38. Kesalahan Kedua 38

1434 Words
Part 38 Sore ini jam sudah menunjukkan pukul enam sore, keadaan sudah mulai gelap, sehingga beberapa lampu penerangan jalan sudah dihidupkan. Ervin mendadak sudah berada di depan kantor Alena, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ia sudah berada di depan kantor Alena, duduk di atas sepeda motornya. Namun entah kenapa ia memilih parkir di tempat yang agak jauh dari lampu penerangan jalan dan agak gelap, sehingga tidak seberapa kelihatan oleh orang lain kalau ia berada di sana. Di tempat yang sama tapi dengan jarak yang agak jauh, Alvin juga menunggu Alena di dalam mobilnya. Mereka ada di satu tempat, tapi tidak melihat satu sama lain. Beberapa saat kemudian, Alena keluar dari gedung perkantoran yang terdiri dari sepuluh lantai itu. Alena berjalan dengan tersenyum, saat itu Ervin mengira Alena tersenyum kepada dirinya. Ervin membalas senyuman Alena dengan berdiri dari motornya dan bergegas untuk menghampiri Alena. Namun ternyata Alena datang menghampiri laki-laki yang ada di dalam mobil putih itu, bukan ke arah dirinya. Ervin tersenyum kecut, menertawai kebodohannya. Alvin sengaja tidak keluar dari mobil, karena ia takut akan dilihat oleh teman-teman kantornya dan takut malah membuat gosip yang akan merugikan Alena. Gadis itu buru-buru masuk ke dalam mobil Alvin sembari menoleh kanan dan kiri. Mungkin karena tempat parkir Ervin yang terlalu gelap dan jaraknya jauh dari mobil Alvin, menyebabkan Alena tidak melihat keberadaannya. Ervin menjadi penasaran, siapakah laki-laki yang ada di dalam mobil putih itu, dan apa hubungannya dengan Alena. Merasa penasaran Ervin mengikuti mobil Alvin, sampai mobil itu kemudian berhenti di depan sebuah warung masakan padang favorite Alena. Ervin keluar dari mobil dan berputar membukakan pintu mobil untuk Alena. Betapa terkejutnya Ervin setelah melihat siapa laki-laki itu. Ia sangat keheranan dan tidak habis pikir, kenapa Alena bisa kembali bersama Alvin? apakah mereka menjalin hubungan kembali atau cuma jalan berdua? berbagai macam pertanyaan muncul di benak Ervin. Pantas saja akhir-akhir ini, Alena sangat sulit sekali kalau diajak keluar bareng, ternyata sekarang terjawab sudah, apa yang menjadi pertanyaan Ervin selama ini. Alena terlihat bahagia dengan Alvin, bahkan dari kejauhan Ervin melihat Alena berkali-kali bertatapan mesra dengan Alvin. Berarti benar Alena sudah kembali lagi dengan Alvin, batin Ervin. Setelah melihat pemandangan di depannya, hati Ervin terasa sakit. Ia merasa semua usaha yang ia lakukan untuk mendekati Alena selama ini, tidak berguna. Toh, pada akhirnya Alena pun kembali kepada Alvin. Ia berpikir kenapa Alena begitu mencintai laki-laki itu bahkan tidak bisa melupakannya sedikit pun? Sebenarnya apakah yang menarik dari Alvin. Bagi Ervin, Alvin hanyalah seorang laki-laki pengecut, yang tidak bisa mempertahankan orang yang dicintainya. Tubuh Ervin tiba-tiba melemas. Ia berpikiran akan mundur sekarang juga, karena baginya semua akan percuma kalau Alena sekarang sudah bersama-sama dengan Alvin kembali. Sudah cukup apa yang ia perjuangkan selama ini, semuanya akan sia-sia belaka, kalau akan diteruskan lagi. Ia pulang dengan kekecewaan yang mendalam. Ia menyesal kenapa tidak dari kemarin-kemarin ia menyatakan perasaannya, kalau ia menyatakan perasaan pada Alena dari kemarin-kemarin, paling tidak ia akan tahu jawaban dari Alena. Meskipun ia di tolak, ia juga akan merasa lega. Sekarang semuanya sudah terlambat, menyesal pun tidak akan berguna. Ia merasa heran bisa-bisanya Alvin mendekati Alena kembali saat ia sudah punya istri dirumah, ia berjanji dalam hatinya jika sampai Alvin menyakiti hati Alena lagi, ia tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan merebut Alena kembali bagaimanapun caranya. Ia menghidupkan mesin motornya, segera berlalu dari tempat itu. Ia tak mau berlama-lama melihat kemesraan mereka berdua. Ia tidak tahan, baginya ini adalah luka yang tidak berdarah. Sakit tapi tidak terlihat, bahkan mungkin selama ini Alena juga tidak mengetahui perasaan yang disimpan oleh Ervin untuknya. Ervin mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi, ia sudah tidak memperdulikan apa-apa saat ini. Satu-satu harapan terbesarnya telah musnah, harapan untuk bisa bersama-sama dengan Alena. Mungkin saat ini yang akan ia lakukan adalah menghibur dirinya sendiri, menyendiri dan melupakan sejenak tentang kejadian yang dilihatnya tadi. Ia menjalankan motornya menuju ke pantai yang ia kunjungi dengan Alena dan Vania kapan hari. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit dengan kecepatan penuh, ia akhirnya sampai di pantai itu. Ia menghabiskan waktunya untuk duduk di tengah hamparan pasir, dengan menikmati semilir angin yang sejuk dan suara deburan ombak di malam hari. Hatinya perlahan menjadi tenang. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Angin malam yang dingin menyeruak menembus permukaan kulit tubuhnya, saat itu kebetulan ia tidak memakai jaket, karena sengaja ia tinggal di dalam jok motor. Ia merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Namun tidak ia hiraukan sama sekali karena fokusnya menuju ke arah pantai yang terhampar luas di hadapannya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas langit malam, menikmati indahnya langit malam, yang bertaburkan bintang-bintang dan ditemani oleh burung-burung laut yang lewat secara bergantian. Malam ini untuk sementara, ia akan menghabiskan waktunya di tempat ini. Sampai hatinya menjadi agak lebih tenang dan sejenak melupakan kejadian yang menyedihkan itu. **** Di tempat lain, tepatnya di rumah Alvin. Sovia sedang duduk di atas ranjangnya. Sudah hampir seminggu ini Alvin tidak memberikan kabar pada Sovia. Bahkan ia juga tidak pulang ke rumahnya sama sekali. Sovia tidak pernah menanyakan kabar Alvin, karena ia juga merasa sakit hati atas apa yang dilakukan Alvin pada dirinya. Meskipun semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Alvin, tapi Sovia masih belum bisa terima. Luka lebam di tangan, kaki dan wajahnya memang sudah agak menghilang, tapi perlakuan kasar Alvin masih membekas sekali diingatannya. Di sisi lain, Sovia juga menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Alvin. Andaikan ia menjadi istri yang lebih penurut, mungkin semua ini tidak akan terjadi pada dirinya. Andaikan malam itu ia tidak ikut temannya ke bar dan minum-minum, mungkin kejadian malam itu tidak akan terjadi pada dirinya. Memang semenjak Sovia bertemu dengan teman-teman lamanya, ia selalu diajakin oleh mereka untuk nongkrong, bahkan mereka sering mengajak Sovia untuk minum-minum di bar dan pulang larut malam. Sovia tidak pernah menolak ajakan teman-tamannya itu, karena ia memang merasa kesepian dan butuh teman. Pada awalnya Alvin tak mempersalahkan apa yang dilakukan oleh Sovia, karena Alvin jarang mengajak Sovia untuk jalan-jalan. Setiap hari ia kerja sampai larut malam, bahkan terkadang hari sabtu dan minggu pun ia pakai untuk bekerja. Sedangkan Sovia sendiri butuh hiburan, ia bosan terus menerus di rumah dan tak ada yang dikerjakan. Oleh sebab itu, Alvin membebaskan Sovia untuk jalan-jalan dengan teman-temannya kemanapun yang ia mau, yang penting Sovia tidak meninggalkan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri. Namun semakin lama dibiarkan, Sovia semakin tenggelam dengan pergaulan teman-temannya yang tidak baik, puncaknya malam itu ia hadir di salah satu party temannya, yang dirayakan di sebuah bar. Acara itu di hadiri oleh beberapa orang, dan kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Awalnya Sovia cuma minum-minum seperti biasa, tapi lama kelamaan ia mabuk berat dan bertingkah di luar batas. Hingga pada akhirnya ia harus pulang dengan diantar oleh salah satu teman laki-lakinya ke rumah. Kebetulan teman laki-lakinya itu baru dikenalnya di bar. Alvin yang malam itu sengaja pulang lebih sore dari biasanya, agar bisa mengajak Sovia jalan-jalan, tapi ia tak mendapati istrinya di rumah. Sampai pada akhirnya, Sovia datang dan diantarkan oleh seorang laki-laki yang tidak di kenal. Hal itu membuat Alvin naik darah. Tanpa mendengarkan penjelasan dari Sovia, ia langsung memukul Sovia berkali-kali, hal itu menyebabkan Sovia mengalami lebam-lebam di bagian wajah, tangan dan kakinya. Setelah itu Alvin meninggalkan rumah dan meninggalkan Sovia sendirian di kamar dengan keadaan setengah sadar. Sebenarnya jauh sebelum itu pembantu rumah tangga mereka, sudah mendengar keributan besar diantara mereka. Bahkan ia mendengar dengan jelas saat Sovia berteriak minta tolong, tapi ia tidak berani keluar dari kamar. Setelah mendengar kepergian Alvin dan diyakini kondisi aman dan sudah tidak ada suara teriakan, baru ia berani keluar kamar untuk melihat keadaan majikannya itu. Kejadian itu sudah terjadi hampir seminggu yang lalu, tapi sampai saat ini Sovia masih mengingatnya dengan jelas. Ingin rasanya ia meminta maaf pada Alvin, tapi hatinya masih belum ikhlas. Ego sudah menguasai dirinya. Ia menunggu agar Alvin yang terlebih dahulu menghubunginya. Meskipun ia juga bersalah tapi kali ini Alvin sudah benar-benar keterlaluan, dengan memperlakukan Sovia seperti itu. Untung saja Sovia tidak melaporkannya ke pihak yang berwajib, karena sampai sekarang ia masih sangat mencintai Alvin sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Alvin meskipun laki-laki itu sudah berbuat kasar padanya. Apakah harus dirinya yang mengalah dulu, agar Alvin mau kembali kerumah itu bersamanya, ataukah ia biarkan saja sampai Alvin sendiri yang datang pada Sovia dan meminta maaf atas segala perbuatannya. Sovia menjadi kebingungan apa yang harus ia lakukan sekarang. Setelah berpikir agak lama, perlahan Sovia mengambil ponselnya. Ia membuka chat room milik Alvin. Ia mengetikkan sebuah kalimat permintaan maaf di sana. Butuh waktu lama ia menyusun kata-kata itu, tetapi berkali-kali ia mengurungkan niatnya untuk mengirimkannya pada Alvin. Akhirnya karena ia masih belum yakin, ia kembali meletakkan ponselnya dan kembali untuk beristirahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD