33.Kesalahan Kedua 33

1004 Words
Suasana Villa yang dingin dan menyejukkan membuat Alvin betah berlama-lama dalam selimutnya. Suara kicauan burung dan semilir angin yang berhembus membuat ia semakin tenggelam dalam mimpi indahnya. Kamar Villanya memang tidak memiliki AC, karena angin dari luar yang masuk dari celah-celah lubang ventilasi yang agak lebar, sudah membuat ruangan itu menjadi terasa dingin. Apalagi saat dini hari, udara kamar serasa membuat orang yang tinggal di dalamnya membeku seperti es. Hari ini ia sengaja ijin tidak masuk kerja, karena ia ingin menghabiskan waktunya di villa itu. Ia masih ingin menikmati kesendiriannya dan melupakan semua masalah yang membuat pikirannya pusing. Ia membuka kelopak matanya saat terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Ia perlahan bangun dari ranjangnya dan menuju ke pintu kamar. Saat ia buka, terlihat Pak Yono sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa sebuah baki yang berisi sepiring nasi goreng dan es teh panas. “Maaf Mas Alvin, sudah jam sepuluh pagi. Silahkan sarapan dulu, keburu dingin nasi gorengnya.” Suruh Pak Yono dengan ramah. “Oh iya Pak Yono, terimakasih.” “Iya, sama-sama, Mas. Saya taruh di meja dalam kamar yang Mas.” “Iya, Pak. Maaf merepotkan.” Sahut Alvin seraya membungkukkan badannya di depan Pak Yono. “Enggak kok, Mas. Sudah jadi tanggung jawab saya.” Jawab Pak Yono sembari meletakkan sepiring nasi itu di atas meja di dalam kamar. Pak Yono memang bertugas untuk memastikan semua penghuni Villa agar terpenuhi segala kebutuhannya, salah satunya tentang makanan mereka. Selain sebagai penunggu Villa, Pak Yono adalah seorang koki yang handal. Rasa masakannya bahkan seperti masakan koki bintang lima. Tak jarang keluarga Alvin malah menyuruhnya memasak, ketimbang harus makan di luar yang kadang tidak menjamin rasanya enak. Setelah meletakkan makanan itu, Pak Yono keluar dari kamar Alvin, dan menutup pintunya kembali. Bau rempah-rempah yang tercium dari sepiring nasi goreng yang masih panas itu, tiba-tiba saja membuat perutnya lapar. Tanpa berpikir panjang ia memakan semua nasi goreng itu sampai habis. Setelah menghabiskan makanannya, ia beranjak dari ranjang dan meraih HPnya atas nakas. Ia menghidupkan HPnya yang tadi malam memang sengaja ia matikan. Ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan w******p dari Sovia. Entah kenapa Alvin sedikit terenyuh saat membaca pesan Sovia, yang isinya meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi sikapnya yang membuat Alvin marah. Bahkan Sovia mengirimkan beberapa voice note yang isinya menangis dan meminta maaf pada Alvin. Ia mulai bingung, apakah ia harus kembali ke rumah saat ini. Setelah agak lama berpikir akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia sadar memang perbuatannya saat ini adalah lari dari masalah bukan malah menyelesaiikan masalah. Lagian ini adalah awal dari perjalanan rumah tangganya dengan Sovia, sebagai seorang kepala rumah tangga yang baik, perbuatannya saat ini, memang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Ia Harus menjadi contoh yang baik bagi istri dan anak-anaknya kelak. Alvin mengganti bajunya dengan baju yang ia pakai saat datang tadi malam. Sengaja ia tidak mandi, karena air di sana terasa sangat dingin jika pagi hari. Ia hanya mencuci mukanya dan menggosok gigi, setelah itu ia buru-buru mengambil tas kerjanya dan keluar dari kamar. Ia mencari sosok Pak Yono di sekitar Villa itu. Setelah bertemu dengan laki-laki setengah baya itu, ia pun berpamitan dan kembali ke mobil. Ia mengendarai mobilnya dengan perlahan, karena lalu lintas yang ramai dan macet maka waktu yang ia tempuh ke surabaya menjadi agak lama. Tepat siang hari, ia sudah menginjakkan kakinya di kota surabaya. Ia sudah sampai di halaman rumahnya dan memarkir mobilnya di depan rumah. Ia masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan yang memang kemana-mana selalu ia bawa. Setelah pintu rumah terbuka, ia masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya ia saat melihat rumah sangat berantakan. Terlihat barang pecah dimana-mana dan baju-baju berserakan. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, ketakutan mulai menyelimuti dirinya, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, ia tidak mau berpikiran macam-macam. Dengan perlahan, ia masuk ke dalam kamar. Ia mencari Sovia yang tidak ia temukan saat masuk ke dalam rumah tadi. Sampai di kamar ia sangat terkejut, saat melihat istrinya itu terkapar di atas ranjang dengan badan yang lemah dan tangan yang sudah berlumuran darah. Wajahnya pucat dan bibirnya terlihat membiru. Tanpa banyak perpikir, ia langsung membopong tubuh istrinya itu menuju ke mobil dan membawanya ke salah satu rumah sakit terdekat. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Darah tak henti-hentinya menetes dari pergelangan tangan Sovia. Alvin semakin kebingungan saat ia mencoba menyadarkan Sovia tapi tak ada respon sama sekali dari tubuhnya. Ia mulai berpikir negatif, apakah mungkin Sovia sudah tidak bisa diselamatkan? mengapa ia dengan begitu bodohnya tidak memikirkan apa akibat dari ke marahannya tadi malam. Ia sungguh tdiak bisa mengontrol emosinya karena teringat dengan sikap Alena padanya. Ia mulai kehilangan akal sehatnya saat cemburu mulai menguasai pikirannya. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya berusaha menyelamatkan wanita yang sudah dinikahinya itu. Ia mencoba mengambil ponsel dari dalam saku celannya, mencoba menelpon dokter langganannya, untuk memastikan saat ia tiba di rumah sakit semua yang dibutuhkan sudah disiapkan. Dalam kekalutannya ada rasa penyesalan yang teramat sangat dalam hatinya. Andaikan ia tidak keluar rumah dan tidak menuruti egonya mungkin saat ini Sovia masih baik-baik saja. Sesekali ia menoleh ke arah kursi penumpang, melihat wajah Sovia yang sudah kelihatan sangat pucat. Di sepanjang perjalan ke rumah sakit ia berdoa, agar Sovia dapat di selamatkan. Setelah beberapa lama berpacu dalam ketakutannya akhirnya Alvin sampai di rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya di depan ruangan Instalasi Gawat Darurat di rumah sakit itu. Beberapa orang perawat membantunya untuk membawa tubuh Sovia ke dalam ruang gawat darurat. Mereka memasukkan Sovia ke dalam ruang perawatan, sementara Alvin diminta untuk menunggu di kursi yang telah di sediakan di luar ruangan. Ia berdiri dan mondar mandir di luar ruangan, hatinya tidak tenang. Ia berharap Sovia akan bisa di selamatkan. Setelah menunggu beberapa lama di luar ruangan, tiba-tiba pintu sudah terbuka. Terlihat dokter keluar dari ruangan itu. Wajah Alvin terlihat tegang, tangannya gemetaran, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang, ia masih belum siap mendengar berita yang akan disampaikan oleh dokter di hadapannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD