Arhan menatapnya penuh penyesalan, lalu ia pun berdiri, menghampiri anak-anaknya di kolam. Air mata Kayla menetes. Ia belum siap hamil. Ia masih ingin bermain dengan teman-temannya, masih ingin bekerja, masih ingin menikmati masa mudanya. Semua impian itu seolah direnggut paksa. Tiba-tiba, rasa mual kembali terasa. Ia segera pergi ke toilet, muntah-muntah, dan merasa sangat lemas setelahnya. Ia menutup kloset dan bersandar di atasnya, sambil menangis tersedu-sedu. Arhan mendengar suara isak tangis itu. Dengan hati-hati, ia beranjak dan menghampiri Kayla. "Maafkan aku, Kayla," ucap Arhan dengan lembut, seolah setiap perkataannya adalah duri tajam bagi Kayla. "Sakittt!" ucap Kayla sambil menunduk lemas di atas kloset, kepalanya terasa berdenyut. "Aku harus bagaimana?" tanya Arhan

