40. Kesalahan Kedua 40

1603 Words
Alvin sedang berjalan-jalan dengan Alena di sebuah mall yang terkenal di surabaya. Alvin mengajak Alena untuk berbelanja beberapa kebutuhan, ia membelikan sepatu, tas bahkan baju baru buat Alena. Awalnya Alena menolak pemberian Alvin, tapi karena laki-laki itu memaksa akhirnya ia menerimanya juga. Alvin sangat memanjakan Alena, ia membawakan semua barang yang dibeli oleh Alena. Di dalam hatinya, ia berjanji mulai hari ini, ia akan selalu membahagiakan Alena. Mungkin saat ia meninggalkan Alena dulu, ia pasti sangat membeci Alvin. Ia benar-benar sangat menyesal, inilah saatnya untuk menebus semua penderitaan yang telah ia berikan pada Alena. Setelah capek berkeliling mall, akhirnya mereka pun merasa lapar. Mereka singgah di food court untuk makan siang. Alena memesan sepiring mie hotplate sedangkan Alvin memesan semangkok bakso. Setelah mereka menghabiskan makan siangnya, Alvin tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu pada Alena. “Al, boleh nanya nggak?’ “Boleh, Vin. Tanya aja gratis kok. He ... He ... He ....” Jawab Alena dengan cengengesan. “Saat aku makan bakso tadi, aku tiba-tiba teringat sesuatu.” “Apa itu?” tanya Alena dengan penasaran “Waktu kita ketemu di warung bakso beberapa bulan yang lalu. Kamu bersama seorang cowok yang ngaku kalau dia adalah pacarmu? Apa itu benar?” “Ha ... Ha ... Ha ..., bukan Vin, dia itu temennya Mas Angga, namanya Mas Ervin.” “Oh, aku kira dia pacarmu beneran.” “Bukan, dia udah aku anggep seperti kakakku sendiri.” “Berarti sekarang kamu gak punya pacar kan, Al?” “Nggak punya, Vin.” “Syukurlah.” Ucapnya lirih, dengan menundukkan kepalanya. “kamu bialang apa?” “Nggak apa-apa, Al. Ayo balik udah malam.” Ajak Alvin sembari bangun dari tempat duduknya. “Ayo.” Jawab Alena dengan posisi sudah berdiri dan berjalan disamping Alvin. Mereka berjalan meninggalkan Food court tersebut, dan tanpa disadari tangan Alvin tiba-tiba menggandeng tangan Alena. Gadis itu cuma tersenyum, dan ia tampak tidak keberatan dengan perlakuan Alvin. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Alvin melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Kebetulan jalanan kota surabaya hari ini tidak semacet biasanya, jadi ia menempuh waktu yang agak lebih cepat daripada biasanya. Beberapa menit kemudian mobilnya sudah sampai di dekat kostan Alena. Alvin sengaja memarkir mobil agak jauh dari kost, karena Alena sendiri yang minta. Alena takut kalau Vania memergoki mereka berdua dan bisa-bisa sahabatnya itu akan memberikan ceramah agama pada dirinya. Meskipun sebenarnya bisa disebut ini adalah hubungan terlarang tapi Alena sangat bahagia, ia bisa bersama Alvin meskipun bukan menjadi istrinya. Setelah berpamitan, Alena pun turun dari mobil Alvin. Ia berjalan menuju ke kostannya yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi, tidak terlalu jauh jaraknya dengan tempat parkir mobil Alvin. Setelah sampai di depan rumah betapa terkejutnya dirinya, tatkala melihat kakaknya sedang menunggunya dengan duduk di kursi depan rumah. Wajahnya terlihat memendam kekesalan yang tampaknya ingin segera diluapkan pada adiknya itu. Entah kenapa tiba-tiba bulu kudu Alena meremang, melihat ekspresi wajah kakaknya itu. Perlahan ia menghampiri Angga. “Loh, Mas Angga kok udah di sini aja, kapan datangnya?” “Darimana kamu? jam segini baru pulang?” tanya balik Angga pada adiknya itu. “Dari Mall sama teman, Mas.” “Cowok apa cewek?” “Ish, apa sih nanyanya udah kayak wartawan infotainment