Alena masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Alvin. Sejenak suasana berubah tegang. Tangan Alena kelihatan gemetaran, keringat dingin mengucur dari kulit putihnya.
“Kamu abis darimana?” tanya Alvin dengan sorot matanya yang menahan amarah.
“Aku tadi jalan-jalan sama Sovia ....” jawab Alena lirih.
“Kenapa kamu nggak bilang hah …?!” bentak Alvin sembari memukul setir mobilnya dengan keras. Alena terkejut dan langsung menundukkan kepalanya. Entah kenapa ia tidak pernah bisa membantah setiap kali Alvin membentaknya. Mungkin karena Alena sudah menganggap Alvin adalah orang yang istimewa dalam hidupnya.
“Tadi Hpku mati, lowbat!” Alena berbohong agar Alvin tidak bertambah marah padanya.
“Mana coba lihat?” ketus Alvin dengan menodongkan tangannya meminta HP Alena. Ia terpaksa menyerahkan Hpnya ke tangan Alvin.
“Mana katanya lowbat, HP mu baik-baik saja tuh?” tanya Alvin setelah mengecek HP Alena.
“Emm … Sebenarnya tadi itu Mas Angga telepon pas aku lagi di mall sama Vania, karena males di teleponin lagi akhirnya aku mematikan HPku.” Jawab Alena dengan setengah ketakutan. Alvin menghembuskan nafas berat. Ia berusaha meredam emosinya yang hampir memuncak.
“Kenapa kamu nggak terus terang aja, kenapa harus pakai alasan HP lowbat? kamu nggak tau betapa khawatirnya aku tadi, saat kamu nggak bisa di telepon. Aku coba datang ke sini dan bertanya ke salah satu teman kostmu katanya kamu belum pulang. Aku takut kamu kenapa-kenapa, Al!” jelas Alvin sembari menatap mata Alena dengan perasaan yang dalam. tatapan matanya sangat berbeda dengan saat mereka pertama kali mereka bertemu tadi. Tatapan mata Alvin begitu tulus sekaan-akan dia benar-benar takut kehilangan Alena. Tatapan inilah yang selalu membuat Alena tenang dan tidak bisa jauh-jauh dari Alvin. Kasih sayang dan perhatiannya ke Alena sangat tulus tanpa dibuat-buat. Hal itulah yang membuat Alena benar-benar sudah menempatakan Alvin di dasar hatinya yang paling dalam. Meskipun sikap Alvin yang terkadang tempramental tapi sebenarnya dia sangat menyayangi Alena.
“Maafkan aku Al, tadi aku udah marah-marah sama kamu. Maaf juga karena seharian aku nggak hubungi kamu. Aku bener-bener sibuk. Kerjaanku banyak.” Kata Alvin sambil memegang kedua tangan Alena. Sorot matanya memelas membuat Alena tidak tega untuk tidak memafkannya.
“Iya udah lupakan, Vin. Aku juga salah harusnya aku tadi nggak mematikan HPku. Maafkan aku juga ya!” pintanya pada Alvin. Alvin mengangguk dan merangkul Alena merekapun akhirnya berbaikan malam itu.
***
Keesokan harinya di kantor, tidak seperti biasanya map aplikasi bertumpuk di depan meja Alena, dan kebanyakan itu adalah aplikasi Alvin. Ia mengerjakan aplikasi tersebut sesuai dengan urutan, meskipun sekarang Alvin adalah kekasihnya tapi ia tidak suka KKN. Adit yang pada dasarnya sudah menaruh dendam dengan Alvin, sengaja menghasut para marketing yang lain agar mengajukan protes ke bagian entry data. Ia menghasut teman-temnnya dengan mengatakan kalau Alena ada hubungan dengan Alvin, sehingga setiap aplikasi Alvin yang masuk ke bagian entry data selalu didahulukan. Teman-temannya yang tidak tahu kejadian yang sebenarnya akhirnya terpancing emosi. Hal itu membuat salah satu marketing cewek yang bernama Nisa, ikut tersulut emosinya. Ia mendatangi bagian entry data dan tiba-tiba melabrak Alena.
“Heh … Alena!” seru Nisa sambil mendatangi meja Alena.
“Iya, Mbak Nisa? Ada yang bisa dibantu?” jawab Alena sambil sambil mendongakkan kepalanya ke arah Nisa.
“Mentang-mentang Alvin pacarmu jadi dengan seenaknya kamu ngerjain aplikasi punya dia tanpa melihat urutan, gitu? terus apa gunanya kita capek-capek kerja nyari konsumen, kalau ujung-ujungnya aplikasi punya Alvin semua yang kamu duluin!!” serang Nisa dengan melemparkan map aplikasi Aplikasi Alvin di depannya.
“Maksud kamu apa ya Nis? datang marah-marah dan ngomel-ngomel seenaknya. Mana buktinya kalau memang Alena seperti itu?” bela Vania.
“Bukti? buat apa pakai bukti kalau di depan mata sudah jadi buktinya. Liat aja di meja Alena map yang ditumpuk hampir semuanya punya Alvin. Mau bukti apalagi?” Nisa tetap kekeh dengan asumsinya dan mencoba mempertahankan pendapatnya. Sementara itu hampir seluruh isi kantor melihat ke arah mereka bertiga.
“Kalau mau ngomong dipikir dulu ya mbak! coba cek daftar urutan aplikasi ini. Aplikasi siapa yang duluan masuk ke bagian entry data? Jangan asal nuduh orang sembarangan!” bantah Alena dengan memperlihatkan sebuah buku yang berisi urutan aplikasi data masuk, yang memang di urutan pertama adalah punya Alvin semua. Nisa tidak mau sedikitpun melihat buku yang dipegang oleh Alena, ia tetap teguh pada pendiriannya.
“Percuma aja kamu jelasin ke aku, aku nggak bakal percaya. Sekarang gini aja deh Al, ikut aku ke ruangan Pak Hartono, jelasin semuanya pada beliau biar clear masalahnya!” ajak Nisa.
“Oke, siapa takut. Lagian aku juga nggak salah!” tantang Alena, sedangkan Vania sudah pasang badan untuk tetap membela sahabatnya itu. Awalnya Vania mau ikut dengan mereka, tapi Alena melarangnya. Akhirnya hanya mereka berdua pergi ke ruangan Pak Hartono, tidak lupa Alena membawa semua bukti-bukti yang ia punya. Sampai di ruangan Pak Hartono keduanya dipersilahkan masuk dan dipersilahkan duduk. Alena menjelaskan duduk permasalahannya pada Pak Hartono. Sedangkan Nisa terus saja menyangkal semua penjelasan Alena dan berusaha menyudutkannya seolah-olah ia memang bersalah. Pak Hartono memeriksa semua bukti-bukti yang dibawa oleh Alena dan memang setelah dicek tidak ada yang janggal di sana. Alena sudah melakukan pekerjaannya sesuai dengan SOP. Pada akhirnya Pak Hartono menjelaskan secara detail langkah-langkah apa saja yang harus dikerjakan saat ada aplikasi masuk ke bagian entry data. Syarat-syarat seperti apa saja yang bisa membuat data konsumen tersebut layak atau tidak, untuk masuk di dalam buku urutan entry data. Dari situlah Nisa baru paham dan menyadari kesalahannya, karena memang prosedur yang dikerjakan oleh Alena sudah benar dan sudah sesuai dengan SOP yang berlaku dan tidak akan bisa dimanipulasi sendiri urutannya.
“Iya, Pak. Maaf kan saya mungkin saya yang terlalu gegabah marah-marah pada Alena, saya terlalu mudah mempercayai kata orang lain tanpa ada bukti yang jelas!” kata Nisa dengan menundukkan kepalanya.
“Jangan minta maaf pada saya, minta maaf lah pada Alena, karena yang kamu marah-marahin bukan saya, tapi dia.” Jelas Pak Hartono dengan menunjuk tangannya ke arah Alena. Nisa menganggukkan kepala memutar tubuhnya menghadap ke arah Alena.
“Maaf kan aku, Al. Aku terlalu emosi sampai marah-marah sama kamu, harusnya aku tidak terpancing emosi begitu aja tadi!” sesal Nisa.
“Nggak apa-apa santai aja Mbak, aku ngerti kok.” Kata Alena dengan tersenyum.
“Saya beritahu satu hal ya Nisa. Meskipun Alena adalah karyawan baru di perusahaan ini, tapi dia orang yang kompeten. Jadi saya yakin dia bisa melakukan pekerjaannya dengan benar sesuai dengan SOP yang berlaku.” Jelas Pak Hartono. Mendengar kata-kata Pak Hartono, Alena merasa tersanjung dan senang karena ternyata diam-diam managernya itu mengakui kinerjanya selama ini.
“Iya Pak, sekali lagi saya minta maaf.” ucap Nisa lirih.
“Iya sudah kalau masalahnya sudah clear sekarang kalian berdua silahkan kembali bekerja. Maafkan karena saya masih banyak pekerjaan yang lain!” kata Pak hartono seraya berdiri dari tempat duduknya. Mempersilahkan mereka meninggalkan ruangan tersebut.
“Baik Pak.” Jawab mereka berdua hampir bersamaan, kemudian keluar dari ruangan tersebut.
“Al, aku bener-bener minta maaf sama kamu ya. Tolong mafkan aku!” pinta Nisa dengan wajah memelas.
“Iya nggak apa-apa lupain aja. Tapi aku penasaran sebenarnya siapa orang yang kasih tau mba Nisa, sampai mbak marah-marah sama aku kayak tadi?”
“Emm … Yang bilang si Adit sih.” Jawab Nisa pasrah.
“Ohh … Dia lagi!” ketus Alena.
“Maksudnya?”
“Nggak ada mbak, ya udah saya kembali kerja dulu ya.” Jawab Alena.
“Iya ,Al. Aku juga mau keluar cari aplikasi, tapi sebelum itu, aku mau semprot si Adit dulu. Bikin orang salah paham aja dia, aku jadi merasa malu dan bersalah banget sama kamu.” Kesal Nisa.
“Nggak usah mbak, diemin aja. Mungkin dia nggak bermaksud seperti itu.”
“Aduh kamu jadi orang baik banget si Al, kalau aku jadi kamu udah aku labrak tuh si Adit.”
“Aku nggak mau memperlebar masalah, mbak. Udah biarin aja!”
“Ya udah kalau gitu, sekali lagi maksih ya Al, udah mau maafin aku.”
“Iya sama-sama, mbak!” Setelah mengakhiri percakapan itu, Alena kembali ke ruangannya begitu juga dengan Nisa. Alena duduk kembali ke kursi kebesarannya, beberapa pasang mata terlihat menatap ke arah nya dengan penuh tanda tanya. Sementara Vania langsung memberondong dia dengan beberapa pertanyaan.
“Gimana hasilnya?” tanya Vania.
“Udah clear kok.”
“Untung aja kalau gitu, aku heran sama Nisa tumben dia ngamuk-ngamuk nggak jelas gitu!”
“Aku nggak tau Van, udah lupain aja!”
“Tunggu deh, tadi Nisa bilang kamu deket sama Alvin, apa mungkin kamu udah pacaran sama dia ya? Ayo ngaku!” Deg Alena terkejut mendengar kata-kata Vania. Ia melupakan satu hal bahwa sampai detik ini, sahabatnya itu masih tidak mengetahui hubungannya dengan Alvin. Alena diam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Alena berfikir inilah saat yang tepat baginya untuk berterus terang pada Vania, tentang hubungannya dengan Alvin.
“Jadi beneran kamu udah pacaran sama Alvin?”
“Iya Van.” Vania melongo mendengar jawaban Alena. Memang selama ini ia sudah tahu mereka berdua dekat, tapi ia tidak menyangka kalau mereka begitu cepat menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
“Udah berapa lama? Sejak kapan kalian jadian? pokoknya nanti malam kamu wajib cerita sama aku! bisa-bisanya kamu nyembunyiin hal ini dari aku. Jahat!” ketus Vania.
“Iya nanti malam aku cerita. Ya udah ini di kantor jangan ngerumpi terus. Ayo lanjut kerja!’
“Siap Bos!” kata Vania sambil kembali ke tempat duduknya dan menatap kembali layar komputernya.
Sore hari sepulang kerja, seperti biasa Alvin menjemput Alena di kantor. Alena menceritakan kejadian tadi siang padanya. Mendengar cerita dari Alena, Alvin tersulut emosinya. Alena berusaha membujuk Alvin agar tidak memperpanjang masalah ini. Mungkin kalau Alena tidak mencegahnya, dia akan menghajar Adit pada saat itu juga. Sungguh dia tidak menyangka Adit akan melakukan hal yang selicik itu untuk membalaskan sakit hatinya. Malam itu sejenak Alvin berusaha melupakan peristiwa tersebut. Namun ia berjanji dalam hati tidak akan melepaskan Adit kalau sampai laki-laki itu membuat ulah kembali.