8.Kesalahan Kedua 8

1630 Words
Tempat kostan Vania terletak dia daerah perumahan. Sebuah rumah besar dengan halaman yang luas dengan sembilan buah kamar didalamnya. Rumah tersebut dihuni oleh tujuh orang penyewa kost, diantaranya adalah Alena dan Vania. Kamar mereka berdua kebetulan berada di lantai dua dan bersebelahan. Kamar Vania menghadap ke arah pintu gerbang utama, jadi ia bisa melihat siapa aja yang datang dan pergi dari rumah itu, sedangkan kamar Alena berada di sebelah kanannya. Sejak beberapa bulan kepindahan Alena ke kost yang baru, ia sering sekali pulang larut malam. Setelah pulang kerja ia tidak langsung pulang ke kostan, tapi pergi berdua dengan Alvin. Mereka sangat menikmati kebersamaan mereka. Kadang hanya sekedar makan malam atau menemani Alvin kerja. Begitulah setiap harinya sehingga ia tak ada waktu untuk sekedar ngobrol dengan Vania di kost. Alvin selalu memanjakan Alena, membuatnya seperti seorang ratu di dunia nyata. Sampai sekarang Alena masih merahasiakan hubungannya dengan Alvin. Meskipun Vania sudah mengetahui kedekatan antara mereka berdua, tapi ia masih belum tahu kalau sekarang keduanya sudah menjadi sepasang kekasih. Vania lebih memilih diam tidak bertanya apapun. Sampai pada suatu malam saat dirinya terbangun, ia tanpa sengaja memergoki Alena yang baru saja pulang ke kost. “Vin aku masuk dulu ya udah malam, aku nggak enak sama yang lain!” pinta Alena sambil melepaskan safety beltnya. “Tapi aku masih kangen.” rengek Alvin sambil memegang tangan Alena, persis seperti bocah yang berumur lima tahun. “Besok kan masih ada waktu, Vin.” Bujuk Alena. “Ya udah kamu masuk dulu, abis ini langsung tidur ya.” sahut Alvin sembari tangannya menyentuh kedua pipi Alena. “Iya, Vin!” jawab Alena sembari tersenyum. Ia bergegas keluar dari mobil, setelah Alvin membukakan pintu untuknya. Alena membalikkan badannya, berjalan meninggalkan Alvin. Belum jauh ia melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang kost, Alvin meraih tangan Alena, mendekap tubuhnya, kemudian m*****t bibir merahnya untuk beberapa saat. Sejenak mereka menikmatinya, sampai akhirnya Alena tersadar kalau mereka berada di tempat umum. Alena menarik bibirnya dan mendorong halus tubuh Alvin, sebagai pertanda permainan itu harus di akhiri. Kedua pipinya bersemu merah. Ini adalah pertama kalinya mereka melakukan hal itu di depan umum. Meskipun saat itu suasana sudah gelap tapi Alena takut Vania akan melihatnya dan pada akhirnya akan mengetahui hubungan mereka berdua. Dia belum siap. Sementara itu, Vania yang dari tadi melihat adegan itu dari balik kaca jendela kamarnya sangat terkejut. Ia membungkam mulutnya dengan satu tangan. Setelah itu ia bergegas menutup gorden yang disibaknya tadi, karena tiba-tiba Alena melihat ke arah kamarnya. “Udah, Vin, udah malem pulang sana!” suruh Alena agar Alvin segera pergi meninggalkan tempat itu. “Iya, ntar aku pulang setelah aku memastikan kamu masuk rumah dengan selamat!” sahut Alvin sambil tersenyum menatapnya. “Oke, aku masuk.” Alena jadi salah tingkah dan berlalu dari hadapannya, membuka pintu gerbang kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan Alena masuk ke dalam rumah, Alvin bergegas mengendarai mobilnya menembus gelapnya jalanan kota surabaya. ****. Keesokan harinya, suara ramai di dapur membuat Alena bangun dari tidurnya. Kebetulan rumah kost itu menyediakan dapur bagi yang ingin memasak sendiri. Peralatan-peralatan dapur sudah tersedia lengkap di sana. Jadi tidak heran kalau setiap pagi, dapur ramai dipenuhi oleh para penghuni kost yang memang suka memasak sendiri. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi Vania, setiap pagi ia sudah terbiasa membeli makanan di warung nasi yang tempatnya tidak jauh dari kost, akhirnya Alena pun ikut-ikutan. Bagi Vania memasak itu hal yang paling menyusahkan, kalau terpaksa saja ia baru menggunakan dapur untuk membuat mie instan atau merebus air. Pulang larut malam membuat Alena betah bergulat dengan guling dan selimutnya. Rasanya dirinya tak rela meninggalkan kasurnya yang empuk itu. Setelah mengucek-ngucek matanya yang lengket karena masih mengantuk, perlahan ia duduk di kasur dan membetulkan ikat rambutnya yang berantakan. Begitu nyawanya sudah terkumpul ia bergegas keluar dari kamar. Di luar ia bertemu Vania yang sudah membawa handuk dan siap-siap ke kamar mandi. “Al, sarapanmu ada di atas meja makan. Tadinya aku mau nanya kamu, nitip makan apa? tapi kayaknya kamu masih tidur. Jadi aku beliin nasi pecel deh.” “Iya nggak apa-apa Van, Makasih banyak ya. Uangnya tar aku ganti.” “Nggak usah Al, kayak sama siapa aja sih! ya udah kamu sarapan dulu, aku mau mandi udah siang.” “Oke siap Van.” Kata Alena sembari menuju meja makan untuk sarapan. Setelah mandi dan siap-siap memakai baju kerjanya, mereka berdua berangkat ke kantor. Jarak dari rumah kost ke kantor sangat dekat, cuma ditempuh dalam waktu lima menit dengan berjalan kaki. **** Cuaca kota Surabaya yang sangat panas membuat seorang gadis cantik berambut pendek sebahu, berkali-kali menyeka keringatnya dengan sebuah tisu. Sudah lama ia tidak menginjakkan kakinya di kota tersebut, kota kelahirannya yang sudah beberapa tahun ia tinggalkan. Kota yang penuh kenangan dengan para mantan. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah mini market untuk membeli minuman dingin. Saat gadis itu turun dari mobil putihnya, beberapa pasang mata tak berhenti memandang dirinya. Bagaimana tidak saat itu ia mengenakan kacamata hitam dan dress putih di atas lutut, membuat membuat kecantikannya semakin terpancar. Setelah membeli minuman dan beberapa makanan ringan ia kembali ke mobilnya dan meneruskan perjalanan. Ia kembali ke kota surabaya setelah empat tahun lamanya bekerja di luar kota. Ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang, karena ingin menemani ibunya yang sakit-sakitan dan tinggal seorang diri di rumah. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lamanya, akhirnya ia sampai di sebuah rumah megah yang di kelilingi dengan pagar besi yang tinggi. Ia masuk kehalaman rumah tersebut setelah seorang satpam membukakan pintu gerbang. Setelah memarkir mobilnya di garasi ia memasuki rumah dan di sambut oleh seorang pelayan yang bertugas untuk membawakan barang-barangnya di mobil. Ibunya sudah berdiri di depan pintu rumah, tampak sudah bersiap-siap menyambut kedatangan gadis itu. Wanita yang sudah beruban itu menangis terharu melihat putri satu-satunya akhirnya pulang untuk tinggal bersamanya. “Akhirnya kamu pulang juga Nak, Mama kangen!” terlihat air mata mengalir di atas kedua pipinya yang sudah berkerut karena termakan usia. “Iya Ma, Sovia pulang. Selama.” Sovia memeluk erat wanita yang sangat di rindukannya itu, kemudian bersimpuh di bawah kedua kaki ibunya seraya menahan air matanya biar tidak terjatuh. Kedua ibu dan anak itu akhirnya melepas kerinduan dan tenggelam dalam keakraban yang sudah lama tidak terjalin satu sama lain. **** “Al, ayo makan siang dulu, aku udah laper banget nggak kuat!” “Iya ayo, Van. Mau makan apa?” “Bakso yuk di Pak Sugik belakang kantor!” “Oke. Ayo!” Mereka berdua menuju ke belakang kantor untuk menikmati semangkok bakso Pak sugik yang terkenal enak dan jadi favorit di kantor itu. Sambil makan mereka saling mengobrol dan bersendau gurau. “Al, kita ini satu rumah dan satu kost kok kayak beda rumah ya, jarang ketemu.” Sindir Vania, kata-kata itu tidak sadar keluar dari mulutnya begitu saja. Alena bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Ia sadar kalau selama ini hubungan persahabatannya dengan Vania memang terasa jauh. Bucinnya dengan Alvin sudah sampai di level tertinggi sehingga kadang ia melupakan sahabatnya itu. “Iya, sih kita nggak kayak dulu ya. Sekarang aku jarang ngobrol sama kamu pas di kost karena kesibukan masing-masing!” “Nah itu maksudku, emang sekarang kamu udah punya pacar, Al?” Deg, Alena kaget dengan pertanyaan Alena. Dia merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Vania. Alena bingung harus menjawab apa. Sejenak dia berpikir dalam diam. Kemudian menjawab pertanyaan Vania “Em... Belum, Van. cuma lagi deket aja dengan seseorang!” jawab Alena dengan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Vania. “Apa aku kenal dengan orangnya!” tanya Vania menyelidik. “Ntar kalau udah saatnya aku kasih tau kamu ya!” jawab Alena mencoba mengakhiri topik pembicaraan itu. “Okey, Al. Ayo kita balik!” sahut Vania sembari bangun dari tempat duduknya dan membayar baksonya. Diikuti oleh Alena dan kemudian mereka kembali ke kantor. Sore harinya saat jam kantor telah berakhir seperti biasa Alena menunggu Alvin di parkiran mobil, sedangkan Vania sudah pulang duluan ke kost. Beberapa saat kemudian Alvin keluar dengan wajahnya yang merah padam seperti memendam kekesalan. Karena penasaran Alena pun bertanya. “Kamu kenapa Vin?” “Ba****t banget tuh orang.” Omelnya. “Ngomongnya kok kasar gitu Vin.” Alena terkejut dengan kata-kata Alvin, karena baru kali ini Alvin bicara kasar seperti di depan Alena selama mereka kenal. “Udahlah Al, kalau kamu nggak tau masalahnya, mending diem aja jangan ikut-ikutan!” bentak Alvin sambil menendang ban mobil miliknya. Seketika itu Alena diam tidak berkomentar apa-apa. “Hari ini kamu aku anter pulang ke kost kita nggak kemana-mana, aku ada urusan!” “Urusan apa?apa aku nggak boleh ikut?” “Kalau aku bilang pulang ya pulang, nggak usah nawar!!” bentak Alvin padanya, Alena kembali diam dan memakai safety beltnya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan kata-kata kasar selama ini. Bahkan Angga kakaknya yang seposesif itu padanya, sama sekali tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya. Alvin tiba-tiba memukul setir mobilnya ia baru sadar kalau dari tadi ia sudah berlaku kasar pada Alena. Ia menghadap ke arah Alena dan memegang kedua pipinya, emosinya perlahan mulai menurun. Wajahnya berubah memelas. “Al, tolong maapin aku ya. Aku kelepasan marah-marah sama kamu, tekanan kerjaan membuat aku bener-bener stres. Sekarang aku anterin kamu ke kost, kamu istirahat dulu. Aku mau nyelesaiin masalah kerjaanku dulu.” Jelas Alvin pada Alena dengan suara lirih dan dengan wajah memelas. “Iya nggak apa-apa Vin, aku cuma kaget aja tadi. Tolong lain kali sikapmu jangan seperti itu lagi padaku!” “Iya, Al. Maap ya!” Jawab Alvin. Alena mencoba tersenyum, tapi sebenarnya dalam hatinya ia merasa kecewa dengan sikap Alvin. Ia mengira, Alvin tidak akan berkata kasar seperti itu padanya, akan tetapi ternyata dirinya salah. Dalam hatinya Alena hanya bisa berharap semoga Alvin tidak akan mengulanginya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD