Malam itu, tidur Kayla sangat gelisah. Ia kembali terperosok dalam mimpi buruk, di mana ia melihat kembali momen mengerikan ia dipaksa oleh Arhan. “Jangan, Tuan… aku takut…” rintihnya lirih dalam tidur. Ia merintih dan menangis pilu dalam mimpinya, hingga Tari terbangun dan menyadari kegelisahan sahabatnya. “Kay, bangun…” bisik Tari pelan, menggoyangkan bahu Kayla. “Sakiiit…” gumam Kayla, air mata membasahi bantal. “Kayla, bangun!” Tari menguatkan suaranya, sedikit panik. Kepala Kayla bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat, matanya basah, dan keringat dingin membasahi bajunya. Tari menggoyangkan bahunya lebih kuat. Akhirnya Kayla terbangun, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Ia buru-buru memeluk Tari erat-erat, mencari perlindungan. “Lo sering g

