28 Kesalahan Kedua 28

1624 Words
Malam itu di kedai minuman, Alena tak banyak bercerita tentang apa yang ada di dalam hatinya. Ervin cukup memakluminya, ia tahu butuh waktu buat Alena untuk bercerita padanya karena bagi Alena mereka masih belum terlalu dekat. Mereka hanya bertukar cerita tentang pekerjaan, dan sesekali Alena meminta pendapat kepadanya. Ervin sangat antusias saaat menceritakan tentang pekerjaannya di jakarta. Alena hanya mendengarkan dengan serius semua kata-kata Ervin. Tanpa sadar ia mengagumi sosok Ervin, ternyata ia adalah laki-laki dengan wawasan yang luas, sabar dan dewasa. Semua terlihat dari caranya berbicara dan menyampaikan pendapat pada Alena. Ia merasakan nyaman saat berada di sisi Ervin. Ia adalah sosok laki-laki yang hangat dan sangat perhatian. Bahkan hal kecil sekalipun diperhatikan olehnya. Misalnya saat makan tadi, tak sengaja Alena meninggalkan noda merah bekas saos di sudut bibirnya, Ervin dengan sangat perhatiannya memberitahu pada Alena dan tanpa di minta Ervin mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan noda itu. Alena terkejut karena selama ini Alvin tak pernah sedetail itu memperhatikannya. Alvin memang tak seperhatian Ervin, bahkan saat PDKT dengan Alenapun ia tidak pernah melakukan hal seperti itu. Sebenarnya kelihatan sepele tapi bagi Alena itu adalah bentuk perhatian yang sangat besar, dan membuatnya sangat terkesan. Setelah malam itu, Alena dan Ervin sering keluar bersama, meskipun hanya sekedar membeli minum atau makanan. Keadaan Alena perlahan-lahan sudah mulai membaik. Kini ia sedikit demi sedikit sudah bisa melupakan Alvin meskipun belum seratus persen. Sebenarnya ini semua sebagian besar adalah jasa Ervin. Ia adalah salah satu orang yang memeberikan support sistem terbesar pada Alena untuk bisa move on dari Alvin. Entah di sengaja atau tidak, Ervin selalu ada saat Alena membutuhkan. Misalnya saat Alena pulang malam karena ada kerja lembur, saat itu sudah sangat malam dan kebetulan Vania tidak masuk kerja. Ia kebingungan harus menumpang pulang pada siapa, karena ia tidak terbiasa untuk menumpang kepada teman-teman kantornya. Saat itu Alena mencoba telepon Angga tapi kakaknya yang super bawel itu tidak mengangkat teleponnya. Ia juga mencoba menghubungi Vania, tapi juga tidak ada yang mengangkat teleponnya. Sampai akhirnya dengan terpaksa ia akan menghubungi Ervin. Namun belum sempat ia menghubungi Ervin lewat nomer whatsappnya, secara kebetulan Ervin tiba-tiba chat dia menanyakan kenapa sudah pukul dua belas malam tapi ia masih belum tidur juga. Bak gayung bersambut tanpa basa basi lagi Alena langsung meminta bantuan Ervin untuk menjemputnya di kantor. Ervin sangat senang mendengar permintaan Alena, karena ia berpikir akan selangkah lebih dekat dengan rencananya untuk menyatakan cintanya pada Alena. Alena juga tidak menolak niat baik Ervin karena saat itu ia memang lagi butuh pertolongan. Di suatu kesempatan, saat Alena ingin sekali makan nasi padang, ia mencoba memesannya di layanan pesan antar. Namun kebetulan saat itu warung masakan padang langganannya tutup, alhasil ia bingung harus membeli di mana. Ia tahu ada warung masakan padang yang enak selain di sana, tapi tempatnya agak jauh. Ia juga tidak tahu pasti alamatnya di mana. Ia minta tolong pada Vania untuk mengantarnya keluar sebentar, tapi saat itu sepeda motornya lagi mogok, tidak bisa digunakan. Kebetulan saat itu Ervin mampir ke kostannya, sehabis pulang dari minimarket, yang lebih mengejutkan lagi Ervin membawa dua bungkus nasi padang untuk Alena dan Vania. Pertanyaannya darimana Ervin mengetahui kalau Alena suka dengan nasi padang, itu karena Alena pernah bilang pada dirinya dan ia masih mengingatnya dengan jelas. Kebetulan-kebetulan seperti itu memang tidak masuk akal, tapi itulah nyatanya yang terjadi. Mungkin itulah yang disebut skenario dari Tuhan. **** Hari ini Angga rencananya akan mengunjungi Alena ke kostan. Ia sudah memberitahu adik kesayangannya itu untuk pulang tepat waktu. Alena yang memang sudah lama tidak bertemu dengan kakaknya hanya menyetujui rencana itu, karena ia tidak mau kakaknya curiga kalau misalnya ia masih tidak mau bertemu dengan Angga. Seperti yang Angga bilang tepat pukul tujuh malam ia sudah sampai di kostan Alena. Angga masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa. Saat itu kebetulan yang membukakan pintu adalah Vania, karena Alena masih ke kamar mandi. “Hai, Van. Kamu apa kabar?” tanya Angga pada Vania yang saat itu duduk di sofa seberang tempat duduk Angga. “Hai juga, Aku baik, Mas. Kalau Mas Angga gimana?” tanya Vania balik. “Aku juga baik-baik aja, Van.” “Lama ya Mas kita nggak ketemu?” tanya Vania dengan ekspresi malu-malu. “Iya, aku jarang ke sini karena aku sibuk banget.” “Oalah jadi gitu ceritanya.” “Iya, Van. Aku bolak balik dinas luar kota, makanya nggak sempat kesini.” “Iya yang penting sekarang udah bisa ke sini. Oh ya, Mas. aku tinggal ke dalam dulu ya. Abis ini Alena udah selesai kok.” Ucap Vania dengan berdiri dari tempat duduknya. “Eh, mau kemana di sini aja temenin aku.” ucap Angga yang tanpa sadar memegang telepak tangan Vania. “Dag ... Dig ... Dug ...” Suara jantung Vania berdegub kencang, dengan kata-kata yang seperti itu saja sudah membuatnya terbawa perasaan. Melihat Vania yang salah tingkah membuat Angga tersenyum sendiri. “I-iya, Mas.” Jawab Vania terbata-bata. Vania kembali duduk di sofa. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan perasaannya masing-masing. “Eh, Van. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, ikut aja kalau Alena ke kontrakan. Kan kamu udah jarang tuh main ke sana.” Ucap Angga memecah suasana yang sudah terasa kaku. “Iya, Mas. Kalau ada waktu nanti aku ikut kalau dia ke sana.” “Oke, aku tunggu ya.” Vania hanya menganggukkan kepalanya dan tidak menjawab apa-apa. ‘Aduh kenapa sih, ini orang buat aku jantungan terus dari tadi. Mending aku masuk ajalah ketimbang pingsan disini gara-gara pesonanya. Aduh Al, kenapa kamu punya kakak ganteng banget sih.’ Batin Vania dengan mencuri-curi pandang ke arah Angga yang ternyata juga melakukan hal yang sama seperti dirinya. Sampai pada akhirnya mata mereka saling bertabrakan. Vania segera mengalihkan perhatiannya ke arah lain begitupun dengan Angga. Ketika mereka bingung dengan sikapnya masing-masing, Alena datang dari kamar mandi. Alena berusaha tersenyum di depan kakaknya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa selama ini, karena sejatinya kakaknya masih tidak tahu apa-apa tentang masalah Alena selama ini. “Hei, Mas. Apa kabar?” tanya Alena. Ia mendekati kakaknya dan duduk di sampingnya. “Baik, kamu gimana, Al?” tanya balik Angga dengan mengacak-acak rambut adik kesayangnnya itu. “Aku baik-baik saja, Mas Angga kok sekarang sibuk banget ya. Sampai nggak pernah mengunjungi aku sama sekali.” Kesal Alena. “Loh sekarang kan udah ada penggantinya Mas, yang pastinya lebih perhatian ke kamu.” “Siapa maksudnya?” “Pura-pura nggak tau. Tuh yang tiap malam keluar sama kamu.” “Oalah, Mas Ervin. Nggak ada yang bisa gantiin posisinya Mas Angga di hatiku. Meskipun bawelnya udah kayak emak-emak tapi aku sayang.” “Halah sok-sok an palingan kamu seneng kan, beberapa minggu ini Mas nggak bisa dateng jenguk kamu? kamu bisa bebas kemanapun yang kamu mau. Udah ada sopirnya lagi sekarang.” “Kok gitu mikirnya?” Jawab Alena denga kesal. “Ha ... Ha ... Ha ... Bercanda, Al. kamu tegang amat. Kalaupun kamu jadian sama Ervin, Mas juga sangat setuju sekali.” Ucap Angga dengan tersenyum. “Jangan ngadi-ngadi, Mas. Aku sama Mas Ervin nggak ada hubungan apa-apa. Bener kan, Van?” sanggah Alena sembari menoleh ke arah sahabatnya itu untuk mencari dukungan. “Sekarang emang nggak, tapi nggak tau kalau nanti.” Celoteh Vania yang membuat sahabatnya itu mati kutu, diam seribu bahasa. Alena menarik napas berat dan menghembuskannya perlahan. “Jadi ini ceritanya kalian berdua mau jodoh-jodohin aku sama Mas Ervin, gitu?” “Siapa yang bilang gitu? Itu kamu sendiri yang bilang barusan.” Jawab Angga dengan entengnya. “Ya ampun punya Mas gini amat ya. Kamu juga ngapain masih di sini, Van? katanya mau nyuci baju?” “Oh ya lupa, ya udah aku pamit dulu, Mas.” Pamit Vania sembari bangun dari tempat duduknya dan menuju ke kamar. Kini tinggal Angga dan Alena di ruangan itu. “Al, Mas sebenarnya mau ngomongin hal yang serius sama kamu.” “Apa’an?” tanya Alena dengan penasaran. “Kamu bener nggak ada hubungan apa-apa sama Ervin?” “Beneran Mas, nggak ada.” “Kalaupun kamu ada hubungan sama Ervin, Mas setuju banget, karena dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.” “Tapi aku beneran nggak ada perasaan apa-apa sama dia, Mas. Aku cuma anggap dia seperti kakakku sendiri.” “Ya udah nggak apa-apa. Sebenarnya Mas cuma penasaran aja sejauh mana hubunganmu sama dia, tapi kalau kamu nggak mau ngaku ya nggak apa-apa.” “Aku sama mas Ervin nggak ada hubungan apa-apa, Mas.” Alena semakin bingung sebenarnya apa maksud Angga mengatakan itu pada dirinya. Ia menganggap Ervin tak lebih dari seorang kakak. Kalaupun suatu saat memang Ervin benar-benar menyukainya itu urusan nanti, karena untuk sekarang ini ia tidak mau diribetin dengan masalah percintaan. Ia masih ingin move on dari Alvin, karena ia belum sepenuhnya bisa melupakan laki-laki itu. Kadang saat Alena sendirian, bayangan wajahnya, cara bicaranya, penampilannya dan bau minyak wangi Alvin, masih terasa ada di sekitarnya. Sudah beberapa bulan ini ia tak mendengar kabar tentang pernikahan Alvin lagi. Lebih tepatnya ia mencoba menutup mata dan telinga tentang berita-berita yang berhubungan dengan Alvin. Tapi entah kenapa semakin ia begitu keras melupakan, malah ia semakin teringat dengan laki-laki itu. Setelah Angga berpamitan pulang, Alenapun kembali ke kamarnya. Saat akan kembali ke kamar ia melewati kamar Vania dan melihat pintu masih tertutup separuh. Ia melihat Vania sedang asyik dengan HPnya dia atas ranjang. Tok ... Tok ... Tok ... Alena mengetuk pintu kamar Vania. Kemudian ia masuk ke dalam kamar setelah dipersilahkan oleh Vania. Alena duduk di tepi ranjang sedangkan Vania bangun dari tidurnya. Vania heran melihat wajah sahabatnya yang terlihat tidak baik-baik saja setelah kedatangan sang kakak. Sebenarnya apa yang terjadi? Vania tidak berani bertanya, ia menunggu Alena sendiri yang bercerita padanya. “Van, aku mau cerita.” Ucap Alena lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD