Alena marah pada Vania karena ia telah menceritakan semuanya pada Ervin, tanpa minta ijin ke dirinya terlebih dahulu. Ia takut kalau Ervin nantinya akan menceritakannya juga pada Angga. Alena tidak bisa membayangkan akan semarah apa Angga, jika tahu adik kesayangannya itu telah dicampakkan begitu saja oleh seorang laki-laki, yang tidak bertanggung jawab seperti Alvin. Namun semuanya telah terjadi tak ada pilihan lain, mau tidak mau Alena terpaksa harus setuju saat Vania mengatakan kalau Ervin ingin bertemu dengannya.
Vania mengantarkan Ervin masuk ke dalam kamar Alena. Saat masuk ke dalam kamar terlihat Alena sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ia menundukan kepalanya dan tidak berani menatap mata Ervin. Vania kemudian meninggalkan mereka berdua di kamar itu. Ervin duduk di sebuah kursi yang memang sudah tersedia di setiap kamar. Ia mendekatkan kursi itu ke ranjang tempat tidur Alena, biar ia bisa mengobrol lebih dekat dengan gadis itu. Alena mengangkat kepalanya dan memandang wajah laki-laki di hadapannya itu. Ervin sangat terkejut melihat keadaan Alena, wajahnya menjadi tirus, dan terlihat pucat. Tak ada senyuman lagi di wajahnya seperti saat terakhir mereka bertemu. Alena mencoba tersenyum pada Ervin, tapi tanpa ia sadari air mata jatuh di kedua pipi mulusnya. d**a Ervin terasa sesak saat melihat Alena menangis seperti itu. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah gadis itu. Mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata yang jatuh di pipi Alena.
“Kenapa kamu bisa jadi seperti ini, Al?” tanya Ervin dengan lirih. Ia menatap wajah Alena lekat. Kesedihan yang sangat mendalam terlihat dari kedua bola matanya. Alena kembali menunduk, tak ada satupun kata-kata yang terucap dari bibirnya. Badannya gemetaran, air mata tak berhenti mengalir dari kedua matanya.
“Aku tau apa yang kamu rasakan, Al.” Ucap Ervin lirih. Namun Alena tidak memberi jawaban apapun. Ia tetap terdiam tak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya. Air matanya pun tak berhenti mengalir dari kedua pipinya. Ia tidak berani menatap ke arah Ervin, pandangannya kosong.
“Al, tolong bicaralah padaku!apakah sekarang aku harus membawa laki-laki itu kehadapanmu dan membuatnya berlutut di depanmu, Al?” seru Ervin sengaja, agar Alena mau berbicara padanya.
“Jangan, Mas.” Jawab Alena. Ia terkejut mendengar kata-kata Ervin barusan. Ia tidak menyangka Ervin akan berbicara seperti itu padanya. Ia menatap Ervin sekilas kemudian cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
“Alena, lihat aku. Segeralah bangkit kembali dari keterpurukan ini. Paksalah hati dan pikiranmu untuk segera keluar dari keadaan ini. Aku yakin kamu pasti bisa melalui semua ini, karena kamu adalah gadis yang kuat, Al.” Ervin menarik napas pelan dan melanjutkan ucapannya. “Cinta nggak harus memiliki, aku yakin kamu pasti akan dapetin laki-laki yang jauh lebih baik dari dia. Kamu terlalu berharga buat seorang pengkhianat, Al.” Ucap Ervin sembari menatap wajah Alena, yang masih tertunduk di hadapannya.
‘Semua yang Mas Ervin bilang memang benar, kenapa aku harus seperti ini. Aku harus bisa keluar dari keadaan ini. kamu pasti bisa Alena.’ Batin Alena. Perlahan ia memberanikan diri menatap ke arah Ervin. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
“Makasih ya Mas.” Kata Alena. Senyuman manis terukir di kedua sudut bibirnya.
“Sama-sama, Al. Tolong katakan padaku kalau kamu butuh apa-apa.” Kata Ervin.
“Iya, Mas. Sekali lagi makasih banyak. Tolong rahasiakan ini dari Mas Angga ya ....” katanya dengan lirih.
“Kalau itu keinginanmu aku akan mengikutinya, Al.” Alena tersenyum mendengar ucapan Ervin. Selama ini ia memang tidak pernah sedekat ini dengan Ervin. Ia baru mengetahui, ternyata Ervin adalah orang yang sangat hangat. Entah kenapa ada perasaan nyaman saat ia dekat dengan Ervin.
Sepulangnya Ervin dari rumahnya, Alena memikirkan semua kata-kata yang telah diucapkan Ervin padanya. Semua yang dikatakannya memang benar, selama ini Alena terlalu tenggelam dalam kesedihannya. Bukankah akan tampak tidak adil baginya, ia di sini dalam keterpurukan sedangkan Alvin sedang bersenang-senang dengan gadis lain di sana. Sejenak ia berpikir betapa bodohnya dirinya, mencintai seseorang yang nyatanya orang itu tidak benar-benar mencintainya. Bukankah itu sama halnya dengan membuang-buang waktunya? iya memang kelihatanya bodoh tapi memang nyatanya tak semudah itu melupakan seseorang yang memang benar-benar kita sayangi, bahkan saat kita sudah terlalu berekspetasi tinggi terhadapnya dan kemudian di hancurkan oleh kenyataan. Mungkin sekarang Alena lebih bisa berpikir dengan logikanya, ia harus memaksa dirinya untuk bisa melupakan semuanya dan melanjutkan hidupnya. Hidupnya masih panjang dan banyak hal-hal yang jauh lebih penting yang harus ia lakukan, daripada hanya meratapi nasib dan berada di dalam kamar yang gelap ini sepanjang harinya. Ia bertekad dalam hatinya mulai hari ini ia akan melawan semua ketidakberdayaannya. Ia harus kembali menjadi Alena yang seperti dulu lagi.
****
Setelah menemui Alena dan melihat kondisinya, Ervin kembali pulang ke rumah kontrakan Angga. Rumah dalam keadaan kosong, karena Angga mendapatkan tugas ke luar kota selama tiga hari ke depan. Ervin masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Masih teringat jelas dalam ingatannya tentang apa yang barusan ia lihat dan ia dengar di tempat Alena. Awal bertemu dengan Alena tadi sore membuatnya terkejut, karena ia melihat Alena benar-benar kelihatan terpuruk. Alena kelihatan lebih kurus dan tirus dari saat terakhir mereka bertemu. Keceriaan telah hilang dari wajah cantiknya, kini yang ada adalah sosok Alena yang dingin dan pendiam. Ervin tak menyangka, ada laki-laki yang begitu tega menyakiti Alena sampai seperti itu. Setelah memberikan harapan semu, ia mencampakkan Alena dengan begitu saja. Hatinya terasa sakit melihat Alena menangis dalam kesedihannya. Jika saja rasa sakit hati itu bisa dipindah, biarkan ia saja yang merasakannya, jangan Alena.
Ervin terkejut mendengar suara dering HPnya. Ia merogoh saku celananya dan mengambilnya. Terlihat di layar HP kalau Angga yang sedang meneleponnya. Ia menyentuh tombol hijau di layar HPnya dan di seberang sana terdengar suara Angga berbicara padanya.
“Hallo, Pin.”
“Iya, Ngga.”
“Gimana keadaan Alena? tadi kamu jadi ke tempatnya kan?”
“Iya aku jadi ke sana. Dia baik-baik saja.”
“Nggak ada yang kamu sembunyiin dariku kan?” tanya Angga dengan nada suara yang tidak percaya.
“Dia baik-baik saja, Ngga. Kalau kamu nggak percaya kenapa nggak telepon dia sendiri.”
“Ya sudah aku percaya kamu. Nitip adikku selama beberapa hari ya. Sampai aku pulang ke surabaya lagi.”
“Iya tenang aja, beres.”
“Oke, makasih, Pin.” Setelah itu Angga mematikan teleponnya. Ervin melempar HPnya ke atas tempat tidurnya. Badannya merasakan capek yang teramat sangat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha mencari cara untuk membantu Alena melupakan Alvin, dan mengembalikan dia seperti sebelumnya.
****
Keesokan paginya, Ervin kembali datang ke kostannya Alena. Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Ia membawa banyak makanan untuk Alena. Saat keluar dari kontrakan tadi, ia mampir ke minimarket untuk sekedar membeli s**u, roti dan snack. Ia tidak tahu apa makanan kesukaan Alena, karena itu ia membeli semua yang ia lihat. Ia membeli sampai berjumlah dua kantong plastik besar. Vania yang melihat itu jadi tertawa dibuatnya.
“Mas, kamu beli apa aja ini, sampai sebanyak ini?”
“Aku nggak tau, Van. Tadi iseng aja masukin semuanya.”
“Ha ... Ha ... Ha ..., ada-ada aja kamu, Mas.”
“Iya udah, Van. Tolong sampein sama Alena aku datang ke sini ya!”
“Siap Bos.” Jawab Vania. Kemudian ia pergi ke lantai atas untuk menyerahkan titipan Ervin pada Alena. Vania mengetuk pintu kamar Alena karena pintu kamarnya masih terkunci. Terdengar dari dalam kamar Alena membuka kunci pintunya dan mempersilahkan Vania masuk. Vania menyerahkan dua kantong plastik itu kepada Alena, dan mengatakan kalau bungkusan itu dari Ervin. Alena terkejut, kenapa Ervin sampai begitu perhatiannya pada dirinya. Apakah karena Alena adalah orang yang sangat menyedihkan atau memang ia mempunyai tujuan lain? Alena segera menepis semua pikiran negatifnya itu. Ia menerima dua kantong plastik itu dan meletakkannya di atas meja. Alena bergegas mengganti bajunya dengan yang lebih layak, kali ini ia mau turun sendiri untuk menemui Ervin. Ia mau berterimakasih karena kebaikan Ervin padanya. Setelah mengganti bajunya ia meminta bantuan Vania untuk turun ke lantai bawah. Ia merasa tubuhnya masih terasa lemah sehingga ia harus berjalan pelan-pelan dengan digandeng oleh Vania. Saat sampai di tangga, ia meminta Vania untuk melepaskan pegangan tangannya. Ervin melihat kedatangan Alena dan ia berdiri dari tempat duduknya. Saat melewati anak tangga yang ke dua, Alena tersandung dan hampir terjatuh. Untung saat itu Ervin bertindak cepat karena jarak tangga dengan tempat duduknya tidak begitu jauh. Ervin cepat berlari dan menopang tubuh Alena sehingga mereka berada pada posisi berpelukan satu sama lain. Sejenak pandangan mata mereka saling bertabrakan. Ervin segera mengalihkan pandangan matanya ke arah lain karena ia tidak mau Alena melihat wajahnya yang bersemu merah, karena menahan malu. Begitupun juga dengan Alena, sesungguhnya keduanya memang merasa sama-sama malu. Ia melepaskan pelukan Alena dan menuntun Alena untuk duduk di Sofa ruang tamu.
“Al, kenapa kamu turun ke bawah, bukannya kamu masih sakit?” tanya Angga khawatir.
“Aku udah nggak apa-apa, Mas.”
“Ya udah ayo duduk dulu.” Ajak Ervin dengan memapah tubuh Alena ke sofa. “Kalau badanmu masih kurang sehat lebih baik kamu istirahat dulu, jangan dibuat jalan-jalan dulu, Al!”
“Iya, Mas. Btw makasih ya buat perhatiannya selama ini.”
“Sama-sama, Al. Aku juga udah janji sama Angga untuk menjaga kamu selama dia pergi keluar kota.” Jelas Ervin. Ia sengaja mengatakan Angga yang menyuruhnya menjaga Alena, agar Alena tidak risih kalau ia datang ke sana terus-terusan. Padahal sebenarnya itu adalah satu-satunya kesempatan buatnya agar bisa lebih dekat dengan Alena.
“Tapi Mas Angga belum tahu keadaanku yang sebenarnya kan, Mas?”
“Dia tidak tahu, Al. Tenang aja.”
“Sekali lagi makasih banyak ya, Mas.”
“Iya, sama-sama, Al. Pokoknya kamu jangan lupa semua yang aku katakan padamu kemarin. Kamu harus kuat, jadi wanita yang hebat. Jangan terus-terusan tenggelam dalam kesedihan karena jalan hidupmu masih panjang.” Kata Ervin panjang lebar, sementara Alena hanya mendengarkan dengan menundukkan kepalanya seperti biasa.
“Iya, Mas. Aku akan berusaha menjadi lebih baik.” Jawab Alena.
“Good joob, Alena. Tetap semangat ya. Sementara ini aku akan tinggal di surabaya entah sampai kapan. Jadi kalau kamu butuh tukang ojek atau sopir untuk keliling surabaya, aku dengan senang hati akan mengantarmu kemanapun yang kamu mau.” Kata Ervin dengan bersemangat.
“Wah ... oke tuh kayaknya. Nanti aku kabarin ya kalau keadaanku udah benar-benar sehat.”
“Oke, Al. Aku selalu menunggumu ... Em maksudnya aku menunggu kabarmu.” Ervin segera meralat kata-katanya saat ia salah berbicara. Padahal memang sebenarnya kata-kata yang pertamalah yang sangat ingin ia katakan pada Alena. Namun bukan sekarang saat yang tepat baginya.