Alena duduk di kursi yang terletak di sebuah taman, jaraknya tidak jauh dari parkiran Hotel tempat acara berlangsung. Ia mengotak atik Hpnya memesan ojek di aplikasi Online. Laki-laki yang dari tadi mengikutinya tiba-tiba saja menghampirinya.
“Al, kamu mau pulang?” tegur laki-laki itu.
“Eh iya, kamu mau pulang juga?” kata Alena sambil memandang ke arah laki-laki yang berdiri di depannya itu.
“Iya aku mau pulang juga, ayo aku anterin kamu pulang!”
“Nggak usah Dit, aku udah pesan ojek online. Mungkin bentar lagi orangnya sampai sini!” ternyata laki-laki yang mengikutinya dari tadi adalah Adit.
“Ayo ikut aja, aku anterin nggak apa-apa!” Paksa Adit sambil memegang tangan kanan Alena dan mencoba menyeretnya dengan paksa.
“Loh kamu kok kurang ajar banget Dit, pegang-pegang tangan orang sembarangan!” Alena coba melepaskan pegangan tangan Adit tapi cengkramannya terlalu kuat sehingga Alena susah untuk melepaskannya. Adit semakin erat menyeret tangan Alena menuju ke parkiran mobilnya, sementara Alena yang tidak bisa melepaskan cengkraman Adit hanya bisa pasrah sambil tetap berusaha melepaskan tangannya.
“Dit, tolong lepasin! kalau nggak mau lepasin aku teriak loh!”
“Teriak aja, parkiran ini sepi jadi nggak bakalan ada orang dengar!”
“Awas kalau kamu macem-macem sama aku Dit!” ancam Alena pada Adita tapi kata-kata dia tidak membuat Adit mengurungkan niatnya malah semakin menjadi-jadi.
“Udah kamu ikut aku aja, bukankah kamu seperti cewek-cewek yang lain yang sok jual mahal di depan cowok, padahal sebenarnya mau juga kalau dikasih uang, iya kan? tenang aja aku bisa memberikan kamu uang yang banyak asalkan kamu mau menuruti semua kata-kataku” kata Adit dengan senyuman mengejek.
“Plaaakkkkkkk...!” Tamparan keras mendarat di pipi Adit, membuat kulit hitam manis itu berubah menjadi agak kemerahan.
“Berani-beraninya kamu menamparku! “ bentak Adit sambil memegangi pipinya yang terasa agak nyeri.
“Emangnya kamu anggap aku ini cewek apa’an, punya mulut di jaga ya! aku ini cewek baik-baik!”
“Kalau kamu cewek baik-baik, nggak mungkin dong malam-malam kamu masuk ke mobil Alvin, iya kan? sudahlah jangan sok suci, berapa tarifmu aku bayar 2 kali lipat dari Alvin!” mendengar kata-kata itu, Alena semakin marah. Ia akan melayangkan sebuah tamparan untuk kedua kalinya di pipi Adit, tapi dengan sigap Adit menahan tangan Alena, sehingga tamparan itu gagal terjadi. Setelah itu Adit kembali menyeret Alena untuk masuk ke dalam mobilnya. Alena berontak dan tiba-tiba saja seseorang memukul Adit dari arah belakang, sampai badannya jatuh terjerembab di atas tanah. Darah segar mengalir dari kedua sudut bibirnya.
“Sial, jangan campuri urusanku Alvin!” teriak Adit sambil bangun dan mengusap darah di sudut bibirnya.
“Sudah aku bilang berkali-kali jangan beraninya cuma sama cewek, berdiri dan lawan aku kalau berani!” bentak Alvin pada Adit, sementara Alena sudah berdiri dibelakang tubuh Alvin mencari perlindungan.
“Ohh ya aku tau, kamu lindungin dia karena kamu udah tidur dengan dia? benar kan?”
“Denger ya Dit, Alena itu cewek baik-baik dia bukan seperti yang kamu pikirkan! kalau kamu berani macam-macam lagi sama Alena, aku akan laporin kamu ke bagian HRD biar kamu di pecat dari perusahaan dan karirmu akan berakhir. Selain itu kamu juga bisa aku jeblosin ke dalam penjara dengan tuduhan pelecehan seksual. Pikirkan itu baik-baik!” ancam Alvin sambil mengacungkan jari telunjuknya pada wajah Adit. Ia cuma diam dan tidak membalas kata-kata Alvin.
“Makasih ya, Vin!” ucap Alena lirih.
“Sama-sama Al! Sekarang aku anterin kamu pulang, udah jangan nolak lagi ya!” Pinta Alvin.
“Ya udah!” jawab Alena sambil menganggukkan kepalanya. Mereka berdua meninggalkan Adit yang wajahnya masih terlihat kesal akibat kekalahannya, Alvin mengajak Alena masuk ke mobilnya. Di dalam perjalanan pulang Alvin bercerita kalau dari awal ia tau niat Adit sudah tidak baik pada Alena. Makanya ia membuntuti Alena sampai keluar Hotel dan sembunyi untuk melihat apa yang terjadi dengan Alena selanjutnya, baru ia bertindak. Adit terkenal dengan gelar Playboy nya di kantor. Ia juga suka gonta ganti cewek, makanya Alvin tidak terkejut kalau Adit sampai berani nekat berbuat seperti itu pada Alena. Alena berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Alvin. Ia tidak bisa membayangkan kalau Alvin tidak menolongnya tepat waktu, mungkin Adit sudah berbuat hal yang diluar batas padanya. Alvin tidak mau melewatkan kesempatan saat bersama Alena, ia mengajak Alena mampir untuk makan malam dulu, tapi untuk yang kedua kalinya Alena menolak ajakan Alvin dengan alasan Angga sudah menunggunya di rumah.
****
Keesokan harinya, Alena merasa tidak enak badan. Saat bangun tidur badannya tiba-tiba meriang dan demam, akhirnya ia memutuskan ijin tidak masuk kantor untuk istirahat di rumah. Sementara itu Angga marah-marah pada Alena, ia mengira adiknya itu sakit akibat pulang terlalu malam. Angga sengaja minta ijin pada kantor tempatnya bekerja untuk berangkat agak siang agar bisa menyiapkan sarapan untuk adik kesayangannya itu. Setelah menyiapkan semua keperluan Alena, Angga pun berpamitan untuk berangkat kerja.
“Kamu istirahat dirumah ya Al, jangan lupa minum obatnya! Mas ntar mau ijin pulang cepat temenin kamu di rumah!”
“Iya aku pasti minum obatnya dan beristirahat, Mas Angga nggak usah ijin pulang cepat, ntar aku malah nggak sembuh-sembuh kalau Mas, ada di rumah!” sambil mengerucutkan mulutnya.
“Kok gitu ngomongnya sama Mas?” kata Angga dengan wajah memelas.
“Dah buruan berangkat sana aku nggak apa-apa kok Mas, Ha...Ha...Ha...!” gelak tawa Alena pun tidak bisa dibendung lagi, dia sangat senang sekali melihat ekspresi Angga yang memelas seperti itu.
“Ni anak emang ya, dikhawatirin malah ngerjain orang. Ya udah Mas berangkat dulu, kamu hati-hati di rumah! kalau ada apa-apa cepat hubungi Mas ya!’
“Iya-iya Mas, cerewet banget sih kayak emak-emak kompleks! udah sana cepat berangkat hati-hati di jalan!” Alena mendorong tubuh kakaknya sampai di depan rumah kemudian menutup pintunya kembali. Terdengar suara motor Angga sudah mulai menjauh. Alena kembali ke kamar menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu rumah di ketuk dari luar.
Tok tok!
Ketukan yang tiba-tiba itu membuat Alena terkejut, mau tak mau ia beranjak dari kasur nyamannya itu dan bergegas ke depan untuk membuka pintu rumah.
“Ada apa lagi sih, Mas?” Alena membuka pintu sambil mengomel, mengira yang mengetuk pintu itu adalah Angga. Tapi saat pintu di buka ia sangat terkejut karena yang berdiri di depan pintu bukanlah Angga melainkan orang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seorang laki-laki tinggi dan tampan dengan setelan baju kerja yang pas di tubuhnya, bau minyak wangi dan jam tangan mahal dengan merk terkenal yang melingkar ditangan kanannya, membuat aura ketampanannya semakin terpancar jelas.
“Alvin, kamu ngapain di sini?” dahi Alena berkerut menggambarkan keterkejutannya.
“Aku nggak disuruh masuk dulu nih?” jawab Alvin tersenyum.
“Oh iya silahkan masuk!”
“Makasih Al!”
“Duduk Vin, aku ambilin minum dulu!”
“Eh nggak usah repot-repot aku cuma mampir bentar mau kasihkan ini!” Alvin menyerahkan bungkusan kantong palstik warna putih yang ditentengnya dari tadi, Alena menerimanya dan melihat isinya.
“Itu ada bubur ayam, roti, s**u dan makanan kecil siapa tau kamu butuh buat cemilan ntar siang!”
“Bentar-bentar, kamu tahu darimana kalau aku nggak masuk kerja?” kata Alena dengan wajah penasaran.
“Itu nggak penting yang lebih penting sekarang kamu istirahat biar cepat sembuh! badanmu masih demam kah?” tanya Alvin sembari menyentuh kening Alena. Alena kaget dan langsung menepis tangan Alvin.
“Maaf Al, tanganku refleks tadi!” Alvin meminta maaf karena tampaknya Alena tidak nyaman dengan perlakuannya.
“Iya nggak apa-apa, aku udah agak mendingan tadi udah minum obat juga. Makasih banyak ya Vin, buat perhatiannya!” Alena tersenyum dan berterima kasih pada Alvin.
“Ya udah kalau gitu aku pamit dulu, kamu istirahat saja, cepet sembuh ya Alena!”
“Iya makasih Vin!”
Alvin berjalan keluar dari ruang tamu, menuju ke arah mobilnya di parkir dan berlalu dari rumah Alena, sedangkan Alena tetap berdiri di depan pintu seakan masih tidak percaya dengan hal yang barusan terjadi di hadapannya. Seketika itu perasaan yang aneh mulai timbul di dalam dirinya, yang ia sendiri pun tidak tahu perasaan apakah itu.
****
Malam harinya Alena beristirahat di kamarnya yang nyaman, kamar berukuran 3x4 meter dengan cat dinding berwarna pink dan kasur yang terletak dibawah lantai. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil mengotak atik Hpnya melihat gosip-gosip artis yang sesekali membuat dia tertawa sendiri. Saat sedang asyik-asyiknya dalam dunia khayalan tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara nada dering Hpnya tanda panggilan masuk sedang menanti jawaban sang pemilik. Nama Alvin terpampang di layar Hpnya, sejenak dia berpikir dalam diam setelah itu dia menggeser tombol hijau dan mulai mengangkat teleponnya.
“Hallo, ya Alvin ada apa?”
“Aku bawain kamu nasi padang keesukaanmu, takutnya kamu belum makan! boleh aku anterin ke rumahmu sekarang? Ini aku lagi di gang depan rumahmu.” tanya Alvin di seberang sana.
“Aduh kenapa repot-repot Vin, aku jadi nggak enak sama kamu!”
“Nggak apa-apa kok, kebetulan tadi aku lewat warung nasi padang langgananmu jadi sekalian aku mampir beliin kamu!”
“Ya udah, aku aja yang ke sana ya dirumah ada Masku!”
“Iya aku tunggu, Al!” jawab Alvin di seberang sana.
Setelah menutup teleponnya Alena bergegas keluar kamarnya. Ia mengendap-endap agar tidak tertangkap basah oleh Angga. Ia melihat pintu kamar kakaknya itu masih tertutup rapat jadi ia bisa bernafas dengan lega, mungkin kakaknya itu lagi sibuk di dalam kamar. Biasanya kalau sudah di dalam kamar, Angga tidak akan keluar kalau tidak ke toilet atau ambil air minum. Alena buru-buru keluar rumah, menuju ke gang depan rumahnya. Di sana sudah terlihat Alvin yang berdiri tidak jauh dari mobilnya, Alena berjalan menghampirinya. Alvin tampak tersenyum sambil menyerahkan kantong plastik berwarna hitam yang ada ditangan kanannya.
“Vin, kamu ngapain repot-repot kesini cuma anterin nasi padang?”
“Gak apa-apa Al, biar kamu cepat masuk kerja! soalnya kalau tidak ada kamu aku jadi....” kata Alvin diam tidak meneruskan perkataannya, sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Jadi apa Vin?” kata Alena penasaran.
“Nggak apa-apa Al, ya udah kalau gitu aku balik dulu ya, jangan lupa di makan nasi padangnya!” kata Alvin terlihat salah tingkah.
“Oh iya Vin, makasih banyak kebetulan aku juga belum makan!” belum sempat Alvin menjawab kata-kata Alena, tanpa sengaja kantung plastik yang dibawa oleh Alena terjatuh. Spontan mereka berdua sama-sama menunduk, sehingga kepala keduanya saling berbenturan. Sejenak pandangan mata mereka saling bertabrakan, jarak wajah yang sangat dekat membuat hembusan napas keduanya terasa satu sama lain.