34. Kesalahan Kedua 34

1040 Words
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Alvin pada dokter itu. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang teramat sangat. Ia adalah dokter langganan Alvin, namanya dokter agus. Setiap sakit Alvin pasti datang ke tempat prakteknya, dan ia adalah salah satu dokter kepercayaan di keluarga Alvin. “Syukurlah anda sudah membawa istri anda ke Rumah sakit tepat waktu, Pak Alvin. Istri anda sudah melewati masa kritisnya dan sekarang kondisinya sudah stabil,.” Jelas Dokter Agus. “Terimakasih banyak atas bantuannya, Dok.” Ucap Alvin. “Iya sama-sama, Pak Alvin. Baik saya tinggal dulu, karena masih ada pasien yang lain. Setelah ini istri anda akan dipindahkan ke ruang perawatan.” Pamit sang Dokter sembari menjabat tangan Alvin. “Iya, Silahkan, Dok.” Sahut Alvin dengan membungkukkan badannya dan membalas jabat tangan Dokter Agus. Alvin merasa sangat lega mendengar keterangan Dokter Agus. Ia sangat bersyukur karena Sovia dapat terselamatkan. Setelah Sovia dipindahkan ke ruang perawatan, ia pun sudah di perbolehkan untuk melihat keadaan istrinya itu. Ia masuk ke ruang perawatan. Di dalam ruangan yang serba putih itu, ia melihat istrinya yang terbaring dengan lemah di ranjang rumah sakit. Ia menghampiri wanita itu, memandang wajahnya yang terlihat memucat tapi tetap kelihatan cantik. Pergelangan tangan kanannya yang terluka telah terbungkus oleh perban dan ada selang infus ditangan sebalah kirinya. Ia mengelus rambut Sovia dan duduk di sebelah ranjangnya. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa istrinya itu. “Maafkan aku, Sov.” Gumamnya nyaris tak terdengar. Suaranya terdengar parau, ada rasa penyesalan yang mendalam di dalam suaranya itu. Iya, memang ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi dengan Sovia. Ia tidak bisa membayangkan kalau saja ia datang terlambat, mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya. Sekarang semua sudah berlalu. Ia berjanji pada dirinya sendiri setelah ini akan menjaga Sovia, dengan sepenuh hati. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan meninggalkan Sovia, dalam kemarahannya seperti tadi malam. Ia akan berusaha mengontrol emosinya sendiri. Bagaimanapun juga sekarang Sovia telah menjadi istrinya, jadi apapun yang terjadi ia harus bisa lebih bisa memahami istrinya itu. **** Alena duduk di tepi pantai. Ia merenung sambil memandang lautan lepas yang terhampar sangat indah di depannya. Semilir angin laut dan suara deburan ombak membuat pikirannya menjadi tenang. Ia harus berterima kasih pada Ervin karena telah mengajaknya ke sini. Paling tidak di tempat ini ia bisa merasakan kedamaian. Semua masalah yang memenuhi kepalanya berangsur-angsur mulai memudar. Di depannya ia melihat Vania dan beberapa orang asing, yang sedang asyik berenang. Ada juga beberapa orang yang sedang asyik berselancar, sepertinya mereka juga menikmati indahnya pantai ini sama seperti dirinya. Ervin yang melihat Alena, sedang duduk sendirian dengan beralaskan pasir putih, langsung menghampirinya. Ia duduk di sebelah Alena, mengikuti apa yang sedang di lakukan oleh gadis itu. Alena yang menyadari kedatangan Ervin pun menoleh ke arahnya. Ia memberikan senyum manisnya pada laki-laki di sebelahnya itu. “Makasih.” Ucapnya pelan. “Untuk?” tanya Ervin dengan mengernyitkan dahinya. “Karena telah mengajakku ke sini.” Jawabnya tersenyum. “Sama-sama, Al. Kalau kamu suka dengan keaadaan di pantai ini, kita bisa ke seni sesering yang kamu mau.” “Benar, Mas?” tanya Alena dengan wajah yang sumringah. “Iya.” Sahut Ervin, dengan memandang gadis di sebelahnya itu. Ervin, ya laki-laki itu perlahan telah merebut posisi Alvin di hati Alena. Ia telah membuat Alena sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya. Laki-laki yang hangat, perhatian dan penyanyang itulah sosok Ervin di mata Alena. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, setelah menikmati sunset, mereka pun memutuskan untuk pulang. Sudah seharian ini Alena menghabiskan waktu di pantai bersama Ervin dan Vania, kini sudah waktunya Alena harus kembali ke kostannya. Ervin mengendari motornya berboncengan dengan Alena, sedangkan Vania mengendari motornya seorang diri. Mereka sampai di kostan sekitar pukul delapan malam, karena setelah dari pantai mereka menyempatkan diri untuk membeli makan malam terlebih dulu. Setelah sampai di kostan Ervin memarkirkan motornya di halaman kost, sedangkan Vania sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Alena mempersilahkan Ervin untuk duduk di kursi depan rumah. Sedangkan dirinya pamit untuk masuk menaruh barang-barangnya di dalam kamar. Ervin merebahkan badannya dia atas kursi yang terbuat dari kayu rotan itu. Badannya serasa capek semua, tapi ia merasa capek itu telah terbayarkan tatkala melihat Alena begitu senang. Tampaknya Alena sangat menikmati saat di ajak ke pantai tadi siang. Meskipun kali ini Ervin tidak bisa menikmati waktu hanya berdua dengan Alena, tapi setidaknya ia sudah merasa senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Alena. Setelah beberapa saat menunggu di depan rumah, akhirnya Alena keluar juga. Ia sudah mengganti bajunya dengan baju rumahan yang nyaman. Badannya terlihat sangat segar setelah mandi dan membersihkan tubuhnya. Alena duduk di sebelah kursi Ervin, ia manarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Hawa dingin mulai menyeruak, merasuk ke dalam tubuhnya, karena ia habis mandi maka dirinya merasa semakin kedinginan. Ervin yang melihat Alena menggigit bibirnya karena kedinginan, merasa ada getar aneh dalam dirinya. Apa yang ia pikirkan, apakah hawa dingin ini membuat pikirannya menjadi kotor. Tidak, ia merasa harus kembali pulang ke kontrakan Angga, sebelum ia tidak bisa mengendalikan dirinya sehingga akan membuat Alena membencinya. “Al, aku pamit pulang dulu ya. Udah malam.” “Buru-buru banget, Mas. Masih jam delapan malam loh.” “Iya, nih. Badanku capek semua, Al.” “Ya udah, Mas pulang aja nggak apa-apa, istirahat ya kalau sampai di rumah!” “Iya , Al. Makasih ya.” Ervin buru-buru bangun dari kursinya, begitu pula dengan Alena. Terlalu buru-buru mereka berdiri dari kursi masing-masing, sehingga membuat keduanya saling bertabrakan. Tanpa sadar Ervin memeluk pinggang Alena, dengan satu tangannya. Ia melakukan itu untuk menjaga keseimbangan tubuh Alena agar tidak jatuh. Kini mereka berada di posisi yang saling berhadapan satu sama lain. Mata keduanya saling bertatapan, entah kenapa ada getar aneh yang dirasakan oleh keduanya. Ervin tak dapat menahan gejolak yang ada di hatinya, tadi ia sudah berusaha menahannya, tidak dengan kali ini. Semakin lama bibir mereka saling mendekat satu sama lain. Sangat dekat sehingga mereka sama-sama merasakan hembusan nafas masing-masing. Hembusan nafas yang berbau mint, yang semakin membuat Ervin terhanyut dalam perasaannya sendiri. Mereka seperti kehilangan kesadaran, tidak ada yang tahu siapa yang memulainya duluan, yang jelas sekarang bibir mereka saling bertautan satu sama lain. Rasanya sangat lembut sampai keduanya menikmati perasaan itu, perasaan yang muncul tanpa mereka sadari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD