Pagi ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, tapi sang gadis pemilik kamar masih bermalas-malasan di balik selimut tebalnya. Bunyi ayam berkokok dan suara riuh orang-orang di dalam rumah itu, sama sekali tidak mengganggu mimpi indahnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Perlahan ia membuka kedua matanya yang terasa lengket. Ia berjalan dengan setengah sadar membuka pintu kamarnya. Terlihat Vania, sahabatnya sudah berdiri di depan pintu sambil mengalungkan handuk berwarna pink di lehernya. Rambutnya terlihat basah sehabis mandi.
“Al, tumbenan kamu baru bangun, ini udah jam setengah tujuh pagi loh.”
“Aku masing ngantuk banget Van.” Katanya sambil mengucek-ngucek mata.
“Kamu lupa ya, kalau hari ini kita ada meeting divisi jam delapan pagi?”
“Astaga!” setelah mengatakan itu ia kembali ke dalam kamar, menyambar handuk kemudian menabrak Vania yang masih tetap berdiri di depan pintu. Alena sangat ketakutan sekali mendengar kata-kataa meting divisi, karena ia tahu setiap karyawan yang datang telat di meeting itu pasti akan melihat sisi lain dari pak Hartono. Orang yang biasanya berbicara dengan santun dan bahasanya yang halus itu, akan berubah menyeramkan saat ia marah, karena itulah Alena tidak mau memancing kemarahan managernya tersebut.
***
Di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Surabaya, seorang gadis cantik tengah berjalan menuju ke toko baju langganannya. Sebuah toko baju dengan merk terkenal. Ia terlihat sangat fashionable dengan memakai kaos warna putih polos dan hotpants warna hitam, tak lupa memakai kaca mata hitam sebagai pelengkap penampilannya. Gadis itu membeli semua keperluannya, kemudian menuju ke food court di lantai tiga di gedung itu. Setelah mendapatkan tempat duduk yang dirasa nyaman, ia memesan semangkok mie ramen dan segelas jus jeruk manis kepada pelayan. Jari-jari lentiknya tampak sibuk memainkan Hpnya, sembari menunggu pesanan makanan datang. Terkadang ia melihat media sosial teman-temannya dan memberikan tanda love pada salah satu postingan temannya itu. Saat sedang asyik dengan Hpnya tiba-tiba seorang laki-laki tidak sengaja menyenggol tangannya sampai Hpnya terjatuh di bawah meja. Seketika ia terkejut. Ia berdiri bersiap-siap untuk mengeluarkan kata-kata umpatannya, tapi ia mendadak diam setelah melihat wajah laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya itu. Laki-laki yang selama empat tahun terakhir ini sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya.
“Maafkan saya mbak, saya nggak sengaja.” Kata Alvin dengan membungkukkan tubuhnya mengambil HP yang terjatuh.
“Kamu Alvin kan?” tanya Sovia yang seakan-akan masih tidak percaya pada penglihatannya.
“Ya, saya Alvin … Kamu Sovia?” Jawab Alvin menunjukkan ekspresi yang tak kalah terkejut seperti Sovia.
“Iya aku Sovia, Vin. Udah lama banget ya kita nggak ketemu?”
“Iya udah hampir empat tahunan.” Jawabnya dengan mengembalikan HP yang ia pegang kepada pemiliknya.
“Kamu nggak berubah Vin, tetap sama seperti dulu. Hanya saja sekarang kamu bertambah …”
“Maaf, Sov. Aku lagi sibuk sekarang. Ada janji dengan orang.” Potong Alvin sebelum Sovia menyelesaikan kalimatnya.
“Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, kita ngobrol-ngobrol sebentar ya!” ajak Sovia.
“Iya, mungkin di lain waktu.” Jawab Alvin cuek.
“Boleh aku minta nomer teleponmu?”
“Aku berikan kartu namaku aja ya, aku buru-buru.” kata Alvin sembari membuka dompet dan menyerahkan sebuah kartu nama pada Sovia.
“Oke boleh, maksih ya Vin!” kata Sovia tersenyum.
“Oke bye, Sov.” jawab Alvin dengan melambaikan tangannya. Alvin terkesan menghindari Sovia, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Sejenak gadis dua puluh lima tahun itu berdiri terdiam di tempatnya. Kedua matanya terlihat memendam kesedihan yang mendalam. Ia tak menyangka akan bertemu dengan laki-laki yang empat tahun ini, sudah berusaha dia lupakan. Semua kisah manis dengan Alvin tiba-tiba saja berputar-putar memenuhi pikirannya. Alvin adalah satu-satunya laki-laki yang bener-bener tulus mencintainya. Ia tinggalkan begitu saja, hanya karena saat itu karier lebih penting baginya. Tentu saja setelah itu dia sangat menyesal, tapi gengsi mengalahkan segala-galanya. Ia mencoba melupakan Alvin dengan berpacaran dengan bosnya sendiri, tapi pada akhirnya Bosnya itu lebih memilih kembali kepada istri sahnya daripada bersamanya. Mungkin baginya tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan Alvin dalam hatinya. Sosok Alvin sangat membekas di dalam pikirannya, dan tidak mudah dilupakan begitu saja. Berkali-kali ia menghubungi Alvin saat itu, tapi ternyata nomer hpnya sudah tidak aktif lagi. Ia benar-benar kehilangan jejak Alvin untuk selama-lamanya. Sampai pada hari ini takdir mempertemukan ia kembali dengan Alvin. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini, saat ini adalah saat yang tepat untuk menebus semua kesalahannya empat tahun yang lalu. Mencoba meminta maaf pada Alvin untuk semua kesalahannya dan akan memperbaikinya. Ia memasukkan kartu nama Alvin di dalam tasnya. Senyum manis tersungging di kedua sudut bibirnya, senyuman yang sangat sulit di artikan.
***
Sementara itu pikiran Alvin tiba-tiba tidak bisa fokus, pertemuannya dengan Sovia membuat ia mengingat-ingat masa lalunya. Masa lalu yang sudah lama dipendamnya dalam-dalam dan sebenarnya tidak mau ia buka kembali. Ia terus menerus merutuki nasib yang telah mempertamukannya kembali dengan Sovia. Orang yang dulu pernah sangat dicintainya dan sekaligus membuatnya sakit hati dalam waktu yang lama. Sejenak ia mencoba membayangkan wajah Alena orang yang selama ini menghiasi hari-harinya. Ia tersenyum dalam diam dan bersyukur karena ia punya seseorang yang membuat dirinya melupakan masa lalunya.
***
“Untung aja loh tadi kita nggak telat datang ke meeting divisi.”
“Kalau sampai telat bisa mampus kita, kamu tau sendiri kan Pak Hartono kalau lagi marah udah kayak singa kelaparan.” Seru Sovia.
“Makanya ngeri juga kalau aku bayangin Pas dia marahin mbak Dahnia kapan Hari.”
“Ya begitulah orang yang keliatannya sabar dan ramah, sekalinya marah malah menakutkan.”
”Ya udahlah, untung kita selamat hari ini.”
“Ehh … Al, pulang kerja kita ngemall yuk!”
“Boleh, mau kemana?” jawab Alena senang.
“Tumbenan sih kamu nggak nolak, padahal biasanya kamu sibuk sendiri dengan urusan-urusanmu itu!” sindir Vania pada Alena saat mereka berdua menikmati makan siangnya di pantry kantor.
“Aku lagi free, ayo aku anterin kamu muter-muter mall sampek kamu bosen!”
“Nah gitu dong … itu baru Alena!” senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Nah kalau bukan Alena, kamu anggep aku selama ini sapa dong? dasar!” sewot Alena.
“Kuntilanak … !” jawab Sovia sembari menutup mulut dengan menggunakan satu tangannya.
“Kamu temannya kuntilanak dong kalau gitu?” balas Alena dengan menjulurkan lidahnya kearah Vania. Tanpa sadar interaksi keduanya di lihat oleh si OB yang dari tadi sedang menikmati makan siang di sebelah mereka. OB itu bernama Ipung. Umurnya sekitar delapan belas tahun, dia baru lulus SMU saat melamar di perusahaan itu. Badannya kurus kering, wajahnya oriental dan rambutnya bergaya oppa-oppa korea. Tanpa sengaja Vania mengetahui saat Ipung menatap mereka dalam diam.
“Opo ndelok- ndelok? Kepo ae urusan wong!” celetuk Vania sambil pura-pura marah pada Ipung menggunakan bahasa jawa, untuk menggodanya.
“Sepurane mbak, aku gak ndelok kok mbak. Tak mangan ae wis.” Jawab Ipung menimpali kata-kata Vania. Mereka berdua akhirnya menahan tawa melihat ekspresi Ipung yang langsung menunduk, sambil menghabiskan makanannya.
“Bercanda kok, jangan dengerin kata-kata Vania ya!” kata Alena sambil menepuk bahu Ipung.
“He … he…he… Iya mba nggak apa-apa.” Jawab Ipung sambil meneruskan makannya. Sengaja Alena menyanggupi ajakan sahabatnya itu karena dari pagi Alvin sama sekali tidak menghubunginya. Alvin juga tidak mengirimkan chat seperti biasanya, jadi Alena menyimpulkan kalau Alvin sedang sibuk dan tidak dapat di ganggu. Akhirnya daripada ia mendapatkan timah panas dari Alvin seperti tadi malam, mendingan dia ikut dengan Vania untuk jalan-jalan. Melepas kepenatan akibat pekerjaan seharian yang sangat menumpuk.
Saat jam pulang kerja , berkali-kali Alena melihat Hpnya. Namun sama sekali tidak ada satu pesan pun dari Alvin. Seakan laki-laki itu tiba-tiba menghilang ditelan bumi. Akhirnya ia menghabiskan malam bersama Vania di Mall, berkeliling untuk membeli baju, parfum, kosmetik dan sepatu. Mereka juga tidak lupa mampir ke makanan favoritnya yaitu nasi padang.
“Makan dulu lapar.”
“Nasi padang ya? aku yang traktir!”
“Okelah cuzz … !” kata Vania sambil berjalan menuju ke stand masakan padang yang ada di food court di lantai paling atas mall itu. Setelah masuk dan mendapatkan tempat duduk yang diinginkan mereka menghabiskan waktu sampai tak sadar jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. HP Alena tiba-tiba berdering. Ia merogoh benda pipih itu dari dalam tasnya, berharap telepon itu adalah dari Alvin. Saat melihat ke layar HP ekspresinya menunjukkan kekecewaan . Nama yang muncul di layar HPnya bukan nama Alvin melainkan kakaknya yang super cerewet, siapa lagi kalau bukan Angga.
“Halo Mas, ada apa?” ketus Alena.
“Kok ketus gitu jawabnya?” jawab Angga di seberang sana.
“Malem-malem jangan nyari gara-gara deh Mas. Apa’an sih?” kesal Alena.
“Kamu di mana ini, kok rame banget? Sama siapa?”
“Mulai deh, sama Vania lah Mas, sama siapa lagi?”
“Kok belum pulang jam segini? Ini udah jam berapa?”
“Iya-iya abis ini pulang. Masih makan.”
“Kamu kan udah janji setiap Mas telepon, kamu harus udah ada di kost. Nah ini apa?” seru Angga.
“Iya Mas, abis ini aku pulang.” Jawab Alena datar.
“Ya udah kalau pulang ati-ati di jalan. Jangan mampir-mampir lagi udah mal …”
“Iya!!” belum selesai Angga meneruskan kata-katanya Alena langsung memutuskan teleponnya sepihak. Setelah itu ia mematikan Hpnya. Wajah Alena tampak menahan kekesalan. Vania yang melihat adegan kakak dan beradik itu hanya bisa tersenyum geli. Sangat menghibur pikirnya. Ia tidak menyangka, orang seganteng Angga tidak sibuk tebar pesona seperti laki-laki-laki-laki ganteng pada umumnya, malah sibuk mengurusi adiknya lagi dimana, dengan siapa dan sedang apa. Sungguh kakak yang sempurna.
“Kamu senyum-senyum kenapa Van? jangan ikut-ikutan nyebelin deh!” kesal Alena.
“Ishh … Siapa yang senyum-senyum?”
“Abisin makanmu abis itu kita pulang udah malam.” Suruh Alena pada sahabatnya itu.
“Oke!” jawab Vania sambil mengacungkan jempol tangannya. Setelah selesai dari Mall mereka pun pulang ke kost. Saat di perjalanan pulang hati Alena merasa tidak enak, lalu ia menyalakan Hpnya. Benar saja, Alvin mengirimkan pesan w******p pada Alena dan ia baru membacanya saat hampir tiba di kostan.
Apakah kamu di kost? Keluarlah sebentar, aku menunggumu di luar!.
Alena kaget saat membaca pesan dari Alvin. Pesan itu dikrim dua puluh menit yang lalu tepat saat dia sedang berboncengan dengan Vania diatas motor. Ia buru-buru membalas pesan Alvin tapi sudah terlambat. Terlihat mobil Alvin sudah terparkir dengan sempurna di seberang kostannya. Ia meminta Vania menurunkan dirinya di depan kostan. Vania yang melihat sikap aneh sahabatnya itupun akhirnya bertanya.
“Kamu kenapa Al?”
“Wajahmu kok panik gitu?”
“Ehh … Nggak apa-apa Van, kamu masuk dulu deh aku ada perlu sebentar.”
“Apa’an sih?”
“Nggak apa-apa kamu masuk duluan nanti aku nyusul.”
“Oke … Kalau ada apa-apa telepon aku ya!”
“Siap Van.” Tanpa banyak bertanya Vania langsung memasukkan motornya ke dalam parkir kostan, sedangkan Alena menghampiri mobil Alvin yang diparkir beberapa meter dari kostannya. Alvin terlihat keluar dari mobil dengan wajahnya yang masam. Dengan perasaan takut Alena menghampirinya.
“Masuk ke mobil bentar!” perintah Alvin dengan tatapan matanya yang mengintimidasi.