20 Kesalahan kedua 20

1504 Words
Rencananya Ervin, akan menginap di kontrakan Angga selama tiga hari, karena ia hanya bisa mengambil cuti selama itu. Awalnya ia bersemangat sekali, saat Angga menceritakan kalau Alena bekerja di surabaya dan tinggal di kontrakannya, karena pikirnya ia akan bertemu dengan gadis pujaannya itu. Namun ternyata kesibukan Ervin yang tiada henti, membuat kepergiannya ke Surabaya jadi tertunda dan baru terlaksana hari ini. Sesampainya di surabaya, ia harus menelan kekecewaan saat Angga mengatakan, jika Alena sudah tidak tinggal lagi bersamanya. Ervin berpikir, apakah ia harus berhenti berharap kepada Alena, karena semakin dikejar rasanya gadis itu semakin menjauh darinya. Setelah merapikan barang-barang dan mandi, Ervin merebahkan tubuhnya di kamar yang dulu ditempati oleh Alena. Ia menatap langit-langit kamar itu sembari memikirkan bayangan wajah Alena yang sudah lama tidak dilihatnya. Akhirnya beberapa saat kemudian iapun tertidur lelap. **** Suasana di kantor Alena pagi ini sangat ramai tidak seperti biasanya. Map aplikasi konsumen bertumpuk di atas mejanya sampai menggunung. Saat jam makan siang yang harusnya digunakan untuk makan siang pun, digunakan olehnya untuk menginput data. Ia tidak bisa beranjak sama sekali dari kursinya. Suara dering HP dari dalam tas kerjanya berkali-kali terdengar, namun ia tidak sempat mengangkatnya. Vania yang melihat sahabatnya sangat sibuk seperti itu merasa tidak tega. Ia menyuruh Ipung sang OB kantor untuk membelikannya makan siang. Setelah makanan sudah sampai, Vania meletakkannya di depan meja Alena. Alhasil Alena terkejut dan melirik ke arah sahabatnya itu. “Kerja boleh, tapi jangan lupa makan. Awas kena tipes nanti.” Seru Vania pada sahabatnya itu. "Bentar lagi, nanggung nih. Tinggal sedikit lagi kok." Begitulah Alena, ia memang tipe gadis pekerja keras. Saat sudah di depan komputer dan mengerjakan pekerjaannya, ia pasti lupa makan. Itulah yang membuat ia cepat beradaptasi dengan kerjaan di kantor. Tak butuh waktu lama buatnya untuk mempelajari semua pekerjaan yang di berikan padanya. Setelah menerima makanan dari Vania, ia hanya mengangguk dan mengucapkan terimaksih pada sahabatnya itu. Namun sampai beberapa jam berlalu, makanan itu masih terbungkus dengan rapi dan tak tersentuh di atas mejanya. Jam pulang kerja sudah tiba, Alena mengajak Vania untuk pulang cepat karena ia merasa capek setelah menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk tadi siang. Lagipula hari ini Alvin tidak bisa menemaninya seperti malam-malam sebelumnya karena malam ini ia ada janji dengan konsumen. Alena tidak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap Alvin, ia yakin Alvin akan selalu setia padanya. Sebelum balik ke kostan, Vania mengajak Alena untuk mampir ke supermarket sebentar, karena beberapa persediaan skincare dan sabunnya sudah habis. Setelah sampai di supermarket terdekat, mereka sibuk memilih barang-barang yang akan dibeli. Vania memasukkan beberapa sabun mandi dan lotion, sedangkan Alena sibuk memasukkan macam-macam merk mie instan ke dalam keranjang belanjaannya. Saat ia melihat mie instan favoritnya, ia berencana mengambilnya, namun Alena merasa kesulitan karena rak mie itu lebih tinggi dari pada tinggi badannya. Berkali-kali ia mencoba meraihnya tapi tidak berhasil. Ia mengedarkan pandangan di sekelilingnya, sapa tahu ada orang yang bisa di mintain tolong. Namun nyatanya tempat itu kosong. Ia menghembuskan nafas berat, untuk yang terakhir kalinya ia mencobanya dengan cara berjinjit, tapi belum sempat ia mengambil mie itu sebuah tangan kekar sudah mengambilkan mie itu untuknya. “Mau berapa bungkus, Mbak?” tanya laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. “Lima bungkus aja, Mas.” Jawab Alena sembari melirik laki-laki itu. Ia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena hampir tertutup oleh hoodie yang dipakainya. “Ini mbak.” Kata laki-laki itu sembari menyerahkan beberapa bungkus mie di tangan kanannya pada Alena. “Makasih ya Mas.” Jawab Alena dengan tersenyum. Saat ia menerima mie itu di tangannya ia melihat jelas wajah laki-laki di sebelahnya itu, ia terkejut karena merasa mengenalnya. “Kamu Mas Ervin kan? temannya mas Angga?” tanya Alena sembari mengacungan jari telunjuk tangan kanannya. “Kamu Alena?” Ervin juga memperlihatkan ekspresi yang sama seperti Alena. Ternyata orang yang ia cari dari kemarin, tiba-tiba muncul sendiri di depannya. “Iya, aku Alena, Mas.” Jawab Alena dengan tersenyum pada Ervin. “Oalah Al, aku kira siapa tadi. Yuk ngobrol-ngobrol dulu klo kamu nggak keberatan.” Ajak Ervin pada Alena. “Ayo Mas, tapi bentar aku telepon temenku dulu. Nggak tau dia ngilang kemana tadi.” “Ayo kita tungguin di tempat makan aja, sambil duduk!” ajak Ervin, yang disambut dengan anggukan kepala Alena. Mereka berjalan menuju tempat makan yang terletak di dalam supermarket. Setelah mendapatkan tempat duduk, Alena mulai menghubungi Vania. Beberapa saat kemudian Vania datang dan bergabung dengan mereka. “Mas, kenalin ini Vania. Temanku satu kantor.” Ucap Alena memperkenalkan Vania. “Salam kenal, aku Ervin. Teman Angga, kakaknya Alena.” Jelas Ervin. memperkenalkan diri pada Vania sembari mengulurkan tangannya. Vania membalas jabatan tangan Ervin sembari tersenyum. “Oh ya Mas, kapan kamu datang ke Surabaya?” tanya Alena penasaran. “Kemarin siang, sekarang aku tinggal di kontrakan Angga untuk tiga hari ke depan.” Jelas Ervin. “Kok Mas Angga nggak bilang-bilang ya, kalau Mas Ervin di surabaya?” “Aku nggak tau, dia sibuk banget kayaknya. Ini aja aku ditinggal di rumah sendirian katanya lagi ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalin.” “Wah bener-bener Mas Angga itu. Ayo kita jalan-jalan aja Mas, kita muter-muter surabaya.” Ajak Alena dengan bersemangat. “Boleh, ayo sekarang berangkat!” akhirnya mereka bertiga keluar dari supermarket. Ervin naik motor sendirian sedangkan Alena berboncengan dengan Vania. Mereka menikmati indahnya malam dengan gembira dan penuh dengan canda tawa. Ervin sangat bahagia karena malam ini secara tidak sengaja ia bertemu dengan sang penghuni hatinya. Bahkan karena pertemuan yang tidak sengaja ini membuat ia bisa jalan-jalan dengan Alena meskipun tidak hanya berdua saja. Ia berharap ini adalah awal yang baik untuk hubungannya dengan Alena. **** Di sebuah resto yang indah dengan konsep yang menarik seperti di bali khas dengan payung-payungnya, dan juga memiliki pemandangan alam dengan suasana kesejukan alam yang luar biasa, menjadi tempat pilihan dua anak manusia untuk menikmati kebersamaannya. Mereka adalah Alvin dan Sovia. Alvin sengaja membohongi Alena bertemu dengan konsumen, tapi nyatanya ia malah pergi berdua dengan Sovia ke tempat itu. Pada awalnya Alvin memang menolak untuk diajak Sovia ke sana tapi karena tempat itu adalah tempat yang nyaman dan indah, akhirnya sekarang ia menikmatinya. Pada malam hari lampu-lampu yang ada di tempat itu semuanya menyala dengan indah, menambah suasana menjadi semakin hangat. Sovia memotret kebersamaan mereka berulang kali dengan Hpnya, sementara Alvin hanya menuruti kemauan gadis itu. Setelah puas berfoto mereka duduk di sebuah kursi yang telah tersedia sembari menunggu pesanan datang. Keadaan di resto saat itu memang tidak seberapa ramai karena hari ini kebetulan bukan hari libur, jadi mereka bisa menikmati suasana tanpa suara kebisingan dari pengunjung. Setelah kecapekan melakukan sesi pemotretan dengan berkali-kali gaya akhirnya Sovia duduk di kursi sembari menikmati pesanan yang sudah datang. Sepiring nasi goreng telor, satu piring kentang goreng, dua gelas lemon tea, dan sebotol air mineral dingin sudah tersedia di atas meja mereka. Alvin tiba-tiba saja menyingkirkan saos sambal yang ada di piring kentang goreng Sovia. Ia melakukan hal itu karena dulu Sovia memang tidak suka makanan pedas, dan sampai sekarang Alvin masih saja mengingatnya. Pernah suatu hari ia membeli nasi goreng dan kebetulan nasi goreng itu rasanya pedas. Sovia langsung sakit perut dan beberapa hari tidak sembuh-sembuh meskipun sudah minum obat. Kejadian itulah yang terekam di otak Alvin sampai sekarang, sehingga saat ia melihat Sovia makan pedas ia langsung saja membuang saos sambelnya. Sovia yang melihat hal itu tidak lantas marah, tapi ia malah tersenyum, itu berarti Alvin tidak pernah melupakan dirinya. Bahkan hal kecil seperti itu saja Alvin masih ingat, ia merasa tidak lama lagi Alvin akan kembali padanya tanpa ada keterpaksaan lagi. “Ternyata kamu masih ingat kalau aku nggak suka pedes, Vin?” tanya Alena pada Alvin. “Eem ... Jangan GR kamu, aku cuma nggak suka aja liat cewek yang suka makan pedes.” Jawab Alvin berkelit. “Emang kenapa? Aku bisa makan pedes kok, lihat ini!” kata Sovia sembari mengambil kentang goreng dan mencocolnya dengan saos sambel yang banyak. Alvin menampel piring kentang goreng yang dibawa Sovia hingga terjatuh ke tanah, kemudian ia buru-buru memberikan air minum pada Sovia. Sovia meminum air itu kemudian meletakkannya kembali ke atas meja. “Jangan lakukan itu lagi, nanti perutmu sakit.” Alvin tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi. “Aku nggak apa-apa Vin, sekarang aku udah kuat makan pedas.” Elak Sovia yang sebenarnya hanya ingin tahu sampai sejauh mana kekhawatiran Alvin padanya, dan ternyata ia berhasil. Terlihat dengan sangat jelas kalau Alvin mengkhawatirkannya. Sovia membuang semua saos sambelnya, sekarang ia makan hanya menggunakan mayonaise saja. Melihat hal itu Alvin langsung bernafas lega. Ternyata Sovia masih perduli dan masih mau mendengarkan kata-katanya. Ia merasa tertarik melihat Sovia yang sekarang. Entah kenapa perlahan hatinya tidak bisa lagi menolak kehadiran Sovia dalam hidupnya. Ia merasa nyaman dengan Sovia yang sekarang. Sovia menjelma menjadi gadis yang penurut, pengertian dan lebih perhatian pada Alvin, padahal dulu Sovia terlalu bersikap cuek padanya. Tanpa ia sadari, rasa cintanya yang dulu sangat besar pada gadis itu, sedikit demi sedikit mulai tumbuh kembali dalam hatinya. Memang itulah yang diharapkan oleh Sovia, bisa bersama-sama dengan Alvin kembali seperti dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD