15 Kesalahan Kedua 15

1722 Words
“Hai, Alvin. Sudah lama kita nggak ketemu.” Sapa Sovia sembari mengulurkan tangan kanannya pada Alvin. “Hai juga, Sovia.” Jawab Alvin membalas uluran tangan Sovia. Mereka berdua kelihatan canggung saat saling menyapa dan berjabat tangan. Alena melihat reaksi keduanya. Ia merasa mereka tidak seperti sepasang teman lama, melainkan seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Namun Alena buru-buru menepis pikiran jeleknya karena ia percaya kepada Alvin. Laki-laki yang sudah berkali-kali menyakitinya, tapi ia tetap sayang padanya. “Mbak Sovia, kalau gitu saya tinggal dulu ya. Masih banyak kerjaan di dalam.” Pamit Alena dengan sopan pada Sovia. “Oh iya, silahkan. Nggak apa-apa tinggal aja, lain kali kita keluar bareng ya.” Pinta Sovia dengan berbasa basi pada Alena. “Iya mbak. Sampai ketemu lagi. Vin aku tinggal ke dalam dulu ya!” kata Alena sembari menatap ke arah mereka berdua secara bergantian. “Iya, Al. Nanti pulang kerja tungguin ya seperti biasanya!” kata Alvin dengan gaya yang dibuat-buat di depan Sovia. Sovia yang melihat kemesraan mereka cuma diam dan malah memalingkan wajahnya. Setelah berpamitan pada keduanya Alena pun meninggalkan mereka dan kembali ke ruangannya. “Kita masuk ke dalam bilik ruang tunggu aja, nggak enak kalau ngomong di sini banyak telinga yang mendengar.” Ajak Alvin sembari masuk ke bilik ruang tunggu yang biasanya di gunakan untuk akad kredit dengan konsumen. Mereka berdua masuk dan kemudian duduk saling berhadapan. “Kamu mau apa sebenarnya?” tanya Alvin dengan ketus. “Aku cuma ingin berbicara santai sama kamu, tapi kamu susah di hubungi dan sulit ditemui.” “Sekarang udah ketemu kan? cepat kamu mau ngomong apa, aku nggak punya banyak waktu!” seru Alvin. “Aku sebenarnya mau minta maaf untuk kesalahanku empat tahun yang lalu, Vin.” Gumam Alena dengan menundukkan kepalanya. “Udah lupakan aja, aku juga udah ngelupain masa lalu. Sekarang kita udah punya kehidupan masing-masing.” Ujar Alvin dengan tegas. “Jadi kamu udah maapin aku? kalau kamu emang udah maapin aku, tolong jangan menghindar dariku!” pinta Sovia dengan wajah memelas. Alvin menatap wajah Sovia, wanita yang dulu pernah ada di dalam hatinya. Wajahnya masih tetap cantik seperti dulu, hidungnya mancung dan bibirnya tipis. Wajah yang dulu sering ia kagumi dan ia pandangi tiap hari. Tak ada yang berubah di wajahnya, hanya saja sekarang ia lebih kurus, daripada dulu. Alvin menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. “Aku nggak akan menghindari kamu, asalkan kamu tahu batasannya. Kita udah punya kehidupan masing-masing, jadi kamu harus tahu diri.” “Iya aku ngerti, Vin.” tanya Sovia sembari menatap mata laki-laki di depannya itu. Alvin menghindari tatapan mata Sovia. Ia menundukan kepala kemudian menghadap ke arah lain. “Ya, udah kalau nggak ada yang dibicarin lagi, aku mau balik ke dalam dulu. Kerjaanku masih numpuk.” ujar Alvin sembari berdiri dari tempat duduknya. Sovia hanya bisa mengganguk dan tersenyum ke arahnya. Ia memandang kepergian Alvin dengan tersenyum. Senyuman yang penuh dengan sejuta arti. *** Alena kembali ke ruangannya. Di sana sudah menunggu Vania yang sudah berdiri di samping mejanya, dengan menyimpan berbagai pertanyaan yang akan di lontarkan kepadanya. “Gimana? siapa Sovia itu?” tanya Vania penasaran. “Mulai deh keponya. Kasih tau nggak ya?” goda Alena pada sahabatnya itu. “Udah deh, nggak usah muter-muter, tinggal jawab aja susah amat sih?” “Ha ... Ha ... Ha ...” tawa Alena pecah melihat Vania yang mulai terpancing emosinya itu. “Astaga malah ketawa.” Sewot Vania. “Sovia itu temannya Alvin. Teman lama.” Ujar Alena sembari tertawa melihat Vania dengan wajah serius menatapnya. “Terus kok nggak nyari Alvin, kenapa kamu yang malah dicariin?” tanya Vania dengan penasaran. “Katanya pas dihubungi nomer HPnya Alvin selalu nggak aktif, terus kesini di cariin nggak pernah ketemu. Akhirnya nyariin aku deh.” jelas Alena. “Oalah gitu. Kok perasaan ada yang aneh ya?” “Apa’an yang aneh?” tanya Alena. “Lupain, mungkin cuma perasaanku aja, ya udah lanjut kerja sana.” Vania kembali duduk di kursinya. Alena menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk di meja. Saat tangannya di gunakan untuk mengetik di keyboard komputer, lengannya kembali terasa nyeri. Tadi pagi saat mandi, ia kaget karena melihat kedua lengannya terdapat bekas membiru. Ia masih ingat saat Alvin mencengkeram kedua lengannya dengan keras tadi malam. Cengkraman tangan Alvin yang sangat keras itulah yang membuat lengan Alena jadi membiru. Alena sadar kalau Alvin tidak pernah bisa mengontrol emosinya. Saat ia marah ia selalu berubah menjadi orang yang berbeda. Alvin berubah menjadi sosok laki-laki yang kasar dan ringan tangan. Anehnya Alena selalu memaafkan perlakuan laki-laki itu padanya. *** Sepulang kerja, Vania berpamitan pada Alena untuk pulang duluan. Entah kenapa hari ini ia merasakan kantuk yang tak tertahankan. Akhirnya pas jam pulang kerja ia langsung minta ijin pulang, padahal biasanya ia masih betah duduk di kursinya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saat ia keluar dari kantor ia melihat mobil Alvin dengan mesin yang menyala tapi lampu di dalam mobil itu mati. Awalnya ia cuek saja, tapi rasa penasaran mulai menyelimuti pikirannya. Ia berhenti dan memicingkan matanya untuk melihat apa yang sedang di lakukan oleh Alvin di dalam mobil itu. Ia terkejut saat melihat di dalam mobil Alvin, ada seorang gadis yang sedang memeluknya. “Alvin sama siapa itu?” gumam Vania sembari agak mendekat ke arah mobil Alvin. Ia melihat Alvin tampak berusaha melepaskan pelukan gadis itu. Vania buru-buru sembunyi saat gadis di dalam mobil itu menatap ke arahnya. Ia bertanya-tanya di dalam hati siapakah sebenarnya gadis cantik di dalam mobil bersama Alvin itu, dan apakah ia harus menceritakan hal yang dilihatnya barusan kepada Alena. Vania merasa belum ada cukup bukti untuk menceritakan hal ini pada Alena, akhirnya ia mengurungkan niatnya. **** Siang itu saat Alvin akan kembali ke ruangannya... “Alvin, tunggu!” nanti pulang kerja aku mau ngobrol sebentar sama kamu!” kata Sovia sembari bangun dari tempat duduknya. Alvin membalikkan badannya. “Apa lagi yang mau di obrolin? udah nggak ada lagi kan? aku sibuk.” “Kalau kamu nggak mau ngobrol sama aku nanti sore, aku panggil Alena sekarang. Biar dia tau kalau aku adalah mantan kekasihmu, orang yang dulu pernah kamu sayangi sampai kamu rela berkorban apapun demi aku.” Ancam Sovia pada Alvin. “Maumu sebenarnya apa?” “Aku cuma ingin ngobrol sama kamu dengan santai itu aja.” “Oke, hanya sebentar aja.” Jawab Alvin dengan singkat. “Kalau gitu pulang kerja aku tunggu kamu di depan kantormu.” “Iya.” Jawab Alvin sembari meninggalkan Sovia sendirian di dalam bilik ruang tunggu. Alvin tampak menyesal setelah ia mengiyakan ajakan Sovia untuk bertemu sepulang kerja. Ia tidak habis pikir kenapa langsung meiyakan ajakan sovia, padahal jelas-jelas dia sudah tidak mau berhubungan lagi dengan gadis itu. *** Seperti biasa sepulang kerja Alena menunggu Alvin di mejanya. Sembari ia merapikan meja dan mematikan komputer di depannya. Berkali-kali ia melihat jam di tangannya tapi sang pangeran hati yang di tunggu-tunggu pun tak kunjung tiba. Perlahan satu persatu penghuni ruangan itu mulai meninggalkan kursinya masing-masing. Mulai Vania yang sudah ijin pulang dari tadi sore, sampai kini ia hanya tinggal berdua dengan Ipung di ruangan itu. Ipung terlihat sedang sibuk membereskan gelas dan sampah-sampah di meja para karyawan, karena mereka biasanya meletakkan gelas bekas air minum di atas meja begitu saja. Alena yang hendak pulang karena merasa sendirian akhirnya mengurungkan niatnya. Ia berpikir masih ada Ipung di dalam kantor itu, meskipun Ipung sedang sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Tiga puluh menit berlalu, chat yang ia kirim ke Alvin tidak dibaca atau pun dibalas olehnya. Tanpa pikir panjang Alena beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan itu. Ia sengaja melewati ruangan marketing untuk melihat apakah Alvin masih di sana atau sudah meninggalkan kantor. Tapi ternyata ia sudah tidak ada di ruangannya, dengan penuh kekecewaan akhirnya Alena meninggalkan kantor dan pulang ke tempat kostnya. *** “Vin, tolong anterin aku ke bar itu sebentar ya, abis itu kita pulang.” “Ini udah malam Sov, aku harus ketemu Alena, dia nunggu aku.” “Cuma bentar Vin, aku ada perlu sama temenku bentar.” “Kenapa harus di tempat seperti ini?” tanya Alvin dengan mengernyitkan dahinya, ia heran saja kenapa Sovia sekrang gemar ke tempat-tempat seperti ini, padahal dulu saat bersamanya ia adalah gadis baik-baik, yang tak pernah mengenal dunia malam. “Karena dia kerja di sini, Vin.” “Oke buruan, aku tunggu di dalam mobil.” “Turun dulu bentar, sekalian aku traktir kamu minum. Please!” “Maaf Sov, aku nggak minum minuman keras.” “Iya udah nggak usah minum. Temenin aku aja.” Alvin berpikir kalau ia menunggu di luar pasti ia tidak bisa menyuruh Sovia cepat pulang, dan Alena akan menunggunya lebih lama lagi. Akhirnya ia menyetujui permintaan Sovia biar semuanya cepat berakhir. Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam bar itu. Ia meminta Alvin untuk menunggunya sebentar. Alvin duduk di kursi bar sembari membuka Hpnya. “Aduh kenapa aku bisa lupa nggak charger HP, makanya dari tadi nggak ada telepon masuk.” Gumam Alvin dengan mukanya yang khawatir. Ia kebingungan karena powerbank ketinggalan di dalam mobilnya. “Kamu kenapa, Vin?” tanya Sovia menghampri dia. “Hpku mati dan powerbank ku ketinggalan di mobil.” “Nanti aja sekalian. Abis ini kita langsung pulang kok.” Mendengar kata-kata Sovia, Alvin merasa lega. “Udah selesai urusanmu? bentar temanku masih ada tamu. Gimana kalau kita minum dulu.” “Enggak Sov. Makasih.” “Oke kalau gitu aku aja yang minum.” “Jangan banyak-banyak kalau kamu mabuk aku gak ikur-ikutan.”ancam Alvin pada Sovia. “Iya aku tau, tenang aja aku nggak akan ngrepotin kamu kok.” Setelah mengatakan hal itu, Sovia tidak bergeming dan terus menerus meneguk beberapa gelas minuman keras dengan kadar alkohol yang tinggi. Berkali-kali Alvin sudah melarangnya, tapi yang terjadi Sovia berteriak-teriak tidak karuan sehingga membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian banyak orang. Tidak mau di tuduh berbuat yang aneh-aneh terpaksa Alvin membiarkan Sovia menghabiskan semua minumannya. Sampai akhirnya Sovia tidak kuat. Ia hampir menjatuhkan dirinya di atas lantai kalau saja Alvin tidak sigap mengangkap tubuhnya di waktu yang tepat. Melihat kondisi Sovia yang mabuk berat, Alvin kebingungan harus memberitahu siapa. Ia takut kalau mengantarkan Sovia pulang kerumahnya, pasti ibunya Sovia akan memarahinya. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan akhirnya Alvin membawa Sovia pulang kerumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD