Alena seperti tersadar dari alam mimpinya, ia bergegas mengambil kantong plastik yang terjatuh di atas tanah dan mundur beberapa langkah dari tubuh Alvin. Ia menundukkan wajahnya yang memerah agar Alvin tidak bisa melihatnya. Begitupun sebaliknya Alvin memegang tengkuk kepalanya, dadanya tiba-tiba berdebar kencang dan wajahnya jadi memerah. Keduanya membeku dalam diam, tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Sampai akhirnya sebuah dering telepon yang berasal dari HP Alvin membuyarkan suasana kaku diantara mereka berdua.
“Eh, kayaknya aku harus balik dulu Al, aku baru ingat kalau ada janji dengan seseorang.” Mau tidak mau Alvin harus memulai pembicaraan, karena ia memang sedang ada janji bertemu dengan seseorang dan sekarang orang itu sudah menghubungi dirinya.
“Iya Vin, kalau gitu aku juga mau balik dulu, kalau sampai masku tahu aku keluar rumah bisa di omelin tujuh hari tujuh malam aku!”
“Ha... Ha... Ha...., ya sudah hati-hati, Al!”
“Makasih ya buat makan malamnya.” kata Alena tersenyum, sambil mengangkat kantong plastik hitam yang dipegangnya.
“Oke, sama-sama Al. Sekarang kamu balik ke rumah dulu, aku akan pulang setelah aku memastikan kamu benar-benar sudah masuk ke dalam rumah!”
“Kenapa gitu?” tanya gadis itu keheranan.
“Ya karena aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu!” sahut Alvin dengan tersenyum malu-malu.
“Oh gitu...ya udah aku balik dulu ya, bye!” kata-kata Alvin telah membuat kedua pipi Alena memerah, tapi ia segera memalingkan wajahnya dan berbalik meninggalkan Alvin yang masih berdiri di tempat yang sama. Entah kenapa tiba-tiba d**a Alena serasa bergetar, ia berusaha meredam perasaan campur aduk yang tiba-tiba timbul dari dalam hatinya.
****
Keesokan paginya, Alena berangkat ke kantor seperti biasa. Hari ini ia memakai kemeja berwarna pink muda, yang dimasukkan ke dalam rok kerja warna hitam dengan panjang di bawah lutut. Heels setinggi 5 cm menghiasi kaki jenjangnya, membuat tubuh rampingnya terlihat semakin mempesona. Rambutnya yang hitam dan panjang dibiarkan tergerai, bibir tipisnya dipoles dengan lipstik orange muda yang membuat wajahnya terkesan lebih cerah dari biasanya. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kantor yang nampak sepi karena masih terlalu pagi. Hanya terlihat satu atau dua karyawan yang baru datang ke kantor itu. Ia menuju ke lift dan memencet tombol angka enam, beberapa saat kemudian lift sudah sampai di lantai enam, dia masuk ke ruangan dan duduk di kursi kebesarannya, kursi yang sudah dua hari ini ia tinggalkan karena sakit.
“Woiii ternyata tuan putri udah masuk hari ini. Udah sembuh kamu?” teriakan Vania membuat Alena terkejut.
“Aduh Van, kamu ngagetin saja!” sahut Alena sambil memegang dadanya yang berdebar karena kaget.
“Maafin aku ya Al, kemarin aku nggak bisa jenguk kamu ke rumah. Karena kamu gak masuk kerja, jadi kerjaan dikasihkan aku semua.”
“Harusnya aku yang minta maaf ke kamu, gara-gara aku nggak masuk kerjaanmu jadi banyak!”
“Kok malah jadi saling minta maaf ini kan belum lebaran, heran deh.”
“Ha... Ha... Ha... iya juga!” Alena tertawa mendengar kata-kata sahabatnya itu.
“Oh ya, kemarin aku lupa kasih tau kamu, pas hari pertama kamu nggak masuk Alvin nyariin kamu loh, aku bilang aja kamu di rumah lagi sakit!”
“Pantesan.” Gumam gadis itu lirih.
“Apa’an? Dia ke rumahmu ya?”
“Nggak, ngapain juga dia ke rumahku?” ucap Alena gelagapan.
“Ya sapa tau saja, soalnya pas aku bilang kamu sakit, wajahnya langsung terlihat khawatir banget!”
“Masa sih?” tanya Alena dengan wajah datar padahal sebenarnya ia terkejut mendengar kata-kata Vania, karena ia sama sekali tidak percaya kalau Alvin mengkhwatirkannya sampai seperti itu. Alena tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba bayangan wajah Alvin muncul di dalam benaknya.
“Al, Kok malah ngelamun sih?”
“Eh, kenapa Van?” Alena kaget dengan tepukan tangan Vania di bahunya.
“Ya udah ayo ikut breafing pagi dulu!” ajak Vania sambil memegang tangan sahabatnya itu.
****
Siang harinya setelah jam makan siang, terlihat Alvin buru-buru memasuki ruangan admin dengan wajah yang menahan amarah.Ia menuju ke salah satu admin pencairan di sana namanya Dahnia. Dia adalah salah satu admin senior di kantor itu, orangnya cantik, lembut dan baik hati, bahkan saat Alena mengalami kesulitan dalam kerjaan Dahnia lah yang selalu membantunya.
“Plakkk...!” Alvin melempar sebuah map konsumen di atas meja Dahnia, wanita itu terkejut dan melihat ke arah Alvin yang berdiri di depannya.
“Kenapa lagi Vin?” tanya Dahnia pada Alvin.
“Coba cek aplikasi itu mbak, udah aku lengkapin semua kenapa dananya nggak bisa cair hari ini?”
“Itu nomer telepon konsumen yang kamu kasih nggak aktif saat di konfirmasi, Vin! aku telepon kamu juga nggak bisa, sedangkan pencairan kan cuma sampai jam satu siang, sekarang udah jam berapa? besok aplikasi itu baru bisa cair."
“Nggak bisa gimana, dari tadi aku telponan sama konsumenannya bisa kok! masalahnya ini pencairan dananya besar kalau nggak cair hari ini, dia bisa membatalkan aplikasinya dan melunasi semua pinjamannya di sini! ” Alvin mondar mandir sambil mengacak-ngacak rambutnya.
“Ya mau gimna lagi sudah nggak bisa Vin!” kata Dahnia datar tanpa rasa bersalah sediktipun.
“Braakkkk!” Alvin menggebrak meja Dahnia dengan keras, sampai kedua telapak tangannya kelihatan memerah. Sementara itu dari tadi Alena mencuri-curi pandang pada Alvin. Ia tidak habis pikir ternyata Alvin bisa berubah menjadi dua orang yang sangat berbeda, menjadi tempramental di depan orang lain tapi di depan Alena dia selalu berbicara dengan lembut dan tenang. Mata Alena sempat bertubrukan dengan mata Alvin, tapi gadis itu cepat-cepat memalingkan matanya kembali ke arah komputer di depannya.
“Alvin mulai lagi tuh!” bisik Vania pada Alena.
“Ssstt, diam saja jangan ikut-ikut!” jawab Alena sambil menempelkan jari telunjuknya keatas bibirnya. Kemudian ia melanjutkan kerjaannya. Sementara itu Alvin masih tetap berdiri di depan meja Dahnia tapi emosinya keliatannya mulai mereda. Raut wajahnya tidak semenakutkan saat ia pertama kali datang ke ruangan itu.
“Ya aku minta tolong saja mbak, lain kali kalau memang konsumen nggak bisa di hubungi tolong telepon marketingnya dengan benar. Mbak sudah senior di sini, aku harap mbak bisa kasih contoh yang baik buat para juniornya!” kata Alvin dengan nada yang tidak setinggi tadi. Entah kenapa saat melihat wajah Alena tadi perasaannya menjadi jauh lebih tenang. Setelah berbicara seperti itu ia meninggalkan meja Dahnia dan menuju ke ruangan pak Hartono.
Sore harinya, Alena sedang sibuk mencari-cari sosok Alvin di kantor tapi ternyata tidak ada. Setelah kejadian tadi siang ia tidak melihat Alvin lagi. Perasaan aneh mulai menyelimuti dirinya. Ia bertanya-tanya dalam hati kenapa sekarang ia jadi lebih perduli dengan Alvin padahal dulu sangat membencinya, bahkan mendengar namanya saja sudah membuatnya malas.”
****
Sementara itu di tempat lain Alvin tampak kebingungan meyakinkan konsumennya, karena dana yang sudah dijanjikan akan cair hari ini ternyata tidak sesuai dengan jadwal. Ia mencoba menjelaskan pada konsumen tersebut, meskipun awalnya pembicaraan terasa alot tapi pada akhirnya konsumen itu mau mengerti dan tidak jadi membatalakan semua pinjamannya di perusahaan. Di sisi lain Alvin sangat menyesal, rencana yang telah di susunnya matang-matang telah hancur berantakan karena kejadian tak terduga itu. Bayangan wajah Alena mulai menari-nari di pelupuk matanya. Seandainya kejadian tadi siang itu tidak terjadi, mungkin saat ini dia sudah duduk berdua dengan Alena dan menikmati makan malam yang romantis, sambil menikmati indahnya kota surabaya. Rencananya setelah tahu hari ini Alena masuk kerja, Alvin akan mengajak Alena untuk makan malam. Namun sekarang semua itu hanya tinggal kenangan. Mungkin ia butuh waktu sedikit agak lama untuk bisa menyusun rencana makan malam lagi, karena jadwalnya minggu ini sangat padat.
****
Keesokan harinya, seperti biasa pagi-pagi Alena sudah direpotkan dengan berbagai bumbu masakan di dapur. Nasi goreng dengan telor mata sapi adalah menu andalan, di kala ia bangun kesiangan untuk belanja ke tukang sayur. Setelah masakan sudah matang ia mulai menata makanan di atas meja dan menyiapkan bekal buat Angga.
Alena sudah selesai mandi dan siap-siap untuk berangkat kerja. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dia buru-buru memakai kemeja berwarna merah dengan rok hitam favoritnya karena takut telat.
“Perfect?”gumamnya sambil tersenyum memperhatikan penampilannya di depan cermin. Ia buru-buru menyambar tas kerjanya di atas meja. Saat keluar dari rumah, Alena dikagetkan dengan seorang laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Meskipun tanpa melihat wajahnya, hanya dari bau parfumnya saja ia sudah bisa menebak siapa laki-laki itu.
“Loh Vin, sejak kapan kamu ada di depan sini?” tanya Alena tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Ayo aku antar berangkat kerja!”
“Tapi...?”
“Nggak boleh nolak ini udah siang, kalau kamu naik angkutan umum nanti bisa telat!” paksa Alvin sambil berjalan mendahuluinya. Alena hanya bisa pasrah, karena memang benar apa yang dikatakan oleh Alvin kalau dia berangkat sendiri pasti telat sampai ke kantor. Akhirnya Alena naik ke mobil Alvin dan mereka berangkat ke kantor. Di jalan Alvin tidak banyak bicara ia cuma konsentrasi mengemudikan mobilnya. Beberapa kali gadis itu melirik ke arahnya tapi Alvin tetap pada posisi semula.
“Sudah jangan lirik-lirik aku terus, nanti jatuh cinta loh!” deg, Alena kaget mendengar perkataan yang diucapkan oleh Alvin. Ia mengucapkannya dengan enteng sembari memegang stir mobil dan pandangan mata tetap lurus ke depan.
“Siapa juga yang lirik-lirik? GR banget sih!” sewot Alena. Alvin menoleh ke arahnya sambil tersenyum, entah kenapa ia merasa wajah Alena yang seperti itu sungguh sangat menggemaskan.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mereka berdua sampai di kantor. Alena keluar dari mobil dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Sebelum melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk, Alvin memanggilnya.
“Al, tunggu bentar!” Alena menoleh pada Alvin.
“Apa, Vin?” tanya Alena padanya.
“Emm, pulang kerja tolong tungguin aku ya! ada yang pengen aku omongin sebentar!” katanya dengan tersenyum.
“Oke.” jawab Alena dengan jari tangannya membentuk kata OK. Setelah mengatakan itu, Alena buru-buru masuk ke kantor karena sudah terlambat.
***
Sore harinya saat jam pulang kerja, Vania mengajak Alena untuk mampir ke kostan nya karena mereka sudah lama sekali tidak bercengkrama satu sama lain.
“Al, kamu sadar nggak sih?”
“Apa’an, Van?”
“Kayaknya kamu sudah lama ya nggak main ke kostanku?”
“Iya juga sih, tar deh kalau udah nggak repot aku mampir ya!”
“Sekarang aja yuk!” ajak Vania.
“Eh jangan sekarang, aku nggak bisa!”
“Okelah kalau gitu, terus katanya kamu mau pindah ke kostan jadi apa nggak? Mumpung lagi ada satu kamar yang kosong nih.” Tanya Vania pada sahabatnya itu.
“Kalau itu, aku mesti ngomong lagi sama mas Angga. Ntar aku kabari ya!”
“Oke, Al. btw kamu pulang naik apa? mau aku anterin?” tanya Vania.
“Nggak usah Van, aku mau naik ojek online aja!”kata Alena berbohong, semoga saja Vania tidak menyadari kebohongannya.
“Ya sudah kalau gitu aku balik dulu ya, bye Al!” kata Vania sambil melambaikan tangannya dan keluar dari ruang kantor.
“Bye juga Van, ati-ati di jalan!” jawab Alena.
Beberapa menit kemudian ruang kantor sudah sepi dari penghuninya, satu persatu karyawan sudah berpamitan pulang dan beristrhat di rumahnya masing-masing. Sementara Alena masih di kursi kebesarannya menunggu Alvin. Saat lagi asyiknya otak atik HP dan melihat media sosialnya dia dikejutkan oleh suara seorang laki-laki yang memanggil namanya, suara yang sudah sangat familiar di telinganya.
“Alena...”