aja.” “Tinggal jawab susah amat.” “Kalau cewek kenapa, kalau cowok juga kenapa?” “Vania ada di rumah. Jadi kamu keluar sama siapa sampai pulang jam segini?” Angga bertanya pada adiknya tanpa jeda sedikitpun, seperti polisi sedang menginterograsi penjahat saja. Alena jengah mendengar pertanyaan dari Angga, kakaknya itu memang benar-benar tidak bisa berubah. “Temenku cewek kan bukan cuma Vania aja, Mas.” “Ya udahlah, males debat. Kamu duduk sini sebentar, Mas mau ngomong sesuatu sama kamu.” Suruh Angga, sembari menepuk-nepukkan tangannya di kursi sebelahnya, dengan tujuan untuk menyuruh Alena duduk di kursi itu. Alena pun mengikuti perintah kakaknya, ia duduk di kursi yang ada di sebelah Angga. “Ada apa sih, Mas? kok kayaknya ada yang penting.” “Aku mau nanya, emang kamu nolak Ervin?” “Mas Ervin? Mana ada, dia aja nggak nyatain cinta ke aku, gimana aku bisa nolak coba. Pertanyaan yang aneh.” “Kamu jadi cewek dodol banget sih, untung adikku sendiri. Apa kamu nggak bisa lihat kalau Ervin itu naksir sama kamu?” “Nggak, aku nggak tau Mas.” “Bener-bener deh nih orang nggak peka banget. Tak kasih tau ya, sebenarnya si Ervin itu naksir sama kamu. Aku nggak tau apa yang terjadi, beberapa hari ini dia jadi murung, nggak seperti biasanya. Kayak orang patah hati. Makanya aku ke sini nanya kamu, siapa tau kamu tau. Kan beberapa bulan terakhir dia jalannya cuma sama kamu.” Degh .... Alena tiba-tiba terdiam, ia baru sadar kalau akhir-akhir ini Ervin sudah tidak pernah lagi ke kostannya, dan tidak pernah menghubunginya. Kenapa ia bisa sampai lupa pada Ervin, rasa bersalah pun mulai menyelimuti hatinya. Ia tertunduk lesu, berbagai pertanyaan tiba-tiba memenuhi otaknya. Apakah Angga sudah mengetahui bahwa Alena bersama dengan Alvin, kalau memang iya berarti setelah ini pasti Angga akan marah padanya habis-habisan, kalau tahu Alena dekat dengan orang yang sudah beristri. Alena diam, pandangannya kosong, ia ketakutan dengan pikirannya sendiri. Sekarang apa yang harus ia katakan pada kakaknya itu? apakah ia harus berterus terang kalau sekarang ia lagi dekat dengan seseorang, ataukah ia lebih baik diam menunggu waktu yang tepat agar ia bisa menjelaskan semuanya pada kakaknya itu. Beberapa saat terdiam, Angga tampaknya sudah tidak sabar lagi menunggu jawaban Alena. “Aku juga nggak tau ada apa Mas? emang sih akhir-akhir ini ia sering keluar sama aku. Tapi aku nggak ngerti kenapa dia berubah jadi kayak gitu. Nggak ada hubungannya sama sekali sama aku, Mas.” “Oke aku percaya, lupakanlah mungkin dia memang lagi ada masalah sama orang lain, bukan kamu.” “Nah gitu dong, percaya pada adiknya sendiri, itu lebih baik daripada percaya dari mulut orang yang belum tentu ada kebenarannya.” “Dia nggak ngomong apa-apa, Al. Aku cuma bertanaya aja sama kamu, siapa tau kamu tau alasannya. Gitu maksudku.” “Nggak tau.” Jawab Alena cuek. “Ya udah kalau gitu, Mas pulang dulu ya. Udah malam nggak enak sama yang lain.” Pamit Angga pada Alena dengan mengacak-acak rambut Alena. Begitulah memang kebiasaan Angga, selalu iseng dengan adik kesayangannya itu dan kalau saling bertemu mereka seperti orang yang tidak akur, padahal sebaliknya mereka berdua saling menyayangi. Alena menepis tangan Angga dan mendorong pelan punggung kakaknya agar secepatnya meninggalkan rumah kost itu. Setelah Angga pulang, Alena masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju ke kamar tidurnya. Alena membaringkan dirinya di ranjang. Pandangannya menerawang ke dinding gelap kamarnya, ia bertanya-tanya dalam hati, apakah benar Ervin menyukai dirinya? tapi kali ini mau tidak mau ia harus percaya, karena yang bilang sendiri adalah Angga, sahabat Ervin. Ia yang lebih tau Ervin seperti apa. Kalau memang itu benar, ia harus segera meluruskan hal ini. Ia benar-benar tidak punya rasa apapun pada Ervin. Dulu awal-awal memang ia pernah merasakan sesuatu getaran saat bersama Ervin, tapi itu bukan cinta. Nyatanya ia tidak pernah mencintai Ervin, ia hanya menganggap Ervin tak lebih dari kakaknya sendiri. Seperti perasaan yang ia rasakan pada Angga. Kini yang ada di hatinya hanyalah Alvin. Meskipun ia sadar kalau Alvin sudah mempunyai Sovia, tapi ia tidak dapat memungkirinya. Perasaannya pada Alvin tetap sama seperti dulu, tidak ada yang berubah sama sekali. Bahkan ia sampai rela untuk tetap bersama dengan Alvin, meskipun tidak menjadi apa-apa dalam hidup Alvin. Terdengar konyol tapi memang begitulah kenyataannya, cintanya sudah terlanjur mendalam pada laki-laki itu. Untuk sekarang, Alena benar-benar tidak dapat berpaling pada laki-laki lain selain Alvin. Hatinya benar-benar sudah terkunci rapat oleh laki-laki itu. Biarkanlah ini semua mengalir dengan apa adanya. Nikmati prosesenya dan jalani semuanya dengan ikhlas. Semua pasti akan ada akhirnya, dan ia harus siap dengan semua itu nantinya. **** Alvin kembali pulang ke rumahnya, seperti biasa ia disambut oleh Sovia istrinya. Sovia dengan telaten, membawakan tas kerja Alvin dan membantu melepaskan kemeja kerjanya. Hal itulah yang dilakukan oleh Sovia akhir-akhir ini. Semenjak Alvin kembali ke rumah, ia menjadi lebih perhatian pada Alvin. Setelah melepaskan semua baju kerjanya, Alvin masuk ke dalam kamar mandi, ia mengguyur dan membersihkan semua bagian tubuhnya dengan air hangat. Ia keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk pada tubuhnya. Otot tubuhnya yang kekar dan lelehan air yang masih menetes di kulit putihnya membuat Sovia menelan salivanya. Entah apa yang membuat Sovia tiba-tiba memeluk Alvin dari belakang, sampai tak sengaja handuk yang dipakai oleh Alvin terjatuh. Ia mencoba melepaskan pelukan Sovia dan hendak menunduk mengambil handuk yang tergeletak di lantai, tapi Sovia menahan tangannya. Sovia mulai menggoda suaminya itu, membuat Alvin yang hanya seorang laki-laki normal, tak kuat lagi menahan gejolak yang ada di dalam dirinya. Gerakan tangan Sovia yang sudah mahir, menjelajahi seluruh jengkal tubuh Alvin, membuat Alvin terbuai dalam kenikmatan yang tak dapat dilukiskannya malam itu. Malam itu mereka berdua menikmati surga dunia yang sesungguhnya. Alvin membaringkan tubuhnya di sebelah tubuh istrinya. Pergulatan p***snya malam ini membuat istrinya itu kecapekan dan tertidur pulas. Sedangkan Alvin masih tidak bisa menejamkan matanya. Kenapa di saat ia melakukan hubungan dengan istrinya, yang ada dipikirannya adalah Alena. Ia malah membayangkan, wanita yang dari tadi ada bersamanya adalah Alena. Ia segera menepis pikiran kotor yang berada di otaknya itu. Ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri, saat ini yang ada di pikirannya adalah Alena bukan Sovia. Pikirannya kacau, ia bingung memikirkan bagaimana caranya, ia bisa memiliki Alena tanpa harus menyakiti Sovia dan meninggalkannya. Ia sangat mencintai Alena. Sedangkan demi janji pernikahnnya dengan Sovia, ia juga tidak dapat meninggalkan istrinya itu begitu saja, meskipun sekarang ia tidak memiliki perasaan yang seperti dulu pada istrinya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD