Alena terdiam dengan masih menggenggam HP di tangannya, tatapan matanya kosong. Pikirannya mengembara entah kemana. Kesedihan kembali menyelimuti hatinya. Kenapa sesulit itu rasanya melupakan seorang Alvin. Padahal Alvin sudah sangat menyakiti hatinya. Rasanya ia sangat iri dengan kebahagiaan mereka berdua. Hatinya masih belum ikhlas, padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menerima kenyataan dan melupakan kesakitan yang telah terjadi pada dirinya.
Setelah menyelesaikan teleponnya, Ervin kembali masuk ke dalam cafe itu. Ia kembali duduk di hadapan Alena dan memasukkan HPnya ke dalam saku celana. Ia menoleh ke arah gadis itu, penasaran kenapa Alena diam saja tidak berkomentar apapun. Namun saat melihat ke arah Alena, ia terkejut melihat mata Alena yang berlinang air mata. Ervin merasa khawatir dengan keadaan gadis itu. Ia mencoba mendekati Alena dan bertanya kepadanya.
“Kamu kenapa, Al?”
“Nggak apa-apa, Mas.”
“Jangan bohong, kalau nggak ada apa-apa mana mungkin kamu menangis. Cerita saja biar bebanmu sedikit berkurang.”
“Em, ini Mas.” Alena menyodorkan HPnya pada Ervin. Foto Alvin dan Sovia masih terpampang dengan jelas di layar HPnya. Ervin mengambil HP Alena dan melihat dengan jelas foto pasangan pengantin baru itu.
‘Pasangan yang serasi.’ Gumamnya dalam hati.
“Oh, jadi ini yang buat kamu menangis? udah tau nggak kuat kenapa masih kamu lihat?” tanya Ervin, menyerahkan kembali HP itu ke Alena. “Jadi hari ini dia nikah sama pacarnya? terus di sana dia seneng-seneng, di sini kamu bersedih? apakah kamu nggak berfikir kalau kamu itu terlalu bodoh. Inget jangan menangisi orang yang sudah membuangmu, kamu adalah gadis yang hebat dan kuat. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Ada aku yang akan selalu menemanimu, Al.” Alena membelalakkan kedua matanya. Ia terkejut dengan kata-kata Ervin, apa maksud kalimat terkahir yang diucapkannya itu. Apakah memang benar apa yang dikatakan oleh Vania selama ini, kalau Ervin naksir padanya, tapi mana mungkin. Ervin memang orang yang sangat tulus, tapi Alena belum memikirkan akan mencari pengganti Alvin. Mungkin lebih baik, sebelum semua terlambat Alena harus menjauh dari Ervin. Namun rasanya itu tidak adil, Ervin tidak berbuat salah pada Alena, kenapa ia harus menjauhinya. Lagian Ervin juga tidak menyatakan cinta pada dirinya jadi belum tentu ia memang suka pada Alena. Ia jalani saja apa yang ada di depan mata, jangan berpikiran terlalu jauh. Ervin orang baik dan tulus itu saja yang terpenting bagi Alena untuk sekarang. Selain itu Ervin selalu ada di saat ia membutuhkan,
“Iya, makasih banyak. Selama ini Mas Ervin, sudah banyak membantuku sampai sejauh ini. Aku udah banyak berhutang budi sama Mas.”
“Jangan berpikir yang aneh-aneh, Al. Sudah tugasku membantumu, karena aku sudah menganggapmu orang yang penting dalam hidupku.”
Degh ... Degh ... Degh ....
Jantung Alena berdetak dengan kencang, Mendadak ada desiran aneh dalam hatinya. berkali-kali kata-kata Ervin membuatnya senam jantung. Namun ia berusaha bersikap tenang untuk menutupi kegalauan hatinya.
“Iya, Mas.” Jawabnya dengan tersenyum. Setelah mengobrol cukup lama akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Malam ini Ervin sukses membuat Alena tertawa dan sejenak melupakan kesedihannya. Mungkin ini adalah pilihan yang tepat buat Alena untuk keluar dengan Ervin, daripada mendatangi acara pernikahan Alvin. Ia sangat bersyukur di saat ia sedih dan terpuruk ada Vania dan Ervin yang selalu menemaninya.
****
Keesokan harinya, dari pertama kali ia datang ke kantor, beberapa pasang mata tak henti-hentinya menatapnya seperti tatapan iba dan kasihan. Ada juga yang menatapnya dengan tatapan mengejek. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan pandangan mata mereka. Ia berusaha cuek dan bekerja seperti biasanya. Saat ia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba Dahnia datang menghampiri meja Alena. Ia merasa kasihan dengan gadis itu dan berusaha untuk menghiburnya. Dahnia berdiri di samping Alena, kemudian memegang bahu kanannya. Sementara itu Alena menghentikan tangannya yang sedang menari di atas keyboard komputernya. Ia mendongakkan kepalanya ke arah Dahnia, sembari mengernyitkan dahinya.
“Al, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Dahnia penasaran.
“Aku nggak apa-apa mbak, emangnya ada apa?” tanya balik Alena.
“Oh syukurlah kalau gitu, aku kira kamu sedih gara-gara Alvin nikah.”
“Nggak, Mbak. Aku santuy aja kok. Lagian jodoh udah ada yang ngatur.” Jawab Alena dengan tersenyum. Ia berusaha menunjukkan kalau dirinya sedang baik-baik saja, meskipun sebenarnya batinnya sangat terluka. Ia tidak mau terlihat cengeng di depan orang lain, karena ia tidak mau orang yang tidak suka dengan dirinya akan semakin bahagia melihat ia bersedih.
“Kamu gadis yang kuat, Al. Semangat ya.” Begitulah kata-kata mereka yang selalu memberikan support pada Alena, beda halnya dengan beberapa orang yang malah mencibir dirinya. Misalnya beberapa orang marketing temannya Alvin. Saat mereka mengambil aplikasi di meja Alena, kata-kata mereka sempat membuat Alena marah. Kata-kata mereka sudah di luar batas. Mereka mencibir Alena gadis bekas pakai, yang sudah ditinggal nikah oleh Alvin. Saat Alena mendengar kata-kata itu, ingin rasanya ia menampar mereka satu persatu. Namun ia tiba-tiba sadar, saat ini mereka sedang di dalam kantor, kalau ia melakukan hal itu, pasti akan menjadi masalah. Akhirnya ia hanya bisa menahan emosinya dan berpura-pura tidak mendengar apa-apa. Kenapa mereka suka sekali membuat fitnah yang tidak ada buktinya, padahal mereka adalah laki-laki bukan wanita yang suka menggosip. Lagi pula sampai dengan hari ini, Alena merasa tidak pernah berbuat yang diluar batas dengan Alvin. Ia selalu menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya nanti. Vania, sahabatnya juga selalu memberikan support pada Alena. Ia mengatakan untuk tidak mendengarkan semua perkataan orang-orang yang tidak penting itu. Alena memang tidak pernah mendengarkan kata-kata mereka. Ia hanya fokus pada pekerjaannya agar cepat selesai dan bisa pulang secepatnya.
Sore harinya saat jam pulang kerja, Alena sengaja berpamitan pada Vania untuk pulang terlebih dahulu. Tanpa sengaja di lift ia bertemu dengan Adit. Sebenarnya ia tidak suka bertemu dengan laki-laki itu, tapi karena ia terlalu malas untuk melewati tangga darurat, akhirnya ia terpaksa satu lift dengannya. Adit berdiri tepat di sebelah Alena, dan mereka hanya berdua di dalam lift tersebut.
“Tuh kan bener apa yang aku bilang, apa bedanya aku sama, Alvin? kami itu sama. Ujung-ujungnya kamu jadi barang bekasnya juga, dan yang lebih parah kamu ditinggal nikah dengan orang lain. Ha ... Ha ... Ha ....” Kata Adit dengan nada mengejek.
“Plaaakkk ....”
Tamparan keras melayang di pipi Adit. Kali ini Alena sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Setelah seharian ia mendengar kata-kata yang pedas di telinganya, sekarang Adit malah menambahi dengan kata-kata yang membuat telinganya panas. Adit terkejut dengan tamparan dari Alena. Ia tidak menyangka Alena akan melakukan hal yang seberani itu padanya.
“Lain kali, hati-hati dengan bicaramu! aku bukan gadis bekas pakai seperti yang kamu bilang!!” kesal Alena. Adit merasa dipermalukan, ia tidak terima dengan perlakuan Alena padanya. Ia ingin sekali memukul balik Alena. Namun Adit mengurungkan niatnya, karena tidak mau ada masalah yang lebih serius hanya gara-gara memukul Alena. Ia terdiam, tetap berdiri di tempatnya sembari memegang pipinya yang memerah karena tamparan Alena. Setelah lift berhenti di lantai basement, Ervin keluar dari lift menuju ke parkiran mobil, dengan berbagai umpatan kotor yang keluar dari mulutnya, Sedangkan Alena menunggu lift berhenti di lantai dasar.
Saat lift sudah berhenti di lantai dasar, Alena berjalan menuju ke lobby gedung berlantai sepuluh itu. Ia berjalan ke luar gedung, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal, sudah menunggunya di atas sepeda motor miliknya. Alena mendekati laki-laki itu dan tersenyum padanya.
“Mas Ervin, udah lama nunggu di sini? kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Alena tetap dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kaget. Ia tak menyangka Ervin akan datang ke kantor menjemputnya tanpa memberi kabar sebelumnya. Sungguh laki-laki yang penuh dengan kejutan.
“Baru sepuluh menitan, Al. Mau pulang sekarang atau mau jalan-jalan dulu.” Tanya Ervin dengan santai.
“Kita cari makan aja, Mas.” Jawab Alena.
“Oke, tapi sebelum itu aku mau ajak kamu, ke sebuah tempat yang indah saat malam hari. Mau nggak?”
“Oke boleh, Mas. Kita kesana dulu baru makan.”
“Siap.” Jawab Ervin sembari menghidupkan mesin motornya.
Alena naik ke boncenganan motor Ervin. Ia mengendarai motornya, memecah jalanan kota surabaya yang ramai dengan lalu lintas kendaraan. Saat sampai di sebuah tempat, Ervin menghentikan motornya. Ternyata Ervin mengajak Alena ke sebuah taman yang sangat indah. Taman itu terletak di tengah kota. Tempatnya luas dan disekelilingnya dihiasi lampu kerlap kerlip yang membuat suasana kelihatan romantis. Alena sering melewati taman itu tapi tidak pernah sekalipun masuk ke dalamnya. Ternyata di dalam taman itu sangat indah jauh melebihi ekspektasi Alena. Terdapat arena tempat bermain di pojok belakang taman. Di depan taman terdapat kursi-kursi yang terbuat dari kayu rotan, yang atasnya dihiasi oleh lampu kerlap kerlip yang tak seberapa terang. Alena duduk di salah satu kursi rotan itu dan Ervin duduk di sebelahnya. Mereka menikmati indahnya langit di malam hari yang dihiasi oleh bulan dan bintang-bintang, sungguh sangat indah dan membuat hati tenang. Alena menarik nafas berat, ingin rasanya semua beban di kepalanya ia tumpahkan semua. Ervin menoleh ke arah Alena yang duduk di sampingnya. Ia melihat wajah Alena yang tiba-tiba berubah menjadi sedih. Ia pun kemudian bertanya pada Alena.
“Al, kamu kenapa kok jadi sedih gitu?”
“Nggak apa-apa, Mas.”
“Jangan bohongin aku, Al. Wajahmu itu nggak bisa berbohong..” Alena menghembuskan nafas panjang. Ingin rasanya ia menceritakan semua keluh kesahnya pada Ervin, tapi ia malu dan bingung untuk memulainya.
“Em, ....”
“Cerita aja nggak apa-apa, Al.”
“Tadi di kantor, aku stress banget Mas.” Alena memulai ceritanya pada Ervin.
“Kenapa? apa yang terjadi di kantor? cerita aja, sapa tau aku bisa bantu kamu.”
“Teman-teman Alvin banyak yang mencibirku, mereka bilang kalau aku itu gadis bekas pakai, setelah itu ditinggal nikah.” Alena bercerita dengan tatapan yang kosong, sembari mengingat-ingat kata-kata Adit dan teman-teman Alvin tadi siang. Air matanya perlahan membasahi kedua pipinya. Ia tidak dapat lagi menahan semua kesedihannya. Ia merasa rapuh, ia merasa harga dirinya terinjak-injak oleh mereka. Ervin terkejut mendengar cerita Alena, ia tidak menyangka kalau Alena akan mendapatkan perlakuan seperti itu di kantor. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Alena sekarang. Ia menghembuskan nafas berat, tidak tega melihat gadis di depannya menangis dengan terisak-isak. Perlahan ia memegang kedua bahu Alena dan kemudian memeluknya dengan sangat erat. Ervin sudah tidak perduli lagi tentang menjaga batasan. Sekarang yang ia pikirkan adalah perasaan Alena. Iya, hanya perasaan Alena, tidak ada yang lain. Ervin mencoba menenangkan Alena, berusaha memberikan kenyamanan padanya. Ia mengelus-elus rambutnya dan mengelus-elus punggung Alena dengan perlahan, sementara Alena menikmati perasaan nyaman itu. Ervin melakukannya bukan untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Namun ia benar-benar memberikan perhatian yang tulus pada Alena, tanpa ada tujuan apa-apa. Hatinya merasa terpanggil untuk melindungi gadis itu. Gadis yang selama ini sangat ia harapkan. Ia tidak rela kalau sampai gadis yang dicintainya itu menjadi sedih atau bahkan terluka hatinya, karena perbuatan seseorang.
‘Aku akan melindungimu dari siapapun yang berusaha menyakitimu, Al. Bahkan jika itu sampai mempertaruhkan nyawaku sekalipun.’ Batin Ervin dalam hatinya, sembari tetap memeluk Alena dalam dekapannya. Sangat erat seakan tidak mau melepaskan gadis itu untuk selamanya.