“Curhat aja Al.” Vania membetulkan tempat duduknya, menghadap ke arah sahabatnya itu.
“Menurutmu, Mas Ervin itu orangnya gimana?” tanya Alena.
“Em, dia baik, sabar, dewasa dan perhatian, dan lebih penting Mas Ervin itu keren orangnya. Emang kenapa, Al?” tanya Vania balik.
“Nggak apa-apa sih, cuma nanya aja.” jawab Alena dengan menundukkan kepalanya.
“Hayo, pasti ada apa-apa. Jangan bohong! tapi kayaknya Mas Ervin itu naksir sama kamu deh, Al.”
“Jangan ngomong aneh-aneh kamu itu.” Jawab Alena menepis kata-akata Vania.
“Loh beneran, aku ngeliat sikapnya ke kamu dan caranya dia memandangmu, beda banget.”
“Sudahlah, aku nggak mau ngomongin ini. Aku tidur dulu besok kita nguli lagi.” Ucap Alena sembari bangun dari ranjang dan meninggalkan kamar Vania. Ia kembali ke kamarnya. Menutup pintu kamar, kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia mengedarkan pandangan di seluruh ruangan kamarnya, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Pikirannya mengembara tak tentu arah, bayangan wajah Alvin dan Ervin muncul di pikirannya secara bergantian. Entahlah kenapa sekarang ia jadi memikirkan Ervin, bukankah ia tidak ada perasaan apa-apa kepada laki-laki itu. Mungkin sikap dan perhatian Ervin sudah mencuri perhatian Alena. Ervin dan Alvin dua orang yang berbeda, terlihat mempesona dengan kelebihannya masing-masing. Alena bisa merasakan kalau apa yang dilakukan Ervin padanya sangat tulus. Namun ia masih trauma dengan apa yang telah terjadi padanya dengan Alvin. Awalnya Alvin juga orang yang sangat tulus, tapi nyatanya ia juga bisa mengkhianati Alena. Untuk saat ini Alena tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki dulu, lukanya yang lama masih belum sembuh benar. Terlebih untuk saat ini, ia masih tidak percaya kalau cinta sejati di dunia nyata itu memang benar-benar ada. Bagi dirinya cinta sejati hanya ada di cerita-cerita novel atau di dalam drama korea saja.
****
Hari ini kantor ramai tidak seperti hari biasanya, karena hari ini seluruh karyawan kantor mendapatakan undangan dari Alvin. Undangan pernikahan yang telah beberapa hari yang lalu di sebarkan ke semua karyawan termasuk juga Alena. Tak ada yang spesial, undangan untuk Alena hampir sama dengan dengan undangan yang lainnya. Hanya saja cara menyampaikannya tidak diserahkan langsung ke Alena melainkan dititipin pada Vania. Awalnya Vania tidak mau menerima undangan itu, ia menyuruh Alvin untuk menyerahkan sendiri pada Alena. Namun Alvin menolak dengan alasan Alena tidak mau menemuinya walaupun hanya utnuk sekedar saling menyapa. Apa yang dikatakan Alvin memang benar, Alena sudah benar-benar menutup mata dan telinganya untuk berita yang berhubungan dengan Alvin. Ia juga menghindar jika Alvin ingin mengobrol dengannya. Alhasil ia sampai tidak tahu kalau hari ini adalah hari pernikahan sang mantan. Ia hanya mengetahui Alvin memang akan menikah. Surat undangan sudah Vania serahkan padanya, tapi ia tidak pernah membukanya dan menanyakan kapan acara itu berlangsung. Ia sudah terlalu bodo amat karena ia juga tidak mau datang ke pernikahan Alvin, meskipun ia diundang.
Hari ini Vania sudah membawa pakaian ganti untuk dibuat datang ke pernikahan Alvin. Namun Alena sengaja tidak membawa baju ganti, karena memang ia sengaja tidak datang ke acara pernikahan Alvin. Tadi malam di kostan, Vania sudah memberitahu Alena kalau hari ini adalah hari pernikahan Alvin, tapi Alena memang sengaja tidak ingin datang. Pulang kerja nanti rencananya Alena akan keluar jalan-jalan dengan Ervin. Banyak diantara temen-temen kantornya yang sampai membuat taruhan, Alena akan menghadiri acara itu atau tidak, karena mereka yakin Alena tidak akan semudah itu bisa melupakan Alvin. Apalagi Alvin merencanakan pernikahan dengan Sovia terbilang dalam waktu yang sangat singkat, hanya tiga bulan setelah ia putus dari Alena. Hal itu membuat teman-temannya berpikir, kalau justru Alenalah yang menjadi selingkuhan Alvin selama ini, bukan Sovia. Padahal sebenarnya mereka tidak tahu jika Sovia adalah mantan kekasih Alvin yang sekarang kembali bersamanya.
Acara pernikahan Alvin di gelar di sebuah hotel bintang lima, dan terkesan mewah. Tamu undangan yang hadir sekitar lima ratus undangan, semua adalah teman Alvin dan Sovia. Vania dan teman-teman kantornya terlihat hadir di acara tersebut dan seperti yang direncanakan tadi, Alena tidak ada dalam rombongan mereka. Alvin diam-diam mencari Alena dalam rombongan teman kantornya yang datang, tapi sayang ia tidak melihatnya. Ia agak sedikit kecewa, karena sebenarnya ia ingin melihat keadaan Alena. Ia masih merasa bersalah atas semua yang terjadi pada Alena. Mungkin kalau ia tidak memutuskan hubungan dengan Alena dan menikah dengan Sovia, Alena tidak akan menderita seperti itu. Semenjak ia memutuskan Alena, ia tidak pernah lagi ada kesempatan untuk mengobrol dengannya. Alena selalu menghindar saat Alvin berusaha untuk mendekatinya dan mengajaknya mengobrol. Rasanya Alena sudah membangun benteng yang tinggi dan besar diantara mereka berdua. Sampai Alvinpun tidak punya celah lagi untuk sekedar ingin menanyakan kabarnya. Ia sempat khawatir saat ia melihat Alena tidak masuk kantor sudah dua minggu lamanya. Saat ia menanyakan pada Vania ternyata Alena sedang sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Alvin berniat untuk menjenguknya, tapi Vania melarangnya. Ia mengatakan pada Alvin untuk tidak ikut campur lagi di dalam kehidupan Alena. Biarkan Alena move on dan melupakan semua kenangan bersama Alvin. Ia berpikir saran dari Vania ada benarnya juga. Ia tidak boleh lagi ikut campur masalah Alena, karena ia sudah tidak ada hak lagi. Selain itu ia juga akan menikah, jadi ia harus bisa menjaga nama baik dirinya dan juga calon istrinya nanti.
Alvin merasa sedikit kecewa dengan ketidak hadiran Alena, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti ada saatnya Alena akan memaafkannya. Ada saat dimana mereka bisa berteman dengan baik, tanpa ada rasa marah dan benci dalam hatinya. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat sampai waktu itu datang.
*****
Sementara itu Alena dan Ervin sedang berjalan-jalan menikmati indahnya kota surabaya. Malam ini Alena sengaja mengajak Alvin nonton. Mereka datang ke tempat bioskop di salah satu mall di surabaya. Alena sengaja memilih melihat film horror, agar kesedihannya bisa dialihkan dengan melihat adegan film yang tegang. Untung saja Ervin setuju saat ia mengajaknya nonton film, kalau tidak mungkin sekrang yang ia lakukan adalah duduk di dalam kamar tenggelam dalam kesedihannya. Ervin membeli dua lembar tiket masuk, dan kebetulan mereka mendapatkan kursi paling belakang sendiri. Awalnya Ervin terlihat setuju-setuju saja saat Alena mengajaknya nonton film Horor, dan Alena juga tidak merasakan ada yang aneh dengan Ervin. Sepanjang film di mulai, Alena merasa tenggelam dalam adegan-adegan film yang sangat menegangkan. Berkali-kali ia menutup kedua matanya dan menjerit kecil saat ada adegan hantu yang keluar dalam film itu. Namun meskipun begitu ia tetap melihat film itu dan tidak mengalihkan pandangan matanya sama sekali dari layar bioskop. Saat film sudah berlangsung selama separuh perjalanan ia baru sadar ada sesuatu yang aneh. Sepanjang film itu berlangsung ia tidak mendengar Ervin bicara sedikitpun, bahkan suara napasnya pun nyaris tak terdengar. Terpengaruh dengan susana yang horror, pikiran Alena sudah mulai macem-macem. Ia mengumpulkan semua keberaniannya dan dengan perlahan menoleh ke kursi sebelah kiri yang diduduki oleh Ervin. Betapa terkejutnya dirinya, saat ia melihat Ervin saat itu sedang menutup kedua matanya dengan menggunakan tangannya, sedangkan kedua kakinya dinaikkan di atas kursi. Badannya gemetaran dan wajahnya terlihat sangat ketakutan. Alena merasa bersalah melihat kondisi Ervin, akhirnya ia mengajak Ervin keluar dari gedung bioskop itu.
Mereka menuju cafe yang berada di gedung bioskop. Ervin duduk di kursi dengan memejamkan matanya. Alena membelikan sebotol air mineral dingin, dan diberikannya pada Ervin. Ia menghabiskan sebotol minuman itu kemudian menarik nafas berat. Alena hanya terdiam, tidak berani bertanya apapun tentang kejadian yang baru saja dilihatnya. Setelah keadaan Ervin sudah agak tenang baru ia berbicara pada Alena.
“Al, maafkan aku ya. Aku jadi merusak acara nontonmu.” Ucap Ervin dengan badan yang masih sedikit gemetaran.
“Nggak apa-apa, yang penting sekarang Mas Ervin udah baik-baik aja.” Jawab Alena tipis.
“Em, sebenarnya kalau aku boleh jujur. Aku gak berani nonton film horor.” Jelas Ervin sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alena terbelalak, kemudian tawanya meledak. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki dihadapannya itu. Mana mungkin laki-laki yang terlihat sangar seperti itu bisa takut melihat film horror, sungguh di luar dugaan. Alena menghentikan tawanya saat wajah Ervin berubah menjadi merah karena menahan malu.
“Maaf-maaf, Mas. Aku nggak sopan banget ngetawain kamu. Tapi lucu aja orang sekeren Mas Ervin gini bisa takut lihat film horror.” Alena tanpa sadar mengucapkan kata keren pada kalimatnya. Ervin yang sadar dengan kata-kata Alena menjadi salah tingkah sendiri dibuatnya. Ia senang sekali karena Alena menganggapnya keren jadi tidak sia-sia selama ini Ervin memberikan penampilan yang maksimal di depan Alena.
“I-iya itu, dari kecil aku sering ditakut-takutin hantu, jadi pas udah besar nggak berani sama hantu dan sebangsanya.” Jelas Ervin pada Alena. Alena kembali tertawa bahkan kali ini ia tertawa lebih keras daripada sebelumnya. Ervin yang melihatnya merasa senang karena ia bisa melihat Alena tertawa selepas itu. Bearrti usahanya tidak sia-sia.
“Kenapa Mas Ervin nggak bilang kalau nggak berani lihat film horor? Tau gitu kan kita nonton film yang lain, action misalnya.” Kata Alena dengan mimik wajah menyesal.
“Nggak apa-apa, Al. Aku cuma ingin ngelihat kamu bahagia.”
“Meskipun, kebahagiaanku buat Mas Ervin menderita? tapi kayaknya itu nggak sepadan, Mas.”
“Yang jelas, aku ikut senang bisa ngelihat kamu ketawa seperti tadi. Kamu berhak bahagia, jangan sedih-sedih lagi ya habis ini.” Ucap Ervin yang sukses membuat hati Alena terenyuh. Sungguh tulus laki-laki itu padanya.
“Iya, Mas. Jawab Alena dengan tersenyum. Ervin minta ijin pada Alena untuk keluar sebentar, karena ia mendapatkan telepon dari atasannya di kantor. Ia minta ijin untuk mengangkat telepon di luar ruangan, karena kebetulan cafe itu sangat rame dan ia takut tidak mendengar suara atasannya dengan jelas. Setelah Ervin pergi, Alena mengambil HPnya kemudian penasaran ingin melihat status w******p teman-teman kantornya. Awalnya ia ragu, tapi karena rasa penasaran yang begitu besar ia nekat melihatnya. Benar saja setelah melihat status Vania dan Dahnia, dadanya menjadi sesak rasa sakit mulai datang kembali. Di status w******p Dania, ada foto Alvin dan Sovia yang duduk di kursi pelaminan dengan mengenakan baju pengantin berwarna putih. Memang tidak bisa dipungkiri lagi, mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Mereka sangat cocok duduk bersama di kursi pelaminan itu. Cukup lama Ia memandangi foto itu. Tanpa terasa air matanya mengalir di kedua pipinya. Rasanya luka itu masih terasa sakit apabila terbuka kembali. Ia menyesal kenapa harus melihat foto-foto itu, bukankah ia tidak datang ke acara pernikahan Alvin, hanya semata-mata untuk tidak melihat Alvin bersanding dengan wanita lain di pelaminan. Namun kenapa ia malah penasaran dan melihat status w******p Dahnia. Ia memang terlalu bodoh, karena rasa penasarannya yang tidak dapat ditahan, sama saja dia mengorek luka di hatinya sendiri seperti yang saat ini ia rasakan.