Sebulan telah berlalu ...
Berita tentang pernikahan Alvin dan Sovia pun sudah mulai tersebar di kantor. Banyak orang yang menyayangkan hubungan Alena dan Alvin yang harus berakhir karena orang ketiga. Yah putus karena orang ketiga sudah menjadi rahasia umum, alasan berakhirnya hubungan mereka berdua. Hal itu jugalah yang membuat banyak orang memberikan cibiran pada Alena, karena ia menjadi orang yang terbuang. Banyak yang mengatakan kalau Alvin dan Alena memang bukan pasangan yang sepadan, makanya kisah cinta mereka putus di tengah jalan. Banyak yang bilang juga kalau Alvin lebih cocok bersanding dengan Sovia daripada dengan Alena. Tidak sedikit juga yang memberikan supportnya pada Alena agar tetap terus semangat dalam menjalani hidup, karena jodoh adalah rahasia Tuhan. Tidak ada satupun orang yang tahu siapa yang akan menjadi jodohnya kelak, begitupula dengan Alena. Patah hati dalam percintaan itu wajar, karena sebelum bertemu dengan orang yang tepat kita akan dipertemukan dengan orang yang tidak tepat dulu, bahkan menyakiti kita. Seperti yang dialami oleh Alena sekarang.
Pernikahan Alvin dan Sovia akan dilangsungkan dalam beberapa bulan lagi. Kedua pasangan itu sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Baju pernikahan sudah di pesan, catering dan gedung tempat acara itu dilaksanakan, juga sudah dipersiapkan. Sedangkan untuk acara pertunangan mereka telah digelar secara tertutup di rumah Sovia, beberapa hari yang lalu. Acara pertunangan mereka tidak dihadiri oleh teman-teman kantor Alvin, karena memang ia sengaja tidak mengundang mereka. Semenjak berita itu beredar kondisi psikis Alena semakin memburuk. Ia semakin sering sakit-sakitan, nafsu makannya juga semakin berkurang dari sebelumnya. Biasanya sehari ia bisa makan dua kali, sekarang hanya makan sekali, itupun Vania yang harus memaksanya. Pekerjaan yang biasanya ia kerjakan tepat waktu dan minim kesalahan, sekarang benar-benar telah berantakan. Berkali-kali ia dipanggil ke ruangan Pak Hartono hanya karena membuat kesalahan input berungkali. Sekarang Alena sudah terbiasa dengan omelan dari Pak Hartono, karena hampir setiap hari hal itu terjadi. Tidak ada hari tanpa kesalahan penginputan data yang dilakukan oleh Alena. Vania sampai tidak tega melihat kondisi sahabatnya itu. Setiap diajak berbicara oleh siapapun, Alena selalu tidak fokus dan kadang menjawab dengan jawaban yang agak menyimpang dari topik pembicaraan. Hal itu membuat orang menjadi malas untuk bergaul atau berbicara dengannya. Sekarang ia lebih banyak sendiri atau kadang bersama Vania.
Setelah pulang kerja Alena tidak pernah mau diajak keluar oleh Vania seperti biasanya. Ia selalu mengunci diri di kamar dan tidak mau bertemu dengan siapapun. Satu-satunya orang yang benar-benar sabar menghadapi segala tingkah laku Alena saat ini adalah Vania. Dalam keadaan apapun sedih ataupun senang Vania selalu ada di samping Alena. Vania selalu menemaninya dan kadang jadi bahan pelampiasan kemarahan Alena, kalau ia tiba-tiba emosi. Dalam hatinya Vania hanya berharap agar Alena bisa kembali ceria seperti dulu lagi, dan bisa diajak bercanda dan tertawa bersama-sama. Namun semua itu butuh waktu, karena luka hati Alena saat ini tidak mudah untuk disembuhkan, kalaupun bisa itu adalah niat dan kemauan dari dirinya sendiri.
****
Di depan rumah kontrakan Angga, berdiri seorang laki-laki dengan penampilan casualnya. Ia memakai tshirt polos berwarna putih, bawahan celana jeans belel dengan sobekan di kedua lututnya. Topi putih yang ia pakai di kepalanya menambah kesan maskulinnya. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumah Angga dan mengucapkan salam, tapi tidak ada satu orangpun yang menyahuti dari dalam. Ia mengotak atik Hpnya tapi ternyata Hpnya lowbat. Ia mencoba sekali lagi memanggil nama si pemilik rumah, setelah tiga kali dipanggil barulah Angga keluar. Angga terkejut melihat kedatangan sahabatnya itu.
“Loh, Ervin. Kapan kamu datang ke surabaya?” Angga langsung menghampiri sahabatnya itu. Membuka pintu gerbang depan kemudian merangkul Ervin.
“Barusan.” Ucap Ervin.
“Ayo masuk!” ajak Angga berjalan duluan di depannya kemudian diikuti oleh Ervin dibelakangnya. Angga mempersilahkan Ervin duduk di sofa sedangkan ia menuju ke kulkas untuk mengambil beberapa minuman dingin.
“Kenapa kamu nggak bilang-bilang aku dulu kalau mau ke sini? Aku kan bisa jemput kamu.” Tanya Angga sembari menyerahkan sebotol minuman dingin ke tangan Ervin. Ia menerimanya kemudian langsung meminumnya.
“Kelamaan nunggu kamu jemput. Waktu yang aku gunakan untuk nunggu kamu jemput bisa aku buat untuk tiduran makan dan lain sebagainya. Makanya mending aku ke sini naik ojek online daripada nungguin kamu.” Sahut Ervin dengan muka kesal.
“Makanya beli mobil, biar kalau ke sini nggak ngrepotin orang.”
“Dasar pelit.” Jawab Ervin.
“Bodo amat ....” Begitulah dua sahabat itu, meskipun saat mereka ketemu tidak pernah akur tapi mereka berdua saling menyayangi satu sama lain.
“Oh ... Ya kabar Alena gimana? baik kan?” tanya Ervin dengan penasaran.
“Aku telepon dia tiap malam hari mesti ada di dalam kamar, aneh juga. Biasanya jam segitu dia masih belum pulang ke kostan.” Jawab Angga dengan tatapan kosong.
“Kenapa nggak kamu jenguk di kostan nya aja Bro. Repot amat hidupmu.”
“Aku sibuk akhir-akhir ini sering dinas luar kota terus, makanya aku nggak sempat jenguk dia. Minta tolong kamu aja yang jenguk dia. Ketimbang kamu nggak berguna di sini.”
“Enak aja nggak berguna, aku ada kerjaan di sini mungkin bisa agak lama tinggal di surabaya.”
“Loh kok nggak bilang-bilang kamu.”
“Nah ini kan udah bilang. Nanti mau cari kost aja lah dekat-dekat tempat kerjaku.”
“Kenapa nggak tinggal di sini aja sama aku. Nanti bisa patungan uang listrik sama air juga tuh.”
“Heran, jadi cowok perhitungan banget nih anak.”
“Harus, biar cepat kaya.”
“Kaya monyet.” Sahut Ervin sambil tertawa. Akhirnya mereka berdua pun tertawa bersama.
Malam harinya Ervin sengaja tidak kemana-mana dan hanya berdiam diri di dalam kamar. Semua badannya terasa capek karena perjalanan dari Jakarta ke surabaya yang memakan waktu agak lama. Ia tidak berani naik pesawat terbang ke surabaya. Ia trauma atas kecelakaan yang menimpa orang tuanya, sehingga merenggut nyawa ibu yang sangat dicintainya. Waktu itu ia berusia sepuluh tahun, saat liburan sekolah ia diajak oleh ayah dan ibunya untuk liburan ke pulai dewata. Mereka naik pesawat untuk menuju ke sana. Namun saat kembali pulang, nasib naas menimpa pesawat terbang yang mereka tumpangi. Pesawat itu mengalami kecelakaan karena ada kerusakan mesin dan akhirnya terjatuh ke dalam laut. Beberapa korban menghilang dan tidak ditemukan, termasuk ibunya. Saat itu ia dan ayahnya beruntung karena masih bisa diselamatkan oleh tim SAR. Sejak kejadian itu ia tidak berani sama sekali naik pesawat terbang. Pergi kemanapun terpaksa ia harus naik kereta api atau angkutan umum yang lain. Harusnya perjalanan jakarta-Surabaya yang bisa di tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan, terpaksa harus ditempuh dengan waktu yang lebih lama dengan naik kereta api. Tapi ia tidak keberatan sama sekali, ia merasa lebih nyaman tidak naik pesawat terbang, agar kenangan menyedihkan itu tidak terbuka kembali dalam ingatannya.
Ervin ditugaskan ke surabaya selama beberapa bulan untuk mengawasi cabang disana. Ia bekerja di perusahaan kontraktor besar dan menjadi orang kepercayaan dari pimpinan perusahaan itu. Beberapa waktu yang lalu sebenarnya Ervin telah mendapatkan hadiah mobil baru dari perusahaan atas kerja kerasnya selama ini. Ia dinobatkan menjadi salah satu karyawan terbaik di perusahaan tempatnya bekerja. Ia bahkan sudah memiliki rumah yang dibelinya dengan uangnya sendiri. Rumah itu rencananya akan ditempati olehnya, kalau ia sudah menemukan pendamping hidupnya nanti. Selama ini ia sangat berharap pada Alena, sejak pertama kali ia melihat Alena, Ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dalam diri Alena ia temukan sosok ibunya, sifatnya, gaya bicaranya bahkan sekilas wajahnya pun mirip dengan ibunya. Saat ia melihat Alena, pikirannya merasa tenang karena merasa dekat dengan sosok ibunya. Oleh karena itu sejak lama ia sudah bertekad untuk menjadikan Alena sebagai pendamping hidupnya kelak. Ia tidak pernah tertarik atau bahkan menjalin hubungan dengan gadis manapun. Bukan berarti ia tak laku, banyak dari teman-teman kantornya yang mengejar-ngejar dirinya,tapi memang di dalam hatinya dari dulu sampai sekarangpun tetap ada Alena. Perasaan itu tidak pernah berubah sedikitpun.
Beberapa kali ada kesempatan buatnya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Alena. Namun ia masih terlalu pengecut. Ia takut saat nanti ia menyatakan cintanya dan ditolak, maka ia harus menerima kalau hubungannya dengan Alena akan menjadi renggang. Ia tidak mau itu terjadi, karena itu ia menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Alena. Menunggu saat Alena sudah siap untuk dijadikannya sebagai pendamping hidupnya. Banyak hal yang ia pikirkan malam itu. Ia bertanya-tanya dalam hatinya apakah ini saat yang tepat untuk mendekati gadis yang dicintainya itu. Ia akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan cinta Alena, apapun yang terjadi nantinya. Ia berharap semoga Alena akan menerimanya dan tidak akan menolak saat ia mengungkapkan cintanya nanti.
****
Sudah beberapa hari ini Alena tidak masuk kerja, karena kondisi badannya melemah. Ia berbaring di atas tempat tidur terus menerus. Bangun untuk makan saja harus dibantu oleh Vania atau teman-teman kostnya yang lain. Vania sudah menyarankan pada Alena untuk membawanya rawat inap di rumah sakit, tapi Alena menolak dengan alasan ia lebih nyaman di kostan daripada di rumah sakit. Ia juga meyakinkan Vania, bahwa ia akan segera sembuh meskipun hanya dengan meminum obat rawat jalan saja. Namun kenyataannya obat-obatan itu tidak berfungsi pada tubuhnya. Tidak ada kemajuan yang berarti dengan kondisi tubuhnya, karena percuma saja ia minum obat setiap hari kalau otak dan pikirannya masih selalu tidak tenang. Namun Vania tidak pernah menyerah untuk memberikan dorongan semangat pada Alena agar kondisi sahabatnya itu bisa cepat membaik dan dapat beraktifitas lagi seperti semula.
Pagi itu, saat sedang berbaring di tempat tidur Alena dikejutkan oleh suara Hpnya yang berdering di atas nakas. Ia mencoba meraih Hpnya dengan perlahan, namun karena kondisi badannya yang masih lemah ia tidak kuat dan malah terjatuh di lantai.