Bagian 7

666 Words
Tanjakan demi tanjakan kembali kami lalui dengan bersusah payah, aku merasa jalur ini lebih berat dari jalur normal yang kami lalui tadi malam. Berkali-kali aku berhenti untuk mengumpulkan kembali tenaga yang cepat sekali hilang. Kami ber-4 mulai tidak 'klik' lagi. Banyak sekali perdebatan-perdebatan dengan tensi tinggi yang terjadi di sepanjang jalur, terlebih Ferdy dan Toyib, mereka berdua selalu terlibat perseteruan yang sengit. Untung saja aku dan Rivan bisa sedikit meredam emosi mereka berdua. Kulihat jam di handphone sudah menunjukan pukul dua siang, tetapi kami masih belum sampai di percabangan itu. Kenapa terasa jauh sekali? Ingin rasanya aku menangis. Tega sekali kang Beni membohongi kami semua sampai hampir tersesat seperti ini. "Makanan masih ada Fer? Gue laper!" tanya Rivan. "Ada, yaudah istirahat dulu," ajak Ferdy sambil membuka tasnya lalu mengeluarkan roti dan biskuit. "Tenang gausah panik, yang penting kita kompak, selalu berbarengan. Gausah saling menyalahkan. Kita semua sama, gak ada yang mau ngalamin hal kayak gini!" Rivan memberikan petuah pada kami semua. Tidak ada yang mengomentari petuah Rivan tersebut, aku sendiri sudah terlalu lelah sehingga memilih untuk diam. "Wey kalian, senyum dong diem-diem bae. Roti ngapa roti," usaha Rivan untuk mencairkan suasana sedikit berhasil. Kami semua tersenyum mendengar ucapannya tersebut. "Nah gitu dong makan, pura-pura bahagia juga butuh tenaga Des!" ucap Rivan saat aku mengambil sepotong biskuit, dan langsung membuatku tertawa. "Fer, Toy. Terus terang aja gue gak suka kelakuan kalian berdua yang kayak tadi! Dalam kondisi seperti ini seharusnya kita saling jaga dan saling menguatkan. Bukan malah bertengkar!" Dengan suara yang bergetar Rivan menasehati mereka berdua. Ferdy dan Toyib mengakui kesalahannya dan saling meminta maaf, entah kenapa hati ini menjadi terharu melihat mereka berdua. Setelah kondisi kami semuanya normal, kami kembali melanjutkan lagi perjalanan. Tidak berselang lama akhirnya kami mendengar suara dari pendaki lain. "Wooyy...!" "Wooyy...!" Pendaki itu merespon teriakan Ferdy. Dengan semangat 45 kami langsung mendekati sumber suara tersebut yang sepertinya berada di sebelah kanan kami. "Tunggu bang, kami salah jalur ini!" "Oh, ini disini nih!" Teriak pendaki itu. Sambil terus berteriak kami berjalan memotong jalur terus menuju ke arah kanan. Medan yang miring tak membuat kami berputus asa. Ranting-ranting pohon yang menghalangi tidak kami gubris. Yang penting kami bisa kembali ke jalur yang benar. Akhirnya...perasaanku lega. Setelah kurang lebih 15 menit kami 'asruk-asrukan' menembus semak dan hutan, alhamdulillah kami berhasil menemukan jalur itu. "Makasih bang," ucap Rivan sambil tersenyum. "Kenapa bisa kesitu bang?" Tanya pendaki itu. "Iya kami tadi salah ambil jalur pas percabangan diatas," jawab Rivan malu-malu. "Oh.. Emang ada percabangan diatas? Saya gak liat," ucap pendaki itu sambil melanjutkan perjalanannya. Sore pukul lima lebih akhirnya kami sampai di persimpangan gunung Gede. Dengan berbagai pertimbangan kami pun mengurungkan niat untuk ke puncak gunung Gede, kami memilih untuk kembali ke tenda. Kondisi kami sudah sangat kelelahan sekali, untungnya kami masih mempunyai jatah semalam lagi. Kami sengaja booking 3hari 2malam karena memang akan melakukan double summit. Kondisi sudah mulai sepi saat kami tiba di camp area Kandang Badak, hanya menyisakan beberapa tenda saja dan orang-orang yang sedang beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan turun. "Kita langsung turun aja ya, gue gak enak hati nih lama-lama disini," pinta Toyib. "Gak enak hati gimana maksud lu?" Tanya Rivan yang tidak paham dengan perkataan Toyib. "Ya pokonya gue gak nyaman." "Maksud lu apaan sih Toy?" Aku mulai kesal. "Gak bakal bener Toy, kita harus istirahat dulu. Kaki lu gak pegel emang?" Tanya Ferdy. "Iya, besok pagi aja biar enak. Istirahatin tubuh lu jangan di paksain," ucapku sepakat dengan Ferdy. Awalnya Toyib bersikeras ingin segera turun, namun akhirnya dia mengalah menghadapi kami bertiga yang memilih untuk bermalam lagi disini. Lagian memang aku sudah sangat lelah sekali, terlalu beresiko jika dipaksakan turun saat ini juga. Kami memindahkan tenda berdampingan dengan tenda milik pendaki lainnya, agar bisa mengobrol dengan mereka dan juga agar lebih dekat dengan sumber air. Malam mulai hadir kembali menemani kami, kulihat Toyib sikapnya semakin berubah, dia menjadi lebih pendiam dan banyak melamun, entah kegelisahan apa yang kini tengah dirasakannya. "Woy!!! Kenapa diem aja lu?" Teriak Ferdy sambil menepuk Toyib.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD