Pak Pramono duduk di teras depan rumahnya. Di atas meja depannya sudah tersedia secangkir kopi panas yang beberapa saat yang lalu dibuatin oleh istrinya tercinta. Ia memandang ke arah halaman rumahnya yang luas. Tiba-tiba ia teringat memori beberapa tahun yang lalu, saat kedua anaknya sedang bermain kejar-kejaran di halaman rumah. Mereka sangat senang dan gembira, seperti tidak ada beban apa-apa. Dulu saat kecil Angga adalah anak yang sangat bandel, ia suka sekali menggoda adiknya. Jika Alena tidak menangis, maka dia tidak akan berhenti menggodanya. Pak Pramono tersenyum mengingat-ingat masa kecil mereka.
Namun sekarang semua hanya tinggal kenangan. Semua sudah berubah, bahkan gadis kecilnya dulu, sekarang sudah tumbuh semakin dewasa. Ia sudah tahu apa itu artinya cinta. Sudah bisa mencintai suami orang, sampai tidak memikirkan harga dirinya sendiri. Apakah itu adalah salahnya, yang tidak bisa mendidik anak dengan baik. Ia tidak dapat membayangkan apabila nanti mereka jadi menikah siri, apa kata para tetangga nanti. Pasti mereka akan menghujat bahkan sampai menyumpahi Alena dengan kata-kata yang buruk. Sebagai orang tua ia pasti tidak akan tega membiarkan anaknya di perlakukan seperti itu.
Namun jika ia tidak memberikan restunya pada Alena, apakah dia salah? Ia kembali termenung, berpikir keputusan apa yang akan ia berikan, jika nanti Alena menanyakan hal yang sama kepada dirinya. Ia tidak mau di cap sebagai orang tua yang sangat jahat, karena tidak bisa mewujudkan kebahagiaan anaknya. Di sisi lain ia juga tidak mau menyakiti orang lain, dengan memberikan restu kepada anaknya, untuk menikah dengan suami orang. Sebagai orang tua yang baik, ia harus bisa memberikan keputusan yang terbaik juga buat anak-anak nya. Ia menghela nafas panjang, kepalanya terasa sangat pusing, karena dari tadi dipaksa terus untuk berpikir. Ia meraih kopi di atas meja dan meminumnya. Sungguh rasanya khas dan sangat nikmat, kopi buatan istri tercinta.
Bu Dewi menghampiri suaminya, yang sedari tadi duduk termenung sendirian di teras depan rumah. Ia penasaran sebenarnya apa yang di risaukan oleh suaminya itu. Kenapa dari tadi suaminya itu terlihat beberapa kali memegangi kepalanya, sepertinya ada beban berat yang dipikirkannya. Ia duduk di kursi sebelah suaminya, dan bertanya apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya.
“Pak.” Tanya Bu Dewi lirih. Tangannya memegang bahu Pak Pramono sampai ia terkejut.
“Aduh, Ibu ini ngagetin saja.” Ujar Pak Pramono sembari emmukul pelan tangan istrinya itu.
“Dari tadi aku lihat, Bapak sepertinya sedang memikirkan sesuatu? apa itu kalau boleh tau?”
“Nggak ada, Bu. Kenapa kok belum tidur? Ini sudah malam.”
“Masih sore, Pak. Masih jam delapan malam.” Jawab Bu Dewi.
“Oh iya, aku nggak nyadar kalau masih jam delapan malam, kirain sudah jam sepuluh malam.” Sahut Pak Pramono sembari melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
“Jangan bohong, sebenarnya Bapak lagi mikirin Alena kan?” ujar Bu Dewi, yang spontan membuat Pak Pramono kembali diam. Lelaki setengah baya itu sejenak menundukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan istrinya. Dari tadi ia tidak ada henti-hentinya memikirkan Alena.
“Pak, sebelumnya aku minta maaf.” Ucap Bu Dewi seraya menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat ada penyesalan.
“Memangnya ada apa, Bu?” tanya suaminya dengan wajah keheranan.
“Tadi kan Alena telepon aku. Dia nangis-nangis minta tolong aku, agar mau merestui pernikahannya sama Alvin. Karena aku nggak tega dan aku juga melihat kesungguhan Alvin, maka aku mutusin buat mengijinkan dia menikah dengan Alvin.” Jelas Bu Dewi menjelaskan. Pada awalnya ia mengira suaminya itu akan marah, karena ia menyetujui pernikahan mereka. Ternyata ia salah, Suaminya itu tetap pada ekspresi semula. Ia sama sekali tidak terkejut atau marah, seperti apa yang telah ia bayangkan sebelumnya.
“Ya sudah mau bagaimana lagi?” ucapnya lirih.
“Bapak nggak marah?” tanya sang istri keheranan.
“Setelah aku berpikir lama, maka aku memutuskan untuk menyerahkan semua keputusan pada Alena.”
“Beneran, Pak? Bapak nggak bohong kan?”
“Ya Bu, itu semua demi kebahagiaan Alena, aku ingin ia bahagia, Bu.” Jawab Pak Pramono dengan tatapan kosong.
“Syukurlah akhirnya Bapak, memberikan restu juga. Biarkan dia mengambil jalan kehidupannya sendiri, Pak.”
“Iya, Bu. Dia sudah dewasa. Dia yang lebih tau mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri. Sekarang kita tinggal mendoakan saja, semoga apa yang ia inginkan bisa tercapai dan terlaksana dengan baik.” Ucap Pak Pramono.
“Amin, Pak.” Jawab Bu Dewi seraya tersenyum lega.
Begitulah akhir percakapan mereka malam itu. Setelah Pak Pramono berpikir dan menimbang-nimbang segala resikonya, ia memutuskan untuk memeberikan restu pada Alena. Namun wajah lelaki setengah baya itu terlihat menyimpan perasaan menyesal yang teramat sangat. Apakah mungkin ia menyesal dengan keputusan yang ia buat. Memang keputusan itu diambil dengan keterpaksaan. Tujuannya hanya satu, ingin melihat Alena bahagia. Orang tua mana yang tega melihat anaknya sendiri menjadi istri siri orang lain. Orang tua manapun pasti tidak akan tega, mereka pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anknya. Namun Pak Parmono tidak punya pilihan lain, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan alasan kebahagiaan sang anak, ia sudah mengambil keputusan yang salah. Berbagai resiko buruk, suatu saat sudah pasti akan terjadi. Namun ia berusaha untuk tetap menjadi orang tua yang bisa diandalkan di depan mata anaknya.
****
Keesokan harinya, Alena sudah mendapatkan kabar bagus dari ibunya. Ia sangat bahagia mendengar Bapaknya sudah merestui rencana pernikahannya dengan Alvin. Ia berterimakasih pada Tuhan karena telah membuat Bapaknya berubah pikiran. Air mata haru menetes dari kedua pipinya. Tak dapat dilukiskan kebahagiaan yang ia rasakan saat itu. rasanya apa yang ia harapkan sedikit demi sedikit akan terwujud. Andaikan Bapaknya ada di hadapannya saat ini, pasti ia akan memeluknya dan mengucapkan kata “Kamu adalah Bapak yang terbaik yang pernah aku miliki.”
Pagi ini Alena pergi ke kantor seperti biasa, ia ingin secepatnya memberitahukan berita bahagia itu pada Alvin. Ia sudah tidak sabar melihat kebahagiaan di wajah Alvin. Beberapa kali ia tersenyum sendiri, masih tak percaya dengan berita yang disampaikan ibunya tadi pagi. Ia tidak menyangka Bapaknya yang sangat keras kepala untuk tidak memberikan restu itu, dengan tiba-tiba saja berubah pikiran. Sebenarnya apa yang membuat Bapaknya itu berubah, ia menjadi sangat penasaran. Namun apapun alasannya ia tidak akan menanyakannya, karena hanya restu inilah yang ia tunggu-tunggu bukan sebuah alasan.
Sejak Vania mengetahui jika Alena kembali pada Alvin, ia merasa sangat kecewa dengan sahabatnya itu. Ia merasa heran, kenapa sahabatnya itu begitu mudah melupakan semua kesakitan yang telah diperbuat Alvin padanya. Sampai sekarang ia masih tidak habis pikir kenapa ada gadis sebodoh Alena, yang mau kembali pada seseorang yang sudah menyakitinya. Bahkan laki-laki itu sekarang sudah menikah. Ia heran apakah memang cinta itu sudah membutakan mata dan hatinya, sehingga ia tidak bisa melihat semua keburukan yang telah dilakukan oleh Alvin? sebenarnya ia merasa kasihan dengan Alena tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa berharap agar Alena sadar sebelum semuanya terlambat. Ia berharap agar Alena bisa melepaskan Alvin dan mendapatkan seseorang yang lebih baik, karena Alena pantas untuk mendapatkannya.
Pagi ini saat akan berangkat kerja Vania tidak sengaja mendengar pembicaraan Alena dengan ibunya. Ia sempat mendengar kata-kata pernikahan. Ia penasaran siapa sebenarnya yang akan menikah, apakah Alena telah dijodohkan oleh orang tuanya. Tapi kenapa ia melihat wajah Alena sebahagia itu. Tidak mungkin kalau Alena dijodohkan dan bisa berubah sesenang itu. Tiba-tiba terbesit sesuatu di pikirannya yang membuat ia bergidik ngeri, apakah Alena akan menikah dengan Alvin, itu tidak mungkin bukan? Semoga saja itu tidak mungkin. Jika memang benar Alena melakukan itu, berarti ia memang benar-benar gadis yang paling bodoh di dunia. Apakah ia harus bertanya pada Alena sekarang? ia merasa perduli pada Alena. Ia adalah sahabatnya, ia tidak mau Alena melakukan kesalahan dengan menikahi Alvin. Jika bukan dia, terus siapa lagi yang akan mengingatkan sahabatnya itu. Namun semua yang ia pikirkan masih belum jelas kebenarannya, sekarang yang harus ia lakukan adalah bertanya pada Alena tentang kebenaran itu.