“Nonton film apa?” tanya Robi di depan kasir, matanya melirik Kayla yang tampak sibuk menatap deretan poster di dinding.
“Horor, deh,” jawab Kayla sambil menatap sekeliling, mencoba terlihat santai padahal jantungnya sudah berdebar duluan.
“Popcorn-nya rasa apa?” tanya Robi lagi.
“Rasa yang pernah ada,” ucap Kayla terkekeh.
“Wow, kita dong,” sahut Robi cepat sambil tersenyum manis.
“Dih,” Kayla pura-pura jijik, tapi pipinya memerah.
“Caramel, ya?” tawar Robi.
“Boleh.”
Setelah selesai membeli tiket dan camilan, Kayla merangkul lengan Robi. Mereka berjalan masuk ke gedung bioskop, suasananya agak temaram dan dingin.
“Kok pilih Sweet Box sih?” tanya Kayla curiga.
“Biar nyaman, Kay. Jangan suudzon deh,” ucap Robi sambil menahan senyum jail.
“Bukan suudzon, tapi—” ucapan Kayla terhenti ketika Robi menarik tangannya.
“Udah, ayo! Film-nya mulai.”
“Selfie dulu!” seru Kayla, cepat mengeluarkan ponsel.
“Oke,” sahut Robi langsung bergaya santai.
Kayla tersenyum puas. Tanpa berpikir panjang, ia membuka blokir Zevan—mantan pacarnya—dan mengunggah foto bareng Robi. Caption-nya simpel tapi tajam:
“My first love.”
Beberapa detik kemudian, notifikasi komentar berdatangan.
“Jadian lagi?” tulis Tari.
“Gaskeun!” sahut Sasa.
“Jangan lama-lama!” dari Anya.
“Acieee~” balas Davin.
“Apa sih rame amat,” ucap Robi sambil meraih ponsel Kayla dan membaca komentarnya. Ia tersenyum geli.
Tapi tawa itu tak bertahan lama. Nama Zevan muncul di layar ponsel, menelepon terus-menerus.
Kayla menghela napas, memasukkan ponselnya ke tas, dan menatap layar lebar. “Males,” gumamnya pelan.
Di tengah film, Kayla mulai ketakutan. Tangannya refleks memeluk lengan Robi erat-erat.
“Tadi katanya pilih horor, kok takut?” goda Robi sambil berbisik.
“Serem ternyata,” jawab Kayla sambil menatap layar, matanya tetap lekat meski separuh menutup.
“Telpon lo nggak diangkat, tuh. Geternya berisik,” bisik Robi.
“Biarin aja.”
Hening sejenak. Hanya suara film dan napas Kayla yang terdengar.
“Kenapa putus sama dia?” tanya Robi tiba-tiba.
Kayla menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. “Dia selingkuh, Bi.”
“Lo yakin?”
“Aku liat sendiri, Bi… dengan mata kepala sendiri,” ucapnya lirih. Air mata mulai mengalir. “Mereka lagi… ML.”
Robi tertegun. “Serius? Sama siapa?”
“Laras. Teman sekantor gue. Sahabat gue, Bi.”
“Shhh… udah, udah. Jangan nangis.” Robi memeluk Kayla lembut. “Kalau deket, udah gue hajar mereka berdua.”
Kayla menyeka air matanya. “Lo tau nggak, Bi? Waktu gue ke apartemennya, gue bawa kue ulang tahun. Udah gue nyalain lilin buat surprise-in dia. Tapi malah gue yang kena surprise.”
Ia tertawa getir. “Gue marah, Bi. Zevan ngejar gue. Nah, kue yang masih nyala itu gue lempar ke sofanya. Nggak tau gimana, katanya sofa-nya kebakar. Jadi… kebakaran beneran.”
Robi melongo. “Lah, serius?”
“Iya. Dan lo tau, si Laras kebakar. Nih, liat.”
Kayla menunjukkan foto Laras di rumah sakit, penuh perban.
“Karma kontan,” ucap Robi kesal.
“m***m mereka!” geram Kayla.
Tiba-tiba notifikasi chat dari Zevan muncul.
‘Kamu di mana? Aku di Bandung, nyari kamu ke rumah tapi nggak ada.’
Kayla mengetik cepat.
‘Kepo.’
‘Katakan di mana?’ balas Zevan.
Robi yang melihat jadi geram. “Balas aja, bilang di mall. Gue mau hajar dia.”
“Bii, jangan,” cegah Kayla.
“Dia udah nyakitin lo. Gue nggak bisa diem aja.”
Kayla mendesah. “Terserah lo, deh,” ucapnya akhirnya sambil membalas chat Zevan.
‘Di mall.’
‘Otw.’
Beberapa menit kemudian film selesai. Mereka keluar dari bioskop.
“Makan dulu?” tanya Robi.
“Mauu,” jawab Kayla manja.
Mereka naik ke rooftop café langganan, tempat yang dulu sering mereka datangi waktu masih muda. Robi memesan makanan kesukaan Kayla.
Belum lama duduk, Zevan muncul. Matanya tajam, nadanya dingin. “Jadi kamu yang selingkuh duluan?”
“Iya! Dia pacar gue dari dulu!” bentak Kayla.
Zevan menghela napas berat. “Kay, serius… aku nggak mau kehilangan kamu.”
“Udah sana, pergi. Tidur lagi sama si Laras! Bukannya itu yang lo mau?!”
“Kayla, aku mohon. Maafin aku.”
“Lo nggak ngerti ya disuruh pergi?!” bentak Robi tiba-tiba, berdiri dan menatap Zevan garang.
“Urusannya apa sama lo?!” teriak Zevan, menantang.
“Urusan Kayla, urusan gue juga! Lo udah sakitin dia, b******k!”
Belum sempat Kayla menenangkan, Robi melayangkan tinju keras ke wajah Zevan.
Zevan membalas cepat, tinjunya mendarat di hidung Robi hingga berdarah.
“Ya Tuhan!” seru Kayla, panik berusaha memisahkan mereka.
“Udah! Udah, Bi, udah!!” teriaknya.
Namun Zevan kembali mengayunkan pukulan. Sayangnya, arah tangannya meleset—dan bugg!
Pukulan itu mendarat di wajah Kayla.
Semua berhenti. Wajah Kayla terpukul tepat di dekat mata, tubuhnya limbung, lalu jatuh pingsan.
“Kayla!” teriak Robi panik.
Amarah meledak. Robi menghajar Zevan tanpa ampun, satu, dua, tiga pukulan bertubi-tubi sampai beberapa orang berlari memisahkan mereka.
Dengan napas terengah, Robi langsung menggendong Kayla. “Bertahan, Kay. Lo aman, ya. Gue bawa lo ke rumah sakit sekarang.”
Ia berlari keluar kafe, wajahnya tegang dan penuh darah—antara luka dan amarah yang belum padam.