Keesokan harinya, Sovia terbangun di dalam kamarnya. Setelah tadi malam ia mengurungkan niatnya untuk mengirimkan chat pada Alvin, hari ini ia memutuskan untuk melakukannya. Ia harus memulai untuk memperbaiki hubungan ini, daripada nanti ia akan menyesal. Sovia perlahan bangun dari ranjangnya, dengan setengah mengantuk ia meraih ponselnya di atas nakas. Kini ia sudah berada di posisi duduk, kembali dirinya membuka chatroom Alvin dan mengetikkan permintaan maaf seperti yang akan dikirimkannya tadi malam. Lama ia menunggu balasan dari Alvin, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia menghibur dirinya dengan berpikir, mungkin Alvin masih belum sempat membalas chatnya, karena masih sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Akhirnya ia kembali meletakkan ponselnya di nakas, dan menuju ke kamar mandi.
****
Setelah keluar dari kamar mandi, Alvin mengganti baju tidurnya dengan baju kerja. Berkali-kali ia mendengar suara ponselnya, pertanda ada pesan masuk yang menunggu untuk dibaca. Namun ia tidak menghiraukannya, karena ia sudah buru-buru akan bertemu dengan konsumen, untuk melakukan akad kredit pagi ini. Ia sudah ada janji dengan konsumen pada pukul delapan pagi, jadi ia harus segera bersiap-siap secepatnya agar sampai di tempat tepat waktu. Tempat pertemuan itu di daerah yang memang terkenal kemacetannya, untuk itu ia harus dateng lebih cepat agar tidak terjebak dalam kemacetan.
Setelah memakai kemeja berwarna hitam dengan bawahan celana abu-abunya, tak lupa ia menyemprotkan minyak wangi di seluruh tubuhnya, agar penampilannya di depan konsumen terlihat meyakinkan. Ia buru-buru mengambil tas kerjanya dan keluar dari kamar kost. Berjalan menuju ke parkiran yang kebetulan tak jauh dari kamarnya. Rumah kost Alvin hanya terdiri dari empat kamar dalam ukuran yang besar. Sedangkan letak kamarnya kebetulan tidak jauh dengan pintu masuk rumah kost itu. Untuk parkiran mobil terletak di halaman depan rumah yang sangat luas, halaman itu bisa memuat bahkan lima buah mobil sekaligus. Ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, kemudian mengendarai mobil itu keluar dari halaman rumah besar tersebut.
Di jalan ponsel Alvin kembali berbunyi, dengan rasa malas ia membukanya, untuk melihat siapa yang mengiriminya chat dari tadi pagi. Ia membuka whatsappnya dan membaca chat yang telah dikirim oleh Sovia. Ia menghentikan mobil agar bisa lebih jelas membaca pesan itu.
‘Sayang, maafkan aku, selama ini aku tidak bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Setelah ini aku berjanji ini yang terakhir, aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama. Aku akan berubah dan nggak akan membuat kamu kecewa. Tolong kembalilah ke rumah, mari kita perbaiki rumah tangga kita, agar bisa menjadi lebih baik lagi. Maafkan aku suamiku ....’
Begitulah bunyi chat Sovia. Di belakang kalimat ia bubuhi dengan emoticon menangis, sehingga membuat Alvin semakin merasa kasihan. Alvin menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia memegang kepalanya dan memijatnya perlahan. Dalam pikirannya Sovia tidak akan memafkannya setelah kejadian itu, namun ternyata istrinya itu yang meminta maaf duluan. Ia menjadi bingung apakah ia akan memaafkan Sovia dan pulang ke rumah untuk tinggal kembali dengannya? ataukah ia tetap mempertahankan egonya untuk tetap tinggal di kostan itu? Ia butuh waktu untuk memikirkan semuanya, yang terpenting sekarang ia merasa lega dan bahagia, karena sudah berbaikan dengan Alena. Kapanpun ia dapat bertemu dengan Alena, tanpa ada penolakan dari gadis itu. Alvin kembali meletakkan ponselnya, ia sengaja tak membalas pesan Sovia, menunggu sampai ia mendapatkan jawaban yang tepat untuk membalas pesannya. Setelah ia berhenti sejenak untuk membaca pesan dari Sovia, ia kembali melajukan mobilnya memecah keramaian lalu lintas yang sangat padat merayap pagi itu.
****
Malam harinya, Alvin sudah berada di depan rumahnya. Ia belum turun dan masih berada di dalam mobilnya. Setelah berpikir seharian, ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan kembali pada Sovia. Hanya saja dari tadi pagi, ia belum membalas pesan Sovia. Setelah beberapa lama tidak melakukan apa-apa di dalam mobil ia pun turun. Lama sudah rasanya ia tidak pulang ke rumah itu, padahal baru ada dua mingguan, ia meninggalkan rumah itu, tapi rasanya sudah lama sekali. Sebelum mengetuk pintu rumah, ia melihat halaman rumahnya. Rasanya tidak seperti biasanya, halaman rumahnya itu terlihat bersih dan tanaman di depan rumah juga sepertinya sering disirami, karena ia melihat tanamannya terlihat segar. Apakah memang Sovia benar-benar sudah berubah seperti yang ia katakan di chatnya itu? entahlah Alvin juga masih belum mengetahui jawabannya, karena ia juga baru pulang ke rumahnya.
Alvin mengetuk pintu rumah, ia lupa membawa pintu cadangan karena waktu itu ia keluar dengan terburu-buru. Sekali mengetuk pintu, Sovia tiba-tiba sudah membukakan pintu dan berdiri di depannya. Melihat suaminya telah kembali ke rumah, Sovia berhambur memeluk Alvin. Ia menangis di d**a suaminya dan mempererat pelukannya. Tangisannya adalah tangisan bahagia karena melihat Alvin telah memafkannya dan kembali pulang ke rumah. Awalnya Alvin tak membalas pelukan Sovia, tapi karena ia merasa kasihan dengan wanita itu, ia pun kembali memeluknya. Lama Sovia menangis dipelukan laki-laki itu. Alvin mengelus-elus puncak kepala Sovia dengan lembut, agar wanita itu berhenti menangis. Namun ternyata Sovia tidak berhenti menangis. Merasa kasihan, Alvin memapahnya ke dalam rumah dan membantunya untuk duduk di kursi tamu. Di sela-sela tangisannya, Sovia berkata pada Alvin.
“Makasih ya sayang, kamu udah mau maafin aku.” gumamnya lirih, sembari mengatur nafasnya yang susah karena masih sesenggukan.
“Aku adalah suamimu, kamu masih menjadi tanggung jawabku.” Ucap Alvin singkat.
“Iya, maafkan aku. Aku mencintaimu, Vin.” Gumam Sovia kembali. Namun kali ini Alvin tak menjawab dengan ucapan yang sama, karena jujur saja sebenarnya Alvin masih belum percaya dengan kata-kata Sovia. Sebelumnya Alvin sudah percaya dengan Sovia, kalau ia akan berubah dan belajar menjadi istri yang baik, namun ternyata tidak demikian. Sovia tidak bisa menepati janjinya dan malah membuat Alvin sangat marah dan kecewa. Kali ini memang Alvin memutuskan untuk kembali ke rumah, dan kembali tinggal dengan istrinya itu, akan tetapi ia masih belum percaya bahwa Sovia benar-benar akan menepati janjinya kali ini. Alvin akan melihat sampai sejauh mana usaha Sovia untuk belajar menjadi istri yang baik, baru ia akan benar-benar percaya padanya.
“Sayang, mana barang-barang kamu. Sini aku bantu masukin ke dalam lemari.” Pinta Sovia.
“Iya bentar, masih di mobil. Biar aku ambil dulu.” Jawab Alvin sembari bangun dari tempat duduknya untuk menuju ke mobil mengambil barang-barangnya. Sedangkan Sovia mengikuti dibelakangnya. Setelah mengambil semua barang-barang yang ia bawa, dengan dibantu oleh Sovia mereka pun masuk ke dalam rumah.
“Tunggu sepertinya ada yang aneh.” Tanya Alvin, dengan mengerutkan dahinya karena penasaran.
“Apa, Vin?”
“ART itu di mana? aku kok nggak melihatnya sama sekali.” Tanya Alvin, karena dari awal ia masuk ke rumah tadi, ia tidak melihat penampakan pembantu rumah tangga mereka.
“Oh iya, aku belum cerita sama kamu. ART itu sudah aku pecat. Aku pikir, aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, jadi dia udah nggak diperlukan lagi.” Jelas Sovia dengan penuh percaya diri. Alvin mengerutkan keningnya, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sovia. Mana mungkin Sovia bisa mengerjakan pekerjaan rumah sebanyak itu sendirian.
“Apa kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah sebanyak itu? bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu nggak sanggup dan membutuhkan pembantu rumah tangga, tapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran?” tanya Alvin dengan membawa masuk barangnya ke dalam kamar.
“Iya, kemarin aku bilang aku nggak sanggup, tapi sekarang aku mau membuktikan padamu kalau aku bisa diandalkan.”Jawab Sovia. Alvin menganggukkan kepala tanpa menjawab kata-kata Sovia. Percuma juga ia menyanggah apa yang dikatakan Sovia, toh ia juga belum melihat buktinya sendiri. Sekarang yang harus ia lakukan, hanyalah melihat perubahan apa yang terjadi pada Sovia, dan apakah ia bisa menepati janjinya pada Alvin.
****
Sebenarnya Alvin pulang ke rumah adalah dorongan dari Alena juga. Saat ia mendapatkan chat dari Sovia, Alvin bertemu dengan Alena dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Sebenarnya Alena lebih senang, kalau Alvin tidak kembali selamanya ke rumahnya. Namun ia tidak bisa egois, saat ini yang menjadi istri Alvin adalah Sovia, bukan dirinya. Alena merasa ia hanya seorang mantan buat Alvin, tidak lebih. Namun Alvin malah berpikir sebaliknya, ia merasa nyaman dekat dengan Alena. Bersama dengan Alena, ia merasa seperti pulang ke rumahnya sendiri.
Alvin sudah kembali ke rumahnya dan tinggal lagi bersama dengan Sovia. Di sisi lain hubungan Alena dan Alvin juga semakin dekat. Akibat kedekatan mereka berdua, kini Alena sudah benar-benar melupakan kenyataan bahwa Alvin sudah mempunyai seorang istri. Mereka sering pulang kantor berdua dengan sembunyi-sembunyi, tanpa ada satupun teman kantornya yang mengetahui hubungan mereka. Di dalam kantor, mereka tetap bersikap cuek satu sama lain, tapi kalau sudah di luar kantor mereka bagaikan sepasang kekasih. Hubungan mereka mengalir begitu saja, tanpa adanya pernyataan cinta seperti sebelumnya. Mereka juga sering menghabiskan liburan berdua. Saat mengajak Alena liburan, Alvin selalu beralasan pada Sovia, kalau ia ada pekerjaan di luar kota. Sementara itu, Sovia percaya saja pada Alvin, karena ia memaklumi pekerjaan Alvin yang di tuntut harus siap kapanpun juga untuk pergi keluar kota, jika dibutuhkan.
Alvin saat ini ada di posisi bimbang, Di satu sisi ia sangat mencintai Alena, karena baginya Alena adalah satu-satunya wanita yang mengerti dirinya. Ia adalah sosok wanita yang mengerti cara menempatkan dirinya. Ia selalu bisa jadi pendengar yang baik dan bisa diajak untuk bertukar pendapat. Selain itu Alena adalah gadis yang lemah lembut di hadapan Alvin, tak pernah sekalipun ia membentak Alvin seperti yang dilakukan Sovia padanya. Di sisi lain, Sovia adalah istrinya, meskipun sekarang perasaan cintanya pada Sovia tidak seperti dulu lagi karena kejadian kemarin, namun baginya pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan tidak dapat dipermainkan. Apalagi Alvin sudah berjanji di depan orang tua Sovia untuk menjaga putrinya sampai maut memisahkan. Ia juga sudah berjanji di depan kedua orang tuanya untuk menikah sekali seumur hidup dan akan mempertahankan pernikahannya, apapun yang terjadi. Seperti halnya kisah kedua orang tuanya yang rukun, sampai dengan sekarang. Sungguh ia tidak mengingkari semua hal itu.