Terlalu Percaya Diri

1467 Words
"Jangan terlalu percaya diri. Aku bukan tipe lelaki yang mudah jatuh cinta. Sudah sering berhadapan dengan wanita cantik melebihi dirimu dan aku tak pernah tergoda. Apalagi kamu yang … maaf, bukan tipeku sama sekali." Kucoba mematahkan semangatnya dan bersikap sewajar mungkin, tidak ingin menunjukkan kelemahanku saat menanggapi ucapannya barusan. Bagiku Casandra segalanya. Tak ada yang bisa menyamainya. Dia terlalu sempurna. wajah cantik dengan tubuh yang bagus, membuatku tak mampu berpaling. Justru aku sering ketakutan dia yang berpaling karena banyak juga artis lelaki yang diam-diam menaruh hati padanya. Ada juga yang sengaja terang-terangan mendekatnya. Aisyah tersenyum tipis lalu menyodorkan lembaran kertas tersebut ke arahku. "Sudah Aisyah tanda tangani, sekarang giliran Abang. Maaf, poin 5 dan 6 harus Aisyah coret karena bakalan tidak sinkron dengan poin yang baru Aisyah buat." Mendengar hal tersebut dengan cepat kulihat isi tulisan lembaran kertas tersebut, memastikan ucapannya. Kubaca poin yang dicoret Aisyah tanpa izin dulu dariku. Ia menghapus poin tentang tidak perlu mengurus kehidupanku dan poin saling cuek. "Kenapa yang ini dihapus? Harusnya biarkan saja. Aku tidak suka diurus orang lain dan bersikap pura-pura sok perhatian padamu. Sudah kukatakan kalau aku tidak tertarik sama sekali denganmu, Syah." Aisyah menggelengkan kepalanya. "Abang baca poin ini?" Aisyah menunjuk poin nomor 8. Kalau Abang mau Aisyah setuju dengan perjanjian di atasnya, maka penuhi permintaan Aisyah di poin 8. Mudah kan?" "Cuma satu poin, Aisyah cuma minta Abang anggap Aisyah ini sebagai istri Abang juga. Tak apa dijadikan istri rahasia. Istri yang disembunyikan. Tidak perlu menunjukkan Aisyah ke hadapan orang banyak. Cukup saat kita berdua seperti ini pun, itu sudah cukup. Jalanilah pernikahan kita seperti pernikahan pada umumnya, yang kata Abang hanya akan bertahan setahun. Aisyah hanya ingin jadi istri Abang sepenuhnya dan begitupun Abang Ryan, tolong jadilah suami Aisyah seutuhnya. Bila tidak bisa jujur, maka berakting pun akan Aisyah anggap nyata. Bila akhirnya rasa itu belum juga datang, maka Aisyah rela ditalak." Ada yang berdenyut nyeri saat mendengar perkataan panjangnya barusan. Apa aku terlalu berlebihan? Aku hanya tidak ingin memberikan harapan padanya. Itu akan jauh lebih sakit. "Kamu yakin bisa membuatku jatuh cinta? Pikirkan lagi. Tawaranku itu masih berlaku. Kamu nggak rugi dan aku bahkan tidak akan menyentuhmu. Pegang janjiku. Sampai waktu itu, kupastikan kamu tetap akan suci." Kucoba membujuknya lagi. Aisyah menggeleng. "Keputusan Aisyah sudah bulat, Bang. Aisyah serahkan semua ke Allah. Dia sang maha membolak-balikan hati manusia. Maka Aisyah mintanya sama Allah agar membuat hati Abang jatuh ke Aisyah." Genggaman pena di tangan seketika jatuh mendengar ucapannya. Nyaliku seketika menciut. Aku gelagapan dan segera mengambil pena tersebut lalu menandatanganinya dengan tangan gemetar. Parah, kenapa reaksiku berlebihan. Ini diluar kuasaku. Aku tidak pernah seperti ini bila berdebat dengan orang. "Ini sudah kutandatangani. Deal!" Dengan pasti mengulur tangan ke arahnya mengajak berjabat tangan. Menunjukkan keseriusanku dan setuju dengan perjanjian yang telah kami buat, dan Aisyah tidak ragu sedikitpun membalas jabatan tanganku meskipun dengan ekspresi datar. "Baik, aku bawa dulu ini buat diketik ulang, ngasih materai dan menyimpan surat perjanjian ini di laptopku." "Nanti aku minta tanda tanganmu lagi kalau ini sudah rapi, sekalian ngeprint buat dipegang satu-satu," lanjutku lagi dengan mengibaskan lembaran kertas tersebut di hadapannya. Aisyah mengangguk tanpa kata. "Tidurlah biar nggak laper. Masih puasa kan?" "Insya Allah." "Aku keluar, biar kamu bisa istirahat." "Bang, kapan nanti dimulainya perjanjian tersebut? Hari ini?" Aku yang ingin beranjak pergi dengan beringsut turun dari tempat tidur, terdiam lalu menoleh ke arahnya. "Hm …, besok saja?" Alisku naik minta pendapatnya. Kuberi waktu dulu sampai batas besok, siapa tahu dia berubah pikiran nantinya. Namun nyatanya Aisyah membalas dengan anggukkan pasti. "Terserah." Ucapannya tersebut menandakan setuju. *** 'Aku mintanya ke Allah.' Kalimat itu terngiang terus di kepala, membuatku sedikit takut. Apa mungkin hatiku bakal berbalik ke dia? Kenapa harus melibatkan Tuhan di setiap kalimat yang dilontarkannya? Apa lulusan pesantren suka gitu. Baru kali ini aku serius memikirkan ucapan seseorang. Aku bukan penggiat ibadah, tapi mendengar perkataannya kenapa menimbulkan rasa ketakutan seolah keyakinannya itu akan terjadi. Setelah keluar dari kamar, aku pergi ke arah dapur dan masuk ke sebuah kamar kecil dekat toilet. Ukurannya lebih kecil dari kamar utama, dan tidak banyak fasilitas ataupun furnitur di dalamnya. Semua lebih sederhana dari kamar utama karena kamar ini biasanya diperuntukkan untuk asisten rumah tangga. Namun karena apartemen ini jarang ditempati, makanya belum membutuhkan jasa ART. Terpaksa aku masuk ke kamar ini buat menghindari Aisyah. Mana lagi tempat istirahat yang aman kalau bukan tempat ini. Baru saja merebahkan diri di atas kasur, tiba-tiba terasa getaran dari ponselku yang berdering di dalam kantong celana. Dilihat dari layar depannya yang menyala, tertera nama My lovely dan itu adalah nama kontak Casandra. "Hallo," sapaku lebih dulu.Panggilannya kujawab. "Hallo Sayang. Syukurlah tersambung. Kukira bakal susah hubungi kamu. Gimana di sana masih lama?" Hm … kasihan Casandra, pasti sedang merindukanku sampai menghubungi lebih dulu. "Baru juga dua hari, kan aku bilangnya seminggu di sini." Aku berbohong. Syukurlah ia menghubungi via telepon biasa bukan panggilan video. Jadi tidak ketahuan kalau aku telah membohonginya. "Oh." Terdengar sahutan sedihnya. "Kamu lagi apa? Masih syuting, berapa scene?" tanyaku mencari obrolan yang lain. "Nggak, ini lagi di bandara. Aku mau ngasih tahu kalau aku mau ke Bali. Kami ada syuting di sana. Mau ambil view pantainya. Kan ada adegan di pantai gitu." Bali? Syukurlah aku dan Aisyah tidak jadi bulan madu ke sana. Bisa gawat kalau sampai ketemu Casandra disana. Padahal izinnya sama dia pergi ke kampung Ibu. "Oh, iya. Senang dong bisa sekalian liburan di sana. Bawa siapa? Santi sama Lisa pasti ikut." Dua orang itu adalah asisten pribadinya yang mengurus masalah wardrobe, make up dan segala macam kebutuhan Casandra dan biasanya selalu ikut dimanapun Casandra syuting. "Hm, sama Yoyo juga," jawabnya menyebut nama manager kami. Kebetulan satu manajemen dan manager yang sama. "Oh, ada Yoyo juga. Mana? Ada di samping kamu, aku mau ngomong." "Hai, Bro pa kabar?" Yoyo menyapaku. Dalam hitungan detik ponsel Casandra sudah berpindah tangan ke Yoyo. "Baik. Yo, jaga bini gue. Dia main sama siapa, Willi kan?" Aku kurang suka dengan aktor bernama Willi. Dia suka tebar pesona dan pernah kepergokku sering mencuri pandang pada Casandra, dan aku tahu arti pandangannya tersebut. "Iya, lawannya Willi. Kenapa Bro, santai ada gue." Terdengar kekehan Yoyo di sana. Pasti dia sedang menertawakan kecemburuanku. "Iya kamu pastikan kalau adegan mesranya jangan kelewat batas. Biasa aja. Kalau di film kan lebih eksplisit dan aku nggak mau itu." Aku memperingatkan Yoyo dan ini mungkin sudah sekian kalinya terlontar dari mulutku. "Iya, lu tenang Bro. Semua sudah sesuai prosedur, kita kan udah bicarakan di depan sebelum terima, beres lah. Kan ada gue juga di sini." Jawaban Yoyo sedikit melegakan. "Oke, gue percaya sama lu. Hati-hati juga ya di sana. Gue di sini masih lama. Mau balik duluan nggak enak. Nyokap minta ditungguin." "Oh, siap Bos. Sip lah lu tenang saja di sana. Istri lu, aman sama gue. Titip salam juga buat nyokap ya." "Ya, balikin ke Casandra. Gue mau ngomong." "Wait." "Hai, Beb. Masih lama ya di sana? Kangen." Aku tersenyum semringah mendengar kata kangen darinya. Apalagi dengan suara manja mendesah. "Me too. Nanti aku nyusul ya ke bali." "No!" "Apa? Kok. Nggak boleh." Cukup kaget saat Casandra menolakku dengan tegas menyusulnya ke sana. "No, bukan itu. Nanti. Aku tahu kamu, pas ngawasin aku syuting kan? Jangan Beb, ntar aku nggak konsen kalau dilihatin." Suara Casandra sedikit terbata saat menjelaskannya padaku. "Oh, kirain apa. Biasa juga gitu. Udah sering juga aku nemenin kamu syuting kalau aku lagi break. Apa, jangan-jangan ada adegan mesranya ya?" Aku mulai menyelidik. "No. Bukan gitu. Iya sih ada adegan mesra, tapi nggak dalem kok, cuma cium dan peluk dikit aja. Namanya juga di pantai. Kamu jangan salah paham apalagi cemburu buta. Masalahnya aku tahu kamu nggak suka aku syuting bareng Willi dan karena aku nggak mau kamu terlalu mengintimidasi di sini nantinya. Yang ada bisa kacau syutingku, ntar gara-gara kamu, aku dianggap nggak profesional kerjanya." Casandra mencoba menjelaskan, masih dengan suara manjanya mencoba meyakinkan. Aku mengulas senyum dikulum mendengar reaksinya yang berlebihan. Padahal aku masih bisa mengontrol emosi dan tidak akan bertindak diluar batas. Aku pun tahu arti keprofesionalan kerja. "Iya, nggak bakalan. Tapi … lihat ntar deh. Siapa tahu aku ngasih kejutan dan taraa. I'm coming." Sengaja mengerjainya padahal itu tidak akan terjadi. "Oh, no! Please Yan, aku nggak suka kejutan dadakan gitu." Nada bicara Casandra berubah. Aku tahu dia mau marah karena menyebutku hanya nama, bukan sayang lagi. Padahal aku cuma bercanda. Mana mungkin menyusul dia ke sana. Yang disini saja belum tahu harus dikemanakan. "Just kidding, Honey. Santai, kok gitu aja mau marah?" "Ih, bercandanya nggak lucu. Aku nggak suka. Udah ya, ni udah mau siap. Tim yang lain udah manggil terus dari tadi." "Iya Sa–" Aku terdiam seketika saat terdengar suara derit pintu yang tiba-tiba dibuka dari luar. Hal tersebut membuatku refleks mematikan ponsel dan menaruhnya dengan cepat di bawah bantal. "Ryan, ngapain di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD