PART 49
Vania menghampiri sahabatnya yang sedang duduk di kursi pantry. Tadi karena Vania ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi ia menitip untuk membeli makanan pada OB kantor. Akhirnya Alena pun ikut memesan juga. Mereka memesan dua bungkus nasi padang dengan lauk telur dadar, udang dan sambal hijau. Semua itu adalah makanan favorite mereka berdua. Di dalam pantry tidak ada orang sama sekali. Hanya ada mereka berdua yang tengah sibuk dengan makanannya masing-masing. Vania berpikir, inilah saat yang tepat untuknya menanyakan apa yang telah didengarnya tadi pagi. Ia merasa sangat penasaran dengan kebenaran dari berita itu.
“Al, boleh aku nanya sesuatu sama kamu?” tanya Vania di sela-sela makannya.
“Tanya aja, Van.” Jawab Alena. Sementara ia masih sibuk mengunyah makanannya tanpa melihat ke arah Vania.
“Kamu mau menikah dengan Alvin?” tanya Vania, yang sontak membuat Alena menghentikan makannya dan menoleh ke arah sahabatnya itu.
“Em, kamu tau darimana emang?” tanya Alena terkejut karena Vania tau kalau ia akan menikah dengan Alvin.
“Jadi beneran, kamu akan nikah dengan Alvin?” tanya Vania dengan berteriak. Membuat Alena spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Sstt ... Kamu bisa pelan nggak sih? nanti ada yang denger bisa bahaya.”
“Ya ampun, aku bener-bener nggak nyangka kamu bisa-bisanya mau nikah dengan laki-laki itu. Aku nggak setuju, Al.” Ucapa Vania dnegan mata yang berkaca-kaca, ia masih berharap kalau itu adalah kebohongan belaka.
“Setuju atau nggak setuju aku nggak perduli, Van. Orang tuaku udah memberi restunya jadi kamu bilang apapun nggak akan ngaruh sama aku.” Jawab Alena seolah tidak perduli lagi dengan kata-kata Vania. Ia begitu keras kepala dengan keputusannya. Bahkan sahabatnya sendiri pun tidak lagi di hiraukannya.
Sejenak Vania terdiam ia tidak bisa berkata apa-apa, karena tampaknya Alena sudah yakin dengan keputusannya. Percuma juga ia menasehati atau bahkan memakinya, karena ia takut malah dijauhi oleh sahabatnya itu. Akhirnya ia memilih diam tidak bicara apa-apa lagi. Biarlah Alena memilih jalan hidupnya sendiri. Ia sudah dewasa, seharusnya ia bisa memilih mana yang terbaik dan mana yang buruk buat dirinya sendiri. Vania hanya bisa berdoa agar Alena tidak tersakiti untuk yang kedua kalinya. Kalaupun nanti itu terjadi, ia adalah orang pertama yang akan membela sahabatnya itu.
****
Sepulang kerja seperti biasa Alvin menunggu Alena untuk pulang bersama-sama. Wajah Alena tampak sangat bahagia dan berseri-seri. Ia keluar dari gedung kantornya dan masuk ke dalam mobil Alvin, yang sudah menunggunya di depan kantor. Sampai hari ini masih belum ada yang mengetahui hubungannya dengan Alvin, jadi ia masih bsia bernafas lega. Alena masuk ke dalam mobil Alvin dengan hati-hati. Ia melihat sekelilingnya sebelum masuk, karena takut akan ada yang melihat mereka. Entah sampai kapan rutinitas Alena itu akan dilakukannya, ia pun sudah mulai lelah dan jenuh dengan hubungan sembunyi-sembunyi ini.
Alvin mengendarai mobilnya memecah keramaian lalu lintas pada malam itu. Ia berhenti di sebuah cafe yang biasanya mereka kunjungi. Alena ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya, karena itu Alvin mencari tempat yang enak dan nyaman untuk sekedar berbincang-bincang. Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman dan agak jauh dari keramaian, Alvin memesan minuman dan beberapa makanan ringan.
Alena duduk di depan Alvin, ia memandang lekat wajah kekasihnya itu. Alvin merasa keheranan kenapa hari ini Alena terlihat beberapa kali senyum-senyum sendiri dan wajahnya terlihat bahagia. Ada berita baik apakah, sampai Alena bersikap seperti itu. Perlahan Alvin meraih tangan Alena, dan menggenggamnya dengan lembut dan penuh perasaan. Kemudian ia bertanya pada gadis yang sangat dicintainya itu.
“Kamu ada berita baik apa, Al. Kok kelihatannya seneng banget?” tanya Alvin.
“Mau dengar sekarang nggak?” tanya Alena dengan nada bicara yang setengah menggoda Alvin.
“Iyalah, kapan lagi kalau nggak sekarang.” Ujar Alvin seraya menjepit hidung Alena dengan mesra. Sedangkan Alena hanya tersenyum saja dengan tingkah laku laki-laki itu.
“Jadi berita baiknya adalah Ibu dan Bapak sudah menyetujui rencana pernikahan kita berdua.” Ucap Alena. Ia menatap Mata Alvin lekat-lekat. Terlihat Alvin mulai menyunggingkan senyuman di wajahnya. Hatinya merasa lega, rasa sesak di dadanya mulai meluap, karena bahagia yang ia rasakan. Apa yang ia takutkan selama ini akhirnya berakhir juga. Ia sangat bersyukur usahanya ternyata tidak sia-sia. Satu persatu dinding penghalang yang menghalangi jalannya menuju kebahagiaan, telah ia robohkan. Ia sangat bahagia karena satu langkah lagi ia akan bisa memiliki gadis yang dicintainya itu seutuhnya.
“Aku sangat bahagia mendengar kata-katamu, Al.” Ujar Alvin seraya menghela nafas panjang. “Akhirnya apa yang kita inginkan terkabul juga, Al. Lega rasanya mendengarnya.”Lanjutnya.
“Jadi kapan?”
“Untuk?” tanya Alvin kebingungan.
“Em, meresmikan hubungan kita.” Jawab Alena dengan malu-malu.
“Secepatnya, Al. Aku akan mempersiapkan segalanya.”
“Iya, Vin. Aku tunggu ya.” Ucap Alena lirih, sembari tersenyum manis pada Alvin. Sedangkan Alvin hanya menganggukan kepalanya, sembari menatap mata gadis di depannya itu.
Setelah mengakhiri percakapan dan makan malam, akhirnya mereka pulang dengan membawa kebahagiaan. Alvin berjanji pada Alena akan secepatnya menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk acara pernikahan mereka. Namun sebelum itu, Alvin akan bertemu dengan Orang tua Alena untuk melamar anak gadis mereka. Rencananya ia akan datang sendirian, karena sejauh ini kedua orang tua Alvin tidak mengetahui rencana pernikahan itu. Alvin juga tidak akan bilang, ia akan mengatakan pada orang tuanya kalau waktunya sudah tepat. Kedua orang tua Alvin kebetulan berada di luar kota, tepatnya di kota jakarta. Mereka mendirikan sebuah usaha coffe shop. Mereka pulang ke surabaya hanya satu sampai tiga bulan sekali, untuk menjenguk Alvin, anak mereka satu-satunya.
Semenjak Alvin duduk di bangku SMP, Alvin sudah terbiasa di tinggal oleh kedua orang tuanya. Demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak, kedua orang tuanya rela menitipkannya pada adik ibunya yang berada di surabaya. Mereka pergi ke jakarta untuk mengadu nasib, hingga pada akhirnya mereka mendapatkan jalan dengan membangun usaha coffe shop. Diluar dugaan usaha mereka berkembang dengan pesat sehingga mereka menjadi orang yang sibuk. Sampai akhirnya mereka jarang pulang dan hanya bisa mengirimkan uang saja.
Setelah lulus Kuliah, Alvin memutuskan bekerja dan keluar dari rumah tantenya. Ia menyewa sebuah tempa kost dan sedikit demi sedikit menabung untuk membeli rumah, yang sekarang ia tinggali dengan Sovia. Berkali-kali orang tuanya menawarkan untuk membelikan rumah buat Alvin. Namun ia menolak, ia ingin hidup mandiri tanpa merepotkan kedua orang tuanya lagi. Sampai hari ini pun orang tuanya masih kurang perhatian kepada Alvin, padahal ia adalah anak mereka satu-satunya. Mereka menganggap bahwa uang adalah segala-galanya, sampai mereka lupa memberikan kasih sayang yang tulus pada anaknya tersebut.
Oleh karena itu, sekarang Alvin merasa tidak perlu menceritakan apa-apa kepada kedua orang tuanya, walaupun menceritakan tentang rencana pernikahan sirinya dengan Alena. Semua itu hanya percuma, orang tuanya pasti tidak akan menanggapi apa yang Alvin inginkan. Awalnya tujuan kedua orang tua Alvin pergi ke jakarta adalah memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Alvin. Namun yang Alvin rasakan selama ini bukannya kebahagiaan dari kedua orang tuanya, malah kesepian yang ia rasakan. Bagi Alvin sekarang, mempunyai orang tua hanyalah sebuah formalitas belaka.
****
Angga baru mengetahui dari orang tuanya, kalau mereka sudah memberi ijin pada Alena untuk menikah dengan Alvin. Saat mendengar itu Angga benar-benar marah. Mengapa mereka bisa dengan begitu mudahnya, menyetujui adik kesayangannya itu, untuk menikah dengan laki-laki yang sudah beristri. Namun saat orang tuanya menjelaskan alasannya, maka Angga pun diam. Ia tidak bisa berkata apa-apa, karena Alena juga sudah bulat dengan keputusannya. Ia sudah paham dengan sifat adiknya itu. Dari kecil apa yang sudah menjadi keputusannya tidak akan bisa di larang oleh siapapun juga bahkan kedua orang tuanya sendiri. Alena bahkan akan melakukan apapun agar apa yang menjadi keinginannya bisa terlaksana.
Oleh sebab itulah, Angga hanya bisa menyetujui apa yang sudah menjadi keputusan adiknya itu. Meskipun sebenarnya hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Di satu sisi ia tidak mendukung adiknya untuk menikah dengan suami orang, karena itu bisa merugikan orang lain. Di sisi lain ia sangat menyanyangi adiknya dan ingin melihat adiknya bisa bahagia, hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Sebagai seorang kakak yang baik, ia akan berusaha melindungi adiknya dari bahaya apapun juga. Jika nanti ujungnya Alvin menyakiti Alena, maka Angga tidak akan tinggal diam. Alvin akan berhadapan dengan dirinya. Ia bersedia mengorbankan apapun untuk kebahagiaan adiknya meskipun nyawa adalah taruhannya.
Angga menyerah dengan kenyataan. Pada akhirnya ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Suatu hari saat pulang kerja, ia sengaja menghubungi Alvin untuk bertemu di sebuah tempat. Ia ingin berbicara empat mata dengan Alvin, sebelum laki-laki itu menikahi adiknya. Sebenarnya ia hanya ingin mengingatkan pada Alvin, agar ia tidak mempermainkan adiknya. Ia juga ingin tahu kejelasan hubungan Alvin dengan istrinya. Alvin menjelaskan semuanya pada Angga, tapi sepertinya ia tidak puas dengan penjelasan Alvin. Sebenarnya pada kenyataanya, ia tidak perduli bagaimana hubungan Alvin dengan istrinya, ia hanya ingin melihat keseriusan dan keujujuran Alvin. Berkali-kali Angga menyuruh Alvin untuk menjaga adiknya dengan baik, kalau tidak Alvin akan berhadapan dengan dirinya. Angga juga menegaskan bahwa ia tidak akan memafkan Alvin, jika ia berani menyakiti hati adiknya suatu saat nanti.
Angga hanya ingin Alvin bertanggung jawab penuh terhadap Alena, meskipun ia hanya dijadikan istri siri oleh Alvin. Kenyatanya memang Miris, dulu Angga sangat berharap Alena bisa menikah dengan orang baik-baik, bahkan dulu ia berfikir Angga akan menikah dengan Ervin, karena melihat mereka berdua begitu dekat. Namun ia terkejut saat apa yang telah diharapkannya tidak bisa menjadi kenyataan. Bahkan Alena telah sangat mengecewakan orang tua dan kakaknya itu dengan menikahi Alvin. Akan tetapi sekali lagi Angga tidak berhak melakukan apapun, karena ini adalah murni pilihan hidup Alena.
Alvin berjanji pada Angga untuk menjaga Alena dan tidak akan mengecewakan dirinya. Ia berjanji akan menikahi Alena dengan resmi saat ia sudah bercerai dengan istrinya, dan itu tidak akan lama. Angga mencoba mempercayai semua yang telah dikatakan oleh Alvin. Saat ini Angga memang melihat keseriusan di mata Alvin, tapi Angga tidak bisa menjamin jika kedepannya Alvin akan mengingkari janjinya sendiri. Ia berpikir seperti itu karena sekarang Alena bukanlah satu-satunya wanita di dalam kehidupan Alvin. Terlepas dari itu semua, Angga tetap berharap adiknya itu mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya nanti.