaan apapun juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD