Bunyi alarm yang nyaring, terdengar memenuhi kamar Alena. Ia terbangun, mencoba meraih HP yang ada di atas nakasnya. Ia Mematikan alarm HP, dengan mata yang masih setengah tertutup. Ia melihat jam di layar HPnya dan betapa terkejutnya, saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Seharusnya di jam itu, ia sudah berada di kantor dan mulai untuk bekerja. Ia melompat dari ranjangnya dan menyambar handuk yang ada digantungan kamar. Ia berjalan menuju ke kamar mandi yang terletak di luar kamarnya, sembari mengomel-ngomel di sepanjang jalan. Ia merasa sangat kesal, bagaimana bisa Vania tidak membangunkan dirinya sampai sesiang ini. Sungguh sangat keterlaluan sekali sahabatnya itu, batinnya. Alena buru-buru membasuh badannya, mandi yang biasanya memakan waktu sampai setengah jam, kali ini hanya dilakukan dalam waktu sepuluh menit. Entah mandi seperti apa yang ia lakukan, yang jelas semuanya harus dikerjakan secepat yang ia bisa. Setelah mandi, ia kembali ke kamarnya. Ia menoleh ke arah pintu kamar Vania ternyata sudah tertutup rapat. Ia mengarahkan pandangannya ke sekitar ruangan, sangat sepi, mungkin semua sudah berangkat bekerja, batinnya. Ia membuka pintu kamarnya dan menaruh handuk di sembarang tempat. Ia buru-buru membuka lemari baju dan mengambil baju yang pertama kali di pegangnya. Hasil padu padan bajunya selama lima menit itu, membuat penampilannya terlihat berantakan. Baju atasan warna hitam dan rok warna hitam membuat penampilannya seperti orang yang akan berangkat ke acara pemakaman. Namun ia sudah tak perduli lagi, yang penting ia cepat selesai dan secepatnya berangkat ke kantor. Ia menyisir rambut panjangnya dan hanya memakai make up seadanya, tak lupa mengoleskan lipstik warna orange di bibir tipisnya. Ia menyambar tas kerjanya dan turun ke lantai bawah.
Alena sampai di ruang tamu, ia terkejut karena melihat Vania yang sedang rebahan dengan memakai baju rumahan. Ia tampak santai dengan memegang HP di tangannya. Vania yang melihat Alena memakai baju kerja, dan menenteng tas kerja di lengan kanannya, ikut bengong dan bertanya pada sahabatnya itu.
“Kamu mau kemana, Al?” tanya Vania dengan megerutkan dahinya.
“Loh, Van kamu nggak masuk kerja?” tanya balik Alena dengan keheranan.
“Sekarang kan hari libur, gimana sih?”
“Libur gimana, sekarang itu hari rabu, bukan minggu. Kamu ngelindur ya, Van?”
“Tuh ya, liat di kalender di depanmu. Ada tulisan tanggal sebesar itu dan tulisannya merah. Masak kamu nggak percaya juga.” Seru Vania yang melihat Alena tidak percaya dengan kata-katanya.
“Ya tuhan. Bodohnya aku.”
“Dari dulu.” Sahut Vania enteng.
“Kok jahat banget sih kamu.”
“Habisnya dibilangin malah ngeyel. Dah sana ganti baju lagi. Kasihan banget udah buru-buru dandan eh ternyata libur. Ha ... Ha ... Ha ....” Vania menertawakan Alena dengan sangat puas, sementara itu, Alena terlihat melemas dengan berjalan setengah sempoyongan, ia kembali ke lantai atas. Ia melemparkan tasnya dan menghempaskan tubunya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum sendiri menertawakan kebodohannya. Sebenarnya apa yang ada dipikirannya sekarang sehingga ia benar-benar lupa kalau hari ini adalah tanggal merah. Ia meraih HP di dalam tasnya dan membuka pesan w******p, yang sedari tadi belum ia buka karena buru-buru. Ia melihat beberapa pesan dari teman-temannya, termasuk satu pesan dari Ervin.
“Alena, kamu ada waktu hari ini? gimana kalau hari ini kita mantai mumpung masih pagi.” Ia membaca pesan dari Ervin dengan tersenyum. Dilihatnya jam pesan itu diterima, ternyata dari jam setengah delapan pagi tadi. Perlahan ia membalas pesan itu dan mengirimkannya pada Ervin. Tanpa menunggu waktu lama, pesan Alena dibalas oleh Ervin. Alena terlihat senang melihat balasan dari Ervin. Ia bergegas mengganti bajunya dengan atasan berwarna pink yang bercorak floral dan celana hotpants berwarna hitam pendek, yang membuat penampilannya kali ini terlihat cantik dan mempesona. Tak lupa ia memakai jaket untuk menutupi tubuhnya saat di perjalanan nanti, karena pastinya Ervin akan membawa motor untuk pergi ke sana. Sepertinya dandannya hari ini tidak berakhir sia-sia, dan hari ini ia tidak terlalu kecewa karena ada yang mengajaknya keluar jalan-jalan.
Setelah membetulkan make upnya, Alena duduk di tepi ranjang. Ia menunggu Ervin yang katanya sudah berangkat lima menit yang lalu. Bosan menunggu di kamar sendirian akhirnya ia turun ke ruang tamu sekalian berpamitan dengan Vania. Ia turun dan duduk di sebelah Vania. Sahabatnya itu penasaran dan akirnya bertanya pada Alena.
“Kamu mau kemana, Al.”
“Mantai.” jawab Alena singkat.
“Sama siapa? enak banget sih.”
“Sama Mas Ervin, kenapa? kamu pengen ikut?”
“Emang boleh?”
“Boleh aja, tapi kamu bawa motor sendiri ya.”
“Asik, kalau gitu aku ganti baju sebentar.” Setelah berbicara seperti itu, Vania buru-buru pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah menunggu agak lama, Vania kembali ke ruang tamu dan duduk di sebelah Alena. Ia memakai baju pantai yang hampir mirip dengan Alena, karena memang belinya dengan model yang sama. Tak lama kemudian terdengar pintu rumah depan di ketuk dengan pelan. Alena berdiri dan menuju ke pintu kemudian membukanya. Ternyata sesuai dengan dugaannya yang datang adalah Ervin. Sejenak Alena terpukau dengan penampilan laki-laki di depannya itu. Entah kenapa Ervin selalu pantas memakai baju apapun di mata Alena. Meskipun laki-laki itu tidak setampan Alvin, tapi ia selalu terlihat menarik dengan penampilannya. Ervin melepas kaca mata hitamnya dan masuk ke dalam kostan Alena. Ervin sempat terkejut melihat Vania yang juga memakai baju pantai seperti Alena. Apakah Vania juga ikut dengan mereka? karena rasa penasarannya akhirnya ia pun bertanya pada Vania.
“Kamu ikut juga, Van?”
“Iya, Mas. Boleh kan aku ikut?” tanya gadis itu dengan muka imutnya.
“Bo-boleh nggak apa-apa.” jawab Ervin dengan terbata-bata.
“Iya Vania aku ajak, Mas. Boleh kan dia ikut?”
“Iya nggak apa-apa, Al. Enak banyak orang tambah ramai.” Jawab Ervin yang terlihat agak sedikit kecewa, tapi berusaha ia tutupi dengan senyuman di bibirnya. Awalnya Ervin hanya mengajak Alena sendirian, dengan tujuan agar ia bisa lebih dekat dengan Alena. Selain itu ia bersama Alena bisa menikmati indahnya pemandangan pantai dan suara deburan ombak yang memicu ketenagan hati, tanpa gangguan siapapun. Namun di luar dugaan ternyata Vania ikut dalam rencananya ini. Tubuh Ervin melemas, semua tak sesuai dengan apa yang sudah direncanakannya. Dengan adanya Vania, Ervin pasti tidak bisa berduaan dengan Vania, itu akan membuatnya tidak leluasa untuk mendekati Alena. Namun bagaimanapun juga ia tidak bisa melarang Vania, karena Alena sudah terlanjur memperbolehkannya untuk ikut. Meskipun rencananya kali ini telah berantakan, tapi setidaknya hari ini ia bisa pergi bersama Alena meskipun tidak berdua, dan masih banyak kesempatan lagi buatnya untuk mendekati gadis yang diam-diam dicintainya itu.