19 Kesalahan Kedua 19

1715 Words
Sepulang kerja, Alena mengajak Alvin makan malam. Mereka makan di sebuah cafe dekat dengan kostan Alena. Malam ini Alena sudah memutuskan untuk menanyakan apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang gosip kedekatan Alvin dengan wanita lain. Awalnya ia mau menyelidikinya secara diam-diam, tapi karena banyak yang sudah membicarakannya dikantor ia sudah tidak tahan lagi. Mau tidak mau ia harus menanyakan langsung gosip itu pada Alvin. Dalam hati ia berharap semoga semua gosip itu tidak benar dan Alvin selalu setia padanya. Setelah sampai di cafe itu mereka memesan makanan dan minuman kepada pelayan. Mereka memilih tempat duduk yang agak sepi dari pengunjung. Tujuannya agar Alena bebas menanyakan apapun yang ingin ia ketahui tanpa bisa di dengar oleh orang lain. “Vin, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Alena dengan hati-hati. “Boleh. Tanya aja, Al!” “Akhir-akhir ini di kantor ada gosip tentang kamu.” Ucap Alena sembari menatap mata Alvin. “Gosip apa, Al?” “Gosip yang mengatakan kalau kamu sering jalan sama cewek lain.” Alvin tersentak kaget mendengar kata-kata Alena. Ia tidak menyangka kalau gosip itu akan menyebar begitu cepat. Wajahnya berubah menjadi kebingungan, tapi ia berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya, agar Alena tidak mencurigainya. “Kamu percaya begitu aja dengan gosip murahan kayak gitu?” tanya Alvin, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat baik-baik saja. “Ya awalnya aku nggak percaya, tapi karena banyak yang bilang sama aku jadi aku nanya langsung ke kamu.” Jawab Alena dengan menundukkan kepalanya. “Al, tatap mata aku! apakah kamu melihat ada kebohongan dalam mataku? aku tulus sayang sama kamu. Jadi jangan dengerin apa kata orang. Percayalah pada mata hati kamu sendiri!” ucap Alvin sembari memegang kedua pundak Alena dan menatap matanya lekat-lekat. Sejenak mereka saling beradu pandang satu sama lain. Tatapan mata inilah yang selalu membuat Alena luluh. Tatapan yang tulus dari Alvin yang seketika itu menghancur leburkan semua prasangka buruknya. Alena menundukkan kepalanya, ia berpikir bagaimana bisa ia begitu mudahnya termakan oleh gosip seperti itu. Selama ini Alvin sangat perhatian padanya dan terlihat jelas kalau Alvin juga sangat menyanyanginya. Alena tiba-tiba merasa bersalah pada Alvin. “Maafkan aku, mulai hari ini aku nggak akan meragukan kesetiaanmu lagi.” Ucap Alena dengan lirih. Alvin tersenyum padanya, ia memeluk Alena dengan erat serasa tidak ingin melepaskan gadis itu. Dalam hati ia juga meminta maaf pada Alena karena ia merasa sudah terlalu jauh berhubungan dengan Sovia. Meskipun itu bukan kemauannya sendiri tapi ia merasa sangat bersalah pada Alena. Kini ia hanya memikirkan bagimana caranya agar bisa lepas dari Sovia, tanpa harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu. Ia juga bukan yang pertama bagi Sovia jadi ia berpikir itu bukan seratus persen kesalahannya. Pelayan cafe datang dengan membawa semua pesanan mereka. Tanpa basa basi lagi Alvin menyantap makanan itu karena perutnya sudah merasa lapar. Malam itu mereka menikmati kebersamaan mereka. Terlihat wajah Alena begitu bahagia, tampaknya sudah tidak ada ragu lagi di dalam hatinya. Ia percaya kalau Alvin tidak akan pernah mengkhiantinya. Ia menyesal kenapa begitu mudahnya mempercayai kata orang, sementara ia tidak pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Alvin bersama dengan gadis lain. Mulai hari ini ia berjanji dalam hatinya tidak akan pernah meragukan cinta Alvin, karena ia yakin Alvin akan selalu setia pada dirinya dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun juga. **** Angga duduk di kursi ruang tamu, menikmati secangkir kopi panas yang sudah terletak di atas meja. Hari ini ia sedang menikmati hari liburnya. Ia tengah asyik melihat-lihat status w******p milik teman-temannya. Entah kenapa sejak kepergian Alena dari rumah kontrakannya, ia sering merasa kesepian. Angga termasuk orang yang cuek dengan sekitarnya untuk itulah sampai sekarang ia masih belum punya pacar. Teman nongkrongnya pun bisa dihitung dengan jari tangan. Ia memang membatasi pergaulan, karena ia tak mau memiliki teman yang hanya suka memanfaatkan kebaikannya saja. Berkali-kali teman-teman kantornya menjodohkan ia dengan gadis-gadis cantik tapi rasanya ia tidak tertarik, karena itu teman-temannya mengira ia adalah penyuka sesama jenis. Selama ini yang ada di pikirannya hanyalah keluarganya terutama adiknya. Ia sudah berjanji pada kedua orang tuanya akan selalu menjaga adiknya. Sifat Angga yang overprotektif seringkali membuat Alena kesal dan menjulukinya sebagai kakak yang super cerewet. Padahal semua yang ia lakukan, semata-mata hanya untuk kebaikan adiknya. Ia tahu dunia luar itu sangat kejam makanya ia tidak mau terjadi apa-apa dengan adiknya yang polos itu. Angga meraih secangkir kopi panas yang sudah tersedia di atas meja, kemudian meminumnya. Tak sengaja tangannya berhenti di status w******p Vania. Selama ini ia tak pernah memperhatikan gadis-gadis lain selain adiknya, tapi entah kenapa kali ini ia begitu penasaran dengan seorang Vania. Gadis itu nyatanya telah berhasil mengalihkan perhatian Angga. Tanpa ia sadari, ia tersenyum sendiri melihat status w******p yang di tulis oleh Vania. 'Lucu sekali gadis ini' gumamnya dalam hati, karena rasa penasarannya ia pun melihat foto profil Vania. Gadis itu berkulit kecoklatan dengan rambut sebahu, yang membuat ia terlihat mempesona adalah wajahnya yang manis dan tak pernah bosan untuk dilihat berlama-lama. Ia kembali tersenyum-senyum sendiri melihat foto profil w******p Vania. “Manis.” Gumamnya tanpa sadar. Ia langsung membungkam mulutnya saat sadar kata-kata itu keluar dari bibirnya. Setelah puas mengotak atik HPnya, ia merebahkan tubuhnya dan meletakkan Hpnya dikasur. Perlahan lahan matanya mulai tertutup, rasa kantuk mulai menyerangnya. Saat ia mulai memasuki alam mimpi, suara dering HP yang sangat keras sontak membangunkannya. Ia meraih Hpnya dengan setengah sadar, melihat siapa yang menghubunginya. Saat melihat nama yang muncul di layar Hpnya ia tersenyum dang mengangkat telepon itu. “Hallo, Bro apa kabar?” Sapanya pada orang di seberang sana. “Hallo juga. Apa kabar kamu?” “Aku baik, tumben kamu telepon ada perlu apa?” “Satu jam lagi bisa jemput aku di stasiun biasanya nggak?” “Kamu sekarang ke surabaya? kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin.” “Surprise ... Nanti aku kabari setelah sampai ya.” “Halah pake surprise segala, emang aku ini pacaramu apa?” “Ha ... Ha ... Ha ... Aku tutup dulu teleponnya. Sampai ketemu di surabaya.” Tawa laki-laki itu di seberang sana. “Iya, kamu hati-hati di jalan.” “Oke, makasih.” Setelah mendapat telepon tersebut, Angga langsung bersiap-siap untuk berangkat. Ia menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. **** Di depan pintu keluar salah satu stasiun kereta api, berdiri seorang laki-laki dengan tinggi 175 cm dengan kulitnya yang agak gelap. Ia memakai kaos warna putih, bawahan celana jogger hitam dan dipadukan dengan sepatu sneakers warna putih membuat penampilannya mendekati sempurna. Wajahnya memang tidak seberapa menarik, tapi Alis tebal dan tegas yang dimilikinya mampu menjadi daya tarik sendiri bagi para wanita yang melihatnya. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, tapi orang yang ditunggunya masih belum kelihatan batang hidungnya. Ia merogoh benda pipih di saku celananya. Memencet salah satu nomer telepon sahabatnya, yang hari ini berjanji akan menjemputnya. Beberapa saat kemudian telepon sudah tersambung dan diangkat oleh pemiliknya. “Ngga, kamu di mana? Aku udah di pintu keluar ni.” Tanyanya ke Angga. “10 menit lagi sampek, maaf ya aku agak telat.” “Ya udah nggak apa-apa aku tunggu, buruan.” “Siap, Bos.” Jawab Angga dari seberang sana. Laki-laki itu menutup teleponnya dan masuk ke salah satu warung makan yang ada di depan stasiun itu. Cacing-cacing di perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Setelah memesan sepiring nasi rawon dan segelas es teh manis, ia pun mulai memakannya dengan lahap. Memang kalau soal jemput menjemput, Angga terkenal sangat lelet, dan ia sudah memaklumi hal itu. Sampai nasi rawon dan es teh manis habis, Angga masih belum kelihatan batang hidungnya. Terpaksa ia harus lebih bersabar lagi untuk menunggu. Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Angga datang juga. “Hai, Pin. Maap aku baru sampek. Surabaya macet.” “Halah alasan aja kamu ini, ayo pulang!” “Pulang kemana emang?” tanya Angga menggoda sahabatnya itu. “Ke kontrakanmu lah kemana lagi.” “Ha ... Ha ... Ha ... Ayo.” Kedua sahabat itu akhirnya meninggalkan stasiun kereta api. Laki-laki itu bernama Ervin, ia adalah sahabat Angga sejak di bangku kuliah dulu. Mereka sama-sama kuliah di surabaya dan mengambil jurusan yang sama. Mereka sahabat yang sangat dekat, dulu saat kuliah mereka satu kostan dan kemana-mana selalu bersama. Namun setelah lulus kuliah mereka berpisah karena Ervin harus bekerja diluar kota, sedangkan Angga tetap bekerja di surabaya. Meskipun begitu mereka tidak pernah putus komunikasi dan saling memberi kabar satu sama lain. Ervin orang yang sabar dan dewasa, ia selalu perduli dengan Angga sahabatnya. Saking dekatnya hubungan mereka, sampai Angga pernah menjodoh-jodohkan Ervin dengan Alena. Namun saat itu Alena masih tidak tertarik dengan cinta, jadi ia menganggap omongan kakaknya hanya lelucon belaka. Padahal sebenarnya sampai dengan hari ini Ervin selalu menyimpan rasa itu jauh di lubuk hatinya, sampai tak ada seoranpun yang menyadarinya. Setelah satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai di rumah kontrakannya Angga. Mereka masuk ke dalam rumah dengan membawa tas koper kecil milik Ervin. Angga mempersilahkan tamunya itu duduk sembari ia mengambilkan softdrink di dalam kulkas. Panas kota surabaya hari ini membuat keduanya bermandikan keringat. Ervin yang sudah kehausan langsung meminum sebotol softdrink yang telah di sediakan oleh Angga di atas meja. “Hati-hati minumnya, awas keselek.” “Hah ... Seger sekali. Surabaya kenapa sepanas ini ya. Sampek nggak kuat aku.” “Soalnya kita naik motor. Coba naik mobil berAC nggak mungkin sepanas ini.” Sahut Angga. “Iya juga ya. Kapan kamu beli mobil biar nggak kepanasan kalau ke sini.” “Entar nunggu warisan dari nenek moyang.” Jawab Angga dengan entengnya. “Ha ... Ha ... Ha ...kamu ada-ada aja. Oh ya ... Gimana kabar Alena? katanya dia pulang ke sini?” tanya Ervin. Memang kalau sudah membahas tentang gadis itu, wajah Ervin selalu terlihat bersemangat sekali. “Ya..awal-awal kerja dia tinggal di sini, tapi udah lama dia ngekost sendiri.” “Tumben kamu ngebiarin adikmu ngekost sendirian? biasanya kan kamu overprotektif banget sama adikmu itu?” “Ya dia yang minta, biar dia belajar hidup mandiri. Tapi tenang aja aku nggak pernah absen buat telepon dia setiap hari.” “Sudah kuduga, kamu nggak akan tega.” Ucap Ervin sembari mengibaskan tangan kanannya. ‘Kukira Alena masih di rumah Angga, kedatanganku kemari ternyata hanya sia-sia belaka.’ Guman Ervin dalam hati, wajahnya terlihat sangat kecewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD