Beberapa hari kemudian, Alvin datang ke rumah orang tua Alena untuk melamar gadis yang dicintainya itu. Ia datang sendiri tanpa di temani oleh siapapun, karena memang Alvin tidak menceritakan pada siapapun, tentang rencana pernikahannya. Ia membawa beberapa seserahan yang ia beli berdua bersama Alena. Seperti lamaran pada umumnya semua berjalan dengan lancar. Di rumah Alena pun yang hadir hanyalah kedua orang tua Alena, Angga dan Vania. Tak ada satupun keluarga yang diundang, karena memang acaranya dibuat private. Orang tua Alena tak ingin saudara-saudaranya tau tentang pernikahan itu dulu, karena baginya hal itu sangat memalukan. Rencananya mereka akan memberitahukan pernikahan anak mereka, setelah Alvin memenuhi janjinya untuk menceraikan istrinya dan menikahi Alena secara resmi.
Tanggal pernikahan sudah ditentukan dan kedua belah pihak sudah setuju dengan rencana itu. Namun yang terlihat bahagia hanyalah wajah Alvin dan Alena, sedangkan empat orang lainnya hanya berpura-pura tersenyum bahagia, padahal mereka menyimpan rasa kecewa yang teramat dalam. Setelah acara lamaran hari itu, hari pernikahan di tetapkan satu minggu sesudahnya. Alvin yang meminta agar pernikahan itu di percepat, karena ia tidak sabar ingin segera menjadikan Alena istrinya.
Alvin dan Alena sibuk dengan fitting kebaya pengantin. Rencananya mereka tidak akan mengadakan pesta pernikahan di gedung seperti pernikahan pada umumnya. Mereka hanya menikah di depan penghulu dan akan melangsungkan ijab kabul di sebuah masjid yang terletak di tengah kota. Semua sudah dipersiapkan oleh mereka berdua. Tinggal melangsungkan pernikahannya saja.
****
Hari ini terik matahari telah berada di atas kepala. Panasnya cuaca kota surabaya mengiringi hari pernikahan mereka berdua. Di hari spesial ini, tak ada kartu undangan, perayaan dan juga tak ada tamu yang datang. Hanya ada mereka berdua, penghulu, Angga, Vania, kedua orang tua Alena dan 2 orang saksi. Alena tampil dengan sangat cantik hari ini. Tubuhnya sudah berbalut dengan kebaya berwarna putih yang terlihat elegan, dengan hijab yang menutupi kepalanya. Sementara itu Alvin terlihat mempesona dengan jas yang berwarna senada dengan Alena. Wajah Alena kelihatan sangat bersinar, karena ia merasa bahagia dengan pernikahan ini. Lain halnya dengan kedua orang tuanya.
Pak Pramono terlihat lesu, tak ada senyuman yang terlihat di wajahnya. Sesekali ia menatap wajah anak gadisnya dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa penyasalan yang mendalam di dalam lubuk hatinya. Bu Dewi berkali-kali terlihat mengusap bahu suaminya. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
Mereka berdua duduk di depan penghulu. Saat ijab kabul berlangsung, tangan Alvin menjabat tangan Pak Promono. Tangannya merasa gemetaran, sampai ia mengulang dua kali bacaan ijab kabul. Mungkin karena ia merasa grogi saat itu. Padahal ini adalah pernikahan kedua baginya, harusnya ia sudah terbiasa.
Beberapa saat kemudian, terdengar semua tamu mengucapkan kata Sah, hati Alena berdesir. Rasa haru mulai menyelimuti semua yang ada di sana, terutama Alena. Matanya berkaca-kaca menahan kebahagiaan yang tiada terkira. Tangan Alena meraih tangan Alvin kemudian menciumnya dengan khidmat. Setelah itu Alvin membalas dengan mengecup kening gadis itu. Raut kebahagiaan terukir di wajah mereka berdua.
Akhirnya mulai saat ini, Alena sudah sah menjadi istri Alvin. Keinginannya untuk menjadi istri Alvin sudah terwujud. Sekarang tinggal bagaimana caranya untuk berusaha menjadi istri yang baik.
Alena menoleh kebelakang mencari sosok kedua orang tuanya. Ia berhambur memeluk kedua orang tuanya dengan erat, tangis haru sudah tidak bisa ia bendung lagi. Ia juga menghampiri Angga kakaknya yang super bawel itu, mata Angga berkaca-kaca melihat raut kebahagiaan di wajah adiknya. Setidaknya ia sudah lega melihat adiknya bahagia dan berharap itu akan berlangsung selamanya. Vania juga mengucapkan selamat pada Alena dan memeluknya, mereka menangis sesenggukan meluapkan kebahagiaan yang Alena rasakan saat ini.
Malam ini Alvin menginap di hotel bersama dengan Alena. Sedangkan kedua orang tuanya menginap di kontrakan Angga. Mereka menolak saat Alvin menawarkan untuk memesan satu kamar hotel, buat keduanya. Rencananya kedua orang tuanya akan kembali ke kota kediri besok harinya.
Setelah mereka mengadakan makan malam bersama, kini semuanya telah kembali pulang ke rumahnya masing-masing. Kedua orang tuanya balik bersama Angga dan Vania, sedangkan mereka kembali ke hotel.
****
Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar hotel. Alena sudah membawa semua baju yang sudah dipersiapkannya dari kemarin. Jadi saat sudah berada di hotel semua telah tersedia. Alena duduk di depan cermin, ia sibuk melepas semua accesoris yang menempel di kepalanya. Alvin yang melihat Alena tampak kesusahan, mencoba menghampirinya untuk menawarkan bantuan.
“Kamu butuh bantuan, sayang?” tanya Alvin dengan lembut. Jantung Alena berdetak kencang, baru kali ini Alvin memanggilnya dengan kata sayang. Membuat Alena menjadi deg-degan.
“Nggak aku udah bisa sendiri kok, Vin.”
“Aku sekarang suamimu sayang, coba ganti panggilanmu dengan panggil aku mas Alvin atau panggil aku dengan sebutan sayang!”
“Ta-tapi aku nggak terbiasa.” Jawab Alena dengan malu-malu.
“Iya udah belajar dulu ya, nanti.”
“I-Iya, Vin.” Jawab Alena dengan masih sibuk melepasi jarum pentul dan peniti di sekitar hijabnya. Alvin perlahan membantunya sampai accesoris di kepalanya bisa terlepas semua. Alvin perlahan memeluk tubuh Alena dari belakang. Harum parfumnya terasa begitu memabukkan. Ia membalikkan tubuh istrinya menghadap ke arahnya. Ia memandang wajah itu lekat-lekat, mengagumi indahnya ciptaan Tuhan. Istrinya itu terlihat sangat cantik hari ini, benar-benar membuat pandangan Alvin tak teralihkan darinya.
“Kamu cantik banget hari ini, Sayang.” Ucap Alvin, yang membuat Alena tersipu malu dibuatnya. Alena menghindar dari tatapan mata Alvin, ia menjadi salah tingkah dibuatnya.
“Makasih, Vin ... Eh Mas Alvin.” Mendengar penggilannya salah, Alena segera meralatnya.
“Nah, kamu panggil Mas gitu kan, sepertinya lebih enak di dengar.” Sementara Alena hanya tersenyum sendiri saat Alvin mengatakan itu padanya.
Alvin mendekatkan wajahnya pada istrinya itu. Sampai hembusan nafas mereka terasa satu sama lain. Alvin mengecup kening Alena dengan lembut. Alena merasakan sentuhan itu sembari menutup matanya. Kecupan Alvin perlahan turun ke arah bibirnya. Mata Alena mulai terpejam, ia sungguh menikma4ti ciuma4n Alvin yang semakin lama semakin memanas. Seakan tidak ada dinding penghalang, Alena membalas apa yang dilakukan Alvin padanya. Alvin mulai melepas kebaya putih yang dipakai Alena, dengan bibir mereka yang tetap bertautan satu sama lain. Entah bagaimana awalnya kini mereka sudah berada di atas ranjang dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
Alvin menciumii tubuh Alena tanpa tersisa satu jengkal pun. Tubuh Alena menggeli4t saat Alvin menyentuh beberapa bagian sensitifnya. Sesekali Alena menjerit kecil saat Alvin mulai nakal dengan memainkan sesuatu di bagian tubuh istrinya itu. Ia melihat istrinya mulai tenggelam dalam permainannya. Kemudian Alvin membisikkan sesuatu.
“Bolehkan?” bisik Alvin pada telinga Alena. Ia meminta ijin pada sang istri. Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Wajah Alvin sudah mulai mengeras menahan hasrat yang tak tertahankan. Ada suatu benda asing yang mulai menerobos masuk ke dalam dan membuat sesuatu terasa pecah. Seprei putih bersih, sudah ternodai oleh sesuatu yang mengalir berwarna merah darah. Suara erangan kecil terdengar, karena rasa nyeri yang dirasakan. Lama kelamaan semua rasa sakit itu telah tergantikan oleh kenikmat4an yang tiada terkira. Alena mencegkeram punggung Alvin dengan kuat.
Suara ranjang beberapa kali terdengar beriringan, dengan suara lenguhan dari keduanya. Keringat dingin mulai membasahi tubuh mereka. Alvin terus berpacu dalam permainannya, membuat Alena terbuai dalam sebuah kenikmat4n yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Malam itu mereka menjadi sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.
Keesokan harinya, Alena terbangun dari tidurnya. Rasa nyeri di salah satu bagian tubuhnya masih terasa. Namun ia berusaha untuk bangkit dan menuju ke kamar mandi. Senyuman kecil terukir di wajahnya. Ia mengingat entah berapa kali tadi malam ia melakukannya dengan Alvin. Rasa lelah terlihat sangat jelas di wajahnya.
Ia menuju ke dalam kamar mandi dengan selembar selimut yang masih melilit di tubuhnya. Alena mulai membersihkan seluruh tubuhnya dengan shower di dalam kamar mandi. Setelah bersih ia keluar dan mengganti bajunya dengan baju rumahan. Alvin yang mendengar suara berisik terbangun. Ia membuka matanya dan melihat Alena sedang sibuk mengganti bajunya.
“Sayang kamu sedang apa?” tanya Alvin dengan lirih.