17 Kesalahan Kedua 17

1624 Words
Alena duduk di kursinya dengan bertopang dagu, beberapa map aplikasi konsumen di atas mejanya dibiarkan menumpuk begitu saja. Tadi malam karena kepikiran pada Alvin, ia hanya bisa memejamkan matanya selama dua jam saja, setelah itu ia terjaga sampai pagi tiba. Baru ditinggal seharian tanpa kabar berita bagi Alena merupakan cobaan yang berat. Rasa kangen dan rindu sudah mengambil alih hatinya. Pagi sekali ia sudah mencoba menghubungi Alvin tapi tetap tidak bisa. Hpnya tidak aktif dan chat yang ia kirim ke Alvin juga belum dibaca. Pikiran Alena semakin mengembara tidak jelas kemana. Berkali-kali input aplikasi konsumen selalu ada kesalahan, karena penasaran dengan sikap sahabatnya itu Vania pun menghampirinya. “Kamu kenapa lagi? Alvin belum ada kabar?” tanya Vania padanya. “Iya.” Jawabnya lirih sembari menganggukkan kepalanya. “Udah kamu coba telepon?” “Udah tapi Hpnya nggak aktif.” Jawabnya lirih. “Al, sebenarnya ada yang mau aku beritahu sama kamu.” “Tentang apa, Van?” “Alvin.” “Ada apa dengan dia, Van? cepat cerita sama aku!” “Ya nggak di sini juga sih, ini kan masih jam kerja.” “Oke, jam makan siang ya.” “Iya, Al.” ‘Aduh begitu bodohnya aku, kenapa aku harus bilang gitu sama Alena. Kalau mereka berdua bertengkar gara-gara aku gimana nanti?’ batin Vania yang menyesali kebodohannya. Setelah menjawab perkataan Alena, Vania kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Alena kembali berkutat dengan map-map aplikasi konsumen di depannya, yang sedari tadi dibiarkan begitu saja. Belum lama ia berkutat dengan pekerjaannya, Hpnya tiba-tiba berdering tanda ada panggilan masuk. Alena membiarkannya karena mengira penggilan itu adalah dari Angga, kakaknya. Namun lama-lama ia merasa risih juga karena HPnya terus saja berdering. Akhirnya dengan wajah terpaksa dia menoleh ke arah Hpnya. Alangkah terkejutnya Alena, saat ia melihat panggilan itu dari Alvin.Wajahnya seketika berubah sumringah, senyum manis terukir di wajah cantiknya. “Hallo, Al.” Sapa Alvin. “Hallo juga, Vin.” “Maafkan aku ya udah dua hari ini nggak kasih kabar ke kamu. Aku sibuk banget, selain itu aku nggak sempat charger Hpku.” “Iya nggak apa-apa, Vin. Tapi aku harap lain kali kamu kasih aku kabar ya, meskipun kamu lagi sibuk banget.” “Iya, Pasti. Maapin aku ya, Al.” “Nggak apa-apa, yang penting kamu baik-baik aja, Vin.” “Makasih ya, Al. kamu sabar banget. Ya udah ya nanti aku telepon lagi. Aku mau ketemuan sama konsumen sebentar.” “Iya, Vin. Ati-ati ya.” “Oke, Al.” Setelah itu Alvin langsung menutup sambungan teleponya. Alena tersenyum,ia merasa senang karena sudah mendapatkan kabar dari Alvin. Paling tidak hatinya sudah lega, karena ia tahu keadaan Alvin baik-baik saja. **** Setelah sampai di dalam rumahnya, Sovia membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Wajahnya mendongak ke atas, memandangi langit-langit kamarnya. Ada sedikit rasa bahagia di hatinya, karena sekarang ia merasa Alvin sudah sangat dekat dengannya. Namun saat ia mengingat kembali kata-kata Alvin yang mengatakan ia sudah tidak ada perasaan lagi dengan dirinya, hatinya merasakan sakit. Ia merasa harus berjuang untuk mendapatkan Alvin kembali, karena baginya hanyalah Alvin satu-satunya laki-laki yang tidak bisa tergantikan dalam hatinya. Ia sudah tidak perduli lagi dengan perasaan Alvin padanya, yang terpenting sekarang bagaimana caranya agar ia bisa bersama-sama dengan Alvin seperti dulu lagi. Sovia mengambil Hp di dalam tasnya. Sejenak ia diam, kemudian membuka aplikasi w******p di Hpnya. Mengetik sebuah pesan lalu mengirimkannya pada seseorang. “Jangan lupa kamu harus tanggung jawab atas apa yang udah kamu perbuat padaku. Kalau nggak mau, kamu tau sendiri akibatnya” Setelah mengirimkan pesan bernada ancaman itu ia tersenyum. Ia bangun dari tempat tidurnya dan bersiul-siul kecil. Mengambil sebuah handuk dan masuk ke dalam kamar mandi utnuk membersihkan tubuhnya. **** Alvin terdiam di balik kursi kemudinya. Setelah membaca pesan dari Sovia ia tidak membalasanya, malah melempar Hpnya di kursi. Berkali-kali ia mengeluarkan kata-kata umpatan buat dirinya sendiri. Dorongan hawa nafsunya telah membuat impiannya bersama Alena hancur seketika. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar ia dapat menyelesaikan masalah ini. Sekarang Sovia menjadi ancaman buat hubungannya dengan Alena. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau nasib percintaannya akan setragis ini. Ia menyesali kenapa harus bertemu dengan sovia lagi, di saat ia sudah bisa melupakan gadis itu. Gadis yang dulu pernah sangat ia cintai segenap hatinya dan tiba-tiba meninggalkannya demi untuk mengejar karier semata. Sovia sekarang berbeda dengan yang dulu. Sovia yang dulu adalah gadis yang lembut dan pendiam bisa dibilang ia adalah gadis yang lugu. Selama lima tahun menjalin hubungan dengan Sovia, Alvin tak pernah sekalipun melakukan hal yang aneh-aneh. Bahkan ia sangat menjaga kehormatan Sovia. Di saat teman-temannya pada masa itu melakukan seks bebas, tidak dengan mereka berdua. Mereka benar-benar berpacaran dengan sehat sampai dinobatkan menjadi couple paling goals, karena wajah mereka yang sama-sama mempesona. Mereka mempunyai rencana untuk menikah setelah lulus kuliah Namun setelah lulus kuliah, Sovia memaksa untuk menerima tawaran kerja di luar kota karena ditawarin iming-iming gaji yang sangat besar. Ia tetap nekad menerima tawaran itu, meskipun saat itu Alvin tidak menyetujuinya. Setelah bekerja di luar kota, sikap Sovia sedikit demi sedikit mulai berubah. Tuntutan kerja yang terlalu berat membuat Sovia sering tidak ada waktu buat Alvin, mereka sering bertengkar dan akhirnya hubungan mereka semakin renggang. Kurangnya komunikasi dan jarak yang jauh membuat mereka memutuskan untuk berpisah secara baik-baik dan itupun dilakukan lewat sambungan telepon. Setelah berpisah dari Sovia, Alvin mendengar gosip kalau Sovia tengah menjalin hubungan dengan bosnya yang sudah memiliki istri. Sekarang saat ia kembali, ia sudah berubah menjadi gadis yang berani dan lebih percaya diri. Bahkan saat malam itu Alvin terkejut, karena ternyata Alvin bukan lagi menjadi laki-laki yang pertama bagi Sovia. **** Saat jam makan siang telah tiba, Alena mengajak Vania untuk makan di warung masakan padang favoritnya. Vania menuruti kemauan sahabatnya itu, sesampainya di warung masakan padang tersebut mereka mencari tempat duduk. Saat itu entah kenapa warung ramai dengan pengunjung. Semua tempat duduk telah penuh terisi oleh pembeli, hanya tersisa kursi paling belakang sendiri. Alhasil mereka berdua duduk di kursi tersebut. Alena memesam ayam goreng, udang dan sambal cabai hijau kesukaannya. Sedangkan Vania memesan telor dadar dan semur jengkol. Selama menunggu pesanan makanan Alena kembali menanyakan masalah tadi pagi pada Vania. “Van, katanya tadi kamu mau cerita sesuatu? Apa’an? Ayo cerita sekarang!” desak Alena mulai penasaran. “Nanti aja ya, abis makan. Aku udah laper banget nih.” Rengek Vania yang sebenarnya masih takut menceritakan masalah itu pada Alena. Ia mencoba mengulur-ulur waktu. “Kamu dari tadi gitu terus. Emang ada masalah apa sih? Kelihatannya kamu takut banget mau cerita.” Belum sempat Vania menjawab pertanyaan sahabatnya itu, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Alhasil Vania punya alasan untuk mengulur-ulur waktu. Ia langsung melahap makanannya tanpa memperdulikan wajah Alena yang masih penasaran menunggu ceritanya. Beberapa menit berselang mereka pun selesai menghabiskan makanan masing-masing. Alena kembali bertanya pada sahabatanya itu. “Bisa dilanjutkan kan ceritanya. Makannya udah abis, kamu mau alasan apalagi?” “Astaga Al. Siapa yang alasan coba?” “Halah, akutuh tau kamu banget, Van. Nggak usah ngelak deh.” “Iya udah aku cerita sekarang.” “Iya ayo cepat mulai, aku dengerin!” “Kamu masih inget kan waktu aku pulang sore gara-gara aku ngantuk kapan hari?” Dahi Alena berkerut ia mencoba mengingat-ingat saat itu.”Oh iya ... Aku ingat.” “Nah waktu itu kan aku pulang duluan. Pas sampai di luar kantor aku liat mobilnya Alvin.” “Terus?” “Karena penasaran akhirnya aku mencoba mendekati dan aku kaget waktu itu.” “Emang kenapa, Van?” “Di dalam mobil Alvin ada seorang cewek yang lagi meluk dia.” Alena terkejut mendengar penjelasan Vania. Ia menarik nafas dalam-dalam, kakinya seketika melemas. “ Kamu jangan ngarang, Van.” ucapnya kemudian. “Terserah sih kamu mau percaya apa nggak. Tapi itu yang terjadi. Emang cewek itu meluk Alvin, tapi kayaknya Alvin merasa risih dan berusaha melepaskan pelukan cewek itu.” “Berarti emang bener ya, apa yang kamu bilang ini.” “Aku sahabatmu, Al. Aku nggak mungkin bohongin kamu. Itulah faktanya.” Jawab Vania sembari mengelus pundak Alena. “Kamu tau nggak siapa cewek itu?” tanya Alena penasaran. “Yang jelas dia cantik, tapi aku nggak kenal. Kamu jangan salah paham dulu sama Alvin. Lebih baik kamu selidiki dulu sebelum bertanya sama dia.” “Iya aku tau apa yang harus akau lakukan, Van. Makasih ya” ucap Alena lirih sembari menatap mata sahabatnya itu. “Iya sama-sama, Al.” jawab Vania sembari tersenyum. Setelah mengatakan itu, Alena mencoba untuk tersenyum padahal sebenarnya hatinya sedang menangis. Ia memang tidak gampang percaya dengan apa kata orang sebelum ia melihat sendiri dengan kedua matanya. Namun beda halnya dengan masalah ini, karena yang melihat bukan orang lain melainkan Vania, sahabatnya sendiri. Batinnya bergejolak, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah ia harus mempercayai begitu saja kata-kata Vania, tapi tidak mungkin juga sahabat baiknya itu tega berbohong padanya.Vania juga tidak punya alasan untuk mengarang sebuah cerita dan sengaja membohonginya. “Udah jangan dipikirin, ayok balik ke kantor.” Ajak Vania. “Iya, Van.” jawab Alena lirih. Setelah selesai makan siang mereka pun kembali ke kantor. Sepanjang perjalan ke kantor Alena hanya duduk terdiam diboncengan motor Sovia, padahal biasanya dirinya yang paling banyak bicara saat di jalanan seperti itu. Pikiran Alena berkelana, mengaitkan satu demi satu peristiwa yang terjadi. Ia berusaha menyingkirkan pikiran negatf dari dalam kepalanya, tapi ternyata tidak bisa. Sovia yang melihat perubahan sikap sahabatnya itu merasa bersalah. Kalau saja ia tidak menceritakan hal itu, mungkin sekarang Alena tidak akan bersikap diam seperti ini. Namun bagaimanapun juga, lebih baik bercerita di awal daripada harus melihat sahabatnya itu di bohongi nantinya. Vania menghembuskan nafas berat serasa mengeluarkan energi negatif dari dirinya. ‘Semoga aja apa yang aku pikirkan selama ini salah.’ Batin Vania sembari mempercepat laju motornya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD