Alena tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Sovia padanya. Ia memegangi pipinya yang terlihat memerah karena tamparan itu. Sedangkan semua orang yang pada saat itu ada di sana, mengarahkan pandangannya pada mereka berdua. Akhirnya mereka berdua menjadi tontonan banyak orang. Wajah Alena memerah ia menahan malu yang teramat sangat. Ia benar-benar tidak menyangka Sovia akan mempermalukannya di depan orang banyak, di tambah lagi itu adalah tempatnya bekerja. Andaikan waktu bisa di hentikan, mungkin saat itu ia sudah menghentikannya dan ia akan segera pergi dari sana. “Hei, kamu dasar pelakor ya!” teriak Sovia pada Alena yang sedang berdiri di depannya. “Pelakor? Apa maksdmu Sovia?” tanya Alena mencoba menutupi kekhawatirannya. “Jangan berpura-pura bodoh. Dasar wanita gatel.” “M

