Kayla terbangun sore itu, disambut riuh suara Anya dan Sasa yang baru pulang. “Makan, Kayla!” teriak mereka, ceria. “Mandi dulu,” ucap Kayla, beranjak masuk ke kamar mandi. Tak lama, suara isak tertahan dan muntah terdengar. Perutnya kembali tak tahan menahan rasa sakit. Usai mandi, Kayla berpakaian santai—kaos dan celana pendek. Ia duduk dan mulai makan bersama Anya dan Sasa. Tari masih dalam perjalanan. “Lemas gue,” keluh Kayla, sambil bersandar di bahu Anya. “Sabar, ya, Neng. Jadi ibu itu nggak gampang,” ujar Sasa, mencoba menghibur. “Davin mana? Kok nggak kelihatan?” tanya Kayla. “Ada, dia sibuk,” jawab Sasa sambil mengunyah. Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Anya membukanya, dan ternyata yang datang adalah Robi. “Masuk, Bi,” sambut Sasa, ramah. Robi pun masu

