16 Kesalahan Kedua 16

1607 Words
Alvin membelokkan mobilnya di depan rumahnya. Ia turun dari mobil dan membuka pintu depan rumah yang terkunci. Setelah itu ia kembali ke mobil dan membopong tubuh Sovia kemudian meletakkannya di atas tempat tidur, kamar tamu. Ia bergegas menuju ke kamarnya untuk mengambil baju, mengganti kemeja kerjanya dengan tshirt berwarna putih dan celana boxer warna hitam. Setelah mengganti bajunya ia kembali ke kamar yang ditempati Sovia. Berkali kali Sovia merancau tidak jelas, Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan gadis itu. Ia melepas sepatu Sovia dan menyelimuti tubuhnya. Tanpa disengaja Alvin melihat wajah Sovia, wajah putih bersihnya semakin terlihat jelas saat sedang tidur. Sekilas ia teringat kisah masa lalu saat bersama dengan gadis itu. Dulu ia memang sangat mencintai Sovia, bahkan ia rela berkorban apapun juga demi gadis itu. Namun sekarang semua telah berlalu, itu semua hanya tinggal kenangan semu yang mau tidak mau harus dilupakan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tiba-tiba ia teringat dengan Alena. Sedari siang ia belum menghubungi gadis itu. Ia bergegas bangun dari tempat tidur Sovia, tapi belum sempat dia berjalan pergi dari kamar itu sebuah tangan menghentikan langkahnya. Ia menoleh kearah Sovia, gadis itu tampak membuka matanya tapi tetap dalam keadaan tidak sadar. Sovia memeluknya dari arah belakang, pelukan hangat yang tidak pernah ia rasakan lagi semenjak empat tahun yang lalu. Ia mencoba melepaskan pelukan Sovia, tapi berkali-kali dilepaskan Sovia kembali memeluknya lagi. “Vin, aku masih mencintaimu. Apakah kamu juga masih mencintaiku?” bisik Sovia tepat di telinga Alvin. “Sov, kamu itu lagi mabuk. Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu ya.” “Selama ini aku nggak bisa ngelupain kamu, Vin. Aku masih mencintai kamu.” “Iya udah sekarang kamu istirahat dulu ya.” Kata Alvin lirih, lalu melepaskan pelukan Sovia dan merebahkan tubuh Sovia di atas tempat tidur. Dirasa sudah tertidur Alvin bergegas meninggalkan Sovia, tapi kali ini Sovia menarik tubuh Alvin. Ia terkejut dan tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tubuhnya terjatuh berada tepat di atas tubuh Sovia. Untuk kali ini Alvin benar-benar tidak dapat menahan gejolak yang ada dalam dirinya. Pertahanan dirinya pun runtuh karena bagaimanapun juga ia adalah laki-laki dewasa dan juga laki-laki normal. Dinginnya suhu AC dalam kamar itu dan bisikan hawa nafsu di dalam dirinya membuat Alvin pun terlarut dalam permainan Sovia. Akhirnya malam itu menjadi ajang pergulatan p***s bagi mereka berdua, ajang untuk menumpahkan semua kerinduan yang terpendam selama beberapa tahun lamanya. Kamar itu sekaligus menjadi saksi atas pengkhianatan Alvin kepada Alena. **** Alena tidak dapat memejamkan matanya, ia memikirkan Alvin yang seharian tidak memberikan kabar apapun padanya. Berkali-kali ia mengecek pesan di Hpnya tapi tak ada satupun balasan dari laki-laki itu. Perasaannya menjadi tidak enak, tidak biasanya Alvin tidak memberikan kabar apapun sampai malam seperti ini. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak ada satupun nomer telepon temannya Alvin yang ia punya. “Tok ... Tok ... Tok ...!” ketukan pintu dari luar kamar tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Ia bergegas bangun dari ranjangnya dan membuka knop pintu. Terlihat Vania dengan wajah yang meringis berdiri di balik pintu kamarnya. “Apa’an pake acara meringis segala, udah kayak mbak kunti aja kamu itu.” “Jahat banget sih kamu, sama temen sendiri.” “Biarin.” Goda Alena. “Kenapa mukamu kayak kertas lusuh gitu sih?” tanya Vania sembari duduk di ujung tempat tidur sahabatnya itu. “Emang keliatan ya?” “Keliatan banget, Al. Emang ada apa? cerita sama aku!” kata Sovia sembari memegang pundak Alena dengan halus. “Aku tuh khawatir sama Alvin, seharian ini dia nggak balas chatku sama sekali sampai malam ini.” Vania terdiam mendengar kata-kata Alena. Ia teringat kejadian tadi sore saat pulang kerja. Apa mungkin si Alvin keluar dengan gadis itu pikirnya. Tapi siapakah gadis itu kenapa ia sampai memeluk tubuh Alvin seperti itu, dan kenapa juga Alvin sepertinya risih dengan gadis itu. Berbagai pertanyaan muncul dipikirannya tanpa sedikitpun mendapatkan jawaban yang berarti. ‘Apa aku ceritakan aja ya kejadian tadi sore pada Alena. Tapi nggak boleh, karena aku masih belum menemukan bukti siapa sebenarnya gadis yang bersama Alvin itu.’ Batin Vania yang rasanya ingin di ucapkannya pada Alena saat itu juga. Namun ia mengurungkan niatnya karena ia takut membuat sahabatnya itu jadi salah paham dengan Alvin. Akhirnya ia memutuskan akan menceritakan hal itu kalau memang ia sudah menemukan bukti yang cukup dan sudah mengetahui siapa sebenarnya gadis yang bersama dengan Alvin itu. “Apa udah kamu coba telepon dia, Al?” tanya Vania. “Udah berkali-kali aku telepon dia, tapi nomernya selalu nggak aktif.” “Mungkin Hpnya lagi rusak, Al. Positif thinking aja oke!” “Ya udah ditunggu besok aja, apakah dia akan menghubungi aku apa nggak, karena perasaanku nggak enak banget.” “Ya udah, ayokk tidur! Ini udah malem banget loh. Besok pagi kita nguli lagi” “Ya udah ayo kita tidur.” “Oke, kalau gitu aku kembali ke kamar dulu ya, Al.” “Iya, Van. Moga mimpi indah.” Setelah mendengar ucapan Alena, Vania kembali ke kamarnya. Sedangkan Alena kembali dengan lamunannya. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, wajahnya menengadah ke atas. Pikirannya masih berkelana memikirkan dimanakah Alvin berada dan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Ia berusaha menepis pikiran negatif di dalam kepalanya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Beberapa kali ia mencoba memejamkan matanya tapi ternyata tidak bisa, sampai pada akhirnya suara dering HP di atas nakas membuatnya terkejut. Ia bangun dari tempat tidur dan meraih Hpnya, perasaannya sangat senang karena mengira kalau telepon itu dari Alvin. Ia mengangkat telepon itu tanpa melihat nama siapa yang tertera di layar Hpnya. “Hallo, Vin. Kamu nggak apa-apa kan?” “Vin siapa?” suara seorang laki-laki di seberang sana, suara yang familiar dan sungguh sangat menyebalkan baginya. Ia melihat kembali layar Hpnya dan langsung mengerucutkan bibirnya, ternyata yang telepon bukanlah Alvin melainkan Angga kakaknya. “Maaf Mas, aku kira temenku tadi.” “Vin itu siapa? Vino, Alvin, Davin, Devin atau siapa?” tanya Angga seperti biasanya memberondong pertanyaan yang membuat kepala Alena pusing. “Vina, Mas.” Jawab Alena sekenanya. “Tapi, Mas kok baru tahu ada temenmu yang namanya Vina? Anak baru?” “Haduh udah deh nggak usah dibahas, nggak penting banget pertanyaannya. Emang Mas Angga telepon aku ada perlu apa?” “Nggak ada perlu apa-apa, Mas cuma pengen mastiin, kamu udah di kostan apa belum jam segini.” “Apa perlu aku potoin Mas, kalau aku udah di kostan?” “Nggak usah, Mas percaya. Ya udah istirahat sana udah malam.” “Aku tadi tuh udah merem, tapi karena mas angga telepon jadi melek lagi deh.” “Iya maap. Ya udah met tidur adikku, met malam.” Alena baru mau menjawab, tapi ternyata telepon sudah dimatiin oleh Angga. Alena hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah kakaknya itu. Ia meletakkan kembali HP di nakas dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa saat kemudian dia pun terlelap dalam mimpinya. **** Matahari sudah mulai memancarkankan sinarnya. Menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi di sebuah kamar yang berukuran tidak terlalu besar. Di atas tempat tidur dengan sprei berwarna putih bersih terlihat sepasang anak manusia tengah menikmati tidur panjangnya. Mereka berdua kelihatan kelelahan karena sepanjang malam telah melakukan pergulatan p***s sampai beberapa kali. Beberapa helai pakaian mereka tampak berserakan di bawah lantai, seakan menjadi saksi bisu perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan itu. Perlahan Sovia membuka kedua matanya, ia terkejut dengan keadaan dirinya yang polos dan cuma berbalut selimut sebatas d**a. Ia melirik ke arah sampingnya dan wajah yang dilihatnya adalah wajah Alvin yang sedang tertidur lelap. Bukannya ia berteriak marah-marah dan memukul Alvin seperti yang dilakukan aktris di drama-drama korea, tapi sebaliknya ia malah tersenyum bahagia dan wajahnya tampak menunjukkan rasa puas. Ia memandangi wajah Alvin, ingin rasanya menyentuh wajahnya, tapi ia mengurungkan niatnya. Takut kalau laki-laki di sebelahnya itu akan terbangun. Beberapa saat kemudian Alvin terbangun, sama seperti Sovia ia juga terkejut melihat keaadaan mereka berdua yang polos seperti itu. “Apa yang kita lakuin, Sov?” “Seperti yang kamu lihat, sekarang aku udah jadi milikmu, Vin.” Ucap Sovia dengan senyuman mengembang di bibirnya. “Tapi Sov, aku...” Jawab Alvin dengan ragu-ragu. Membuat raut wajah Sovia yang semula bahagia berubah menjadi kecewa. “Kenapa, kamu mau mengingkarinya? kita udah melakukannya berkali-kali tadi malam. Apakah kamu pura-pura lupa? Ingat Vin, kamu melakukan itu semua dengan sadar.” Bentak Sovia dengan wajahnya yang memerah menahan emosi. “Tapi, Sov. Aku bukan jadi yang pertama kalinya buat kamu kan? jadi bisakah kita sama-sama melupakan kejadian ini?” “Jadi kamu nggak mau tanggung jawab gitu?” “Tapi ... Perasaanku sama kamu nggak seperti dulu, Sov.” Ucap Alvin lirih takut membuat Sovia menjadi lebih marah lagi pada dirinya. “Kamu harus tanggung jawab dengan apa yang kamu lakuin padaku. Kalau nggak kamu akan nyesel ,Vin.” Ancam Sovia. “Tolong kasih aku waktu buat mikirin ini semua, Sov.” Jawab Alvin datar. “Oke, tapi aku harap kamu nggak lari dari tanggung jawab.” Ucap Sovia seraya bangun dari tempat tidur, berbalut dengan selimut ditubuhnya. Ia memunguti bajunya yang berserakan di lantai dan membawanya ke kamar mandi, kemudian mengguyur tubuhnya dengan air. Sedangkan Alvin terlihat sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya. Ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Kepalanya terasa berat, sudah beberapa kali dia merutuki dirinya sendiri karena dengan begitu bodohnya mengikuti hawa nafsunya yang cuma sesaat. Kini semuanya telah terjadi, waktu tidak akan bisa diulang kembali. Sekarang ia sangat bingung memikirkan nasib hubungannya dengan Alena. Apa yang harus ia katakan pada gadis itu. Saat ini untuk memikirkan hidup bersama dengan Sovia pun rasanya tidak sanggup, karena nyatanya pengisi hatinya sekarang adalah Alena, bukan Sovia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD