31. Kesalahan Kedua 31

3113 Words
Alena dan Ervin sudah menghabiskan waktu yang lama di taman kota. Alena merasa lega setelah menceritakan semua uneg-uneg yang ada dalam hatinya pada Ervin. Laki-laki itu memberikan banyak saran dan dukungan pada Alena. Ia berharap Alena dapat melupakan semua yang telah berlalu dan tetap menjadi gadis yang kuat, dalam menghadapi semua masalah yang terjadi dalam kehidupannya. Ia merasa Ervin adalah laki-laki yang selalu menemaninya dalam setiap kesedihannya. Entah kenapa ia merasakan kenyamanan saat berada di sisi laki-laki itu. Menurutnya, Ervin adalah laki-laki yang hangat dan penuh perhatian. Bersama Ervin ia merasa dilindungi, diperhatikan dan merasa dihargai sebagai seorang wanita. Setelah lama mengobrol dan meluapkan semua kesedihannya, Alena mengajak Ervin untuk mencari makan, karena cacing di perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Malam ini Alena ingin makan bakso yang pedas, karena makanan yang pedas dipercayai bisa menurunkan kadar stress seseorang. Akhirnya Ervin mengajak Alena ke sebuah warung bakso di pinggir kota. Warung itu terkenal dengan rasa baksonya yang memang enak dan lezat, bahkan saat di bawa pulangpun rasanya tidak berubah. Kebetulan warung bakso itu tak pernah sepi oleh pembeli. Saat mereka datang, banyak sekali pembeli yang sudah mengantri hanya untuk menikmati semangkok bakso yang fenomenal itu. Alena tampak excited untuk berdiri di dalam antrian para pembeli, sedangkan Ervin bertugas untuk mencari tempat duduk agar tidak kehabisan. Ervin menawarkan diri untuk menggantikan Alena berdiri di antrian, tapi ia menolak. Ervin tidak dapat menolak kemauan Alena, karena itu sembari menunggu pesanan datang iapun mengotak-atik HPnya. Tanpa mereka sadari seorang laki-laki yang sangat mereka kenal baru saja datang dan ikut dalam antrian. Awalnya laki-laki itu tidak mengetahui kalau Alena ada di sana. Namun saat ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, ia melihat Alena tengah berada di dalam antrian itu. Tanpa berpikir panjang lagi, laki-laki itu mendekati Alena dan menggenggam tangannya. Ia melakukan hal itu agar Alena tidak bisa menghindarinya lagi. “Al, bisa kita bicara sebentar?” ucap Alvin dengan lirih. Alena terkejut melihat laki-laki yang selama ini dihindarinya itu, sudah berada di hadapannya. Ia bingung harus menjawab apa pada Alvin. Saat ia larut dalam kebingungannya, Ervin tiba-tiba menghampirinya dan berdiri membelakangi dirinya. Ia berdiri dihadapan Alvin, menggantikan Alena untuk berbicara pada laki-laki itu. “Maaf, Mas. Ada yang bisa dibantu? mungkin kalau ada yang mau dibicarakan silahkan sama saya aja. Saya pacarnya Alena.” Jelas Ervin. Tangan Ervin tiba-tiba memeluk Pinggang Alena. Gadis itu terkejut dan tidak bisa menolak apa yang sudah dilakukan Ervin pada dirinya. Terpaksa ia harus masuk ke dalam sandiwara Ervin. Sementara itu Alvin terkejut dengan pemandangan di depannya, ia tak menyangka secepat itu Alena sudah mendapatkan pengganti dirinya. Mendadak ada desiran aneh dalam diri Alvin, apakah ia cemburu? bagaimana mungkin? ia sudah mencampakkan Alena begitu saja, harusnya ia sudah tidak berhak untuk cemburu. Bukankah Alena berhak untuk berhubungan dengan siapa saja, karena ia sudah bukan miliknya lagi. Alena berhak bahagia seperti dirinya. Alvin terlihat kecewa karena ekspektasinya terlalu tinggi. Ia berpikir saat Alena tidak datang ke acara pernikahannya, mungkin karena Alena sedih dan terpuruk gara-gara kehilangan dirinya. Namun ternyata sebaliknya, tampaknya Alena terlihat baik-baik saja, bahkan sekarang ia sudah mendapatkan pengganti dirinya. Darahnya tiba-tiba mendidih, wajahnya tampak memerah. Ia bingung harus bagaimana menyikapi kenyataan ini, sangat memalukan. Kesannya ia adalah laki-laki yang tak tahu malu karena sudah menikah tapi masih menggoda pacar orang. Alvin tetap terdiam di tempatnya, Ervin yang melihatnya langsung menegurnya. “Mas, kok diam aja. Kalau memang tidak ada perlu apa-apa silahkan kembali ke tempat antriannya, karena masih banyak antrian di belakang.” Suruh Ervin. Alvin mulai tersadar dalam lamunannya, untuk meyakinkan dirinya kalau memang benar laki-laki itu adalah pacar Alena, akhirnya ia pun bertanya pada Alena secara langsung. “Al, apakah memang benar dia pacarmu?” tanya Alvin dengan serius. Awalnya Alena terdiam. Ia melirik pada Ervin, dan samar-samar Ervin menganggukkan kepalanya, agar Alena menjawab dengan jawaban yang sama dengannya. “I-Iya, Vin. Mas Ervin adalah pacarku.” Jawab Alena lirih. Setelah mendengar jawaban Alena, Alvinpun meminta maaf pada mereka berdua dan kembali lagi ke dalam antriannya. Alena tersenyum pada Ervin, dalam hati ia sangat berterimakasih pada Ervin. Kalau tadi tidak ada Ervin di sana, mungkin saat ini, ia sudah bersama dengan Alvin dan membicarakan hal yang tidak penting dengannya. Ervin hanya membalas Alena dengan Anggukan kepala dan kembali ke tempat duduknya. Ervin sempat melirik Alvin dari tempat duduknya. Terlihat Alvin masih terus melihat ke arah Alena dari belakang. Setelah beberapa lama mengantri akhirnya pesanan merekapun selesai juga. Alena kembali kemejanya dan duduk di sebelah Ervin. Disitu Ervin mulai melakukan drama lagi. Ia melihat Alvin masih saja mencuri-curi pandang ke Alena, karena itu Ervin berpura-pura akan menyuapkan bakso ke mulut Alena. Mata Ervin berkedip memberikan kode agar Alena mau menerima suapan itu. Alena menuruti perintah Ervin dan menerima suapan itu. Terjadilah adegan suap menyuap yang romantis di depan Alvin. Melihat itu Alvin semakin terbakar api cemburu, tanpa menunggu pesanan baksonya selesai iapun pergi meninggalkan tempat itu begitu saja. Ervin yang melihat laki-laki itu pergi, merasa sangat puas. Ia merasa bisa membalaskan sedikit rasa sakit Alena dengan cara yang elegan. Ervin memandang wajah Alena, jauh di dalam sorot matanya masih terpancarkan kesedihan yang mendalahm, apalagi barusan ia bertemu dengan Alvin. Rasa kesedihan di hatinya pasti datang kembali. Setelah menghabiskan semangkuk bakso dan segelas es teh manis, mereka berdua pun berencana untuk pulang. Ervin mengendarai motornya pelan-pelan tidak seperti biasanya. Sayup-sayup terdengar, ia berkata pada Alena. “Kamu ingin menangis? Menangislah sekarang. Mumpung kita lagi di atas motor. Tak akan ada satupun orang yang melihat selain aku.” Alena mendengar perkataan Ervin. Kata-kata Ervin seperti sebuah perintah dan membuat tangisannya yang dari tadi tertahan, tiba-tiba memberontak untuk dikeluarkan. Alenapun tidak bisa membendung tangisannya lagi. Air matanya mengalir deras membanjiri kedua pipinya, Ervin menarik kedua tangan Alena sembari tangan kanannya memegang setir motornya. Ia menyuruh Alena untuk membenamkan kepalanya di atas punggung Ervin. Alena menuruti perintah Ervin, ia pun menangis dengan membenamkan kepalanya diatas punggung laki-laki itu. Hati Ervin kembali tersayat mendengar tangisan gadis itu, rasanya ia tidak tega melihat orang yang ia sayangi menderita seperti itu. Sepanjang perjalanan air mata Alena tidak berhenti untuk mengalir. Akhirnya Ervin memutuskan untuk berhenti di sebuah mini market. Ia melihat di depan minimarket itu ada sebuah tempat duduk, yang kebetulan sepi tidak ada seorangpun yang duduk di sana. Ervin menyuruh Alena turun dan memapahnya ke salah satu tempat duduk itu. “Aku mau beli minum kamu tunggu di sini dulu ya.” “Iya, Mas.” Jawab Alena dengan masih sesenggukan. Alvin masuk ke dalam minimarket, ia membeli sebuah ice cream dan air mineral. Setelah membayar di kasir, ia membawa minuman itu keluar. Ia kembali ke tempat Alena duduk dan menyodorkan satu buat ice cream pada Alena. “Ice cream?” tanya Alena keheranan. “Pasti kamu berpikir aku menyamakan kamu dengan anak kecil, karena memberimu ice cream, iya kan? tapi tahukah kamu kalau salah satu manfaat ice cream adalah bisa membuat perasan menjadi bahagia?” jelas Ervin sambil tersenyum. Tanpa berpikir panjang Alena mengambil ice cream di tangan Ervin, membuka bungkusnya dan memakannya. Rasa dingin dan lembut ice cream itu membuat Alena berhenti sesenggukan. Benar kata Ervin ternyata Ice cream itu memang bisa merubah moodnya. Ia merasa lebih tenang dan tidak sesedih tadi. “Kamu tau, dulu saat aku ditinggal ibuku. Tiap hari aku menangis mencari beliau. Namun saat aku menangis ayah selalu memberikanku ice cream. Ayah mengatakan kalau makan ice cream itu bisa membuat perasaan jadi bahagia, dan memang benar apa yang dikatakan ayah. Entah itu sugestiku sendiri atau memang faktanya seperti itu, yang jelas sejak saat itu kalau aku sedang sedih, aku selalu membeli ice cream dan memakannya.” Jelas Ervin. “Maaf, Mas. Aku sudah mengingatkanmu tentang almarhumah Ibumu.” Sesal Alena. “Nggak apa-apa, Al. Sudahlah jangan bahas itu lagi, yang jelas sekarang kamu sudah nggak sedih lagi kan?” “Iya, Mas. Berkat ice cream ini.” Jawab Alena dengan tersenyum bahagia. Dalam hati ia sangat berterimakasih kepada Ervin. Ia sebenarnya tak habis pikir, berkali-kali ia menangis kenapa harus di hadapan Ervin? kenapa pada saat ia sedih harus Ervin yang selalu ada buat menenangkan dirinya? apakah ini sebuah kebetulan semata? Ataukah ini memang takdir dari Tuhan. Apakah memang Ervin orang yang dikirim oleh Tuhan untuk menyembuhkan sakit hatinya. Berbagai pertanyaan berputar-putar di pikirannya. Ia diam tak berkata apapun sembari mulutnya masih terus memakan ice cream itu. Ervin yang melihatnya merasa sedikit lega. Setidaknya ia bisa menghibur hati Alena, agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Setelah ice cream habis mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kostan Alena. **** Alvin berkali-kali memukul setir mobilnya. Setelah ia melihat Alena terlihat bahagia dengan laki-laki lain di warung bakso tadi, ia merasa tidak terima. Ada rasa panas dan sesak di dalam dadanya. Ia tidak menyangka kalau Alena akan semudah itu mendapatkan gantinya. Bahkan laki-laki itu terlihat sempurna di matanya. Ia juga merasa heran dengan dirinya sendiri, kenapa ia harus merasakan perasan cemburu, padahal sekarang ia sudah memiliki Sovia dalam hidupnya. Bukankah ini yang memang ia inginkan, meninggalkan Alena dan menikahi Sovia. Namun kenapa sekarang ia merasa bimbang? ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah berkali-kali ia meluapkan kekesalannya dengan memukul setir mobilnya. Dalam keadaannya yang seperti itu, tiba-tiba HPnya berdering. Ia terkejut dan mengangkat telepon yang tidak lain dari Sovia, istrinya. “Hallo, sayang.” Sapa Sovia di seberang sana. “Iya, hallo.” Jawab Alvin dengan nada agak kesal. “Pesenanku nggak lupa kan?” “Baksonya tutup, jadi nggak aku beliin.” Jawab Alvin dengan nada kasar. “Kok bisa tutup, tadi kan kamu bilang kalau baksonya buka. Kok sekarang kamu bilang tutup, sayang?” “Kalau aku bilang tutup ya tutup, jangan ngeyel!!!” Alvin langsung mematikan HPnya, kemudian melempar HPnya ke kursi penumpang. Ia memukul setir kemudinya dengan kencang. Telapak tangannya sampai memerah karena pukulan itu. “Gadis yang merepotkan!” gumamnya dengan kesal. Sampai sekarang hatinya masih dongkol dengan apa yang dilihatnya tadi. Bagaimana mungkin Alena begitu mudah melupakannya. Bahkan ia tampak bahagia bersama laki-laki itu. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak memakan waktu lama ia sudah sampai di rumah. Setelah menikah dengan Sovia, mereka pindah kerumahnya Alvin. Awalnya Sovia tidak setuju karena ia ingin tinggal bersama ibunya. Namun karena Alvin memaksa akhirnya ia bersedia dan mereka tinggal di rumah Alvin. Alvin membanting tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Kepalanya tiba-tiba pusing. Ia merebahkan tubuhnya di atas Sofa. Mendengar suara mobil Alvin yang sudah tiba di rumah, Sovia menghampiri suaminya itu. Sovia heran melihat keadaan Alvin yang acak-acakan dan wajahnya yang kusut. Ia menghampiri suaminya itu dan duduk di sebelahnya. “Kamu kenapa?”tanya Sovia seraya menepuk bahu Alvin. “Nggak apa-apa, aku cuma capek aja.” jawab Alvin dengan nada cuek. “Kenapa kamu tadi marah-marah kayak gitu?” “Nggak apa-apa.” jawab Alvin dengan datar. “Tadi kan kamu bilang baksonya jualan dan lagi ngantri, kok tiba-tiba kamu bilang nggak jualan? mana yang bener?” tanya Sovia. “Ini masih bahas masalah bakso ceritanya? udah aku bilang kan orangnya nggak jualan. Kamu kok tetap ngeyel terus” Sahut Alvin. “Kamu tuh kenapa sih? ngomongmu kok nggak enak gitu? kalau ada masalah di kantor jangan bawa ke rumah!!!” bentak Sovia dengan nada yang agak tinggi. “Aku ini suamimu, jangan seenaknya bentak-bentak seperti itu. Nggak sopan!!!” sahut Alvin dengan nada yang tinggi juga. “Kalau nggak mau dibentak, sikapmu jangan seperti itu. Bikin orang badmood aja.” “Ya udah aku pergi aja biar kamu gak badmood ngeliat aku.” Alvin berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke pintu depan. “Vin, bukan gitu maksudku. Kamu mau kemana?” tanya Sovia, berusaha meraih tangan Alvin yang sudah berjalan di depannya. Namun Alvin begitu cepat berjalan sampai Sovia tidak bisa mengikuti langkahnya. Sovia berusaha mencegah kepergian Alvin dengan mengejarnya, akan tetapi Alvin tidak memperdulikannya. Ia tetap berjalan keluar rumah dan menuju ke arah mobilnya. Alvin masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi pengemudi dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. Sedangkan Sovia terus berteriak-teriak memanggil namanya, tapi Alvin tetap tidak memperdulikannya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia bingung, tidak tahu harus kemana mengemudikan mobilnya. Pikirannya kacau, kata-kata kasar dari Sovia malah membuat emosinya semakin meledak-ledak. Ternyata ia tertipu dengan kata-kata manis dari Sovia beberapa bulan ini. Ia mengira Sovia sudah berubah, tapi ternyata sama saja. Entah kenapa ada perasaan menyesal dalam hatinya. Bayangan Alena tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. Senyuman Alena yang menyejukkan hatinya, dan kata-kata lembut Alena muncul secara bergantian dalam pikirannya. Ia menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan. Menyandarkan kepalanya di kursi pengemudi dan memijat-mijat kepalanya pelan. Semua itu dilakukan agar pusing yang dirasakannya agak sedikit berkurang. Setelah berhenti beberapa saat, ia kembali melajukan mobilnya memecah keheningan malam. Kini ia tahu harus kemana tujuannya pergi. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, ia akhirnya sampai di sebuah villa milik keluarganya. Villa itu terletak di kota malang. Kota yang dikenal dengan suasana dinginnya dan menjadi salah satu tujuan wisata favorite bagi orang jawa timur. Ia sengaja pergi ke kota itu untuk menjernihkan pikirannya. Rasa penat di kepalanya tak mampu lagi ia tahan. Ia masuk ke dalam halaman Villa itu dan memarkirkan kendaraannya di depan. Villa itu berada di puncak kota malang, dengan dikelilingi oleh pemandangan alam yang hijau dan indah. Di depan villa tersebut ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias dengan bunganya yang sangat cantik. Saat pagi hari tiba, dari dalam kamar kita dapat melihat langsung pemandangan gunung yang sangat indah.Villa itu terdiri dari dua lantai dan di lengkapi dengan sebuah kolam renang kecil di belakang villa. Memang tempatnya tidak seberapa besar, tapi pemandangan alam di sekitarnya sudah cukup membuat hati dan pikiran menjadi tenang. Beberapa saat kemudian, seorang tukang kebun kepercayaan keluarganya keluar dari dalam villa dan menyambut kedatangan Alvin. Tukang kebun itu bernama Pak Yono, laki-laki yang sudah senja itu berusia kurang lebih lima puluh tahunan. Badannya besar tapi tidak terlalu tinggi. Ia adalah orang kepercayaan keluarga Alvin yang sudah mengabdi selama sepuluh tahun di keluarga itu. Pak Yono menghampiri Alvin dengan wajahnya yang ramah. Ia bertanya pada anak dari majikannya itu. “Mas Alvin, apa kabar?” tanya Pak Yono dengan ramah. “Baik, Pak Yono. Bapak juga apa kabar?” “Alhamdulillah saya baik-baik saja, Mas. Kok Mas Alvin nggak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini, saya kan bisa membersihkan kamarnya Mas Alvin lebih dulu.” “Em, saya nggak ada rencana untuk kesini. Tadi ceritanya saya habis dari luar kota, terus kemaleman di jalan. Jadi sekalian aja tidur di sini. Takutnya nanti di jalan ngantuk, malah tambah bahaya.” “Nah, iya bener itu. Mari masuk dulu, Mas. Hawa di luar dingin sekali!” ajak Pak Yono mengajak Alvin memasuki Villa itu. Mereka berdua masuk ke dalam Villa. Alvin langsung menuju ke kamar yang biasa dipakainya, jika ia ke sana bersama dengan rombongan keluarganya. Setelah ia masuk ke dalam kamar, Pak Yono ijin pamit untuk kembali ke kamarnya. Kamar Pak Yono terletak di bagian belakang villa. Kenapa kamarnya harus dijadikan satu dengan villa? alasannya agar Pak Yono sewaktu-waktu dapat membersihkan dan menjaga villa itu dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pak Yono tinggal sendiri di villa itu, karena ia berasal dari luar kota sedangkan anak dan istrinya tinggal di kampung halaman. Alvin menuju ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia memutar shower air panas, dan mengguyur badannya, agar badannya tidak bertambah dingin. Lama tidak berkunjung ke kota itu membuat dirinya harus kembali menyesuaikan diri dengan hawa dingin kota itu. Ia terus mengguyur seluruh tubuhnya, kemudian membersihkannya dengan handuk yang barusan diantarkan oleh Pak Yono. Alvin mengambil kaos oblong dan boxer di dalam lemari yang memang sudah tersedia di sana. Ia sengaja meninggalkan beberapa bajunya, untuk jaga-jaga saat ia lupa membawa baju ganti. Setelah mengganti bajunya, ia duduk di tepi ranjang. Kini pikirannya sudah sedikit agak tenang tidak seperti saat ia pertama kali datang tadi. Ia meraih HPnya yang ada di atas ranjang kemudian membuka pesan whatsappnya. Terlihat ada sepuluh notifikasi pesan w******p dari Sovia, yang belum ia baca. Malam ini sejenak ia ingin melupakan tentang Sovia, makanya ia sengaja melewati dan tidak membuka pesan dari Sovia. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pikirannya kembali menerawang jauh. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat dengan Alena. Ia kembali meraih HPnya dan membuka galery foto. Ia teringat masih ada satu atau dua foto Alena yang sengaja disimpan di dalam HPnya. Ervin mencari-cari foto itu, dan akhirnya ketemu juga. Ia memandangi foto Alena dengan seksama. Menggerakkan jari-jarinya pada raut wajah Alena. Mendadak rasa rindu menyelimuti hatinya. Sebenarnya dalam hatinya yang paling dalam ia merasa menyesal karena telah mencampakkan Alena begitu saja. Ia mengerti dan benar-benar memahami betapa marahnya Alena pada dirinya, saat ini. Ia sendiri juga bingung kenapa ia begitu tega menyakiti hati Alena, padahal ia tahu Alena sangat menyayanginya dan setia pada dirinya. Ia menyadari kalau dirinya memang sudah keterlaluan pada Alena, tapi mau bagaiman lagi, semuanya sudah terjadi. Waktu tidak akan dapat diputar kembali. Kini Alena sudah benar-benar tidak mau bertemu dengannya lagi. Mungkin hatinya sudah terlalu sakit akibat perlakuan Alvin padanya. Alvin terdiam, ia teringat saat dirinya melihat Alena berdua dengan Ervin, di warung bakso saat itu. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ada perasaan cemburu yang harusnya tidak boleh ia rasakan. Rasa cemburu itu juga, yang membuat darahnya mendidih dan menjadi salah satu alasan yang memicu pertengkarannya dengan Sovia. Ia benar-benar sadar kalau saat ini ia sudah menikah dengan Sovia, bahkan cincin pernikahan mereka, masih melingkar di jari manisnya. Jadi tidak pantas jika ia masih merasakan cemburu, kepada seseorang yang sekarang bukan apa-apanya. Ingin rasanya ia membuang cincin itu di dasar laut yang paling dalam, agar ia tidak punya ikatan lagi dengan Sovia. Namun seketika itu ia tersadar, bukankah ia menikah dengan Sovia tanpa ada paksaan dari orang lain dan itu semua atas kemauannya sendiri. Lantas kenapa ia sekarang harus menyesal. Lagian dirinya adalah orang yang punya komitmen untuk menikah sekali seumur hidup, seperti janjinya pada kedua orang tuanya dan orang tua Sovia. Jadi apapun yang terjadi pada pernikahannya nanti, mau tidak mau harus ia jalani dengan sepenuh hati, karena itu adalah pilihan hidupnya sendiri. Ia harus bertanggung jawab pada apa yang sudah menjadi pilihan hidupnya sendiri. Sekarang Alena sudah menjadi masa lalunya yang harus ia buang jauh-jauh dari hidupnya. Sedangkan Sovia adalah masa depannya yang harus ia hadapi, apapun itu rintangannya. Mungkin ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendidik Sovia, agar ia bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Malam ini menjadi malam yang sangat melelahkan baginya. Ia butuh istirahat dan juga butuh me time, karena itu ia mematikan HPnya dan menaruhnnya di atas nakas. Semua pesan w******p dari teman-temannya dan dari konsumennya tidak ada yang ia balas satupun. Malam ini ia ingin tidur dengan tenang. Sejenak ingin menikmati kesendiriannya dengan ditemani dinginnya malam, tanpa ada gangguan dari siapapun juga, bahkan dari Sovia sekalipun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD