Bau parfum Alena yang harum vanila, membuat Alvin semakin tenggelam dalam pesona gadis itu. Tanpa mereka sadari dan entah siapa yang memulai duluan, kini mereka saling manautkan bibirnya satu sama lain. Semakin lama Alvin tidak mampu lagi mengontrol dirinya. Ia semakin tenggelam dalam kehangatan yang diberikan oleh Alena. L*****n bibir yang ia lakukan juga semakin agresif. Tidak lagi bibir yang bekerja, tapi tangannya sudah mulai menjarah kemana-mana. Alena tersadar dan menepis tangan Alvin perlahan. Wajah Alvin yang sudah di selimuti oleh hawa nafsu, kini berubah memelas. Seakan meminta ijin pada Alena untuk melakukan hal yang lebih jauh dari itu. Alena menggeleng perlahan, ia berdiri dari tempat duduknya sembari membetulkan dressnya. Ia duduk menjauh dari Alvin berharap agar Alvin sadar dengan apa yang mereka perbuat barusan. Ya, hampir saja mereka melakukan hal yang sudah terlalu jauh. Kekecewaan terlihat di wajah Alvin. Ia berdiri dan menghantamkan bogem mentah ke arah tembok di ruangan itu. Alena terkejut, bulu kudunya meremang. Alena ketakutan kalau sudah melihat emosi Avin yang tak terkontrol itu. Ia diam meringuk di atas sofa ruang tamu. Alvin dengan wajah yang menahan emosi menghampiri Alena.
“Kenapa kamu menolak? kamu nggak percaya padaku, Hah??” teriak Alvin.
“Bu ... bukan gitu, tapi ...”
“Tapi apa?! tapi kamu nggak sayang sama aku kan? karena itu kamu menolakku?” emosi Alvin meledak-ledak ia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya. Alena yang melihat kemarahan Alvin menjadi semakin ketakutan.
“Aku sayang sama kamu, Vin. Tapi aku nggak mau melakukan itu, kalau nggak sama sumiku kelak.”
“Halah jangan sok suci kamu, Al!” teriak Alvin. Alena benar-benar marah tapi ia tidak mau menampar Alvin seperti yang ia lakukan pada Adit dulu. Ia memilih membereskan tasnya dan bergegas untuk pergi meninggalkan rumah itu. Kata-kata Alvin benar-benar membuat ia kecewa.
“Mau kemana kamu?!!” bentak Alvin sembari mencengkram kedua lengan Alena dengan kencang, Alena meringis kesakitan.
“Sakit, Vin. Lepasin!!” ujar Alena sambil mencoba melepaskan cegkramangan tangan laki-laki itu. Alena menangis, perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Di satu sisi ia melihat Alvin adalah orang yang sangat tulus mencintainya. Sementara itu di sisi yang lain Alvin selalu berubah menjadi sangat kasar dan menakutkan ketika ia marah. Bahkan Alvin telah berkali-kali menyakiti dirinya. Alena tak menghiraukan teriakan Alvin, ia bergegas membuka pintu ruang tamu, tapi ia lupa kalau pintu itu sudah di kunci oleh Alvin. Alena beringsut terduduk di lantai, Air matanya terus mengalir di kedua pipinya. Ia pasrah dengan apa yang akan diperbuat Alvin pada dirinya setelah ini. Sementara itu, saat melihat gadis yang dicintainya itu menangis, seketika Alvin tersadar dari kebodohannya. Ia berjalan ke tempat Alena yang masih terduduk di lantai. Melihat Alvin mengahampirinya, Alena kembali ketakutan dan menghindar. Alvin tetap mendekat dan memeluk tubuh Alena.
“Al, Maafkan aku!” bisik Alvin lirih. Alena hanya diam membisu. Ia tidak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya. Tak ada satupun kata-kata terucap dari bibirnya. Alvin semakin merasa bersalah dengan apa yang diperbuatnya tadi. Ia memegang kedua lengan Alena, dengan maksud memapahnya untuk bangun dan duduk di sofa. Namun Alena malah meritih kesakitan.
“Ada apa, Al? apanya yang sakit?” tanya Alvin dengan penuh kekhawatiran. Alena tetap diam sembari menggelengkan kepalanya. Alvin memapah Alena untuk berdiri dan duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadapan.
“Al, plis kamu ngomong sama aku!” pinta Alvin dengan wajah memohon.
“Iya, Vin ...” Sahut Alena lirih.
“Kamu masih marah sama aku? kamu mau maafin aku kan?” tanya Alvin.
“Kalau misalnya kali ini aku maafin kamu, apakah kamu bisa berjanji untuk nggak mengulanginya lagi?” Alena balik bertanya pada Alvin.
“Aku janji, Al. Aku akan berusaha nggak nyakitin kamu lagi. Tolong maafin aku ya! Aku khilaf, aku nggak akan mengulangi kebodohanku lagi.” Kata Alvin mencoba meyakinkan Alena. Alena menarik nafas berat lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia menatap Alvin dan melihat kebenaran dari tatapan matanya. Lagi-lagi tatapan mata Alvin yang sangat tulus itulah yang meruntuhkan pertahanan hati Alena. Sekali lagi ia memafkan kesalahan Alvin, yang baginya tadi sudah sangat keterlaluan.
“Iya, aku maafin kamu.” Kata Alena lirih lalu menundukkan kepalanya. Alvin sangat senang mendengarnya. Ia sangat bersyukur karena Alena mau memafkannya.
“Makasih banyak, Al. Aku janji akan berusaha jadi lebih baik lagi buat kamu.” Kata Alvin lirih sembari kembali memeluk Alena. Ia melepaskan pelukannya, menatap wajah Alena lekat-lekat, kemudian mencium keningnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Alena tersenyum melihat perlakuan Alvin padanya, dan akhirnya malam itu mereka kembali berbaikan.
***
Pagi harinya, Seorang gadis cantik tengah berjalan memasuki gedung berlantai sepuluh tempat Alvin bekerja. Ia menuju ke lift dan langsung memencet lantai enam. Setelah masuk ke dalam kantor ia menghampiri satpam yang berjaga di sana.
“Selamat Pagi Pak, bisa saya bertemu dengan Bu Alena?” tanya gadis itu dengan sopan.
“Iya Bu, Maaf kalau boleh tahu ini dengan ibu siapa?” jawab Pak Satpam dengan ramah.
“Nama saya Sovia, Pak.”
“Baik Bu Sovia, silahkan duduk dulu. Saya akan ke dalam sebentar, untuk memanggilkan Bu Alena.” Kata Pak Satpam sembari masuk ke dalam kantor yang hanya boleh di masuki oleh para karyawan. Sampai di dalam kantor Pak Satpam tersebut pergi ke ruangan Alena untuk menyampaikan pesan. Terlihat Alena sedang sibuk mengerjakan data aplikasi konsumen di depan komputernya.
“Maaf Mbak Alena, ada tamu yang ingin bertemu di depan.” Seketika Alena menghentikan aktifitasnya sembari melihat ke arah Pak Satpam yng sudah berdiri di depannya.
“Siapa Pak?” tanya Alena kebingungan karena dia merasa tidak ada janji bertemu dengan siapapun hari ini.
“Ibu Sovia namanya Mbak.”
“Ibu Sovia? Saya nggak kenal Pak. Lagian hari ini saya nggak ada janji dengan siapapun.” Jelas Alena.
“Coba deh kamu temuin aja dulu, sapa tau aja kamu kenal setelah ketemu dengan orangnya!” suruh Vania yang kebetulan mendengarkan percakapan mereka berdua. Alena menatap ke arah Vania yang menganggukkan kepalanya, kemudian ia menarik nafas panjang.
“Oke Pak, saya temui aja dulu!” ujar Alena setelah mendengarkan kata-kata dari Vania yang memang masuk akal baginya. Ia berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan dibelakang Pak Satpam. Setelah sampai di ruang tunggu, Pak Satpam mempersilahkan Alena untuk menemui Sovia. Mereka berdua pun akhirnya bertemu dan berhadapan secara langsung. Sovia melihat penampilan Alena dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia tersentak saat Alena memanggil namanya.
“Ibu Sovia?” tanya Alena. Sovia berdiri dan memperkenalkan dirinya. Keduanya merasa familiar dengan wajah masing-masing. Mereka memang pernah bertemu tapi sepertinya mereka sama-sama tidak ingat pernah bertemu di mana.
‘Alena memang cantik, Alvin seleramu memang nggak pernah berubah.’ kata Sovia dalam hati.
“Iya, saya Sovia. Kamu yang bernama Alena ya?” tanya Sovia dengan ramah.
“Iya, perkenalkan nama saya Alena. Maaf kalau boleh tau apakah Ibu Sovia ini mengenal saya?”
“Jangan panggil saya Ibu, panggil saja Mbak!”
“Oh ... Iya, Mbak Sovia. ”
“Saya kenal kamu, tapi kamu yang nggak kenal saya.” Jawab Sovia dengan tersenyum ramah.
“Mbak Sovia kenal saya darimana?” tanya Alena sembari mengernyitkan dahinya.
“Kamu pacarnya Alvin kan? saya temannya Alvin. Kapan hari pas ketemu, dia cerita kalau sudah punya pacar namanya Alena. Makanya saya ke sini langsung nyariin kamu.”
“Iya saya pacarnya. Tapi tunggu saya masih bingung, kenapa mbak Sovia ke sini nggak nyari Alvin malah nyariin saya?” tanya Alena semakin penasaran.
“Sebenarnya tujuan saya ke sini ada perlu mengenai kerjaan. Tapi saya hubungi nomernya yang lama sudah nggak aktif. Saya mampir ke sini berkali-kali tapi dia selalu nggak ada di tempat. Jadi saya pikir menemuimu adalah satu-satunya cara agar saya bisa bertemu dengan Alvin.”
“Oh ... jadi gitu ceritanya. Iya mbak, Alvin marketing jadi emang jarang berada di kantor. Tapi kayaknya sekarang dia ada di kantor.”
“Beneran dia ada di kantor? kebetulan sekali kalau gitu.” tanya Sovia dengan tersenyum.
“Apa mbak Sovia ingin bertemu dengan Alvin sekarang?”
“Boleh, kalau kamu nggak keberatan.” Jawab Sovia. Senyum manis terukir di bibir merahnya.
“Nggak apa-apa mbak, tunggu sebentar ya. Saya panggilkan dulu.”
“Makasih banyak ya Alena, maaf kalau saya merepotkanmu.” kata Sovia sembari memegang kedua telapak tangan Alena. Mengekspresikan rasa bahagianya.
“Nggak apa-apa mbak, santai aja.” jawab Alena sembari bangun dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kantor untuk memanggil Alvin. Setelah sampai di ruangan marketing Alena langsung menuju ke arah meja Alvin. Dari jauh, ia melihat Alvin sedang sibuk dengan map-map aplikasi di atas mejanya. Tak jauh dari meja Alvin, kebetulan juga ada Adit. Ia memperhatikan Alena yang tengah berjalan menghampiri Alvin. Tatapanya sinis dan penuh dengan kebencian. Alena sempat melirik ke arah Adit, tapi diabaikannya laki-laki itu.
“Vin, kamu lagi sibuk?” tanya Alena mengagetkan Alvin.
“Nggak kok, Al. Ada apa emang?” tanya Adit menatap ke arah gadis yang sudah berdiri di depannya itu.
“Vin, kamu kenal dengan Sovia?” tanya Alena balik.
“Sovia??!” Alvin terperanjat. Seketika ia berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya terlihat kebingungan.
“Dia temanmu kan?” tanya Alena memastikan.
“I ... Iya, emangnya kenapa, Al?” jawab Alvin dengan penuh keraguan, karena dia tidak menyangka kalau Sovia dengan beraninya datang menemui Alena secara langsung.
“Dia ada di depan katanya ada perlu sama kamu. Coba temuin dulu. Kasihan katanya hubungin kamu tapi nomermu nggak aktif dan beberapa kali nyariin kamu ke sini tapi nggak pernah ketemu.”
“Kamu kok bisa kenal sama dia?”
“Loh bukannya kamu yang cerita sama dia kalau aku pacarmu? Makanya dia ke sini langsung nyariin aku.” Jawab Alena.
‘Kurang ajar sekali, berarti Sovia sudah mencari tau tentang Alena. Sebenarnya apa tujuan dia datang ke sini?Alena nggak boleh tau siapa Sovia sebenarnya. Lebih baik sekarang aku mengikuti permainannya dulu.’ kata Alvin dalam hati.
“Iya, Al. aku cerita sama dia kalau kamu pacarku. Ya udah kalau gitu sekarang kita temuin dia!” ajak Alvin sembari menggandeng tangan Alena. Alena mengikuti langah Alvin menuju ke ruang tunggu konsumen untuk menemui Sovia.
“Sovia?” panggil Alvin setelah sampai di ruangg tunggu. Sovia tersenyum sembari menghampiri Alvin yang berdiri bersebelahan dengan Alena.