Di suatu siang di hari minggu, Sovia meminta Alvin untuk mengantarkannya ke sebuah Mall. Setelah kejadian malam itu Alvin tidak bisa menolak sedikitpun permintaan dari Sovia. Setiap ia menolak, Sovia pasti mengancam akan memberitahukan kepada Alena, apa yang telah terjadi di antara mereka berdua. Sovia sengaja melakukan hal itu karena ia tidak mau kehilangan Alvin. Menggunakan cara itu terbukti ampuh membuat Alvin menuruti semua keinginannya. Harusnya setiap hari minggu adalah waktunya Alvin dan Alena untuk jalan-jalan dan menikmati waktu kebersamaan mereka berdua. Namun hari minggu ini, Alvin terpaksa berbohong pada Alena ada janji bertemu dengan konsumen. Alena tanpa rasa curiga mempercayai apa yang dikatakan Alvin karena kalau sudah ada hubungannya dengan pekerjaan ia tak bisa melarangnya.
Sovia menikmati jalan-jalannya bersama Alvin, tapi tidak dengan Alvin. Sepanjang jalan ia selalu teringat dengan Alena. Ia merasa bersalah karena telah membohongi Alena.
“Vin, anterin aku ke toko itu ya.” Ucap Sovia sembari menunjuk sebuah toko baju merk terkenal yang berada di ujung jalan. Alvin hanya bisa mengangguk menuruti semua yang Sovia minta. Mereka masuk ke sebuah toko baju merk terkenal. Sovia sibuk memilih beberapa pasang baju, sedangkan Alvin hanya duduk sembari mengotak atik Hpnya.
“Vin, Sini bentar!” panggil Sovia sembari menoleh ke arah Alvin. Ia berdiri dengan bermalas-malasan berjalan menghampiri Sovia.
“Ada apa?” tanyanya lirih.
“Bagus mana sih, yang warna merah atau warna yang putih?”
“Gabungin aja biar jadi warna bendera.” Jawabnya asal.
Seketika wajah Sovia memerah menahan jengkel.”Kamu tuh apa’an sih? Aku nanya serius ini.”
“Coba beli yang putih aja lah, biar kayak kuntilanak kalau dipakai pas malam hari.” Celoteh Alvin.
“Kalau nggak serius kasih saran, mending nggak usah ngomong deh.”
“Nah kamu kan yang nanya. Itu udah aku jawab.” Jawab Alvin dengan entengnya.
“Ya udah mending kamu diem aja di sana.” Perintah Sovia pada Alvin. Setelah lama memilih baju di dalam toko itu, akhirnya mereka berdua keluar dari sana. Sovia menyuruh Alvin membawakan beberapa tas belanjaannya, sedangkan ia sendiri melingkarkan tangannya di lengan Alvin. Merasa risih, Alvin berkali-kali melepaskan pegangan tangan Sovia. Namun dengan tidak tahu malunya Sovia semakin mengencangkan pegangan tangannya pada lengan Alvin, karena malas untuk berdebat akhirnya ia membiarkan Sovia berbuat sesuka hatinya.
Hari sudah menunjukkan pukul satu siang, Sovia merasa perutnya sudah kelaparan. Ia merengek-rengek kepada Alvin untuk mengajaknya makan siang. Merekapun menuju food court di lantai dua mall itu. Setelah memesan beberapa makanan, mereka mencari tempat duduk yang tidak jauh dari outlet makanan yang dipesan. Alvin sengaja duduk agak menjauh dari Sovia, ia sengaja menghindar agar tidak terlalu dekat dengan gadis itu. Melihat Alvin menjauh dari dirinya, Sovia malah menempati kursi yang lebih dekat dengan Alvin. Mereka duduk hampir tak ada jarak. Alvin membiarkannya karena ia sudah capek dengan kelakuan Sovia dari tadi. Setiap ia menghindar, Sovia malah semakin gencar mendekatinya.
Setelah menunggu beberapa saat pesanan akhirnya datang. Sang pelayan membawa sepiring mie hotplet dan sepiring nasi goreng dan meletakkannya di hadapan mereka berdua. Sovia mengucapkan terimaksih pada pelayan dan mulai menyantap makanannya. Sedangkan Alvin tetap diam tak bergeming. Nasi goreng pesanannya di biarkan begitu saja di atas meja.
“Vin, ayo makan.” Ajak Sovia.
“Kamu makan dulu aja. Aku masih males.”
“Sini biar aku suapin.” Ucap Sovia sembari mengambil sesendok nasi goreng dan memasukkan ke mulut Alvin. Melihat itu Alvin berusaha menghindar tapi ia kalah cepat dengan tangan Sovia.
Di sisi lain terlihat Dahnia teman sekantor Alena, sedang menikmati makan siang bersama teman-temannya di food court yang sama dengan Alvin. Saat menikamati makan siangnya tak sengaja sendoknya jatuh ke atas lantai. Ia merunduk hendak mengambil sendoknya. Saat bangun dari posisinya ia tak sengaja melihat adegan romantis yang diperankan oleh keduanya. Saat itu ia melihat Sovia menyuapkan sesondok nasi goreng ke mulut Alvin. Dahnia terkejut dan hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semua orang di kantor tahu kalau Alvin adalah kekasih Alena, tapi kenapa sekarang Alvin malah bermesraan dengan orang lain. Apakah hubungan mereka sudah putus, sejak kapan? berbagai pertanyaan berputar-putar di pikiran Dahnia. Kemarin malam ia masih melihat Alvin mengantarkan Alena pulang dan hubungan mereka kelihatan baik-baik saja. Sangat tidak masuk akal kalau dalam semalam Alvin sudah bermesraan dengan wanita lain. Akhirnya Dahnia mengambil kesimpulan sendiri kalau gadis yang dilihat bersama Alvin, adalah selingkuhannya. Ia berpikir alena harus tahu tentang masalah ini, karena bagaimanapun juga Alena selama ini sudah begitu baik dengannya. Ia harus membalas kebaikan itu dengan memberitahukan kelakuan Alvin di belakangnya.
Setelah menikmati jalan-jalan seharian bersama Alvin, merekapun akhirnya pulang. Alvin mengantarkannya pulang ke rumahnya, akan tetapi ia tidak mau masuk ke rumah Sovia. Ia takut di dalam nanti akan bertemu dengan ibu Nani, Ibu dari Sovia. Setiap Alvin berada di dekat wanita itu ia rasanya tidak bisa berkata-kata. Ia merasa tidak tega menolak setiap perintah yang di berikan oleh Ibu Nani, karena ia sudah menganggap wanita itu seperti ibu kandungnya sendiri. Setelah Sovia turun dari mobil, Pak Satpam terlihat membukakan gerbang rumah dan tanpa sengaja Ibu Nani berada di taman sedang melihat-lihat tanaman bunganya. Seketika wanita itu melihat ke arah pintu gerbang yang dibuka. Alvin yang saat itu masih di dalam mobil terlihat oleh Ibu Nani. Ia memicingkan matanya untuk memastikan siapa yang ada di dalam mobil itu
“Siapa itu, Nak?” tanya ibu Nani pada Sovia.
“Alvin, Ma.” Jawab Sovia.”
“Alvin??”
“Iya, Ma. Alvin yang dulu itu.”
“Oh Alvin mantan pacarmu itu?”
“Iya, Ma.”
“Suruh dia masuk Nak, Mama pengen ketemu.”
“Iya, Ma.” Sovia bergegas keluar pagar dan menemui Alvin yang sudah siap-siap menyalakan mesin mobilnya untuk meninggalkan rumah itu. Sovia berusaha menghentikan mobil Alvin.
“Vin, tunggu! Mama pengen ketemu kamu.”
“Hah? Aku nggak bisa mampir Sov, ada kerjaan.”
“Please ... Vin. Sekali ini aja. Setelah itu kamu nggak usah ketemu Mamaku lagi.” Ucap Sovia dengan nada memelas, dan lagi-lagi Alvin tidak bisa menolak ajakan gadis itu. Ia turun dari mobil dan masuk ke halaman rumah Sovia. Ibu Nani terkejut melihat seseorang yang sudah lama tak dilihatnya. Seorang laki-laki yang dulu setiap hari tidak pernah absen mengunjungi rumahnya. Ibu Nani memandangi Alvin lekat-lekat, tak terasa air mata jatuh di kedua pipinya yang sudah berkerut termakan oleh usia. Ibu Nani sudah menganggap Alvin seperti anaknya sendiri. Bahkan saat Sovia dan Alvin mengakhiri hubungannya, orang yang paling sedih adalah Ibu Nani. Ia menghampiri Alvin yang berdiri tidak jauh dari tempatnya kemudian memegang kedua pipi laki-laki itu. Alvin tidak tega melihat wanita tua di depannya itu mengeluarkan air mata. Ia menghapus air mata di kedua pipi Ibu Nani, sembari tersenyum padanya.
“Kamu benar Alvin kan?” tanya wanita itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Iya Bu, saya Alvin.” Jawab Alvin lirih. Alvin sudah terbiasa memanggil Ibu Nani, dengan panggilan Ibu. Ia sudah mengganti panggilan tante dengan Ibu, saat mereka berdua akan merencanakan pernikahan waktu dulu, saat mereka masih bersama.
“Nak, kamu sudah balikan dengan Sovia? Ibu ikut senang Nak. Kalau bisa kamu secepatnya melamar Sovia sebelum ibu meninggalkan dunia ini” Ucap wanita itu lirih, terlihat ketulusan di matanya. Alvin terkejut ia tidak bisa menjawab pertanyaan wanita di depannya itu. Bibirnya tiba-tiba bungkam tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Apa yang harus ia katakan sekarang? kalau ia berterus terang dirinya dan Sovia sudah tidak ada hubungan apa-apa, pasti wanita itu akan sangat terluka. Akan tetapi lebih baik ia berterus terang daripada ia berbohong dan membuat Ibu Nani sakit hati, kalau suatu saat kebohongannya terbongkar. Belum sempat ia menjawab pertanyaan wanita itu, Sovia tiba-tiba menyahuti pertanyaan ibunya.
“Iya, Ma. Secepatnya kita akan menikah. Mama jangan ngomong aneh-aneh deh! Mama bakalan panjang umur dan melihat kita berdua menikah” Jawab Sovia enteng. Alvin menelan ludah dalam-dalam. Ia kembali terkejut dengan jawaban Sovia. Benar-benar dua orang ini sangat merepotkannya. Ia merasa harus merevisi kata-kata Sovia sebalum semuanya terlalu jauh.
“Ehh ... Sebenarnya ....” Belum sempat Alvin melanjutkan kata-katanya Sovia kembali melontarkan kata-kata yang membuat Alvin senam jantung.
“Sebenarnya Alvin itu udah dari lama Ma, pengen ke sini cuma dia menunggu waktu yang tepat.
“Ya sudah Nak, tunggu apa lagi. Mama merestui hubungan kalian. Kembali Alvin tidak bisa berkata apa-apa ia hanya diam. Ia bingung bagaimana harus meluruskan kesalahpahaman ini. Sovia sengaja membuat keadaan menjadi rumit dnegan mengatakan bahwa mereka berdua akan menikah, padahal kenyataannya tidak.
****
Keesokan harinya, Alena disibukkan dengan Pekerjaan yang menumpuk di mejanya. Map – map aplikasi konsumen banyak yang harus ia kerjakan. Saat sibu dengan pekerjaannya, Dahnia tiba-tiba menghampirinya.
“Al, lagi sibuk?”
“Iya mbak ada apa?” tanya Alena sembari melihat ke arah Dahnia.
“Al, aku mau nanya sesuatu.”
“Nanya aja mbak, serius banget kayaknya.”
“Emm ... Kamu sma Alvin masih pacaran kan?”
“Iya mbak, masih. Emang kenapa mbak kok nanya kayak gitu?”
“Maaf nih sebelumnya, Kemarin siang pas di mall, aku ketemu sama Alvin tapi dia lagi sama cewek.”+
“Terus mbak?”
“Emm ... Anu ... Mereka lagi suap-suapan , Al.” Ucap Dahnia dengan agak ragu-ragu, tapi akhirnya kata-kata itu lolos keluar dari bibirnya. Alena terkejut, setelah kemarin Vania mengatakan hal yang hampir sama, sekarang Dahnia juga begitu. Mungkinkah memang benar apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Apakah memang Alvin benar-benar selingkuh dari dirinya, Alena pun terdiam. Ia mencoba menutupi kegundahan hatinya dan kembali tersenyum pada Dahnia.
“Mungkin itu adiknya mbak.” Ucap Alena sembari tersenyum.
“Ohh ... Jadi Alvin punya adik? Maap loh aku baru tau. Aku hanya mencoba menyampaikan apa yang aku lihat. Jangan salah paham ya.”
“Iya nggak apa-apa mbak, tenang aja.” Ia tetap mencoba untuk tegar walaupun sebenarnya hatinya sakit. Alvin nyatanya tak punya adik karena ia adalah anak tunggal. Sekarang Alena mulai penasaran siapa sebenarnya gadis yang bersama dengan Alvin itu.