Beberapa hari berlalu, hampir setiap hari Ervin datang ke kostan Alena. Terkadang ia hanya datang untuk sekedar menjenguknya atau membawakan makanan dan buah-buahan. Keadaan Alena sekarang juga lebih membaik daripada sebelumnya. Badannya sudah tidak merasakan lemah dan lelah seperti biasanya. Wajahnya juga lebih mendingan daripada biasanya. Meskipun ia belum seratus persen melupakan apa yang telah terjadi pada dirinya, tapi setidaknya ia sudah tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Pada malam hari ia kadang masih menangis, tapi tidak setiap malam seperti sebelumnya. Sepertinya kata-kata Ervin sudah masuk ke dalam pikirannya. Ia sudah tidak merasa sendiri lagi dan kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit mulai kembali. Ervin yang mengetahui perubahan pada diri Alena merasa bahagia. Baginya melihat orang yang dicintainya bahagia ia sudah ikut bahagia.
Suatu sore, Ervin datang ke kost Alena. Ia sengaja berdandan lebih rapi dari biasanya. Ia memakai Tshirt berwarna hitam yang dipadukan dengan jeans berwarna hitam. Tshirtnya terlihat pas di badannya yang atletis itu. Tak lupa ia semprotkan minyak wangi di seluruh tubuhnya. Ia tidak mau penampilannya hari ini gagal di depan Alena. Hari ini ia berencana untuk mengajak Alena keluar. Saat keluar dari kamarnya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Angga. Sahabatnya tersebut melihat penampilannya dari atas sampai bawah kemudian berdecak kagum.
“Keren banget, mau kemana kamu?” tanya Angga penasaran.
“Rahasia.” Ervin menjawab dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Angga, seperti orang yang sedang berbisik. Angga terkejut kemudian memukul bahu Ervin begitu saja.
“Pergi sana, jijik aku!” pinta Angga dengan bergidik.
“Siap, Bos ...!” jawab Ervin sembari meninggalkan rumah itu. Setelah Ervin sudah sampai depan rumah, Angga melihatnya dengan tersenyum.
“Semoga kamu berhasil, teman.” Gumamnya nyaris tak terdengar. Sebenarnya Angga sudah mengetahui kalau Ervin suka pada adiknya. Ia mengetahuinya saat kembali dari dinas luar kota, saat itu ia yang akan mengunjungi kostan adiknya. Sampai di sana ia terkejut karena Ervin ternyata sudah ada di sana duluan. Ia kembali pulang dan tidak jadi mengunjungi adiknya itu. Saat itu dari kejauhan Ia melihat tatapan mata Ervin tidak biasa pada Alena, dari situlah ia mulai curiga dan mencari tahu kebenarannya. Ia mencoba bertanya pada Vania, akhirnya Vania menceritakan segalanya. Ia bercerita pada Angga kalau setiap hari Ervin datang ke kostan Alena hanya untuk mengunjungi adiknya itu. Namun Vania tidak menceritakan perihal sakitnya Alena. Puncaknya pada hari ini, Angga mengetahui jika Ervin akan mengajak Alena keluar, itupun ia juga dapat informasi dari Vania. Angga sengaja tidak bertanya tentang perasaan Ervin pada Alena. Ia menunggu Ervin yang mengatakan sendiri pada dirinya. Di sisi lain Angga ikut senang dan bahagia kalau memang mereka berdua benar-benar ada hubungan, karena dengan begitu Angga tidak akan susah-susah lagi untuk mencari tahu asal usul laki-laki yang akan menjadi pacar adiknya nanti. Kini perasaan Angga sedikit lega, adiknya yang selama ini benar-benar ia jaga, akan mendapatkan orang yang tepat.
****
Setelah sampai di depan kostan Alena, Ervin langsung masuk ke dalam halaman rumah. Pintu pagar kostan memang tidak pernah di kunci kalau dibawah jam sembilan malam, jadi orang bebas keluar masuk ke dalam halaman kost. Ervin mengetuk pintu rumah kost Alena. Beberapa kali diketuk tapi tidak ada yang keluar juga. Ia mencoba melihat lewat kaca depan rumah, memang keadaan di dalam sangat sepi, kelihatannya tak ada seorangpun di sana. Ervin merasa kecewa, harapannya pupus juga. Padahal kemarin ia sudah memberitahu Alena kalau ia akan datang kesana dan mengajaknya keluar, tapi kenapa keadaan di dalam rumah sepi. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Alena, karena dari tadi ia mencoba menghubungi HPnya tidak aktif sampai sekarang. Ia mencoba menghubungi Vania, tapi HPnya tidak diangkat juga. Ia bingung harus bagaimana, lama ia terdiam didepan rumah itu. Mondar mandir, mencoba menghubungi Vania berkali-kali tapi tetap tidak diangkat juga. Ia mau bertanya pada Angga tapi tidak berani takut malah ditanyain yang aneh-aneh. Ervin capek mondar mandir akhirnya ia tertidur di kursi depan rumah.
Sementara itu di dalam kamar, Alena sudah dari tadi menunggu kedatangan Ervin. Ia tidak berani menghubungi Ervin duluan makanya ia menunggu sambil rebahan. Lama HP tidak berdering dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Ervin akhirnya ia melihat HPnya. Ia membuka aplikasi w******p dan benar tidak ada satupun pesan dari Ervin. Alena merasa khawatir, karena itu ia mencoba chat Ervin duluan dan ternyata chatnya tidak masuk. Ia merasa curiga dan mengecek kuota HPnya ternyata sudah habis, pantas saja Hpnya tidak ada pesan masuk sama sekali. Ia juga baru ingat kalau Ervin hanya punya nomer whatsappnya saja tidak punya nomer telepon HPnya. Alena menyesali kebodohannya kenapa tidak dari tadi ia mengecek HPnya. Ia langsung menghubungi Ervin dengan nomer biasa bukan dari aplikasi w******p. Mencoba beberapa kali tapi tidak diangkat juga. Akhirnya ia mencoba keluar dari kamar dan mengecek ke depan rumah, mungkin saja Ervin sudah ada di depan.
Saat membuka pintu ia terkejut karena yang dilihatnya bukan Ervin dengan dandanan kerennya seperti biasa. Namun yang dilihatnya adalah Ervin yang sedang tertidur di atas kursi dengan dandanan yang sudah acak-akan, ditambah dengan air liur dimana-mana. Alena menarik nafas berat, ia merasa bersalah dengan keadaan di hadapannya itu. Pasti ini semua gara-gara whatsappnya tidak bisa di chat ataupun di telepon, sehingga Ervin menunggunya di kursi itu sampai ketiduran. Ia sempat berpikir mengapa Ervin tidak bertanya pada Vania ataupun Angga, berapa nomer telepon Hpnya, atau mungkinkah ia merasa malu bertanya pada mereka berdua, entahlah. Tak ingin berlama-lama larut dalam keadaan itu, akhirnya Alena berusaha membangunkan Ervin. Perlahan ia menggoyangkan kaki Ervin, menepuknya pelan-pelan, tapi tidak di respon. Ervin malah berkali-kali merubah posisi tidurnya, karena merasa tepukannya tidak mempan akhirnya Alena menepuknya dengan sedkit agak keras. Ervin terbangun karena tepukan Alena, ia terkejut dan kebingungan melihat Alena sudah ada di hadapannnya. Ia mencoba membetulkan posisi duduknya sambil mengucek matanya.
“Mas Ervin kalau masih ngantuk tidur aja lagi. Ketimbang nanti kepalanya sakit, Mas.”
“Nggak apa-apa, Al. Kita keluar sekarang?” tanya Ervin dengan menoleh ke arah lain dan mengusap beberapa bekas air liurnya. Ia sangat malu dengan keadaannya yang sangat berantakan di depan Alena, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi. Ia berharap Alena memahaminya. Sedangkan Alena mencoba menahan tawanya. Wajah Ervin yang bangun tidur dan berantakan seperti itu membuatnya ingin menertawakannya, tapi saat ingat ini semua terjadi karena kesalahannya ia kembali menyesal.
“Beneran, Nggak apa-apa Mas? Maaf ya, kuotaku habis dan aku baru sadar tadi. Pasti Mas Angga telepon aku di nomer w******p ya?”
“Iya nggak apa-apa, Al. Iya aku telepon kamu di nomer w******p karena aku nggak tau nomer HPmu.”
“Sekali lagi maaf ya, Mas. Memang nomer HPmu sama nomer whatsappku beda. Aku lupa bilang.” Jawab Alena dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Iya nggak apa-apa, Al. Santuy aja.”
“Terus, apakah kita jadi berangkat sekarang?”
“Iya boleh, tapi aku numpang ke kamar mandi sebentar ya. Wajahku berantakan ini. He ... He ... He ....”
“Iya, Mas. Nggak apa-apa. Silahkan aku anterin ke dalam.”
“Iya, makasih, Al.” Alena mengantarkan Ervin menuju ke dalam untuk ke kamar mandi, setelah itu ia meninggalkannya dan mengambil tas di dalam kamar.
Malam ini mereka berdua pergi jalan-jalan menikmati indahnya kota surabaya pada malam hari. Mereka menaiki motor Angga. Motor itu dikirim dari jakarta melalui jasa ekspedisi. Angga berpikir ia di surabaya dalam waktu yang lama jadi ia menyuruh seseorang untuk mengirimkan motornya melalui jasa ekspedisi. Setelah berputar-putar lama menaiki motornya, akhirnya mereka berhenti di sebuah kedai minuman. Kedai minuman yang terkenal di surabaya dengan menunya yang memang enak di lidah dan tempatnya yang nyaman. Mereka berdua mencari tempat duduk yang nyaman dan berada di luar kedai. Semilir angin malam dan susana kerlap kerlip lampu membuat suasana malam ini menjadi lebih menyenangkan. Ervin sengaja mengambil tempat duduk di depan Alena, alasannya simple hanya ingin melihat wajah Alena lebih dekat dan lebih lama lagi. Seorang pelayan menghampiri mereka untuk memberikan buku menu, mereka memesan dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan.
Alena mengotak atik HPnya, melihat-lihat i********: pribadinya. Entah kenapa saat ia melihat tanda love di postingan fotonya beberapa bulan yang lalu, ia kembali teringat Alvin. Saat mereka masih bersama, Alvin memang sering sekali memberikan tanda Love di postingannya, tak jarang juga ia komen dibawah postingan foto Alena. Rasa penasaran mengantarkannya untuk melihat i********: pribadi Alvin. Ia menarik nafas berat saat melihat feed i********: Alvin yang sudah di penuhi dengan foto-foto mereka berdua. Pose mereka begitu mesra dan terlihat Alvin tersenyum dengan bahagia. Di benak Alena ia bertanya-tanya apakah memang semudah itu Alvin melupakan semua kenangan diantara mereka berdua, yang bagi Alena kenangan itu sangat indah dan tidak mudah untuk dilupakan.Tanpa sadar ia menyentuh foto-foto itu dengan jari tangannya, Orang yang selalu ia rindukan tapi di sisi lain adalah orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini. Perlahan air mata Alena menetes di kedua pipi mulusnya. Ervin yang pada awalnya mencuri-curi pandang pada Alena tiba-tiba terkejut melihatnya menangis.
“Kamu kenapa, Al?” tanyanya Ervin pada gadis cantik yang tengah mendudukkan kepala di hadapannya itu. Alena buru-buru mengusap air matanya kemudian mendongakkan kepalanya ke arah Ervin.
“Em, aku nggak apa-apa, Mas.” Jawabnya datar.
“Beneran?”
“Iya, Mas.”
“Udah ya, sekarang kamu nggak usah mikirin macem-macem. Taroh HPmu di atas meja, dan lihatlah aku. Keluarkan semua masalah yang mengusik hatimu. Anggap aku sebagai teman curhatmu, agar hatimu merasa lebih tenang.” Kata Ervin padanya. Alena terdiam ia bingung harus bagaimana menjawab kata-kata Ervin. Apakah ia harus merasa senang karena sekarang ada orang yang perhatian pada dirinya, ataukah sebaliknya. Mungkin butuh waktu buat Alena utnuk mengatakan isi hatinya pada Ervin. Untuk sementara lebih baik ia memendam semua perasaan sedihnya. Cukup dirinya sendiri saja yang tahu.