Malam itu terasa sunyi.
Hanya suara hujan yang menetes di luar jendela ketika Kayla berdiri di depan pintu apartemen kekasihnya.
Ia membawa sebuah kue ulang tahun kecil dengan lilin angka 28 di atasnya. Api lilin menari-nari pelan di bawah cahaya lampu koridor yang temaram.
Kayla tersenyum tipis, menatap nyala itu seperti menatap harapan.
“Selamat ulang tahun, Van…” gumamnya lirih.
Ia menarik napas panjang, menahan degup di d**a, lalu menekan kode pin di pintu apartemen Zevan.
Beep.
Pintu terbuka.
“Kenapa gelap?” gumamnya heran.
Ia menyalakan lampu—dan dunia seperti berhenti berputar.
Baju-baju berserakan di lantai.
Kaos, celana, pakaian dalam wanita.
Kayla menelan ludah, jantungnya berdebar keras. Langkahnya pelan tapi pasti menuju kamar yang sedikit terbuka.
Dan di balik celah itu... terdengar suara desahan.
Tangan Kayla refleks menutup mulutnya.
Air mata langsung menggenang di pelupuk.
Ia tak salah lihat—seorang wanita berada di atas tubuh Zevan, kekasihnya.
Kayla mundur satu langkah, napasnya tersengal.
Dada terasa seperti diremas, panas, sesak.
“Zevan…” bisiknya hampir tanpa suara.
Namun kata itu tenggelam oleh suara BRAKK!
Gelas wine di meja jatuh dan pecah.
Kayla tersentak, darah mengalir dari telapak kakinya yang menginjak pecahan kaca.
Ia ingin lari, menjauh dari semua kebohongan itu. Tapi sebelum sempat keluar, Zevan berlari keluar kamar dengan wajah panik.
“Kay! Kay, tunggu! Aku bisa jelasin!” teriaknya.
Kayla membelakanginya, tubuh gemetar menahan tangis.
“Nggak ada yang perlu dijelasin, Zevan. Kita udah selesai.”
Ia melempar kue ulang tahun itu ke sofa. Lilin masih menyala, nyalanya kecil tapi cukup untuk memantik api yang mulai merambat ke kain.
Wanita dari kamar—Laras—tersenyum puas melihat Kayla pergi.
Kayla tak tahu, bahwa wanita itu adalah sahabat yang paling ia percayai.
Zevan berlari mengejar Kayla ke lantai bawah.
Sementara di atas, Laras tertidur kelelahan setelah “pertempuran” mereka, tak sadar api mulai membesar.
Gorden terbakar, menjilat kabel wifi, menjalar ke karpet dan meja makan. Dalam hitungan menit, seluruh ruang tamu berubah jadi neraka kecil.
“Kay! Tunggu dulu, dengerin aku!”
Zevan berhasil menyusulnya di basement.
Kayla berhenti, air matanya bercampur dengan air hujan yang mulai turun.
“Mau jelasin apa lagi, Van? Gue udah liat semuanya!”
Suaranya pecah.
“Aku… aku dirayu terus sama dia, Kay. Aku khilaf!”
Kayla menatapnya tajam, matanya merah basah.
“Ya, gampang banget dirayu kan? Sedangkan gue—gue yang nggak pernah lo sentuh, malah lo khianatin. Dia lebih baik, ya? Ya udah! Gue pergi.”
“Kay, pliss! Aku sayang kamu!”
“Lo sayang gue tapi lo selingkuh?! Setan lo, Van!!"
Zevan menunduk, suaranya gemetar.
“Demi Tuhan, aku sayang kamu… aku sama dia cuma…”
“Cuma apa?! Cuma pelampiasan nafsu lo?! Jijik gue denger lo!”
Kayla hendak naik motornya, tapi Zevan menahan tangannya.
“Kay! Jangan gitu, tolong dengerin aku dulu!”
Pertengkaran makin panas—sampai tiba-tiba…
DUAAAR!!!
Suara ledakan menggema dari lantai sembilan.
Zevan dan Kayla sama-sama terkejut.
“Apa itu?”
“Kebakaran! Kebakaran!” teriak orang-orang dari arah tangga darurat.
Ledakan kedua terdengar—lebih keras.
Gas elpiji meledak di dalam kamar Zevan. Api melahap segalanya.
“Bang! Apartemen lo kebakaran! Lo di sini aja ngapain?” teriak seorang tetangga.
Zevan mematung, wajahnya pucat.
“Laras…” gumamnya pelan.
Kayla menatapnya tanpa suara. Air matanya tak berhenti jatuh, tapi bukan karena kebakaran—karena hatinya sudah lebih dulu hangus.
“Kamu tunggu di sini!” Zevan berlari naik.
Kayla tidak menahannya. Ia hanya menatap punggung Zevan yang menjauh lalu berbalik, menyalakan motor.
Hujan turun makin deras. Jalanan basah, tapi ia tetap memacu gas, melawan badai, melawan perih di d**a.
Setiba di kos, Kayla meletakkan kue yang sudah hancur di lantai.
Ia terduduk, memeluk lututnya. Tubuhnya masih basah, rambutnya meneteskan air.
“b******k lo, Van… gila lo…” teriaknya parau.
Ia masuk ke kamar mandi, membasuh tubuh dan luka di kakinya, lalu mengganti pakaian.
Dengan mata bengkak, ia mulai memasukkan baju ke dalam koper kecil.
“Ngapain juga gue di sini. Gue mau pulang aja…” gumamnya.
Ponselnya berbunyi. Grup kantor ramai.
Salsa: Kay, lo tau nggak?
Tania: Tau apa?
Kayla: Tau apa sih?
Salsa: Si Laras… dia kebakar di apartemen pacar lo. Sekarang di rumah sakit.
Kayla terdiam.
“Laras…?” bisiknya tak percaya.
Sahabat yang selama ini ia anggap saudara, ternyata pengkhianat yang kini terbaring karena dosa sendiri.
Tania: Kay, lo nggak apa-apa kan?
Kayla: Gue mau pulang.
Salsa: Ke mana?
Kayla: “Gue mau resign. Gue pulang ke Bandung.”
Tania: “Kay, jangan. Lo paling dipakai di kantor, lo penting banget!”
Kayla: “Gue nggak bisa tinggal di sini lagi. Gue sakit hati.”
Salsa: “Sabar ya, Kay…”
Kayla: “Iya. Makasih.”
Chat berakhir.
Kayla menutup ponsel, lalu rebah di kasur sempit kosannya.
Matanya menatap langit-langit yang lembab.
Air mata jatuh tanpa suara, sampai akhirnya ia tertidur—dalam kesepian yang panjang.
Keesokan paginya, Kayla tak masuk kerja.
Ia sudah memutuskan untuk pulang ke Bandung. Hatinya hancur, dan yang tersisa hanya keinginan untuk pergi sejauh mungkin dari segala hal yang mengingatkannya pada Zevan.
Kayla memasukkan helm ke dalam tas motornya, lalu merapikan jaket jeans yang mulai pudar warnanya. Baru saja ia hendak menyalakan motor, suara klakson mobil membuatnya menoleh.
Sebuah CR-V hitam berhenti di depan kosan.
Zevan turun dengan wajah lelah, matanya sayu tapi tetap memaksa tersenyum.
“Kayla… kamu mau ke mana?” tanyanya pelan.
“Pulang,” jawab Kayla ketus tanpa menatapnya.
“Kay, pliss… jangan gini, dong.”
Zevan mendekat, tapi Kayla langsung menatapnya dengan mata merah yang menyimpan amarah.
“Lo maunya apa, Van? Mau enak sendiri? Lo selingkuh tapi masih nggak mau lepasin gue? Dan parahnya—lo selingkuh sama sahabat gue sendiri! b******n!” teriak Kayla, suaranya bergetar antara marah dan sedih.
“Kay, dengerin aku dulu. Laras yang mulai, dia yang sering datang ke apartemen aku. Aku selalu nolak, tapi dia ngancam, Kay—aku nggak tahu harus gimana,” ucap Zevan terbata-bata.
Kayla menatapnya dengan tatapan tajam yang mampu membuat siapa pun ciut.
“Dan akhirnya lo mau juga, kan? Ya udah, cocok. Lo sama Laras tuh sama—dua-duanya setan!”
“Kay… jangan pulang. Masuk kerja hari ini, ya. Kita bicarain baik-baik,” pinta Zevan lirih.
Kayla menatapnya dingin.
“Kita udah putus, Van. Jadi jangan ngatur-ngatur gue lagi, paham?”
Ia berbalik dan membanting pintu kosannya hingga terdengar gema keras di lorong sempit itu.
Zevan hendak menyusul masuk, tapi seorang ibu kos menegurnya sambil berdehem.
“Kosan putri, Mas. Nggak boleh masuk.”
“Maaf, Bu…” ucap Zevan, menunduk.
Dari dalam, Kayla masih mendengar suaranya.
“Kayla… Kay, jangan marah, ya…”
“Pergi lo, b*****t!” balas Kayla lewat chat.
Zevan membaca pesan itu, menghela napas panjang, lalu membalas:
“Oke… tapi aku antar kamu ke Bandung, ya.”
“Ogah! Najis.”
Kayla langsung memblokir nomornya.
Zevan menatap layar ponselnya yang gelap, lalu menatap pintu kos yang tertutup rapat. Ia masih menunggu di luar, berharap Kayla keluar, tapi Kayla hanya mengintip dari balik jendela.
“Sialan, dia masih aja nunggu…” gumamnya kesal.
Telepon Zevan berdering.
“Hallo!”
“Van, rapat di mana, woi?!” suara sahabatnya di seberang terdengar panik.
“Aku ke sana,” jawab Zevan cepat lalu menutup telepon.
Sebelum pergi, Zevan menoleh lagi ke arah kos Kayla.
“Kay, aku pergi dulu… kamu jangan pergi, ya. Please, sayang!” teriaknya.
Kayla mendengarnya dari balik dinding.
Ia hanya menatap kosong.
“Pergi lo jauh-jauh…” bisiknya pelan.
Begitu suara mobil Zevan menjauh, Kayla buru-buru keluar, membawa koper dan tas ranselnya.
“Kak, titip kunci kosan, ya. Aku pindah hari ini. Tolong sampaikan ke Ibu Kost,” katanya pada tetangganya.
“Hati-hati di jalan ya, Kay,” balas tetangganya lembut.
“Makasih, Kak.”
Kayla menyalakan motor dan melaju pelan meninggalkan kota itu.
Siang mulai terik. Jalanan panjang membentang di depannya seperti tak berujung.
Ia menatap jalan sambil menahan air mata.
Dalam perjalanan, wajah Zevan terus muncul di kepalanya.
Setiap tawa, setiap janji, terasa seperti duri yang menancap di hati.
Tapi Kayla tahu—ia harus kuat.
Beberapa kali ia berhenti untuk beristirahat, minum, dan mengelap air mata yang tak kunjung kering.
Setelah hampir tujuh jam, akhirnya ia tiba di rumah sederhana milik ibunya di Bandung.
“Assalamualaikum…” ucapnya lirih di depan pintu.
“Waalaikumsalam. Loh, Kayla pulang?” suara Bu Ami, ibunya, terdengar gembira.
Kayla tersenyum lemah, mencium tangan ibunya.
“Iya, Bu…”
“Arka mana?” tanya Kayla pelan.
“Main, bentar lagi pulang,” jawab Bu Ami sambil membantu Kayla membawa koper.
“Kamu pindah, Nak?”
“Iya, Bu.”
“Kenapa?”
Kayla terdiam. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar.
Ia hanya menunduk, menahan air mata.
Bu Ami menepuk bahunya lembut.
“Udah, istirahat aja dulu. Kamu pasti capek.”
Kayla mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Di kamar lamanya, Kayla menatap sekeliling.
Semuanya masih sama—tirai bermotif bunga, kasur kecil, dan foto-foto masa SMA yang menempel di dinding.
Ia tersenyum samar.
“Kangen mereka…” gumamnya.
Matanya berhenti di satu foto lama—foto cinta pertamanya, dengan tulisan spidol “Lo kemana?” di bawahnya.
“Heh, lo kemana, sih…” katanya geli, sambil terkekeh pelan.
Ketukan pintu membuatnya menoleh.
Bu Ami muncul sambil membawa secarik kertas kecil.
“Ibu lupa, tadi Anya sama Tari sempat ke sini. Mereka nitip nomor ini. Katanya kangen banget sama kamu,” ucap ibunya sambil menyerahkan kartu nama Tari.
“Makasih, Bu.” Kayla tersenyum hangat.
Ia menatap kartu nama itu.
“Gila, dia jadi desainer sekarang,” katanya kagum.
Kayla segera menekan nomor yang tertera.
Telepon berdering.
“Hallo?” suara di seberang menjawab.
“Hay…”
“Kayla?!” suara itu langsung melonjak.
“Heeum.”
“Aaaaakh, gue kangen banget!” teriak Tari histeris.
Kayla tertawa kecil. “Dimana lo sekarang?”
“Gue buka butik, dateng dong besok!”
“Besok ya.”
“Siap! Gue tunggu!”
“Ya udah, besok gue ke sana. Bye!”
Begitu telepon ditutup, notifikasi baru muncul.
Tari menambahkan Kayla ke grup alumni SMA.
“Akh, sialan si Tari…” gerutunya sambil nyengir.
Robi: Siapa ini?
Kayla: Hay, Bi.
Robi: Siapa, nih?
Tari: Tebak!
Anya: Kayla, ya?
Kayla: Hehe, iya.
Robi: Kay, lo apa kabar?
Kayla: Baik.
Anya: Kita harus kumpul besok!
Kayla: Siap 😁
Kayla menaruh ponsel di d**a.
Matanya mulai terasa berat.
Hujan kembali turun di luar jendela.
Dan di tengah rasa lelah, ia tertidur sambil menggenggam ponselnya—
dengan perasaan sedikit lebih tenang daripada semalam.