Laki-laki itu membalikkan tubuhnya kebelakang. Sejenak kedua mata mereka bertabrakan, tapi Alena buru-buru mengarahkan pandangannya ke tempat lain, ia mencoba menghindar dari pandangan laki-laki itu. Tapi meskipun Alena menghindar, laki-laki itu tetap menghampirinya.
“Al, aplikasi yang ini sudah kamu input apa belum ya? kalau misal belum, bisa selesai hari ini kan?” tanya Alvin sambil mengangkat sebuah map merah.
“Pokoknya kalau data-datanya udah lengkap pasti selesai hari ini!” jawab Alena sembari menatap map merah yang dipegang oleh Alvin.
“Ya sudah, makasih kalau gitu.”
“Sama-sama,Vin.”
“Pulang kerja aku pengen ngrobrol sama kamu bentar, bisa?” tanya Alvin dengan setengah berbisik sampai Vania yang duduk di sebelahnya tidak mendengar suara Alvin.
“Iya.” Jawab Alena sambil berbisik juga. Setelah berbicara dengan Alena, Alvin kembali ke ruangannya.
****
Sore harinya, saat jam pulang kantor Alena tidak beranjak sedikitpun dari kursi kebesarannya. Tangannya sibuk mengotak atik HPnya dan kadang-kadang tersenyum sendiri. Vania yang melihat tingkah laku Alena, merasa keheranan dengan sikap sahabatnya itu. Meskipun ia tahu Alena dekat dengan Alvin tapi ia tetap diam, menunggu Alena sendiri yang menceritakannya. Sekarang tugasnya adalah bersandiwara dengan pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Al kesambet setan apa kamu? senyum-senyum sendiri nggak jelas.” Sewot Vania.
“ Apa’an sih? aku lagi liat IG ini loh, lucu banget!” jawab Alena menatap wajah Vania.
“Oh... Kirain lagi chat an sama siapa gitu?” sahut Vania menyindir.
“Nggak ada Van, emang kamu nggak pulang udah malam loh ini?” kata Alena seolah menghindari pertanyaan dari sahabatnya itu.
“Nah kamu sendiri, kenapa juga nggak pulang-pulang dari tadi?” balas bertanya pada Alena.
“Bentar lagi Van, nunggu di jemput temenku mau keluar bentar.”mencoba berbohong. Berharap Vania tidak tahu kebohongannya itu.
“Oh ... Oke kalau gitu aku duluan ya!” Kata Vania sambil membereskan tas kerjanya.
“Iya hati-hati, Van!” sahut Alena sambil melambaikan tangan kanannya. Setelah Vania pergi dari ruang kantor dan dirasa sudah berjalan menjauh, Alena merapikan tas kerjanya agar saat Alvin datang ia sudah siap untuk pergi. Beberapa menit kemudian, satu persatu orang telah meninggalkan ruangan. Sekarang hanya tinggal dirinya dengan Dahnia yang belum meniggalkan ruangan.
“Al, kamu nggak pulang?” tanya Dahnia dari meja kerjanya yang hanya dipisahkan oleh sebuah sekat kayu, dengan tinggi sebatas leher. Ia sudah siap-siap pulang dengan menenteng tas kerjanya.
“Bentar lagi mbak, masih ada kerjaan.”
“Kenapa nggak besok aja di lanjutin, ini udah malem loh!” sambil melihat jam tangannya.
“Nanggung mbak, tinggal dikit lagi!”
“Nggak apa-apa nih, aku tinggalin kamu sendirian di sini?” tanya Dahnia dengan raut wajah khawatir.
“Nggak apa-apa mbak, abis ini aku juga pulang kok!” jawab Alena sambil menatap wajah Dahnia.
“Ok, kalau gitu aku duluan ya, Al.” Pamit dahnia sembari beranjak pergi meninggalkan ruangan.
“Iya mbak, hati-hati!” sahut Alena.
Sekarang tinggal ia sendiri di dalam ruangan itu. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi yang ditunggu-tunggu belum datang sampai sekarang. Akhirnya ia memutuskan untuk merapikan mejanya dan memasukkan barang-barangnya di meja. Ia takut kalau terlalu malam tidak akan ada ojek online yang mau mengantarnya pulang. Setelah selesai ia pun meninggalkan ruangan, tapi belum sampai di depan lift ia dikagetkan dengan suara Alvin yang berteriak memanggilnya.
“Alena, tunggu!” teriak Alvin dari belakang. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara.
“Apa Vin?” sahut Alena datar.
“Tadi kan aku udah bilang tungguin aku, aku mau ngobrol sama kamu bentar!”
“Aku tungguin kamu nggak dateng-dateng ke ruanganku, ya udah aku tinggal pulang!”
“Ayo ikut aku bentar ya!”Alvin memegang tangan Alena, dan mengajaknya memasuki lift untuk menuju lantai basemant, parkiran mobil. Setelah sampai mereka masuk ke dalam mobil Alvin.
“Makan dulu ya, abis itu aku anterin pulang!” kata Alvin dengan memasangkan safety belt untuk Alena. Gadis itu cuma menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ajakan Alvin. Setelah menempuh lima belas menit perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah Cafe yang jaraknya tidak seberapa jauh dari kantor. Seorang pelayan menghampiri mereka, saat mereka sudah mendapat tempat duduk yang diinginkan. Kursi di paling pojok belakang adalah pilihan yang tepat, karena mereka butuh tempat yang tenang agar tidak ada orang yang akan mendengarkan percakapan mereka berdua.
“Saya pesan Onion ring 1 dan Hot chocolate 1, kamu pesan apa, Al? Alvin memesan pada pelayan cafe setelah melihat-lihat menu yang di sajikan. Kemudian ia bertanya pada Alena, karena baru pertama kali ini mereka makan malam berdua. Alvin tidak tahu menu kesukaan gadis itu, selain masakan padang.
“ Emm... Aku pesan kentang goreng aja, minumnya samain kayak kamu!” kata Alena setelah melihat buku menu.
“Kamu kan belum makan malam, pesan nasi aja ya!”
“Nggak, Vin. Pesan itu aja nggak apa-apa!” tolak Alena. Padahal sebenarnya cacing-cacing di perutnya sudah berdemo karena kelaparan. Selera makan Alena mendadak hilang, karena ia penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Alvin padanya.
“Bener nih?” tanya Alvin seakan tidak yakin dengan kata-kata Alena.
“Iya nggak apa-apa, Vin!” kata Alena meyakinkan. Setelah mencatat pesanan, pelayan kembali ke tempatnya untuk menyiapkan pesanan mereka. Alvin menatap gadis yang beberapa bulan terakhir ini telah menghiasi hari-harinya. Ia berharap akan segera memiliki gadis di depannya itu, seutuhnya. Alena yang merasa dari tadi di perhatikan oleh Alvin menjadi salah tingkah sendiri.
“Vin, emangnya kamu mau ngobrolin apa’an?” tanya Alena menutupi kegugupannya.
“Pertama-tama aku mau minta maaf sama kamu?”
“Untuk?” Alena mengernyitkan dahinya.
“Beberapa hari terkahir ini aku menghilang karena pergi keluar kota, aku ada kerjaan di sana. Saat di perjalanan HP yang biasanya aku pakai chat kamu hilang saat aku tinggal makan, karena itu beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungimu sama sekali. Sebenarnya aku bisa aja sih nanya ke anak-anak di kantor, cuma aku nggak mau mereka curiga tentang hubungan kita.” Alvin menjelaskan perihal beberapa hari terakhir ini dia tidak menghubungi Alena, karena HPnya telah hilang entah kemana. Akhirnya Alena bisa bernafas dengan lega karena pikiran buruknya tentang Alvin beberapa hari ini ternyata salah.
“Iya nggak apa-apa Vin, santai aja!” Alena berusaha untuk biasa saja, padahal sebenarnya beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak karena tidak ada kabar berita dari Alvin. Ditambah lagi ia mengirim pesan w******p yang tidak ada jawaban dan statusnya cuma centang satu sampai sekarang.
“Kok gitu doang? Jadi selama ini kamu nggak nyariin aku?” goda Alvin ke Alena.
“Ishh ... GR banget sih?”
“Yah siapa tau aja, kamu kangen sama aku?”
“Gak sama sekali!” jawab Alena dengan menyantap kentang goreng yang barusan dihidangkan oleh pelayan cafe.
“Oh ya Al, Apakah kamu udah ada jawaban tentang pertanyaanku kapan hari? kalau masih belum nggak apa-apa sih aku sabar menunggu.” Tanya Alvin dengan menatap wajah Alena lekat-lekat penuh dengan pengharapan.
“Emm... Sebenernya udah ada jawaban sih... Cuma ...!” Alena menggantung kata-katanya membuat Alvin semakin penasaran dengan jawaban gadis itu.
“Cuma apa?” tanya Alvin yang tidak dapat menutupi rasa penasarannya.
“Cuma... aku mau minum dulu. Ha... Ha... Ha...!” tawa Alena seketika pecah melihat wajah Alvin yang terlihat melongo.
“Kamu ya, sekarang udah berani ngerjain aku!” sewot Alvin mendengar jawaban Alena yang membuat dia jengkel.
“Ya udah kita jalani dulu aja. Sambil jalan!” Alena mengatakannya dengan enteng tanpa ada beban apapun, karena ia sudah memikirkan jawaban itu selama beberapa hari ini. Apalagi ia sangat senang saat pikiran buruknya selama ini ternyata salah. Awalnya ia berpikir Alvin hanya main-main dengannya, tapi ternyata sebaliknya. Alena melihat keseriusan Alvin di dalam matanya.
“Jadi intinya? Jawaban kamu yes?” Alvin memastikan apa yang di dengarnya adalah kenyataan.
“Aku sih iyes...!” sahut Alena sambil tersenyum malu-malu hingga pipinya bersemu merah.
“Beneran kan aku nggak mimpi ini? jadi kita udah resmi pacaran?” Alvin menepuk-nepuk kedua pipinya karena masih tidak percaya dengan jawaban Alena. Sementara gadis itu cuma bisa menganggukkan kepalanya dan senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku Alvin yang baginya sangat berbeda dengan saat ia ada di kantor. Ingin rasanya saat itu juga Alvin menggendong Alena seperti adegan yang ada di film-film drakor, tapi karena banyak orang di sana, ia mengurungkan niat bodohnya itu.
Malam itu mereka menikmati kebersamaan, tanpa ada satupun yang mengganggu. Angga tidak menelpon Alena seperti biasanya karena dia sudah mematikan HPnya saat keluar dari kantor tadi. Ia tidak mau kakaknya yang menyebalkan itu merusak acara kencannya dengan Alvin. Alena sudah tidak perduli lagi, Angga akan semarah apa pada dirinya nanti, yang jelas ia bisa menikmati kebersamaan dengan Alvin tanpa ada siapapun yang mengganggu.
****
Keesokan harinya, bangun tidur Angga mencari Alena. Ia marah kepada Alena karena mematikan HPnya dan pulang larut malam. Tapi Alena beralasan kalau HPnya lowbatt dan tidak bisa menghubungi Angga. Ia mengatakan kalau ada lembur di kantor dan semua karyawan di wajibkan ikut, dia tidak bisa menolaknya.
Saat sarapan pagi, Alena kembali menyampaikan niatnya untuk pindah dan kost di tempat Vania. Awalnya Angga tetap kekeh untuk menolak rencana Alena, tapi setelah dibujuk habis-habisan akhirnya ia luluh juga. Angga mengijinkan Alena kost dengan satu syarat. Saat Angga telepon, dia harus sudah ada di kost. Bagi Alena syarat itu memberatkannya, karena tujuannya pindah adalah agar ia bisa bebas dari kakaknya yang seperti satpam komplek itu. Untuk sementara ia akan menyetujui syarat itu, agar Alvin mengijinkan dia pindah terlebih dahulu. Urusan nanti ia akan mematuhi syarat itu atau tidak, akan dipikirkan belakangan. Angga juga tidak akan tahu saat ia telepon, Alena benar-benar ada di kost atau tidak.
“Deal, Mas. Kalau gitu, aku mulai pindah besok ya!”
“Kok cepat amat? kamu buru-buru gitu kenapa?” tanya Angga sambil mengernyitkan dahinya karena penasaran.
“Nggak apa-apa Mas, aku takut aja kamarnya tiba-tiba ada yang nempatin lagi. Nanti aku nunggunya lama lagi. Jadi mumpung ada yang kamar yang kosong, langsung aku masukin aja.” jelas Alena untuk meyakinkan kakaknya itu, padahal sebenarnya dia buru-buru pindah agar punya waktu yang lebih banyak bersama Alvin tanpa harus di ganggu oleh siapapun bahkan Angga sekalipun.
“Okelah kalau gitu, besok mau aku bantuin pindahan?” tanya Angga
“Nggak usah Mas, tar minta tolong sama anak-anak kantor aja!”
“Ya sudah, berarti hari ini kamu kemasin barang-barang ya?”
“Iya nanti pulang kantor. Jadi besok tinggal bawa-bawa dikit ke kost.”
“Hati-hati ya kamu di sana, jaga diri baik-baik. Mas nggak akan bisa ngawasin kamu 24 jam seperti di sini.”
“Tenang Mas, aku udah gede. Aku bisa jaga diri baik-baik!”
“Ya udah aku berangkat kerja dulu ya, kamu ati-ati kalau berangkat!” Sambil mengacak-acak rambut adiknya yang dibirain terurai panjang itu.
“Siap Mas.” Jawab Alena. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah cantiknya. Terlihat ada kepuasan di dalam matanya. Setidaknya mulai besok dan seterusnya ia akan bebas seperti keinginannya selama ini. Padahal ini adalah awal dari semua masalah besar yang akan timbul dalam kehidupannya nanti.