Bagian 1
"Des, mau ikut gak ke Gede-Pangrango?" Rivan mengirim pesan w******p padaku.
"Kapan? Siapa aja?" Balasku cepat
"Sabtu depan. Gue, Ferdy sama Toyib temennya Ferdy," Rivan menjelaskan.
"Cariin ceweknya lagi dong, biar gue ada temennya."
"Oke nanti gue coba ajak si Vika sama Resti," jawab Rivan.
Rivan dan Ferdy adalah teman sependakianku, kami bertemu 3 tahun yang lalu ketika sama-sama ikut sebuah open trip ke gunung Rinjani yang di gagas oleh salah satu Trip Organizer yang bermarkas di Bandung.
Dan sejak pertemuan itu, kami jadi sering melakukan pendakian bersama di beberapa gunung lainnya.
Sedangkan Toyib, aku belum tahu sama sekali, mendengar namanya saja baru kali ini.
Singkat cerita, Jumat malam Rivan, Ferdy dan Toyib menjemputku ke rumah.
Formasi kami masih tetap sama seperti yang Rivan katakan tempo hari, aku adalah wanita satu-satunya dalam pendakian kali ini
"Bu, kami berangkat dulu ya," Ucap Rivan dan yang lainnya berpamitan pada ibuku.
"Hati-hati ya, nitip Desi!" balas Ibuku.
"Siap Bu!" Ucap Rivan sambil mengangkat tangan kanannya menirukan orang yang sedang hormat.
Perlahan tapi pasti, mobil yang dikemudikan Toyib mulai melaju meninggalkan rumahku di kawasan Bandung Selatan.
Awalnya perjalanan kami lancar-lancar saja, namun saat kami akan memasuki daerah Cianjur, tepat saat mobil ini berada di sebuah jembatan besar tiba-tiba saja mesin mobil kami mati.
"Eh kenapa Toy?" Tanya Rivan.
"Abis bensin kali?" Timpal Ferdy
"Ah nggak kok, sebelum berangkat udah gue isi fullteng," jawab Toyib sambil berusaha menghidupkan kembali mobil ini.
"Jangan di tengah jalan gini Toy, ke pinggirin dulu tuh disana!" Saran Ferdy setelah melihat Toyib yang beberapa kali gagal menghidupkan mesin mobil.
Kuperhatikan jarak dari posisi kami untuk sampai di ujung jembatan ini tidak lebih dari 25 meter. Tidak terlalu jauh pikirku, hitung-hitung pemanasan sebelum pendakian nanti.
"Oke satu, dua, tiga!" Ferdy memberi aba-aba.
Dengan sekuat tenaga kami mendorong mobil ini keluar dari jembatan untuk menepi.
Perlahan-lahan roda mobil mulai melaju seirama dengan langkah kaki dan tenaga kami. Semakin lama mobil ini terasa semakin ringan, bahkan kini kami mendorongnya dengan setengah berlari.
"Gue kira deket, ternyata kalo lagi begini berasa jauh ya!?" Ucap Rivan sedikit berteriak.
Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapannya tersebut, dan saat aku melihat ke depan ternyata benar.
Ujung jembatan ini masih terlihat sama seperti tadi. Kami hanya bergeser sedikit saja.
"Aneh, perasaan tadi ngedorong udah lumayan jauh," ucapku dalam hati.
Aku langsung menengok ke kanan dan ke kiri entah untuk apa, namun aku merasakan hawa di tempat ini kini berubah menjadi tidak enak.
Perlu waktu sekitar 20 menit bagi kami untuk bisa sampai di ujung jembatan ini.
Menurutku itu adalah waktu yang kurang sepadan untuk mendorong sebuah mobil di jalanan datar sejauh kurang lebih 25 meter.
"Haduh, untung gak ada kendaraan lain yang lewat," ucap Rivan dengan nafas ngos-ngosan setelah kami menepi.
Memang benar yang dikatakan Rivan, semenjak mesin mobil ini mati, aku tidak melihat ada satu kendaraan pun yang melintas. Padahal kondisi belum terlalu malam, kulihat jam masih menunjukan pukul sepuluh kurang.
Toyib kembali berusaha untuk menghidupkan mobil ini, namun hasilnya masih tetap nihil. Mesin dan bensin pun tak luput untuk kami periksa dan keduanya tidak ada masalah.
"Ngopi dulu lah biar gak panik!" Ferdy beranjak menuju warung terpal yang masih buka. Kami pun mengikutinya.
"Mau pada kemana?" Bapak penjaga warung menyapa kami.
"Mau naik gunung Pak," jawabku ramah.
"Oh kemping? ke gunung mana?"
"Iya Pak, ke gunung Gede," jawabku lagi.
"Sekarang mah udah rame yang kemping kesana, dulu mah angker Neng, sepi!" Ucap beliau yang ternyata dulunya pernah 2x mendaki kesana.
Setelah beliau mengetahui bahwa mobil kami mogok, beliau hanya berkata, "Udah biasa itu mah, nanti juga nyala lagi."
Kami pun langsung mengerti maksud beliau tanpa harus menanyakan alasannya.
"Bismillah....." Ferdy mencoba memutar kunci mobil, dan benar saja. Mobil langsung menyala lagi.
"Alhamdulillah..." Ucap kami hampir berbarengan.
Kami pun berpamitan pada Bapak penjaga warung untuk melanjutkan perjalanan. Bapak itu hanya berpesan agar kami hati-hati.