23 Kesalahan Kedua 23

1501 Words
Beberapa hari berlalu ..., Sejak Alvin memutuskan untuk meninggalkan Alena, ia jarang kelihatan di kantor. Alvin lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di luar kantor. Bahkan berita tentang kandasnya hubungan mereka berdua tersebar begitu cepat di seluruh kantor. Banyak teman kantornya yang menanyakan kebenaran berita itu pada Alena, namun ia lebih memilih diam, menghindar dan tidak menanggapinya sama sekali. Ia berusaha menutup rapat telinganya dari semua berita yang berhubungan dengan Alvin. Di depan semua orang ia berusaha untuk tersenyum, hanya untuk menunjukkan bahwa ia sedang baik-baik saja. Namun pada kenyataannya tiap malam ia selalu menangis. Dinding kamarnya menjadi saksi bisu kesedihannya yang tak berujung. Alena berubah menjadi sosok yang pendiam dan tertutup. Wajahnya yang dulu terlihat cantik dan ceria seakan telah sirna begitu saja. Setiap hari yang dilakukannya hanyalah bekerja, hal itu sebenarnya hanya untuk mengalihkan kesedihannya saja. Ia sudah tidak memperhatikan dirinya sendiri, bahkan untuk sekedar makan saja sampai harus diingatkan oleh Vania berkali-kali. Alhasil berat badannya sampai turun dengan drastis, karena ia memang sangat jarang menjamah makanan. Vania yang merasakan perubahan pada sahabatnya itu menjadi khawatir. Setiap hari ia mencoba menghiburnya, mengajak Alena berbelanja atau sekedar jalan-jalan ke mall. Bahkan tak jarang Vania menceritakan hal-hal yang lucu dan konyol, hanya agar Alena bisa tertawa lepas seperti dulu lagi. Namun semua itu hanya sia-sia belaka. Rasanya Alena sudah tenggelam di dalam dunianya sendiri, dunia yang penuh dengan kegelapan, yang entah sampai kapan ia bisa keluar dari sana. Memang semua itu terkesan berlebihan, tapi itulah yang sebenarnya memang sedang terjadi pada dirinya saat ini. **** Sore ini sepulang kerja, Vania mengajak Alena ke Mall yang biasanya mereka kunjungi. Rencananya Vania akan membeli beberapa baju dan minyak wangi, karena persediannya di rumah sudah habis. Mereka masuk ke salah satu toko baju bermerk di sana. Toko baju langganan yang biasanya mereka kunjungi ketika datang ke mall itu. Vania memilih beberapa baju yang dipasang di gantungan pakaian, sedangkan Alena cuma duduk menunggu di sofa yang sudah disediakan di toko itu. Alena tampak sibuk megotak atik Hpnya, melihat feed i********: artis-artis atau media gosip yang lagi viral. Kadang ia membubuhkan tanda love di postingan mereka. Ia sedikit terhibur dengan membaca komentar-komentar lucu di beberapa postingan i********: tersebut. Saat asyik dengan Hpnya tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sangat familiar di telinganya, karena ia mengira itu hanya suara dari alam bawah sadarnya, maka ia mengabaikannya. Namun semakin lama suara itu semakin terdengar mendekat, ditambah lagi ada satu suara wanita yang menyahutinya. Rasa penasaran Alena membuatnya menoleh ke belakang untuk memastikan apakah benar suara yang didengarnya adalah suara laki-laki yang ada dipikirannya. Setelah menoleh ia merasa sangat menyesal, apa yang dilihatnya membuat tubuhnya lemas, hatinya merasakan sakit bagaikan dihujam oleh beribu-ribu pisau tajam sekaligus. Dadanya serasa sesak dan menahan emosi yang teramat sangat. Ia melihat sepasang kekasih sedang bergandengan mesra. Sang laki-laki yang berawajah tampan dan sang gadis yang berwajah cantik membuat mereka berdua sukses menjadi pusat perhatian di toko baju itu. ‘Oh Tuhan, kenapa aku harus bertemu mereka di sini. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah mereka lagi.’ Batin Alena melihat kemesraan mereka berdua. Ingin rasanya ia menghampiri dua pasangan kekasih itu untuk memberikan pelajaran yang sangat berharga buat mereka berdua, tapi setelah dipikir-pikir buat apa? dengan melakukan hal itu sama saja ia memperlihatkan kebodohannya sendiri. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menahan semua perasaan emosinya, kecewa dan marahnya hanya untuk beberapa menit saja. ‘Yah benar hanya beberapa menit saja, Al. Kamu pasti bisa. Setelah ini, drama ini juga akan berakhir.’ Batinnya sembari mencoba bersembunyi dari penglihatan dua sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta itu. “Sayang yang warna hitam ini bagus nggak?” terdengar suara gadis itu meminta pertimbangan kepada kekasihnya sembari memegang gaun berwarna hitam di tangannya. “Ia bagus sayang, kalau kamu mau ambil aja. Nanti biar aku yang bayar ya?” sahut sang laki-laki padanya, setelah ia melihat gaun yang dipegang oleh gadis itu. Sayang? begitu mesranya laki-laki itu memanggil gadis itu dengan sebutan sayang? padahal saat bersama Alena dulu, ia tidak pernah memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Darah Alena seakan mendidih, rasanya ia sudah tidak kuat lagi berada di tempat itu. Ia tidak kuat lagi mendengar atau bahkan melihat kemesraan mereka berdua. Situasi itu bahkan membuat ia muak. Iya mereka berdua adalah Alvin dan Sovia, yang tidak sengaja datang ke toko baju yang sama seperti dirinya. Alena berencana berdiri dari tempat duduknya dan akan mengajak Vania pergi dari sana, tapi belum sempet ia berdiri tiba-tiba Vania menghampiri si gadis itu dan melontarkan sebuah kata-kata yang membuat gadis itu malu dan sedikit menghibur Alena. “Baju kayak gini dibilang bagus ... Mbak ... Mbak ... seleramu itu jelek amat sih. Kalau ini sih kayak baju yang biasanya dipakai sama emakku di rumah. Aku aja dikasih nggak mau. Norak!!!” seru Vania sembari memegang baju yang dipegang oleh Sovia. Setelah mengatakan hal itu ia langsung menghampiri Alena tanpa menghiraukan Sovia yang melotot dan Alvin yang sedang mengalihkan pandangannya ke Alena. “Ohh jadi kamu ini temannya, Alena ya? pantes aja seleramu sama kampungannya seperti dia. Emang kelihatan kok cewek berkelas apa nggak itu, cuma diliat dari cara ngomongnya aja. Ya ... seperti kamu gini.” Ucap Sovia dengan gaya sombongnya. “Nggak masalah sih, kami kampungan dan nggak berkelas seperti apa yang kamu bilang, tapi yang jelas kami adalah cewek baik-baik dan terhormat. Kenapa? karena cewek baik-baik tidak akan merebut milik orang lain. Sebegitu nggak lakunya yah kamu, sampai merebut sesuatu yang bukan punya kamu. Udah kayak pemulung aja yang suka ngambilin sampah bekas milik orang lain!!” ucap Vania yang suskes membuat wajah Sovia berubah menjadi merah karena menahan malu. “Kamu ....” Teriak Sovia dengan tangannya yang hampir menampar wajah Vania, untung tangan itu di tangkis oleh Vania sehingga tidak sampai mengenai wajahnya. "Dasar cewek murahan." Ejek Vania sembari meninggalkan dirinya. Hampir semua pengunjung di dalam toko itu melihat ke arah mereka. Sementara itu Alvin terdiam membeku di tempatnya berdiri. Ia terpaku melihat Alena dan tanpa sengaja ia mengabaikan Sovia. Alvin bergegas menghampiri Alena yang saat itu berdiri tidak jauh dari tempatnya. Namun sebelum Alvin mendekat ke arah Alena, Vania sudah memegang tangan Alena, dan menggandengnya pergi dari toko itu duluan. Sovia membuang baju yang dipegangnya ke lantai. Ia sangat marah karena saat itu Alvin tidak membelanya di depan semua orang. Ia merasa malu, harga dirinya merasa diinjak-injak oleh kata-kata yang dilontrakan oleh Vania tadi. Sementara itu Vania berlari dengan menggandeng Alena. Ia tertawa terbahak-bahak mengingat ekspresi wajah Sovia tadi. Tanpa ia sadari ternyata Alena juga tersenyum. “Kamu tau nggak, Al. Ekspresi wajah Sovia tadi. Merah seperti kepiting rebus. Ha ... Ha... Ha ....” Ucap Vania sambil terus tertawa terbahak-bahak, sedangkan Alena cuma tersenyum sembari menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Vania. “Ish kamu nggak seru, Al. Aku udah ngomong kayak gitu ke dia, ehh kamu malah diem aja. Harusnya kan kamu ikutan ngomong yang pedes gitu ke dia, biar kapok tuh cewek.” “Udah kamu wakilin, Van. Makasih ya, ayo kita pulang.” Jawab Alena datar. Yah begitulah Alena semenjak ia putus dari Alvin, ia semakin irit berbicara dengan siapapun, bahkan dengan Vania sekalipun. Ia sudah menjadi orang yang sangat berbeda dari Alena yang dulu. Mungkin karena hatinya yang masih sakit dan terluka makanya ia menjadi pribadi yang berbeda. Vania berharap ini hanya sementara, ia berharap Alena akan kembali menjadi Alena yang ceria seperti dulu lagi. **** Setelah sampai di kostan, Alena masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mendongakkan kepalanya ke atas, memandang lepas ke langit-langit kamarnya yang seakan menjadi saksi kesedihannya saat itu. Tak bisa di pungkiri pertemuannya dengan Alvin dan Sovia tadi siang bener-benar telah mengusik hati dan pikirannya. Selama ini di kantor Alena selalu menghindari kontak mata dengan Alvin. Hubungannya dengan Alvin sekarang hanya sebatas rekan kerja. Berkali-kali Alvin ingin mengobrol berdua dengannya, tapi Alena selalu menolak dengan alasan semua udah clear dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Memang tidak bisa dibohongi hati Alena masih belum bisa berpindah dari Alvin. Setiap malam hari dan di saat ia sendirian, ia masih terus teringat tentang laki-laki itu. Semua kenangan manis saat bersamanya, dan saat Alvin membicarakan tentang masa depan dengannya. Namun semua kenangan itu seakan sirna begitu saja, saat ia kembali mengingat kenyataan pahit yang diterimanya. Begitu teganya ia mencampakkannya begitu saja gara-gara ingin menikah dengan wanita lain, yang katanya sangat dicintainya. Kenapa dulu ia harus berkata-kata manis kalau pada akhirnya semua yang ia katakan hanya bualan dan omong kosong belaka. Mungkin memang dari awal Alvin tidak pernah serius, hanya sekedar main-main dengannya. Bodohnya kenapa selama ini ia terlalu percaya dengan kata-kata manis dan janji-janji manis Alvin. Hatinya merasa sakit saat memikirkan pengkhianatan yang dilakukan oleh Alvin padanya. Apalagi saat melihat Alvin tadi siang bergandengan mesra dengan gadis itu, gadis yang telah secara terang-terangan merebut cinta Alvin darinya. Bukankah sebentar lagi Alvin akan menikahi gadis itu? dengan begitu ia sudah tidak ada hak lagi untuk mencintai calon suami orang lain. Mungkin dengan berpikir seperti itu, ia akan jauh lebih mudah melupakan Alvin dari hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD