21 Kesalahan Kedua 21

1625 Words
Beberapa bulan telah berlalu. Ervin sudah kembali pulang ke tempat asalnya. Awalnya ia cuti hanya untuk tiga hari kedepan, tapi karena ia ingin lebih lama melihat dan bertemu Alena, ia menunda kepulangannya menjadi seminggu kemudian. Sedangkan hubungan Alvin dan Sovia sudah semakin dekat. Sovia bahkan sering menginap di rumah Alvin dan berkali-kali melakukan hal-hal yang telah dilarang oleh agama. Sovia kini telah menjadi candu buat Alvin. Bahkan ia telah banyak berbohong dengan Alena, tapi Alena tak pernah menaruh kecurigaan sedikitpun dengan Alvin. Bahkan saat sikap Alvin sudah berubah padanya, ia masih juga berpikiran positif tentang Alvin. Setiap gosip yang ia dengar dikantor tentang Alvin, tak pernah ia hiraukan sama sekali. Ia yakin Alvin tidak akan tega berbuat seperti itu pada dirinya, karena ia tahu jika Alvin sangat mencintainya begitupun juga dengan dirinya. Cintanya pada Alvin sudah sangat besar dan tidak akan semudah itu di hancurkan hanya dengan berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Setiap malam Alvin sudah jarang sekali pergi berdua dengan Alena seperti biasanya. Ia lebih suka menghabiskan malam p***s dengan Sovia daripada pergi berdua dengan Alena. Hawa nafsu sudah benar-benar menguasai dirinya. Ia merasa bersama Sovia semua yang menjadi keinginannya telah terpenuhi. Perhatian dan kepuasan yang tidak diberikan oleh Alena telah ia dapatkan dari Sovia. Ia sudah lupa dengan janji-janji manis yang sudah ia ucapkan pada Alena. Hingga saat Sovia mengajak Alvin untuk menikah, ia dengan begitu mudahnya menyetujui keputusan itu begitu saja. Bahkan di belakang Alena ia mempersiapkan rencana pernikahan dengan Sovia secara sembunyi-sembunyi. Teman-teman kantornya banyak yang sudah mendengar kabar itu, salah satunya Adit. Tanpa sengaja Adit mendengarkan percakapan antara Alvin dengan Sovia di telepon. Saat itu mereka sedang membahas tentang cincin pertunangan. Timbul niat jahat Adit, untuk memberitahukan semua yang ia dengar pada Alena. **** Sepulang kerja, Alena menunggu Alvin di ruangannya seperti biasa. Hari ini rencananya Alvin akan mengajaknya makan malam. Alena sangat senang sekali karena sudah beberapa bulan ini ia jarang sekali mengajak Alena makan malam. Alasannya karena sibuk dengan kerjaan. Alena tak menaruh rasa curiga sama sekali karena memang presentase penjualan Alvin meningkat beberapa bulan ini, jadi itu tandanya ia memang benar-benar lagi sibuk. Lama ditunggu sang pangeran hati tidak datang-datang juga. Ia memutuskan untuk pulang saja dan menunggunya di kostan. Ia bergegas dari ruangannya dan akan menuju ke lift, akan tetapi langkahnya terhenti karena ada seseorang yang memanggilnya. “Alena!” Alena menoleh ke arah datangnya suara. Ia melihat ternyata yang memangil dirinya adalah Adit. Alena sangat kesal dengan laki-laki itu, karena itu ia tak memperdulikannya dan tetap memencet tombol lift ke lantai dasar. “Al, tunggu sebentar ada hal yang penting yang mau aku sampaikan padamu, tentang Alvin.” Ucap Adit tanpa kenal menyerah meskipun Alena tidak menghiraukannya. Namun Alena benar-benar tetap tidak perduli dan tidak menjawab kata-kata Adit. “Al, kali ini aku nggak bohong. Alvin mau tunangan Al. Aku ada buktinya.” Seru Adit, dan kata-kata itu sukses membuat Alena menoleh ke arah Adit. Wajahnya terlihat penasaran, seolah membutuhkan penjelasan dari kata-kata Adit barusan. “Aku ada rekaman obrolan Alvin dengan seorang gadis, mungkin dia calon tunangan Alvin.” “Oke aku kasih kamu wkatu 15 menit buat tunjukin rekaman itu.” Seru Alena pada Adit. “Ayo, kita ke parkiran mobil aja jangan di sini, aku takut Alvin akan memergoki kita.” Jawab Adit. “Baik, tapi kalau ini hanya akal-akalanmu aja. Aku bener-bener akan ngelaporin kamu pada bagian personalia. Kamu tau konsekuensinya kan kalau aku melapor pada mereka?” Ancam Alena untuk menakut-nakuti Adit agar ia tidak berani berbuat macam-macam pada Alena. “Iya aku tau, Al. Ayo ikut aku sebentar.” Ajak Adit menuju ke parkiran mobil, karena biasanya jam segini parkiran sudah sepi. Alena mengikuti Adit karena ia juga penasaran tentang bukti yang telah di sebutkan oleh Adit tadi. Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di tempat parkiran mobil, dan seperti yang dipikirkan di sana keadaan sepi tak ada satupun orang yang terlihat. Adit mulai mengeluarkan HP dari saku celananya, mengotak atik Hpnya. Mencari bukti rekaman yang telah ia simpan di Hpnya. Belum sempat ia memutar bukti rekaman itu, HP Alena tiba-tiba berdering. Adit terdiam dan menunggu Alena sampai mengangkat telepon itu. “Bentar Dit, aku ada telepon.” Ucap Alena sembari meninggalkan Adit yang teridam dengan HP ditangannya. Alena menjauh dari Adit, teelepon itu ternyata dari Alvin yang menyuruh Alena secepatnya pergi ke sebuah alamat yang sudah ia tentukan. Sebuah hotel bintang lima yang terkenal mewah dan mahal di sana. Alena sangat senang karena baru kali ini Alvin mengajaknya makan malam di sebuah hotel bintang lima. Ia berpikir Alvin akan memberikan sebuah kejutan buatnya, makanya ia mengajak Alena untuk makan malam di hotel itu. Alena buru-buru meninggalkan parkiran mobil dan tidak lupa berpamitan dengan Adit. “Dit, sory aku balik dulu, Alvin sudah nungguin aku. Lupain aja rekaman itu. Aku nggak bakal percaya.” Seru Alena dari kejauhan sembari berlalu meninggalkan tempat parkir. Adit memanggil-manggil namanya berulang kali tapi ia tak perduli sama sekali dengan panggilan Adit, yang terpenting baginya sekarang adalah pergi menemui Alvin secepat mungkin. Ia memesan ojek online di aplikasi, setelah itu menunggunya di depan gedung tempat kerjanya itu. Beberapa saat kemudian ojek datang dan mengantarkan Alena menuju ke tempat tujuan. Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit akhirnya Alena sampai di hotel yang di maksud oleh Alvin. Hotel itu memang letaknya agak jauh dari kantor mereka, tapi karena saat malam suasana agak sepi jadi perjalanan dapat ditempuh dengan waktu yang agak cepat. Alena sudah sampai di depan pintu masuk hotel yang dimaksud oleh Alvin. Sejenak ia terpaku, sebuah hotel dengan dua puluh dua lantai yang sangat tinggi menjulang sudah berada di hadapannya. Alena merogoh HP di dalam tasnya, kemudian ia menghubungi Alvin. “Hallo Vin, kamu dimana? aku udah sampai di depan hotel nih.” Kata Alena. “Kamu tunggu di lobby hotel, aku otw ke sana sekarang.” “Oke, Vin.” Setelah itu Vania menutup teleponnya dan menunggu di lobby hotel. Beberapa saat kemudian Alvin keluar dari dalam hotel dan mengajak Alena untuk masuk ke lift. Ia memencet tombol lantai 21. Setelah sampai di lantai 21 dan masuk ke dalamnya, betapa kagetnya Alena. Tempat itu sangatlah indah, di lantai 21 terbagi menjadi dua area yaitu sisi kanan dan kiri. Sisi kanan biasanya digunakan sebagai tempat nongkrong karena dilengkapi pula dengan bar. Sedangkan sisi sebelah kiri kerap digunakan untuk tempat fine dining. Meja dan kursi yang berwarna warni membuat suasana dinning di sini menjadi lebih khidmat. Konsep restoran ini adalah open space yang menyuguhkan pemandangan gemerlap lampu-lampu kota dan beratapkan langit malam. Sungguh sangat indah dan membuat Alena terpukau. Ia berpikir apakah di tempat yang sangat indah dan romantis ini akan dijadikan Alvin sebagai momen spesial untuk melamarnya. Betapa bodohnya dia, kalau tahu malam ini merupakan malam spesial harusnya tadi ia berganti baju di rumah dulu. Sekarang sudah teranjur ia datang ke hotel itu hanya dengan memakai baju kerja biasa, atasan kemeja dan bawahan celana kerja. Selain itu tadi ia juga belum sempat untuk ke toilet untuk membetulkan make upnya. Sedikit kecewa tapi ia tetap bahagia dengan surprise yang diberikan oleh Alvin kali ini. Semoga apa yang ia pikirkan akan menjadi kenyataan. Ia duduk di salah satu kursi yang sudah di pesan oleh Alvin. Satu orang pelayan mendatangi mereka untuk menanyakan apa saja yang dipesan oleh mereka. Setelah melihat buku menu dan memilih menu yang cocok, pelayan tersebut berpamitan untuk menyiapkan orderan. Alena terlihat sangat senang sekali, tak ada henti-hentinya ia memandangi indahnya pemandangan kota surabaya dari tempat duduknya. Berkali-kali ia berselfie dengan HPnya tak ingin melewatkan moment indah itu. Alvin yang melihatnya hanya tersenyum, kemudian menawarkan diri untuk memfoto Alena. Setelah berfoto berkali-kali dan dirasa Hpnya sudah penuh dengan fotonya, ia pun kembali duduk dan mengunggah salah satu fotonya yang menurutnya bagus di akun instagramnya. Beberapa saat kemudian pelayanpun datang membawa pesanan mereka. Alena mulai menyantap sepiring tenderloin steak yang sudah tersedia di atas meja, begitupun dnegan Alvin. Alena membayangkan surprise apalagi yang akan diberikan oleh Alvin setelah ini. Hanya dengan memikirkannya saja ia sudah merasa sangat bahagia. Setelah manyantap makan malam keduanya menikmati suasana itu dengan khidmat. Mereka saling bercerita satu sama lain, tentang masalah kantor atau apapun itu. Sampai pada akhirnya Alvin meminta ijin ingin menyampaikan sesuatu pada Alena. Melihat Ekspresi Alvin yang berubah serius, entah kenapa tiba-tiba hati Alena menjadi tidak enak. Seakan-akan ada sesuatu yang buruk yang akan di sampaikan Alvin dari raut wajahnya. “Iya Vin, Kamu mau ngomong apa? ngomong aja, aku dengerin.” Ucap Alena lirih. “Maaf, Al. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita!” Alvin mengatakannya dengan sangat perlahan, suasana yang tenang membuat percakapan ini semakin haru. “Kenapa? tolong berikan aku alasan, kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan ini?” tanya Alena dengan tatapan mata yang sayu terlihat jelas dia menahan air mata agar tidak jatuh di kedua pipinya. “Aku sudah nggak memiliki rasa padamu dan aku akan menikah dengan Sovia, maaf Alena, hatiku sudah benar-benar berpindah pada Sovia!” dengan entengnya kata-kata itu keluar dari mulut Alvin. Alena tidak mampu mengatakan apa-apa hanya suara tangisan yang terdengar saat itu. Hatinya begitu hancur, ternyata malam yang indah ini disiapkan oleh Alvin untuk mengucapkan kata perpisahan bukan lamaran. Ekspetasinya yang terlalu tinggi menyebabkan ia seakan terjatuh di lumpur yang paling dalam. Sakit hati, kecewa dan marah menjadi satu, ia benar-benar tidak menyangka orang yang selama ini sangat ia percayai tega menyakiti hatinya seperti ini. “Sovia temanmu yang pernah datang ke kantor itu?” tanya Alena dengan menunduk sembari beberapa kali mengusap air matanya dengan tisu. “Iya dia orangnya. Dulu dia adalah mantan pacarku. Maafkan aku Alena, masalah hati nggak bisa dicegah akan kemana dia berlabuh. Mungkin sekarang kita belum berjodoh. Kamu boleh marah padaku, kamu boleh memukulku tapi aku minta tolong dengan sangat, tolong maafkan aku.” Kata Alvin dengan nada lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD