6. Kesalahan Kedua 6

1791 Words
Alena menoleh ke asal suara, ternyata Alvin sudah berdiri di belakangnya dengan menenteng tas kerja di tangan kanannya. “Iya Vin, mau ngobrol di mana ini?” tanya Alena. “Kita ngobrol di mobilku aja ya, masih banyak orang di kantor. Aku takut nanti malah jadi pusat perhatian, lagian aku punya waktu cuma bentar doang. Setelah ini aku ada janji sama konsumen.” kata Alvin dengan muka memelas. “Oke, Vin.’ Kata Alena sambil merapikan tasnya dan mengikuti Alvin yang sudah berjalan duluan di depannya. Mereka berdua menuju ke parkiran mobil di belakang kantor. Alvin membukakan pintu untuk Alena, setelah itu dia ikut masuk dan duduk di kursi pengemudi. Suasana berubah menjadi hening hanya suara alunan lagu It’s You milik Sezairi Sezali, yang terdengar. Seakaan perasaan Alvin saat itu sudah terwakilkan oleh lagu tersebut. Completing my world You You”re my love, my life, my beginning And I’m just so stumped I got you Girl, you are the piece I’ve been missing Remembering now “Al, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Alvin mencoba memecah keheningan diantara mereka berdua. Sekarang posisi keduanya saling berhadapan. Alena tampak cantik dengan kemeja merahnya malam ini, membuat wajahnya yang putih bersih semakin kelihatan bersinar. “Iya Vin, ngomong saja!” jawab Alena dengan wajah penasaran. Alvin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia meraih kedua tangan Alena dan menggenggamnya dengan erat seakan takut untuk kehilangan gadis di depannya itu. Alena terkejut dengan sikap Alvin, tapi ia tak kuasa untuk menolak perlakuan laki-laki itu padanya. “Aku mengenalmu tanpa sengaja, namun rasaku muncul secara tiba-tiba, di mataku kamu begitu istimewa, tolong ijinkan aku untuk mendekat dan menetap di hatimu selamanya.” Alvin mengucapkan kata-kata manis itu dengan menatap mata Alena dalam-dalam. Alena kembali terkejut dengan ucapan Alvin, raganya seakan melayang tinggi mendengar kata-kata manis Alvin. Sejenak mereka terdiam dan saling bertatapan, seolah mata mereka yang saling berbicara satu sama lain. Suara alunan musik yang lirih saat itu, menambah susana menjadi lebih romantis. Membuat mereka semakin tenggelam dalam perasaannya masing-masing. Alena mencoba mencari kebohongan dalam mata Alvin, akan tetapi ia tidak menemukannya. Berarti apa yang dikatakan oleh Alvin adalah yang sebenarnya. Ia masih tidak menyangka Alvin akan mengungkapkan perasaannya secepat itu. “Emm ... Haruskah aku jawab sekarang?” tanya Alena dengan wajahnya yang datar. Padahal sesungguhnya ia berusaha menyembunyikan suara debaran jantungnya yang mulai tak terkontrol. “Pikirkan saja dulu, nggak harus kamu jawab sekarang. Aku harap setelah kamu tahu perasaanku padamu, kamu nggak menghindar dariku ya!” pinta Alvin dengan tersenyum manis. “Iya, tolong berikan aku waktu untuk bisa mengenalmu lebih dalam!” pinta Alena, kemudian perlahan melepaskan genggaman tangan Alvin. “Iya Al, aku akan sabar menunggumu. Maafkan aku, karena aku mengatakan hal ini di tempat dan waktu yang nggak tepat. Rencananya tadi malam aku mau mengajak kamu makan malam romantis kayak di film-film, sambil mengatakan hal ini. Tapi karena masalah kemarin siang rencananku jadi berantakan. Aku nggak sabar lagi buat menunda hal ini, aku nggak pengen di duluin orang.” kata Alvin dengan menatap wajah cantik Alena. “Ha ... Ha ... Ha... Nggak apa-apa, Vin. Di manapun tempatnya nggak masalah buatku.” Sahut Alena menertawakan kata-kata Alvin. “Kok malah ketawa? ya udah sekarang aku anterin kamu pulang ya, udah malam.” “Iya, Vin.” Alena menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu Alvin mengemudikan mobilnya dan meninggalkan area parkir kantor. Mereka tak sadar kalau dari tadi sepasang mata tengah menyaksikan kebersamaan mereka berdua. **** Setelah melihat kebersamaan Alena dan Alvin di parkiran mobil, Vania menuju ke parkiran motornya. Tadi saat ia berpamitan pada Alena untuk pulang, tiba-tiba ia teringat kalau charger Hpnya ketinggalan di laci kantor. Akhirnya ia kembali lagi. Saat berjalan di koridor kantor, ia tak sengaja melihat Alvin dan Alena tengah jalan berduaan menuju ke parkiran mobil, akhirnya ia mengikutinya. Vania menjadi penasaran, sebenarnya ada hubungan apa diantara keduanya. Sekarang rasa penasarannya terjawab sudah. Ia baru mengetahui kalau selama ini sahabatnya itu menyembunyikan kedekatannya dengan Alvin. *** Setelah ungkapan cintanya pada Alena, Alvin tidak muncul di kantor selama beberapa hari. Selama ini yang mondar mandir untuk mengurusi kerjaannya adalah temannya yang bernama Rino. Rasa penasaran mulai menyelimuti dirinya. Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya,sebenarnya di manakah Alvin berada saat ini? Alena memberanikan diri mengetik sesuatu di aplikasi w******p dan akan mengirimkannya ke kontak Alvin. Alena: Met Pagi, Vin. Kamu udah nggak masuk kerja beberapa hari emang lagi dimana? Pesan terkirim dan tinggal menunggu balasan dari sang pemilik kontak, tapi setelah menunggu lama pesan Alena statusnya masih centang satu, itu artinya w******p Alvin tidak aktif. Alena semakin khawatir terjadi apa-apa dengan Alvin. Vania yang menyadari perubahan sikap sahabatnya itu lalu menegurnya. “Kamu kenapa kok kayaknya khawatir gitu?” tanya Vania. “Ahh ... Nggak apa-apa kok, Van.” Sahut Alena dengan berusaha menutupi wajah khawatirnya. “Benar nggak apa-apa? bukannya khawatir gara-gara Alvin yang beberapa hari ini nggak kelihatan di kantor kan?” tanya Vania dengan wajah santainya. Degh, Alena terkejut dengan kata-kata Vania. Bagaimana sahabatnya itu bisa membaca isi hati Alena, pikirnya. Tapi dia berusaha tenang agar Vania tidak curiga dengannya. “Nggak ada hubungannya sama Alvin, Van. Kamu yang bener aja sih, gimana bisa aku khawatir dengan Alvin?” Alena tahu sahabatnya itu berbohong, tapi ia tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa. “Ya sudah kalau gitu ayo lanjutin kerjanya.” “Siap Bos!” goda Alena. Setelah itu mereka berdua melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Sampai waktunya jam pulang kantor Alena masih belum beranjak dari kursi kerjanya. Saat di tawarin mampir ke kostan Vania pun ia menolak dengan alasan tidak enak badan. Berkali-kali Alena melihat pesan whatsappnya tapi tidak ada balasan sama sekali dari Alvin, dan chat nya masih tetap centang satu. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah ia melempar tas kerjanya di meja dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Berbagai macam pikiran buruk tentang Alvin terbesit di benaknya. Dia berfikir kalau Alvin hanya ingin mempermainkan perasaannya saja, padahal sebenarnya Alena sudah menyadari kalau Alvin sudah mendapatkan tempat di dalam hatinya. Kerjaannya hari ini di kantor sangat banyak. Ia merasa tubuhnya sangat capek dan akhirnya ia pun tertidur tanpa mencuci wajah dan mengganti bajunya terlebih dahulu. **** Keesokan harinya ia sengaja bangun sangat pagi sekali agar tidak terlambat berangkat ke kantor. Setelah memasak ayam rica-rica dan sayur asem kesukaan kakaknya, ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. “Al, tumben kamu jam segini udah rapi?” tegur Angga. “Iya Mas, kerjaanku banyak di kantor!” “Mau Mas anterin, biar sekalian Mas kenalan sama teman kantormu itu. Siapa namanya ...?” “Vania! emang Mas Angga nggak kerja?” “Aku ambil cuti Al, capek kerja terus sekali-kali pengen refreshing!” “Ya udah sana cari cewek, biar nggak rempong teleponin aku terus tiap hari.” “Aku nggak mau pacaran Al, aku mau ketemu jodoh terus langsung nikah.” “Gimana mau ketemu jodoh kalau tiap hari jadi satpam komplek melulu! udah Mas, buruan sana siap-siap katanya mau nganterin aku! sapa tahu ntar di jalan ada yang nyantol.” Omel Alena sambil mendorong tubuh tinggi besar kakaknya itu. “Emang kamu pikir Masmu ini baju kotor main nyantol-nyantol aja!” kata Angga sambil berlalu ke kamarnya. Beberapa saat kemudian Alena dan Angga sudah berada di jalananan kota surabaya yang selalu macet dengan kendaraan yang memadati jalan setiap harinya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di kantor Alena. Kebetulan saat mereka sampai di halaman kantor, Alena melihat Vania yang baru memarkir motornya dan akan masuk ke dalam gedung berlantai sepuluh tersebut. “Vania!” Alena berteriak memanggil Vania karena jarak mereka yang terlalu jauh. Vania terkejut dan menoleh ke arah Alena. Akhirnya ia memutar arah dan menghampiri Alena. “Iya, Al.” jawab Vania. “Ehh... Van, kenalin ini mas Angga.” Alena memperkenalkan Angga, tapi kakaknya itu tidak mau membuka helm yang menutupi kepalanya. “Ohh ya... Kenalin aku Vania, teman sekantornya Alena, Mas.” Kata Vania sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Angga. Ia menyambut uluran tangan Vania dengan tetap memaki helm di kepalanya. “Mas buka dong helmnya, katanya tadi mau kenalan sama Vania, sekarang di kenalin beneran malah nggak amu menampakkan wajahnya. Gimana sih Mas?” gerutu Alena yang jengkel dengan sikap kakaknya itu. “Iya maaf, nih sudah aku buka!” sahut Angga sembari membuka helmnya. Vania terkejut dengan wajah Angga, ternyata ketampanan kakak Alena itu lebih dari ekspetasinya. Kulitnya putih, hidungnya mancung, dan bulu tipis di jenggotnya yang belum sempat di cukur, menambah kesan maskulin padanya. Sejenak Vania terpesona dengan pemandangan di depannya. “Jadi ini yang namanya Mas Angga?” “Iya ini Mas Angga yang sering aku ceritain ke kamu Van!” Vania tersenyum pada Angga begitu sebaliknya. “Ohh... ini Vania yang katanya kamu mau kost di tempatnya?” “Iya bener Mas, kalau dibolehin aku mau pindah sekostan sama Vania ya Mas? kan sekrang Mas Angga udah kenal sama dia.” Sembari menunjuk ke arah Vania. “Nanti di rumah kita bahas lagi masalah itu, sekarang buruan kamu masuk biar nggak terlambat!” suruh Angga pada Alena sambil mengacak-acak rambut adik kesayangannya itu. “Arrggghhhhh ... Tuh kan rambutku jadi berantakan.” Sewot Alena sambil memebetulkan rambutnya yang di acak-acak oleh kakaknya itu. Angga cuma bisa tersenyum menanggapi ulah Alena. “Ya udah aku masuk dulu. Hati-hati kalau pulang, Mas!” setelah mengucapkan itu mereka berdua masuk ke dalam gedung perkantoran tersebut. Di sepanjang perjalanan menuju ke ruang kantornya Vania tak henti-hentinya mengungkapkan rasa takjubnya melihat kakak Alena. “Al, ternyata Mas Anggamu itu ganteng banget ya, kenapa nggak kamu kenalin dari dulu!” “Percuma, ganteng tapi nggak suka cewek!” “Maksudmu, Mas Angga homo gitu?” “Lah nggak tau juga aku, dari dulu dia nggak pernah pacaran. Aku saja sebagai adik kandungnya, nggak pernah sama sekali dikenalin dengan pacarnya. Kalau aku menyinggung masalah pacar mesti jawabnya, kalau ketemu jodohnya nggak pakai pacaran langsung nikah aja... Gitu katanya!” “Wah... suami idaman banget tuh!” kata Vania sambil tersenyum dan memegang kedua pipinya sendiri dengan gemas. “Haduh...Ayo buruan masuk, Van, malah bahas Mas Angga terus kamu. Jangan-jangan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama ya?” “Sama siapa?” kata Vania bingung.” “Sama Mas Angga lah siapa lagi.” jawab Alena sambil berjalan meninggalkan Alena dibelakangnya. “Ngawur aja kamu, Ha ... Ha ... Ha ...!”kata Vania dengan tertawa. Menganggap apa yang telah dikatakan Alena adalah lelucon semata. Mereka berdua memencet tombol lift angka enam. Setelah sampai di dalam ruangan kerjanya, Alena melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri membelakanginya sambil mengotak atik tempat map konsumen di atas mejanya. Ia adalah laki-laki yang sangat dikenalnya, meskipun melihatnya hanya dari arah belakang saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD