Kesepakatan Perjanjian

1727 Words
"Syah, ngapain?" Nyerah, akhirnya aku menoleh juga ke arahnya. Bertanya apa yang sedang dilakukannya karena kulihat ia seperti ingin rebahan di badan sofa. "Mau istirahat bentar Bang. Apa Abang butuh sesuatu, biar Aisyah ambilkan," tawarnya bersemangat didahului senyum nyengir sambil menepuk-nepuk bantal sofa di pangkuannya. Aku menggeleng cepat. "Kamu mau tidur? Nih, sini. Jangan di situ. Ntar kalau sakit punggung, aku lagi yang dimarahi Ibu." Aku bergeser dikit seraya menepuk pelan atas tempat tidur di sampingku yang sedang diduduki. Posisiku sudah dalam mode duduk. Mana mungkin aku bisa istirahat rebahan satu kamar dengannya. Aku juga tidak tahu bagaimana nanti malam, apakah bisa tidur atau …. Ah, membayangkannya saja membuatku sulit bernapas. "Di sana? Sama Abang?" tanyanya terbata. Tampak sekali kalau wanita di depan mataku ini sedang gugup. Matanya membulat sempurna kala menatapku. Sepertinya dia salah menanggapi ucapanku. Pasti dia sudah berpikir yang tidak-tidak. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu yang tidur di sini dan aku yang di sana." Langsung kujelaskan, tidak ingin dia salah paham. "Oh, eh, nggak usah Bang. Biar Aisyah di sini saja, Abang tetap di sana. Nanti Abang sakit, Aisyah jadi nggak enak. Ibu pasti marah. Kalau Aisyah sudah terbiasa tidur di tempat yang keras, bahkan pernah nggak pakai kasur cuma tidur di lantai, jadi nggak papa' Bang. Lagipula disini tempat tidur yang paling empuk Bang, bagi Aisyah, lebar lagi. Sofanya pasti mahal," katanya sambil mengusap atas sofa dengan senyum lebar. Aku mengernyit mendengar jawaban santai darinya. Tanganku melambai memintanya mendekat. Sekarang giliran kening Aisyah yang berkerut bingung. Namun ia akhirnya berjalan pelan mendekatiku. Tatapannya masih terlihat bingung setelah sampai di tepi tempat tidur, masih posisi berdiri, belum naik ke atasnya. "Kamu tidur di sini. Kalau aku gampang. Bisa tidur di manapun." Tanganku meraihnya, memaksanya duduk. Ia tampak pasrah. Sekarang kami duduk bersebelahan. Lalu hening menyergap, terdiam bersamaan karena mungkin sama-sama canggung. "Ehm, gini." Aku berpaling menghadapnya. Ku beranikan memulai pembicaraan ini. Kalau tetap diam, yang ada seperti ini saja situasi kami di dalam kamar ini. "Maaf, Syah, aku belum bisa menerimamu sepenuhnya jadi istri. Aku masih mencintai istriku. Ehm, maksudku aku masih mencintai Casandra--istri pertamaku. Pernikahan ini terpaksa aku lakukan demi Ibu. Kamu pun begitu kan? Demi bibimu?" Bertanya mencoba mencari pembenaran. Tidak mungkin dugaanku salah. Aisyah mengangguk ragu. Aku bersorak dalam hati. Sedikit lagi rencanaku akan berhasil. Aku harus bisa membujuk Aisyah agar mau bekerja sama denganku dan menyetujui perjanjian yang akan kubuat nantinya. Tentunya tentang nasib rumah tangga yang tanpa cinta ini. "Jadi aku punya penawaran buat kamu. Kita harus bikin wedding Agreement." Dengan bersemangat aku mengatakannya. "Apa Bang? Wedding apa tadi gremen?" ulang Aisyah bertanya polos. Aku menggeleng. "Wedding agreement." ejaku mengulangi lagi dengan lebih lambat. Kening Aisyah masih berkerut. "Perjanjian pernikahan." Kujawab lagi dengan artinya biar Aisyah tidak bertanya lagi. "Maksud Abang? Bukankah sudah?" "Sudah?" Aku malah balik bertanya dengan bingung. Rasanya ini baru pertama kalinya aku mengajaknya bicara dan serius. "Iya. Waktu di rumah bibi saya. Abang sudah menyodorkan lembaran kertas yang isinya surat perjanjian pernikahan kan?" Oh, yang itu. Aku bergumam dalam hati. Iya, itu memang surat perjanjian pernikahan kami, lebih tepatnya ke pra pernikahan. Sedangkan yang akan kuajukan ke Aisyah ini adalah perjanjian setelah pernikahan. Ah, bikin mumet. Yang itu dulu aku juga yang bikin dibantu Ibu karena tidak mau terjadi apa-apa kedepannya. dan yang sekarang masih aku yang bikin tapi bersifat rahasia yang hanya diketahui oleh aku dan Aisyah. "Bukan, beda lagi. Kalau yang itu diketahui Ibu sama bibimu. Sedang sekarang hanya kita saja yang tahu." Aisyah menggeleng lemah. "Sebuah pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral, Bang. Bukan sesuatu yang dapat diatur manusia sesuka hatinya. Hubungan kita ini adalah hubungan suci yang direstui dan diikat oleh Allah. Dimana suami-istri di dalamnya saling melengkapi dan saling mengerti satu sama lain tanpa didahului sebuah perjanjian yang mungkin merugikan salah satunya," balas Aisyah menjabarkan arti pernikahan padaku. Dari caranya menjawab dapat ditarik kesimpulan bahwa ia tidak setuju adanya perjanjian lagi di pernikahan kami. "Tapi dalam pernikahan kita ini beda, Syah. Kita tidak saling cinta. Kita menjalaninya karena terpaksa. Demi orang yang kita sayangi, bukan dari hati." Aku tidak mau kalah. Aisyah harus setuju pendapatku. "Banyak yang menikah tanpa diawali rasa cinta, Bang. Cinta itu akan datang karena terbiasa. Cinta itu Allah yang ciptakan. Dia pemilik hati kita. Kalau kita mencintai Allah, maka Dialah nanti yang akan memberikan rasa cinta di hati kita untuk pasangan kita nantinya." Mulai Aisyah menguatkan argumennya dengan membawa nama Tuhan. "Itu orang lain, beda denganku. Aku tidak bisa dipaksa jatuh cinta. Dan sampai sekarang aku belum bisa mencintaimu, Syah. Lagian apa susahnya sih mengikuti apa mauku, setuju dengan perjanjian yang akan kubuat ini. Nggak akan merugikan kamu, justru kamu untung besar nantinya." Aisyah menghela napas panjang seraya menunduk ke bawah. "Allah tidak akan suka dengan apa yang kita buat Bang. Perjanjian di awal saja sudah salah. Astagfirullah, aku pun salah sudah setuju," timpalnya lagi seperti menyesali. "Terpaksa Syah. Sudah terlanjur. Mengertilah posisiku. Aku artis. Lelaki beristri. Kalau ada yang tahu aku poligami dan menikah secara diam-diam, maka hancurlah karirku." Cara bicaraku melemah, tidak sekeras sebelumnya. Jujur apa yang kukatakan barusan keluar dari dalam hati. Semuanya serba terpaksa. "Kalau Aisyah dinikahi cuma untuk anak, Abang bisa adopsi anak, atau bicarakan lagi baik-baik dengan istri Abang. Atau ancam saja sekalian kalau ia masih menolak. Dalam hal ini masih diperbolehkan karena istri telah menolak untuk mempunyai anak, sedang salah satu alasan menikah itu untuk meneruskan keturunan." "Sudahlah Syah. Jangan mengajarkanku. Mau tidak mau kamu harus setuju. Aku sudah lelah dengan semua yang terjadi. Menikah dadakan seperti ini dan paksaan Ibu. Soal Casandra, bukan urusanmu, tidak perlu memberi saran." Aku menarik laci nakas dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Mengakhiri perdebatanku dengan Aisyah. Saat ia berargumen membawa agama, kuakui aku kalah. Sebab itulah kuakhiri segera. Soal Casandra yang menolak mempunyai anak dulu, itu pun sudah dibicarakan berulang kali dengannya, dan jawabannya masih sama. Kami bahkan nyaris bertengkar karena Casandra berpikir bahwa aku ingin mengakhiri karirnya yang sedang naik daun dengan memintanya hamil. Padahal bukan seperti itu. Aku sudah mulai merindukan sosok kecil itu hadir dalam kehidupan kami. Kurasa umur di atas 30 tahun itu sudah cukup matang untuk memiliki anak. Terlalu tua juga tidak baik, nanti malah dianggap kakeknya anak sendiri karena perbedaan jarak usia kami. Sebuah lembaran kertas bergaris kuambil dari dalam sana. Tidak lupa dengan penanya. Dengan beralaskan bantal, kutulis sebuah kalimat panjang di atas kertas putih tersebut sebagai judul inti dari isinya. Lalu berlanjut di bawahnya dengan menulis angka 1 sebagai poin satu isi perjanjian. Aisyah hanya diam tanpa kata di sampingku. Aku tahu dia sedang membaca apa yang sedang kutulis. "Tunggu, Bang." Tanganku yang sedang menulis ditahan Aisyah. Aku mendongak menatapnya heran. "Dari poin satu sampai seterusnya Aisyah tidak setuju." Mataku memicing mendengarnya. "Aisyah memang terpaksa menikah dengan Abang, tapi semua itu sudah Aisyah serahkan ke Allah. Artinya sejak Aisyah sah menjadi istri Abang, Aisyah sudah ikhlas. Aisyah sudah menyerahkan semuanya ke Abang. Apapun yang Abang mau, akan Aisyah turuti tapi yang tidak bertentangan dengan agama. Soal kita akan bercerai setelah setahun pernikahan, kuharap jangan Bang. Itu adalah perbuatan yang dibenci Allah. Aisyah janji tidak akan mencampuri urusan Abang, kalau itu yang Abang mau. Aisyah juga rela ditiduri Abang karena itu hak Abang sebagai suami. Aisyah ikhlas. Abang tidak perlu menjanjikan harta apapun untuk Aisyah, karena bukan itu yang Aisyah cari. Aisyah–" "Cukup, Syah. Kamu kira aku bodoh? Mana ada wanita mau dinikahi cuma-cuma sepertimu apalagi kalau tahu siapa lakinya. Aku–Adrian Dinata–seorang Artis terkenal dan mapan. Dipuja banyak cewek, dan tentu kamu tidak akan melepaskan kesempatan yang ada ini. Banyak wanita diluar sana yang menginginkannya. Hanya wanita bodoh dan munafik yang bilang tidak tertarik padaku, Syah. Yaitu kamu." Tajam kulontarkan kalimat pedas tersebut padanya. Aku paling benci kata ikhlas, dan pasrah, seolah tidak ingin berjuang. Kenapa juga menolak kenyamanan yang sudah kujanjikan. Dalam poin yang kutulis itu, aku menjanjikan tidak akan menyentuhnya selama setahun pernikahan kami. Aku pun dengan ikhlas akan memberikan imbalan besar dengan menghibahkan apartemen mewah ini untuknya nanti setelah kami resmi bercerai. Namun apa katanya tadi. Dia bilang dia tidak menginginkan semua ini? Bohong. Sepolos-polosnya wanita tidak akan menolak itu semua kecuali dia menginginkan sesuatu yang lebih dariku. Aku sudah bisa membaca arah niatnya yang menolak itu semua agar tetap berada disampingku, meskipun hanya sebagai istri siri. "Abang salah. Aisyah bukan wanita seperti itu. Aisyah hanya ingin menjalankan aturan agama Aisyah dengan sebaik mungkin. Entah siapapun itu, Aisyah akan mengatakan hal yang sama padanya seperti apa yang Aisyah katakan ke Abang. Seumur hidup Aisyah hanya ingin menikah sekali saja dalam hidup dengan orang yang sama, siapapun dia. Tidak ada perceraian. Tidak ada perjanjian apapun nantinya. Jadi, kalau Abang tetap ingin perjanjian ini dijalankan, maka izinkan Aisyah membuat satu poin perjanjian juga." Aku tersenyum kecut mendengarnya. "Kamu munafik Syah. Katanya tidak setuju dengan perjanjian di pernikahan, tapi nyatanya ingin membuat juga." Kusodorkan kertas perjanjian tersebut padanya. Memintanya menulis apa yang diinginkannya. Aisyah membalasku dengan tersenyum tipis. Lalu mulai menulis. Aku tidak ingin melihat apa yang sedang ditulisnya. Kutunggu saja sampai selesai. Paling juga dia meminta hal yang berhubungan dengan kenyamanan. Harta mungkin. Terserah saja yang penting dia setuju dengan poin yang kutulis dan setelah setahun maka aku akan terbebas darinya. "Bacalah Bang, kuharap Abang setuju." Diberikannya kembali kertas itu ke arahku. "Apa ini, Syah? Kamu yakin? Kamu tidak dapat apa-apa. Kamu yang akan rugi." Sangsi saat aku membaca poin yang dimintanya. Cuma satu poin, tapi itu cukup membuatku menelan saliva. "Tidak Bang. Itu karena semua Aisyah serahkan ke Allah. Biar Dia yang mengatur hidup Aisyah nantinya. Berikanlah kesempatan Aisyah jadi istri Abang selama setahun. Hanya setahun menjadi istri Abang seutuhnya. Jika masalahnya karena cinta, maka biarkan Aisyah yang akan membuat Abang mencintai Aisyah. Sesuai perjanjian di pra nikah, Abang tidak perlu mempublikasikan Aisyah. Aisyah tidak akan mengganggu hidup Abang. Aisyah juga rela hamil demi memberikan Abang, anak. InsyaAllah kalau Tuhan menghendaki. Tidak perlu menjanjikan apartemen ini. Jika selama setahun Aisyah tidak hamil dan Abang tidak juga mencintai Aisyah, maka ceraikanlah Aisyah karena pernikahan yang menyiksa perasaan salah satunya, diperbolehkan meminta pisah jika itu jalan yang terbaik buat keduanya." Aku speechless. Apa ini? Apa mau wanita yang duduk di sebelahku ini. Mengapa malah aku yang meragu dan sedikit timbul rasa takut di hati saat melihatnya mengatakan semua itu dengan suara yang lantang tanpa bergetar sedikitpun. Wajahnya pun tampak serius, tegas dan berani membalas tatapanku yang sedang menatapnya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD